
Pedang milik Kakek Sakti berhasil memberikan sebuah luka robekan pada pangkal lengan kanan Ki Ragen Denta hingga membuat datuk rimba hijau itu mengeluh.
Meskipun luka yang diterima tidak terlalu dalam, tapi rasa perih sudah mulai menggerogoti dirinya. Luka akibat senjata pusaka memang berbeda dengan senjata biasa.
Ki Ragen Denta segera melompat mundur begitu dirinya berhasil dilukai. Dia langsung menyalurkan hawa murni dan menotok jalan darah di sekitar lukanya tersebut.
Akibat luka pedang pusaka, kemarahan Ki Ragen Denta semakin tersulut. Dia berteriak dengan sangat keras untuk mengeluarkan ajian terlarang miliknya.
Sebab menurut perhitungannya, jika dia terus bertarung hanya dengan mengandalkan pusaka saja, maka peluang untuk keluar sebagai pemenang sangatlah kecil.
Oleh sebab itu, setelah berpikir beberapa saat, Ki Ragen Denta telah memutuskan untuk mengeluarkan ajian terlarang yang dia ciptakan ketika menyepi.
"Ajian Iblis Pengejar Nyawa …"
"Wuttt …"
Kejadian seperti sebelumnya kembali terulang, angin berderu dengan kencang di sekitar pertarungan dirinya. Suara-suara aneh mirip roh penasaran memecah kesunyian malam.
Tiba-tiba saja, muncul sebuah asap hitam di pinggir Ki Ragen Denta. Perlahan tapi pasti, asap hitam itu mulai membentuk satu sosok.
Sosok tersebut bertubuh hitam legam. Matanya semerah darah dan ada dua taring yang muncul. Di tangan kanan sosok iblis tersebut, ada sebuah trisula hitam yang di genggam dengan sangat erat.
Segumpal asap hitam tadi sudah benar-benar menjelma menjadi sosok iblis dengan sempurna. Iblis itu sangat menyeramkan. Dia memandang ke arah Sepasang Kakek dan Nenek Sakti dengan tatapan mengerikan.
"Iblis Pengejar Nyawa, aku membutuhkan bantuanmu," kata Ki Ragen Denta kepada iblis tersebut.
"Kau tenang saja. Asalkan ada persembahan yang akan kau berikan jika musuhmu itu berhasil tewas ditanganku," jawab iblis yang dikenal sebagai Iblis Pengejar Nyawa tersebut.
"Tenang saja. Aku sudah tahu, nanti akan aku berikan dua gadis muda atas jasamu ini," jawab Ki Ragen Denta.
"Hahaha … bagus, bagus. Kalau begitu, mari kita bereskan sekarang juga," kata si Iblis Pengejar Nyawa.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Kin Ragen Denta dan Iblis Pengejar Nyawa sudah maju menyerang. Gerakan keduanya mengandung tenaga yang begitu besar.
__ADS_1
Berbarengan dengan kejadian munculnya Iblis Pengejar Nyawa, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti pun menjadi sedikit gentar atas apa yang terjadi barusan.
Keduanya merasa bahwa makhluk itu bukanlah iblis biasa, terlebih lagi keduanya merasakan ada sebuah energi yang sangat menekan.
"Kakang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Nenek Sakti.
"Tenanglah nyimas. Kita gunakan juga jurus terakhir. Aku rasa tidak ada cara lain lagi kecuali menggunakan jurus itu," jawab Kakek Sakti.
"Baiklah kalau begitu. Mari kita segera lakukan," kata Nenek Sakti.
"Baik …"
"Amarah Dewa dan Dewi …"
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Sepasang Kakek dan Nenek sakti melompat untuk menyambut serangan lawan. Tubuh kedua orang tua itu mendadak sedikit bercahaya, termasuk pula pedang pusaka mereka.
"Trangg …"
"Trangg …"
"Wuttt…"
Mereka kembali bertarung. Tapi sekarang pertarungannya akan lebih hebat lagi. Terlebih karena masing-masing pihak sudah mengeluarkan jurus pamungkasnya. Empat sosok itu berkelebat tiada henti di bawah gelapnya malam.
Di sisi lain, pertarungan antara Cakra Buana melawan Munding Aji dan Adipati Wulung Sangit sudah berjalan lebih dari tiga puluh jurus. Ketiga pendekar tersebut mulai terlihat kelelahan. Keringat sudah membasahi sekujur tubuh mereka. Beberapa luka sudah terlukis pada masing-masing tiga pendekar tersebut.
Saat ini giliran Cakra Buana yang menyerang dengan kekuatan penuh. Pedang Pusaka Dewa berkelebat kesana-kemari mencari mangsa. Pedang itu seolah memiliki mata sendiri.
Kemana pun lawan bergerak, maka Pedang Pusaka Dewa akan selalu mengancam. Pedang dan pemiliknya seperti sudah menyatu. Cakra Buana bukan seperti pemilik pedang, melainkan menjadi seperti bagian dari pedang. Jiwanya sudah menyatu dengan pedang.
Memang demikian seharusnya. Dalam hidup, jangan hanya menjadi pemilik atau pemeran saja. Tapi jadilah bagian didalamnya. Jika kau jadi penulis, jangan jadi penulisnya. Tapi jadilah bagian daripada tulisannya. Gunakan jiwamu. Satukan jiwamu. Karena apapun dalam hidup, sejatinya butuh yang namanya penjiwaan.
Munding Aji dan Adipati Wulung Sangit semakin kewalahan. Tenaga mereka sudah berkurang drastis karena dari tadi sudah mengeluarkan ajian atau jurus senjata tingkat tinggi. Tapi sayangnya semua itu bisa ditahan dengan mudah oleh Cakra Buana.
__ADS_1
"Wuttt …"
"Wuttt …"
"Brettt …"
"Ahhh …"
Munding Aji mengeluh disaat Pedang Pusaka Dewa berhasil merobek dadanya. Darah segera keluar membasahi pakaian yang dia kenakan. Murid Ki Ragen Denta itu melompat mundur. Niatnya untuk menyalurkan hawa murni dan menotok jalan darah, tapi sayangnya niat itu harus gugur ketika melihat Cakra Buana terus menyerang dirinya tanpa jeda.
"Wuttt …"
Pendekar Maung Kulon itu bergerak semakin cepat. Dia seolah mirip sekelebat sinar yang bergerak kesana-kemari. Hingga pada akhirnya …
"Slebbb …"
"Ahhh …" mati.
Pedang Pusaka Dewa akhirnya menemukan sasarannya. Seketika itu juga Munding Aji langsung berhenti bergerak ketika merasakan ada benda dingin menusuk jantungnya. Matanya menengok ke bawah dan dia mendapati bahwa senjata lawan sudah bersarang. Bahkan menembus hingga ke punggung.
Hanya beberapa saat saja Munding Aji melotot ke arah Cakra Buana sebelum akhirnya dia tewas dengan ekspresi wajah yang tidak percaya.
Melihat bahwa "rekan seperjuangannya" tewas, tanpa basa-basi lagi Adipati Wulung Sangit langsung menyerang Cakra Buana.
Keris Naga Bumi dia julurkan ke depan, siap untuk menusuk punggung lawan. Sayang, Cakra Buana bukanlah pendekar kelas teri. Maka ketika dia merasakan ada hawa dingin bergerak ke arahnya, Cakra Buana sudah siap siaga. Tapi dia belum membalikan tubuhnya.
Melihat bahwa lawan seperti tidak menyadari akan bahaya, Adipati Wulung Sangit merasa sangat gembira. Dia begitu yakin bahwa kali ini, Cakra Buana akan tewas.
Begitu sudah berjarak sekitar dua jengkal dari sasaran, Adipati itu lalu berteriak, "Mati kau …"
"Wuttt …"
"Slebbb …"
Sebuah suara senjata yang menusuk terdengar. Suasana hening beberapa saat. Adipati Wulung Sangit mendelik kepada Cakra Buana. Ternyata bukan dirinya yang menusuk, tapi justru dia lah yang tertusuk.
Sebenarnya, ketika Keris Naga Bumi sudah hampir mencapai punggungnya, Cakra Buana sudah mencabut Pedang Pusaka Dewa. Maka ketika beberapa jarak antara keris dan dirinya sudah demikian dekat, secepat kilat Cakra Buana mendahului Adipati Wulung Sangit dengan cara menusukan bagian perutnya tanpa menoleh.
__ADS_1
Darah segar terlihat keluar deras dari perut Adipati Wulung Sangit. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi sayangnya tidak tersampaikan. Karena ketika Pedang Pusaka Dewa dicabut, saat itu pula nyawanya benar-benar hilang.