Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Ajian Tapak Dewa dan Tangan Neraka Seribu Bayangan


__ADS_3

"Plakk …"


"Bukk …"


"Bukk …"


Dua tangan Pendekar Maung Kulon bergerak mengarah ke titik rawan. Ketiga lawan berusaha untuk melindungi bagian-bagian tubuh yang jadi incaran Cakra Buana. Namun sayangnya, seberapa cepat mereka menahan, masih kalah cepat dengan gerak serangan Cakra Buana.


Cakra Buana melenting tinggi ke atas, begitu turun ia mendaratkan pukulan ke tanah. Bumi bergetar bahkan sampai membuat ketiga lawan terlempar naik. Saat mereka hampir menginjak tanah kembali, kaki kanan Cakra Buana sudah ia angkat lalu memberikan tendangan yang di kibaskan dari sisi kanan ke sisi kiri.


"Plakk …"


"Plakk …"


"Plakk …"


Kakinya berhasil menendang bagian pelipis. Darah segar sedikit mengalir dari pelipis tersebut. Tiga lawan merasakan pandangannya mulai kabur. Segera mereka menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilang rasa kabur.


"Gila. Masih muda seperti ini tapi ilmunya sudah sangat tinggi. Sungguh beruntung dia. Aku merasa sangat kewalahan, bertiga saja seperti ini, apalagi kalau sendiri," gumam Pendekar Tua sambil memandangi Cakra Buana dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Pertarungan berhenti sejenak. Mereka saling pandang dengan tatapan kebencian yang bercampur rasa takut. Sedangkan Cakra Buana hanya berdiri santai.


"Hanya seperti ini saja kemampuan kalian? Ternyata kalian cuma besar mulut saja," ejek Cakra Buana.


"*******. Sombong sekali mulutmu itu bocah tengik," ucap si Kipas Terbang.


"Bukankah faktanya demikian?"


"Tutup mulutmu sebelum aku robek. Rasakan Kipas Beliung milikku ini,"


"Hiatt …"


"Wushh …"


Si Kipas Terbang mengibaskan senjatanya dari bawah ke atas. Tanah tiba-tiba menyembur ke atas. Ada tenaga dalam tinggi dalam serangan tersebut. Cakra Buana menahan serangan itu dengan cara menghentakkan kakinya ke tanah.


"Dugg …"


Serangan si Kipas Maut bertemu dengan perisai tenaga dalam Cakra Buana. Serangan itu lenyap begitu saja seperti dihisap oleh sesuatu.


Dua rekannya yaitu si Pendekar Tua dan Pendekar Seruling Bambu cukup terkejut. Sebab mereka tahu bahwa barusan itu merupakan salah satu jurut hebat milik si Kipas Terbang. Tapi dengan mudahnya Pendekar Maung Kulon menahan serangan tersebut.

__ADS_1


"Sepertinya kau memang ingin mati. Baiklah, kami tidak akan main-main lagi,"


"Wushh …"


"Wushh …"


Dua rekannya turut memberikan serangan serupa kepada Cakra Buana. Lagi-lagi serangan itu bisa di mentahkan olehnya. Detik berikutnya, tiga lawan sudah merangsek maju menyerang lagi. Kali ini mereka sudah menggunakan senjatanya yang terkenal ampuh.


"Wutt …"


Si Kipas Terbang mengibaskan kipasnya ke arah leher Cakra Buana. Dia segera menarik kepalanya sedikit. Tak lama, pedang milik Pendekar Tua datang dari sebelah kiri menyambar perutnya. Cakra Buana berhasil menghindarinya dengan cara menarik tubuh sedikit ke belakang. Setelah itu, di susul pula dengan Pendekar Seruling Bambu yang kembali melancarkan serangan dengan puluhan jarum beracun.


"Wuttt …"


Jarum itu datang sangat cepat. Pendekar Maung Kulon hampir kewalahan. Dia segera memutarkan tubuhnya untuk menahan puluhan jarum tersebut. Di saat berputar, tiba-tiba sebuah sodokan lawan berhasil mengenai lambungnya dengan telak.


"Bukk …"


Si Kipas Terbang menyodokan kipasnya membuat Cakra Buana terpental dua langkah. Ia langsung merasa mual karena serangan barusan mengandung tenaga dalam cukup tinggi.


Tak berhenti sampai di situ, ketiganya mulai lagi menghujani Cakra Buana dengan serangan-serangan berbahaya. Pendekar Maung Kulon yang saat itu masih merasakan mual, cukup kerepotan. Ia tidak menyangka bahwa lawan akan menyerang secepat itu.


Untuk beberapa saat, Cakra Buana di tahan ruang geraknya. Tak ada celah untuk bisa keluar dari tiga serangan yang terus menggulung tubuhnya itu. Dia hanya bisa menahan dan menangkis atau mengelak dari kipas yang terus di kibaskan, seruling yang menyodok, atau pedang yang sering berusaha membacok tubuhnya.


"Ajian Tapak Dewa …"


"Wushh …"


Telapak tangannya ia hentakan dengan kuat ke depan. Tangan yang kiri ia tarik ke pinggang secara bersamaan. Energi putih transparan keluar dan melesat cepat. Energi tersebut membentuk sebuah tapak raksasa.


Ketiga lawannya kaget bukan main. Mereka tidak menyangka sama sekali bahwa di saat genting, Pendekar Maung Kulon justru mampu memberikan serangan maut. Hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh pendekar yang memiliki kemampuan di atas akal sehat. Di mana pendekar itu bisa terlepas dari hujan serangan secara ajaib.


Pendekar Seruling Bambu, Pendekar Tua dan si Kipas Terbang melompat mundur. Secepat kilat mereka membuat benteng pertahanan dengan cara menyilangkan senjatanya di depan wajah. Tiga buah tenaga dalam berbeda warna terlihat membentuk perisai.


Namun sayangnya tiga perisai tersebut tidaklah cukup untuk menahan jurus Tapak Dewa milik Cakra Buana yang di aliri tenaga dalam tinggi. Sehingga begitu dekat, tiga perisai langsung hancur lalu menghantam tubuhnya.


"Blarr …"


"Ahh …"


Dentuman keras terdengar saat Ajian Tapak Dewa beradu dengan tiga perisai. Ketiga lawannya melesak ke dalam tanah. Seketika tanah jadi cekung dan berbentuk lima tapak. Mereka tewas dengan kondisi mengenaskan. Saat tewas, bahkan mereka seperti tidak percaya. Ketiga mata lawan masih melotot tajam, mereka membawa dendam besar ke alam baka.

__ADS_1


Di sisi lain, pertarungan antara Pendekar Tangan Seribu melawan Cambuk Iblis pun berlangsung seru. Kedua pendekar itu saling serang dan bertahan mengandalkan jurus-jurus ampuh yang mereka miliki.


Cambuk Iblis menyerang dan bertahan dengan cemeti (cambuk) pusaka miliknya. Sedangkan Pendekar Tangan Seribu hanya mengandalkan kedua tangannya yang terkenal sangat berbahaya.


Cakra Buana sedikit terkejut karena melihat kedua tangan rekannya berwarna merah membara saat ini. Kedua tangan itu memerah sampai ke pangkalnya. Di sisi lain, cambuk milik lawan pun sudah mengepulkan asap kehitaman. Cambuk sakti itu telah berubah warna. Bau busuk tercium terbawa semilir angin.


Pendekar Tangan Seribu dan Cambuk Iblis saling berhadapan dalam jarak tujuh langkah. Mereka menyiapkan jurus-jurus terakhirnya. Tanah bergetar dan dedaunan terbang berputar-putar mengelilingi keduanya.


Tiba-tiba Cambuk Iblis berteriak kencang sambil memutarkan pusakanya.


"Pusaran Angin Iblis …"


"Wushh …"


Debu mengitari dirinya. Debu itu langsung berubah jadi warna hitam menebarkan hawa kematian. Pusaran debu melesat cepat mengarah kepada lawan.


Pendekar Tangan Seribu tak mau kalah, ia menghentakkan kaki lalu nekad melesat cepat menyambut pusaran tersebut.


"Tangan Neraka Seribu Bayangan …"


"Wushh …"


Kedua tangannya bertambah merah membara. Bagaikan sebuah besi yang telah dipanaskan begitu lama. Hawa panas segera tersebar. Dua hawa berlawanan itu bertemu. Energi berwarna merah membawa beradu dengan energi hitam.


"Haaa …"


"Hiaaa …"


Keduanya berteriak melepaskan seluruh tenaga. Udara di sekitar semakin tertekan, detik berikutnya ledakan cukup besar terdengar hingga menggetarkan bumi. Pepohonan doyong bahkan ada yang roboh. Tak lama Cambuk Iblis terpental ke belakang bersama Pendekar Tangan Seribu.


Ia memegangi lehernya yang di cekik dengan kuat oleh lengan kiri Pendekar Tangan Seribu.


"****** kau iblis …"


"Bukk …"


"Heughh …"


Pendekar Tangan Seribu melepaskan pukulan terakhirnya. Si Cambuk Iblis terpental ke belakang sampai merobohkan pohon besar seukuran satu lingkaran tangan orang dewasa. Dia tewas dengan dada yang hancur. Seluruh tubuhnya mengepulkan asap dan melepuh.


Pendekar Tangan Seribu langsung duduk bersila menghimpun tenaga dalamnya. Selain itu, ia juga merasakan tubuhnya mulai terserang sebuah racun.

__ADS_1


"Hoekk …" ia muntah darah kehitaman. Cakra Buana segera mendekatinya begitu melihat rekannya membuka mata.


__ADS_2