
Cakra Buana sudah sampai di penginapannya. Dia segera membaringkan sosok tersebut. Waktu dia masuk tadi, awalnya pelayan yang masih terjaga melarang dia membawa seorang gadis. Tetapi setelah melihat gerak-gerik Cakra Buana menampilkan sosok pendekar, akhirnya pelayan itu pun tidak mau banyak bicara lagi.
Pada zaman ini para pendekar memang mendapat sebuah kehormatan dan kedudukan tersendiri. Terlebih lagi mereka yang membela rakyat.
Setelah tubuh itu dibaringkan, Cakra Buana segera memeriksa kembali nadinya yang ternyata sudah mulai lemah. Bahkan peredaran darah dan tenaga dalamnya bergerak tidak karuan.
Karena Cakra Buana pernah mempelajari Kitab Tenaga Dalam Langit dan Bumi yang di dalamnya membahas tentang jenis racun dan sebagainya, maka tanpa menunda lagi dia segera melakukan proses penyembuhan.
Sosok itu dibiarkan berbaring begitu saja. Sedangkan Cakra Buana mulai menyalurkan hawa murni. Racunnya tidak terbilang racun ganas, tetapi kalau terlambat di obati, tetap saja sangat sulit untuk menolong nyawa korban.
Sepeminum teh kemudian, keadaan korban mulai membaik. Cakra Buana turun ke bawah untuk meminta pelayan menyiapkan bubur.
Setelah bubur sedia, dia segera kembali ke kamar lalu menyuapi pelan-pelan sosok yang keracunan tersebut.
Perlahan namun pasti, orang itu mulai membuka matanya. Terlihat sudah segar bugar lagi. Bahkan suhu tubuh dam wajahnya seketika kembali normal.
"Terimakasih Cakra," kata orang itu dengan lirih.
"Jangan banyak bicara dulu Ratih, makan saja bubur ini. Setelah itu kau istirahatlah," ucap Cakra Buana kepada sosok wanita itu.
Siapa sosok wanita itu?
Tepat, dialah Ratih Kencana. Seorang gadis yang dia temui kemarin saat baru saja tiba di kotaraja. Gadis yang mempunyai tubuh montok dan wajah cantik. Tak kalah cantiknya dengan wanita lain. Walaupun keadaannya sedang seperti ini, tetapi wanita itu masih terlihat cantik. Bahkan semakin cantik.
Bibirnya mengulum senyum dengan gigi putih tertata rapi. Lesung pipinya mampu membuat Cakra Buana merasakan hal yang sulit diceritakan.
Sosok wanita yang ada di hadapannya kini memang memiliki pesona tersendiri.
Setelah Cakra Buana selesai menyuapinya, dia segera pergi keluar. Tetapi sebelum itu, tangan Ratih Kencana sudah memegang tangannya dan langsung menarik cukup kencang.
Tanpa mampu dihindarkan lagi, tubuh Cakra Buana hampir saja jatuh menindih tubuh wanita montok tersebut. Kedua wajah mereka saling pandang dalam dekat. Bahkan bibirnya hampir saling sentuh.
Cakra Buana segera menarik dirinya. Tetapi lagi-lagi gadis itu menariknya kembali. Bahkan kali ini lebih kencang sehingga Cakra Buana langsung jatuh di atas tubuhnya.
Ratih Kencana nampak tidak keberatan sama sekali. Tidak ada rasa malu yang tergambar di wajahnya. Bahkan matanya dengan berani menatap lekat Cakra Buana.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru, mau ke mana? Tidur saja di sini. Tidak ada yang tahu," katanya dengan suara lembut yang menggoda.
Cakra Buana gelagapan. Ini adalah pertama kali lagi dirinya bersentuhan dekat dengan wanita setelah Ling Zhi.
Sosok yang sangat dia cintai. Bahkan sampai detik ini, dia selalu membayangkan dan melamunkan semua kenangan indah bersamanya.
"Ta-tapi," katanya gagap.
"Sssttt. Temani aku kakang," kata Ratih menempelkan jari telunjuk yang halus dan lembut itu ke bibir Cakra Buana.
Selesai berkata seperti itu, dia menekan tubuh Cakra Buana sehingga tubuh mereka kini benar-benar menempel. Ratih memeluknya lebih erat lagi.
Suara desahan manja mulai keluar dari bibirnya yang menggiurkan itu.
Cakra Buana tidak dapat menahan diri lagi. Dia manusia biasa, bukan setan apalagi malaikat.
Apalagi sebelumnya dia pernah merasakan kehangatan dari sosok yang dia cintai sampai mati. Sayangnya sosok itu kini telah pergi dan tidak akan kembali lagi.
Semua kenangan tidak bisa bilang. Bahkan semakin melekat ketika dia membayangkan bagaimana besarnya rasa cinta mereka. Tapi sayangnya itu hanyalah masa lalu.
Mendapat keadaan seperti ini, tentu dia tidak akan menolaknya.
Perlahan namun pasti kedua orang tersebut mulai terbawa suasana. Tubuh mereka dibiarkan begitu saja. Bahkan semakin ditekan.
Ratih Kencana perlahan menyimpan pedang dan membuka baju Cakra Buana. Sehingga singkatnya, kini dua muda-mudi tersebut sudah berada dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.
Keduanya mulai melayang ke sebuah tempat yang sangat indah. Indah sekali sampai-sampai tidak menghiraukan keadaan sekitar. Suara desahan dari dua manusia meramaikan kamar yang sepi itu.
Ratih Kencana merasakan bahwa dia puas sekali. Kenikmatan yang baru saja dia lewatkan bersama Cakra Buana, sungguh luar biasa.
Keduanya sudah basah oleh keringat. Ratih Kencana tidur di atas dadanya yang bidang sambil sesekali tangan Cakra Buana membelai beberapa bagian tubuhnya.
"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Cakra Buana dengan lembut.
"Karena aku mengagumi pria gagah sepertimu," balasnya dengan suara yang masih menggoda.
__ADS_1
"Kau tidak menyesal?"
"Tidak ada kata menyesal bagiku. Apalagi hal yang barusan kita lalukan. Bahkan aku menginginkan hal itu lagi," katanya dengan manja.
Keduanya kembali pergi ke gelora samudera cinta yang damai dan indah penuh kenikmatan. Sebuah malam yang indah karena dapat dilalui dengan kehangatan.
Menjelang subuh, muda-mudi baru saja menyelesaikan permainan mereka. Keduanya merasa cukup lelah. Sehingga tidak berapa lama, mereka pun tertidur pulas dalam keadaan tanpa pakaian.
Pagi harinya, Ratih Kencana bangun lebih dulu. Dia pergi keluar untuk mengambil sarapan bagi Cakra Buana. Dia sengaja tidak membangunkan pemuda itu.
Gadis tersebut lebih memilih untuk menunggu sampai dia bangun sendiri. Ketika sorotan cahaya mentari pagi sudah menyinari kamarnya, Cakra Buana baru saja bangun dari tidur.
Di lihatnya gadis itu sudah menyambut dengan senyuman. Setelah sadar sepenuhnya, Cakra Buana segera memakan sarapan yang sudah disediakan. Keduanya sarapan bersama, bahkan sarapannya dilakukan di dalam kamar.
Setelah selesai, mereka kembali melakukan permainan indah. Baru ketika benar-benar merasa lelah, keduanya segera membersihkan diri.
Ratih Kencana masih ada di sana. Setelah membersihkan diri, justu gadis itu semakin terlihat sangat cantik. Sedangkan Cakra Buana semakin gagah.
Mereka berbicara basa-basi sebentar. Setelah itu, Cakra Buana menanyakan ke mana tujuan Ratih selanjutnya.
"Entah, mungkin aku akan melakukan pengembaraan untuk menambah pengalaman," kata gadis itu.
"Kau sendiri, mau ke mana?"
"Untuk saat ini, sebentar lagi mungkin aku akan pergi ke suatu tempat," jawab Cakra Buana.
Ratih terdiam. Dia memandangi wajah yang tampan dan gagah tersebut. Seulas senyum selalu dia lemparkan untuk si pemuda. Tetapi dari tatapan mata itu, dia seperti sedang menunggu sesuatu.
"Heii, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Cakra Buana sambil menepak pundaknya.
"Kau tampan sekali. Beruntung aku bisa tidur denganmu," jawabnya lirih.
"Terimakasih. Tapi mungkin kau tidak beruntung karena tidak bisa meracuniku," jawab Cakra Buana dengan tenang.
Ratih Kencana kaget. Wajahnya jelas menggambarkan keterkejutan, bahkan sedikit memucat.
__ADS_1