
Waktu untuk bergerak telah tiba. Puluhan orang yang tergabung dalam satu rombongan tersebut sudah berdiri dan siap untuk memulai aksinya. Mereka semua sedang menunggu komando dari Nyai Tangan Racun Hati Suci.
"Kalian semua sudah siap?" tanya Nyai Tangan Racun kepada puluhan anggota.
"Siap …" jawab mereka secara bersamaan.
"Bagus, kita bergerak. Tapi aku akan mengubah rencana,"
"Silahkan lanjutkan saja Nyai," ucap Raja Tombak Emas dari Utara.
"Baiklah. Aku ingin kita berpencar menjadi beberapa kelompok. Tujuannya supaya bisa menyelidiki seluruh area dengan mudah dan sempurna. Karena kalau tidak begitu, ditakutkan ada pihak musuh yang mengintai dan tidak kita tahu," kata Nyai Tangan Racun.
Semua orang mengangguk. Mereka tentu setuju dengan usul tersebut. Sebab menurutnya, memang apa yang dikatakan oleh Nyai Tangan Racun, ada benarnya.
Hutan ini cukup luas. Rimbun dan pohonnya rapat pula. Bisa jadi pihak musuh sudah mengetahui kedatangan mereka dan sengaja menggiring masuk.
Aapalgi sekarang malam hari, segala kemungkinan bisa saja terjadi.
"Tunggu, masalah memeriksa seluruh isi hutan, serahkan saja kepada kami berdua. Kalian langsung masuk saja ke dalam. Asalkan kalian memberikan tanda untuk jalan masuk ke sana. Berdua lebih baik, sebab lebih bisa bergerak leluasa," kata Cakra Buana tiba-tiba angkat bicara.
Semua orang saling pandang. Mereka semua tahu bagaimana kemampuan si pemuda berjuluk Pendekar Tanpa Nama tersebut. Kalau tokoh yang lain, pasti akan langsung setuju. Tapi entah dengan Nyai Tangan Racun Hati Suci.
Dia nampak berpikir untuk beberapa saat. Wanita tua itu sudah tentu pernah mendengar sepak terjang Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap. Hanya saja, dia belum pernah menyaksikan secara langsung bagaimana kekuatannya.
Tiba-tiba dia menatap tajam Cakra Buana. Mata itu, walaupun dalam malam gelap, tapi terlihat sangat menyeramkan. Mata tersebut nampak mengeluarkan kilatan cahaya serta kekuatan cukup hebat.
Kalau orang lain yang menerima tatapan sepasang mata tersebut, sudah pasti mereka akan merasa ketakutan. Bahkan kalau tidak kuat, mungkin bisa pingsan di tempat.
Sebab tatapan yang diberikan Nyai Tangan Racun Hati Suci kepada Pendekar Tanpa Nama, bukanlah sembarangan tatapan.
Tatapan itu memang mengandung kekuatan lain dan dapat mempengaruhi orang yang ditatap.
Hanya saja, Nyai Tangan Racun Hati Suci terlihat sedikit terkejut saat menyadari bahwa anak muda di hadapannya sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan yang dia berikan.
Justru dengan santainya, Cakra Buana alias si Pendekar Tanpa Nama, membalas tatapan tersebut dan bahkan sambil tersenyum.
Nyai Tangan Racun si datuk rimba hijau mengangguk puas. Dia langsung menilai bahwa kemampuan pemuda itu tidak rendah.
"Baiklah kalau begitu. Nanti aku beri tanda sebagai petunjuk ke dalam," katanya setelah puas menguji Cakra Buana.
__ADS_1
"Baik. Terimakasih Nyai sudah percaya kepada kami," jawab Cakra Buana singkat.
Wanita tua tersebut mengangguk. Dia kemudian memberikan kode kepada yang lainnya.
Mereka langsung mengerti.
Tak lama, Nyai Tangan Racun Hati Suci langsung bergerak cepat masuk ke dalam hutan. Dua tokoh mengikuti di belakangnya. Sedangkan tiga lagi berada di belakang rombongan untuk menjaga keselamatan para anggota.
Hanya dalam sekejap mata, mereka telah lenyap ditelan kegelapan malam.
Kini yang ada di pinggir hutan hanya Cakra Buana dan Sinta Wulansari saja. Keduanya masih diam, belum bergerak menjalankan tugas.
"Sinta, kau ke kiri. Aku ke kanan, kita bertemu lagi di sini. Bagaimana?" tanya Cakra Buana.
"Baik kakang. Aku mengikuti apa katamu,"
"Bagus. Kalau begitu kita bergerak sekarang juga. Kita harus cepat," ujar Pendekar Tanpa Nama.
Bidadari Tak Bersayap mengangguk. Dia pun tahu bahwa sekarang memang bukan saat untuk bersantai.
Setelah keduanya setuju, mereka pun segera bergerak. Keduanya berpencar sesuai kesepakatan semula.
Pakaian merah muda kesukaannya terlihat bercahaya di dalam kegelapan.
Di sisi lain, para tokoh dan rombongan sudah semakin masuk ke dalam Hitan Larangan. Selama perjalanan, belum ada tanda-tanda gangguan apapun.
Mereka bergerak cukup cepat supaya bisa sampai ke tujuan utama dalam waktu singkat.
Nyai Tangan Racun Hati Suci memimpin rombongan. Dia membawa orang-orang tersebut ke jalan yang cukup berliku. Tujuannya adalah supaya menghilangkan jejak dan tidak terendus oleh musuh.
Berbagai macam warna berkelebat cepat di dalam hutan. Gerakan orang-orang itu hampir tidak menimbulkan suara sama sekali.
Sementara itu, Cakra Buana sudah cukup jauh menyusuri Hutan Larangan. Pendekar Tanpa Nama belum menemukan keganjilan apapun. Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda kejadian yang tidak diinginkan akan terjadi.
Yah saat ini, saat ini memang belum. Tetapi entah kalau sebentar lagi.
Cakra Buana mulai merasa tidak enak hati. Firasatnya mengatakan bahwa sesuatu akan segera terjadi sebentar lagi.
Saat dia sedang berlari menyusuri beberapa tempat di hutan, tiba-tiba sebuah desirsn angin kencang terasa dari tiga arah berbeda. Kanan, kiri, dan belakang.
__ADS_1
Desiran angin itu cukup kencang dan membawa serta angin dingin.
Cakra Buana yang seluruh tubuhnya telah terlatih terhadap bahaya apapun, langsung menunjukkan reaksinya.
Secara tiba-tiba, mendadak Pendekar Tanpa Nama itu menjejakkan kakinya ke sebatang pohon lalu segera berjungkir balik.
"Blarrr …"
Tiga ledakan terdengar cukup keras. Tiga batang pohon berukuran cukup besar langsung hancur berkeping-keping. Tapi hal tersebut bukan dihasilkan karena sebuah jurus.
Melainkan hanya karena tiga bilah pisau kecil.
Namun walaupun kecil, tiga pisau tersebut ternyata mengandung kekuatan besar di dalamnya. Selain itu, luncurannya juga terasa sangat cepat sekali.
Cakra Buana tidak terlalu terkejut. Dia sudah mengira hal seperti ini akan terjadi.
Kini di hadapan Penddkar Tanpa Nama sudah berdiri tiga orang berpakaian serba hitam. Postur tubuh mereka sama. Dan penampilannya juga sama. Mereka semua menggunakan pedang bergagang tengkorak.
Bahkan di punggung baju mereka, terdapat pula simbol berlambang tengkorak.
"Hemm, anggota Organisasi Tengkorak Maut …" desis Cakra Buana sambil memandang tajam ke arah tiga orang tersebut.
Tiga orang yang memang merupakan anggota Organisasi Tengkorak Maut, mereka segera menyerang Cakra Buana tanpa sempat berkata sepatah kata sekalipun.
Sambil melesat, mereka melemparkan lagi beberapa pisau kecil yang sangat tajam dan meluncur cepat seperti sebelumnya.
Kalau tadi tidak melihat saja bisa menghindari, apalagi sekarang ketika dia melihatnya.
Sudah tentu mudah saja bagi Cakra Buana.
Dia hanya perlu memutarkan kedua tangannya, lalu secara cepat dia langsung menghentakkan kedua tangannya ke depan.
"Haaa …"
Sebuah sinar merah meluncur deras menyambut pisau yang dilemparkan tiga lawannya.
"Blarrr …" benturan kembali terjadi.
Gelombang kejutnya cukup besar. Burung-burung yang sedang bertengger dan beristirahat, langsung beterbangan karena terkejut.
__ADS_1