Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Sepasang Kekasih


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu. Cakra Buana sudah jauh dari Kerajaan Tunggilis. Selama dua hari itu, dia tidak mengalami kejadian apapun saat di perjalanan. Bahkan Cakra Buana tidak banyak berhenti kecuali melakukan hal-hal yang menurutnya penting.


Saat ini kondisi masih pagi hari. Embun suci pun masih menetes dengan anggun di dedaunan hijau. Cakra Buana berjalan dengan langkah yang tenang namun pasti.


Perutnya sudah lapar minta diisi. Tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, dia menemukan sebuah perkampungan kecil. Tanpa banyak berpikir lagi, Cakra Buana segera ke sana.


Tak berapa lama, pemuda itu sudah sampai di kampung tersebut. Tidak ada gapura yang menyebutkan nama kampung itu. Dengan sigap, dia segera mencari kedai makan yang sudah buka.


Kalau di sebuah kampung, kedai makan pasti akan buka pagi-pagi sekali. Sebab masyarakat di sini akan bangun dan mulai bekerja sebelum terang tanah.


Setelah berjalan beberapa puluh langkah, akhirnya dia menemukan kedai. Cakra Buana memasuki kedai tersebut dan langsung memesan makanan.


Di sana ada dua meja dengan bangku panjang. Cakra Buana memilih di bangku yang paling pojok. Di dalam kedai tersebut sudah ada tiga warga setempat yang sedang bersiap untuk melakukan pekerjaan mereka.


Kedai ini tidak mewah. Bahkan lebih pantas untuk disebut sebuah gubuk. Dindingnya hanya berupa anyaman dari bambu.


Setelah beberapa saat menunggu, pesanan sudah datang. Cakra Buana segera menghabiskan makanannya. Makan selesai, segera dia membayarnya.


Setelah itu, dia segera melangkahkan kaki untuk segera pergi. Dari pembicaraan para warga tadi, ternyata dirinya saat ini sedang berada di Desa Baleendah. Sebenarnya itu tidaklah penting, karen Cakra Buana hanya berniat untuk pergi ke mana pun yang dia mau.


Untuk tujuannya, sampai sejauh ini dia tidak tahu tempat mana yang akan dituju. Yang penting hanyalah satu, dia ingin melupakan semua kesedihan dalam hatinya.


Sayangnya dia tidak bisa, kesedihan itu selalu membayangi setiap tarikan nafasnya.


Kesedihan memang selalu mendatangi manusia. Tidak ada cara untuk menghilangkan kesedihan itu kecuali dirinya sendiri. Hanya diri sendiri yang memutuskan apakah akan tetap berada dalam kesedihan, atau mau beranjak dari kesedihan.


Cakra Buana belum memahami teori ini. Sehingga selama beberapa waktu, hidupnya selalu hampa karena rasa sedih itu sendiri.


Tak ada manusia yang terlepas dari kesedihan. Tak ada juga manusia yang tidak bisa merasakan kebahagiaan. Kedua hal itu sudah mendarah daging dalam diri manusia sejak ia lahir.


Untuk membebaskannya, kembali lagi kepada manusia itu sendiri. Sedih yang menciptakan adalah diri sendiri. Bahagia pun begitu. Jadi kuncinya, ada pada dirimu. Bukan orang lain.


Saat Cakra Buana sedang berjalan kembali menyusuri sebuah hutan, tiba-tiba telinga tajamnya mendengar ada sebuah pertarungan yang sedang terjadi.


Tanpa basa-basi, dia segera menuju ke sumber suara tersebut dengan ilmu meringankan tubuhnya. Cakra Buana hinggap di sebuah pohon cukup tinggi sambil mengamati pertarungan.

__ADS_1


Sepasang kekasih sedang bertarung mati-matian melawan satu orang pendekar tua. Keduanya terlihat sudah berada dalam posisi terdesak hebat. Si pria saat ini sedang bertarung sengit. Walaupun tubuhnya penuh luka, dia tetap berusaha sekuat mungkin melawan musuhnya.


Sedangkan si wanita masih terduduk menahan rasa sakit. Tubuhnya juga penuh luka-luka.


Cakra Buana belum bergerak, dia masih ingin mengetahui keadaan lebih jauh lagi.


"Cepat serahkan benda itu supaya kalian tidak aku bunuh," kata pendekar tua yang merupakan seorang pria bersenjatakan pedang.


"Sudah aku katakan bahwa benda itu tidak berada di tanganku," jawab si pria muda.


"Bailklah, kalau begitu hari ini kalian harus pergi ke alam baka,"


Selesai berkata, si orang tua kembali menyerang. Serangan itu jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya. Sepertinya dia memang sungguh-sungguh untuk membunuh sepasang kekasih ini.


Hanya dalam beberapa serangan berikutnya, si pria muda telah terhempas dengan sebuah tendangan kaki yang ## sangat keras. Dia menabrak pohon dan mulutnya memuntahkan darah segar.


Melihat kejadian tersebut, jiwa pembela kebenaran Cakra Buana berkobar. Dia melayang turun dengan indah. Bahkan saat mendarat di tanah, tidak keluar sedikit suara pun.


Tanpa banyak bercakap, Pendekar Maung Kulon langsung menyerang pendekar tua itu dengan serangan ganas.


Di lihat dari gerak serangan, Cakra Buana tahu bahwa pendekar tua itu memiliki kemampuan tinggi. Terlihat dari serangan balasan yang dia lancarkan sangat penuh tipuan dan penuh tenaga.


Pendekar Maung Kulon menghindari semua serangan itu dengan enteng. Baginya, serangan itu terasa biasa saja. Tapi memang setiap saat mengancam jiwanya.


Gerakan kakinya penuh ketenangan dan kemantapan. Kedua tangannya menangkis semua serangan lawan tanpa menyentuh pedangnya. Cakra Buana selalu mengincar pergelangan tangan lawan ataupun sikutnya. Dia tidak mau mengambil resiko.


Satu tusukan pedang datang.


Datangnya tusukan tersebut sangat cepat dan sulit diikuti mata. Pedangnya bergetar hebat memberikan hawa ingin membunuh yang kental.


Serangan yang hebat. Kalau bukan Cakra Buana, mungkin dia tidak akan mampu menghindari serangan tersebut.


Di pinggiran, sepasang kekasih itu sedang melihat pertarungan tersebut dengan wajah tegang. Kalau penolongnya tidak mampu mengalahkan orang tua itu, maka nyawa mereka pun akan terancam.


Tetapi siapa sangka, saat tusukan pedang hampir tiba di lehernya, penolong yang tak lain Cakra Buana itu telah memiringkan tubuhnya dengan sangat cepat. Dia melompat ke atas lalu turun di tengah-tengah batang pedang.

__ADS_1


Dengan gerakkan cepat, Cakra Buana berhasil menendang dagu si orang tua. Dia terhempas jauh ke belakang.


Dari mulutnya keluar darah kental.


Dengan amarah yang meluap karena ada orang lain ikut campur dalam urusannnya, orang tua itu langsung berdiri kembali lalu mengirimkan lagi sebuah serangan.


Satu kali menggeberak, tiga jurus keluar. Pedangnya berkilat terkena tempaan sinar matahari. Sabetan dan tusukan datangnya sangat cepat. Bahkan kedua serangan itu membawa sebuah gelombang tenaga yang besar.


Cakra Buana tahu bahwa kali ini lawannya telah mengeluarkan kekuatan penuh. Karena alasan itu, Cakra Buana pun mulai mengeluarkan jurus dahsyatnya.


Jurus Ekor Melilit Buruan sudah dia kelaurkan. Kedua tangannya berubah lentur seperti ekor harimau. Setiap tusukan dan sabetan pedang berhasil dia hindari dengan gerakan indah.


Tubuh Cakra Buana benar-benar seperti menari di bawah gempuran pedang lawan. Setelah beberapa saat, dengan gerakan dahsyat, tangan kanannya berhasil melilit di pergelangan tangan yang menggenggam pedang itu.


Sekali sentil, pedang pun terlepas jatuh ke tanah.


Berbarengan dengan hal tersebut, telapak tangan kirinya menghantam dada si pendekar tua.


"Bukkk …"


Pendekar tua tersebut terlempar jauh ke belakang. Kembali dari mulutnya keluar darah segar.


Cakra Buana memungut pedang itu lalu melemparkan kepada pemiliknya.


"Pergilah," ucap Cakra Buana singkat.


Tanpa banyak berkata, pendekar tua itu langsung segera beranjak pergi dari sana.


Setelah itu sepasang kekasih tersebut segera menghampiri Cakra Buana. Walaupun tubuh mereka terluka, tapi keduanya masih bisa berjalan.


"Kalian tidak papa?" tanya Cakra Buana.


"Tidak tuan, terimakasih sudah menolong kami. Ehh … ka-kau?" si wanita tampak terkejut saat mengetahui siapa penolongnya.


Begitupun dengan Cakra Buana sendiri. Keduanya saling pandang untuk beberapa saat.

__ADS_1


__ADS_2