
"Siapa orang itu?" tanya Pendekar Tangan Seribu. Mata yang tadinya teduh, kini menjadi liar.
Pendekar Tangan Seribu mirip seperti Cakra Buana, ia tidak suka kalau ada orang yang menguping pembicaraannya.
"Sepertinya mereka orang-orang yang mempunyai niat lain," ucap Jalak Putih.
Tanpa banyak bicara lagi Pendekar Tangan Seribu lalu mendekati mayat tersebut. Dia langsung memeriksa mayat itu. Pria serba hitam itu menemukan sebuah tanda di balik pundak si mayat. Sebuah gambar yang cukup indah namun sedikit menyeramkan.
Tanda tersebut berupa tiga tangkai bunga Melati berwarna hijau tua.
"Orang-orang melati hijau," desis Pendekar Tangan Seribu.
Ketiga rekannya hanya diam saja. Mereka tidak menunjukkan kekagetan. Tapi tiba-tiba, ada sebuah senjata rahasia yang melesat cepat ke arah mereka. Senjata rahasia itu menimbulkan bunyi mendesing. Jumlahnya ada empat. Dengan gerakan cepat, Pendekar Tangan Seribu sudah menangkap keempatnya.
Senjata rahasia itu ternyata sebuah paku berwarna emas. Datangnya dari arah kiri, di balik pepohonan yang rimbun.
"Si Paku Emas," desisnya.
Belum sempat melanjutkan obrolan yang tertunda, lagi-lagi sebuah serangan gelap datang tak disangka-sangka. Kali ini datangnya dari arah depan.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Serangan gelap kali ini jauh lebih cepat dan berbahaya daripada dua serangan sebelumnya. Gagak Bodas segera bertindak. Ia bergerak seperti bayangan. Delapan buah baja tipis berbentuk segitiga dengan ujung sangat tajam, sudah ia genggam dengan tangan kanan dan kirinya.
"Si Pelempar Maut …" desis Gagak Bodas.
Suasana yang tadinya nyaman dan damai karena rembulan bersinar terang, kini jadi sebaliknya. Kedamakan dan kenyamanan lenyap. Digantikan dengan suasana mencekam. Hawa pembunuh semakin terasa menyesakkan dada. Keempat orang yang sedari tadi bicara ngalor-ngidul itu mengambil sikap waspada.
Gagak Bodas segera menyerahkan pedang pusaka itu, Cakra Buana segera menyarungkan kembali Pedang Pusaka Dewa dan membungkusnya dengan kain putih.
Kini Cakra Buana, Pendekar Tangan Seribu, Gagak Bodas dan Jalak Putih sudah berdiri saling memunggungi. Mata mereka menatap tajam ke tempat gelap yang dicurigai. Pendekar Tangan Seribu melemparkan kembali paku emas sesuai asalnya.
"Wushh …"
Kilatan emas melesat cepat memancarkan cahaya kuning emas bergaris. Gagak Bodas pun segera kembali melemparkan baja tipis berbentuk segitu itu sambil di isi dengan tenaga dalamnya.
"Wuttt …"
Senjata rahasia melesat lebih cepat dari Pendekar Tangan Seribu. Bahkan segitiga tajam itu mengeluarkan bunyi mendesing seperti saat pertama kali di lemparkan oleh pemiliknya.
__ADS_1
Mereka menunggu beberapa saat. Tapi tak ada gerakan dari balik kegelapan. Padahal Pendekar Tangan Seribu dan Gagak Bodas sangat yakin bahwa orang yang melempar ada di tempat tersebut.
Detik berikutnya, senjata rahasia kembali muncul. Kali ini dari segala penjuru. Bahkan anehnya datang secara berbarengan, dengan kecepatan yang sama, dan dengan incaran yang sama.
Keempat orang itu bergerak sesuai perasaanya. Sebab kalau menghadapi serangan gelap di malam hari, yang dibutuhkan bukam hanya mata saja. Perasaan pun memiliki peranan penting.
Semua senjata rahasia runtuh di depan mereka. Entah bagaimana caranya, tak ada satu pun yang berhasil mengenai sasaran.
"Kalau sudah ketahuan, untuk apa masih bersembunyi? Keluarlah. Kita minum teh bersama," kata Jalak Putih dengan suara yang dialiri tenaga dalam.
Tak lama, dari tempat gelap di berbagai sisi, muncul empat orang dengan pakaian yang berbeda. Satu di antaranya merupakan seorang wanita cantik. Ia memakai pakaian hijau muda, rambutnya diikat sebagian. Sebagian lagi dibiarkan menjuntai melambai-lambai.
Dua lainnya merupakan pria tua. Terlihat dari rambut dan wajah mereka yang mulai keriput di makan usia. Sedangkan yang satu lagi merupakan seorang muda. Usianya paling tidak baru tiga puluh dua tahun.
"Paku Emas, Melati Hijau, Pelempat Maut, dan kau …" ucapan Jalak Putih terhenti. Sebab ia tidak mengenali pemuda befpakaian cokelat tanpa lengan itu.
"Bagas Sora," kata si pemuda. Nadanya terdengar dingin, bahkan saat menatap, tatapannya terlihat kosong. Tapi di balik kekosongan itu, tersimpan sebuah isi yang berbahaya.
"Ah terimakasih. Senang bisa bertemu dengan kalian, mari kita minum teh dulu," kata Jalak Putih.
"Aku akan minum teh sesudah berhasil mendapatkan sesuatu yang aku cari," kata si Paku Emas.
"Aku bersedia saja. Bahkan melayani kalian pun aku mau, asalkan kalian mau memberikan barang incaranku," kata si wanita yang berjuluk Melati Hijau.
"Ya," jawab mereka serempak.
"Apa itu?"
"Pedang Pusaka Dewa," mereka menjawab serempak lagi seperti mendapatkan komando.
"Hemm, apakah kalian datang bersama juga? Kenapa kalian sekompak ini?" Pendekar Tangan Seribu sedikit kebingungan melihat kekompakan empat orang itu.
"Tidak. Bahkan aku saja baru tahu bahwa ternyata ada orang lain selain aku dan anak buahku yang tadi tewas," ucap Melati Hijau.
"Sungguh unik," kata Gagak Bodas.
"Kalian jangan takut. Kami tidak akan membunuh, asalkan Pedang Pusaka Dewa itu diserahkan secara baik-baik," kata si Paku Emas.
Keempat orang itu bukanlah pendekar biasa. Mereka cukup memiliki nama. Terutama di daerahnya masing-masing. Apalagi si Paku Emas, si Melati Hijau dan si Pelempar Maut, ketiganya merupakan tokoh yang cukup disegani.
"Paku Emas, apakah kau tidak memandangku lagi? Ini kediamanku dan kakak seperguanku. Aku harap kalian setidaknya memberikan muka,"
__ADS_1
"Aku memandangmu. Aku tahu siapa kau, dan kau pun tahu siapa aku. Kalau dalam masalah lain, aku tidak ingin membuat keributan. Tapi kalau menyangkut Pedang Pusaka Dewa, ceritanya lain lagi," ujar si Pelempar Maut. Sedari tadi kedua tangannya sudah memainkan dua bilau pisau tajam yang berkilat dalam kegelapan. Ia terkenal dengan lemparannya yang secepat kilat.
"Lebih baik segera saja serahkan pedang pusaka itu," kata si Melati Hijau.
"Itu bukan barang milikku. Tapi milik pemuda itu," ucap Jalak Putih.
"Kalau begitu, bicaralah padanya supaya dia mau memberikannya kepadaku,"
"Kalau dia tidak mau?"
"Terpaksa aku akan memaksanya,"
"Kau ingin merebutnya secara paksa?"
"Bukan aku saja, tapi yang lain pun aku pikir sama denganku," kata wanita yang mempunyai paras bulat telur itu.
"Mereka berdua tamuku. Jadi untuk saat ini, aku bertanggungjawab atas keselamatan keduanya," kata Gagak Bodas.
"Kalau begitu, terpaksa …" kata si Pelempar Maut tidak menyelesaikan perkataannya.
"Terpaksa apa?" tanya balik Jalak Putih.
"Terpaksa aku akan mengantarkanmu ke neraka …"
Selesai berkata demikian, dia langsung melemparkan dua buah pisau yang dari tadi sudah ia mainkan itu.
"Wushh …"
"Wushh …"
Dua buah sinar melesat cepat. Dalam hitungan detik, kedua pisau sudah tiba di depan lawan. Padahal jaraknya lumayan jauh. Kalau yang dia hadapi pendekar kelas menengah, mustahil orang itu bisa selamat dari senjata si Pelempar Maut. Ia baru mengeluarkan setengah tenaga dalamnya, kalau setengah saja secepat ini, apalagi jika semua tenaga dalam dikerahkan?
"Tapp …"
"Tapp …"
Jalak Putih dan Gagak Bodas menangkap pisau itu dengan mulus. Bahkan mereka menangkap hanya memakai dua jari saja.
Tak berhenti sampai di situ, si Melati Hijau segera menyusul. Ia melemparkan empat senjata rahasia berbentuk bunga melati yang sudah di lumuri racun ular hijau
"Wushh "
__ADS_1
"Wushh …"
Lemparannya sama cepat dengan si Pelempar Maut. Tapi karena jumlahnya lebih banyak, sudah pasti lawan akan kerepotan. Pikirnya mungkin begitu, tapi nyatanya tidak. Dengan gerakan sederhana saja, kakak dan adik seperguruan itu kembali berhasil menangkapnya. Kemudia mereka menjatuhkan senjata itu begitu saja.