
"Ada urusan apakah sehingga dia mengutus kalian ke tempatku?" tanya Prabu Ajiraga.
"Kami di utus untuk menyampaikan suatu hal yang penting Yang Mulia Raja," ucap Pendekar Tangan Seribu.
Cakra Buana hanya diam saja sambil matanya melirik ke sekeliling di balik topeng kayu berukirnya. Saat ini, Cakra Buana sudah mampu menekan gejolak dalam diri, meskipun belum seutuhnya, namun itu lebih baik daripada pas saat memasuki Istana Kerajaan Kawasenan.
"Tentang apakah itu? Katakanlah," kata Prabu Ajiraba menyuruh Pendekar Tangan Seribu untuk membicarakan hal yang dimaksud.
"Ini menyangkut tewasnya Sepuluh Pendekar Saudara Yang Mulia," kata Pendekar Tangan Seribu.
Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma langsung memicingkan mata dan memandang tajam ke arah Pendekar Tangan Seribu.
"Hemm …, lanjutkan"
"Prabu Katapangan ingin meminta maaf terkait kejadian tewasnya Sepuluh Pendekar Saudara. Mereka tewas saat di perjalanan pulang, tepatnya di sebuah jalan tengah hutan. Prabu Katapangan Kresna sudah memperingatkan mereka untuk menginap barang beberapa hari guna memulihkan tenaga yang terbuang dan supaya bisa menjamu mereka dengan apa yang di kerajaan. Sayangnya Sepuluh Pendekar Saudara tetap bersikeras ingin pulang hari itu juga. Karena menurut perkataan mereka, di sini Yang Mulia Raja sudah menunggu. Sehingga Sepuluh Pendekar Saudara tidak berani menunda-nunda waktu," ucap Pendekar Tangan Seribu. Sambil ia bicara, sesekali matanya memandang raja Kerajaan Kawasenan tersebut.
Semua orang yang ada di ruangan pertama tersebut terkejut. Tak terkecuali Prabu Ajiraga dan keluarganya. Kemarin telik sandi mereka membicarakan bahwa Sepuluh Pendekar Saudara tewas di kotaraja Kerajaan Tunggilis. Bahkan diduga pelakunya adalah orang-orang mereka.
Tapi sekarang, Pendekar TanganSeribu atau lebih tepatnya utusan Kerajaan Tunggilis, mengatakan bahwa Sepuluh Pendekar Saudara tewas di bunuh. Berita mana yang benar?
Semua pendekar Kerajaan Kawasenan saling pandang satu sama lain. Mereka juga turut memandang rekan-rekan mereka, bahkan memandang pula kepada sang raja barangkali ada sebuah perintah.
Tapi Prabu Ajiraga hanya diam saja. Ia mengangguk kepada orang-orangnya dan menyuruh mereka diam dengan bahasa isyarat.
"Hemm, siapa yang sudah membunuh Sepuluh Pendekar Saudara? Apakah pelakunya sudah ditemukan?" tanya Prabu Ajiraga.
"Untuk saat ini masih belum Yang Mulia. Tapi pihak Kerajaan Tunggilis sudah menyebarkan beberapa orang telik sandi untuk mengatasi masalah ini. Mungkin kurang dari satu minggu, pelakunya sudah ditemukan," kata Pendekar Tangan Seribu.
Prabu Ajiraga hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Dia tidak menjawab apapun dan tidak membahasnya lebih jauh.
"Jadi bagaimana prabu, apakah Kerajaan Tunggilis harus memberikan upeti lagi, atau bagaimana?" tanya Pendekar Tangan Seribu.
__ADS_1
"Masalah itu kita bicarakan nanti saja. Sekarang mari kita makan saja dulu," ajak Prabu Ajiraga.
Pendekar Tangan Seribu mengangguk. Mereka pun segera pergi ke ruang makan. Di sana menu makanan mewah sudah siap untuk di santap. Orang-orang penting itu segera makan. Setelah makan, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu meminta izin untuk kembali lagi.
"Jangan terlalu buru-buru. Menginap lah di sini beberapa hari. Atau kalau tidak, biarkan orang-orangku mengajak kalian mengunjungi tempat-tempat indah yang ada di sini," ucap Prabu Ajiraga.
"Terimakasih Yang Mulia. Tapi tadi kami sudah memesan kamar di sebuah penginapan, kalau ada perlu, Yang Mulia bisa panggil kami lag," katanya.
"Baiklah kalau begitu. Kalau ada apa-apa bicara saja. Aku akan membantu kalian,"
"Terimakasih Yang Mulia Raja,"
Setelah berbasa-basi, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu pamit undur diri. Keduanya kembali lagi ke penginapan sebelumnya. Sepanjang perjalanan ke penginapan, Cakra Buana tidak banyak bicara karena ia takut akan terdengar oleh orang-orang kerajaan.
Sedangkan di kerajaan sendiri, semua pendekar berkumpul kembali di ruangan utama. Jumlahnya ada sekitar sepuluh orang. Pendekar yang saat ini berada di ruangan tersebut, sebagian merupakan pendekar yang kemarin di suruh untuk mencar informasi.
"Yang Mulia, mohon maaf sebelumnya. Tapi jujur saja bahwa hamba merasa ganjil dengan semua penuturan utusan Kerajaan Tungglis. Hamba merasa ada sesuatu di balik semua ini," kata seorang pria berumur sekitar empat luluh tahunan. Rambutnya sebagian sudah memutih, ia mengenakan pakaian hijau tua dengan golok di pinggangnya.
"Kau benar Golok Hijau. Aku pun merasa demikian. Semua penuturannya, terasa ganjil," kata Prabu Ajiraga.
"Aku jelas merasa urusan itu yang berbohong. Tapi coba saja kau panggil teluk sandi itu," kata Prabu Ajiraga menyuruh pendekar tadi untuk memanggilkan telik sandi yang kemarin memberi laporan.
Si pendekar mengangguk. Dia segera keluar mencari orang yang dimaksud. Tak lama, telik sandi yang melaporkan kejadian tewasnya Sepuluh Pendekar Saudara pun datang menghadap. Dia segera memberikan hormatnya.
"Aku mau tanya, kau mendapatkan berita kematian tentang Sepuluh Pendekar Saudara dari siapa?"
"Hamba mendapatkan berita itu dari seseorang Yang Mulia,"
"Sebutkan siapa namanya,"
"Si Picak Pengelana,"
__ADS_1
"Dia bicara bagaimana?" tanya Prabu Ajiraga.
"Dia memberitahukan bahwa Sepuluh Pendekar Saudara awalnya bertarung dengan seorang pendekar wanita yang memiliki wajah sangat cantik. Bahkan pendekar wanita itu seperti bukan keturuan orang Sunda asli. Saat si pendekar wanita mulai terdesak, tiba-tiba muncul seorang pendekar muda yang memakai pakaian serba putih. Pendekar muda itu kemudian menghajar Sepuluh Pendekar Saudara menggunakan Jurus Kedua Tapak Menghisap Matahari sampai mereka tewas," kata si telik sandi menjelaskan.
"Dia hanya menceritakan kejadiannya seperti itu kepadamu?"
"Benar Yang Mulia,"
"Apakah kau tahu saat kejadian itu dia berada di mana?"
"Menurut pengakuannya, saat kejadian pertarungan tersebut, si Picak Pengelana sedang makan di tempat itu. Kebetulan di sana ada penginapan sekaligus kedai makan,"
"Baiklah kalau begitu. Kau boleh kembali,"
"Terimakasih Yang Mulia," kata si telik sandi lalu pergi dari sana.
Saat setelah telik sandi pergi, Prabu Ajiraga melamun untuk beberapa saat. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Setelah beberapa lama terdiam, raja itu pun angkat bicara lagi.
"Aku mengerti sekarang," katanya dengan suara agak keras.
"Maksud Yang Mulia?" tanya salah seorang.
"Sepertinya Kerajaan Tunggilis sedang merencanakan sesuatu terhadap kita," kata Prabu Ajiraga semakin merasa curiga.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang Yang Mulia?"
"Salah seorang dari kalian, pergi cari di mana mereka menginap. Ikuti ke mana pun mereka pergi dan jangan lupa, dengarkan kalau mereka bicara," perintah Prabu Ajiraga.
Lalu tiga orang dari sepuluh pendekar pun segera berdiri dari tempat duduknya masing-masing. Mereka segera pergi menjalankan perintah junjungannya untuk mencari informasi terkait Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.
Sementara di tempat lain, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu saat ini sedang duduk di sebuah kedai kecil di pinggiran danau. Keduanya sengaja mampir dulu ke tempat tersebut karena takut orang-orang istana membuntuti mereka.
__ADS_1
"Paman, apakah kau merasa ada yang aneh saat tadi kita berada di istana?" tanya Cakra Buana secara tiba-tiba.
"Hemm … aku merasakan sesuatu yang sama sepertimu pangeran," ucap Pendekar Tangan Seribu.