Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Rencana Selanjutnya


__ADS_3

Kekuatan dahsyat langsung merembes keluar dari tubuh Manusia Pasir Besi Panas. Tangannya berubah menjadi ungu dan berbau busuk.


Si Tangan Tanpa Belas Kasihan tersentak. Dia melompat mundur ke belakang untuk sekedar menghindari bau busuk tersebut. Tuan Santeno Tanuwijaya tahu bahwa jurus yang dikeluarkan oleh Manusia Pasir Besi Panas ini adalah jurus pukulan mengerikan.


Sebuah jurus pukulan yang mengandung racun ganas. Entah apa namanya jurus tersebut, namun yang pasti, dia sudah hafal betul bahwa pukulan tersebut memiliki racun yang sanggup menewaskan beberapa pendekar sekaligus.


Begitu semua jurus sudah terkumpul di dalam kedua a tangan, Manusia Pasir Besi Panas memulai lagi serangannya. Dia melompat sambil melancarkan pukulan beracun tersebut.


Uap berwarna ungu pekat menyembur ke arah Tuan Santeno Tanuwijaya bersamaan dengan lesatan pukulan lawan.


Maha guru Perguruan Tunggal Sadewo itu mencoba untuk menghindarinya, dia belum menemukan cara yang tepat untuk melawan jurus Manusia Pasir Besi Panas.


Beberapa gempuran serangan sudah di lancarkan oleh lawan. Kedua tangan beracun itu terus memberikan pukulan hebat ke arahnya. Berbagai titik penting di tubuh menjadi sasaran utama.


Namun Tuan Santeno dapat menghindar karena ilmu meringankan tubuh yang dia miliki sudah mencapai puncak.


Di saat kebingungan seperti itu, Tuan Santeno mendengar ada sebuah suara yang memasuki gendang telinganya.


"Jurus lawan hanya hebat dibagian racun dan hanya berguna kepada para pendekar yang berada di bawah tingkatannya. Aku lihat tuan menang seurat dari lawan, karena itu jangan takut. Hadapi saja dia, lindungi dulu dirimu dengan hawa murni supaya bisa menetralisir racun yang diberikan,"


Sebuah suara yang jelas dia kenal. Suara itu adalah milik Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama.


Karena Tuan Santeno tahu siapa yang bicara barusan, dia tidak ragu lagi.


Si Tangan Tanpa Belas Kasihan berteriak, selepas itu tubuhnya meluncur deras ke arah Manusia Pasir Besi Panas.


Jurus Dewa Bumi Memukul Langit Membalik Gunung masih dia gunakan. Kali ini dengan penuh rasa percaya diri.


Dua pukulan berat dan keras segera menerjang tubuh Manusia Pasir Besi Panas. Kedua tangan yang mengandung kekuatan besar segera beradu dengan dua tangan beracun ganas.

__ADS_1


Benturan terjadi. Suara ledakan terdengar karena dua jurus tingkat atas bertemu. Si Manusia Pasir Besi Panas terdorong tiga langkah ke belakang. Sedangkan Tuan Santeno si Tangan Tanpa Belas Kasihan, sama sekali tidak mengalami efek. Bahkan tubuhnya masih tetap tegar di tempatnya berdiri. Hanya ada hawa panas saja yang terasa menjalar ke tangan.


Tetapi itu bukanlah suatu masalah. Hawa panas tersebut hanyalah efek dari benturan tenaga dalam yant berlawanan


Tuan Santeno menyerang kembali. Hujan serangan pukulan dan tendangan segera dia lancarkan dengan ganas dan penuh keyakinan. Dua puluh jurus kemudian, Manusia Oasod Besi Panas berada dalam keadaan terdesak.


Gempuran pukulan Tuan Santeno entah sudah berapa banyak bersarang di berbagai titik tubuhnya. Lawan semakin kelimpungan. Ruang untuk membalas sudah tidak ada. Untuk menghindar, jelas itu adalah hal mustahil.


Sepuluh jurus kemudian, Manusia Tanpa Wajah terpental karena dadanya terkena pukulan telak. Jurus Dewa Bumi Memukul Langit Membalik Gunung berhasil.


Hanya dengan satu kali pukulan, Manusia Pasir Besi Panas tewas terkapar. Bahkan dadanya gosong. Organ dalam hancur. Dan darah terus merembes keluar.


Dua pertarungan selesai. Kedua tokoh aliran hitam tewas karena telah berani menyambangi markas harimau.


Cakra Buana segera menghampiri Tuan Santeno yang kini sedang mengatur tenaga dalamnya.


"Terimakasih Cakra, kalau kau tidak memberitahu, mungkin aku tidak akan secepat ini dapat membunuhnya," ujarnya menyampaikan rasa terimakasih.


Tuan Santeno manggut-manggut, dia semakin mengagumi sosok Pendekar Tanpa Nama ini. Seorang pendekar muda yang berbudi luhur, tahu sopan santun dan tidak pernah sombong kepada sesamanya. Orang mana yang tidak suka?


"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tahu bahwa jurus pukulan beracun itu tidak berguna kepadaku?" tanyanya penasaran.


"Itu mudah saja, wajah dia menunjukkan rasa kurang percaya diri. Mungkin karena dia menyadari bahwa kekuatanmu berada di atasnya. Selain itu, aku juga melihat ketika kau dekat dengannya, hawa beracun tersebut seperti tidak mau menyentuhmu kecuali sedikit,"


"Matamu memang jeli. Aku semakin kagum terhadapmu," ujarnya tulus sambil menepuk pundak Cakra Buana.


Sebenarnya Cakra Buana merasa malu menerima pujian seperti itu. Tetapi dia juga tidak berani untuk menolak. Sehingga pemuda tersebut hanya meresponnya dengan senyuman manis.


"Hari sudah semakin malam. Lebih baik kita segera kembali saja. Besok aku harus membuat surat agar bisa secepatnya menyerang markas utama Organisasi Tengkorak Maut,"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Mari Paman," kata Cakra Buana.


Setelah itu, keduanya segera kembali lagi ke perguruan untuk beristirahat karena merasa kelelahan.


Pagi-paginya ketika sudah selesai sarapan, beberapa guru dan Cakra Buana serta Bidadari Tak Bersayap, sudah berkumpul di sebuah balairung. Mereka sedang membicarakan langkah ke depan terkait rencana penyerbuan.


Tuan Santeno terlihat sedang fokus menulis surat di atas kulit rusa. Setelah beberapa saat lamanya menulis, akhirnya dia selesai juga melaksanakan tugasnya.


"Para guru sekalian, aku harap kalian mau menuruti perintahku," kata Tuan Santeno.


"Perintah apapun itu, kami siap menjalankannya," jawab seorang guru.


"Bagus. Aku minta kalian sebarkan undangan ini ke Organisasi Pelindung Negeri. Juga kepada beberapa tokoh lain. Jangan sampai surat dariku ini tidak sampai ke tujuan. Situasi sekarang sangat gawat, kalau kita tidak segera bergerak, itu artinya kita sudah kalah satu langkah,"


"Titah tuan segera kami laksanakan. Kalau begitu, kami pamit undur diri,"


Empat guru Perguruan Tunggal Sadewo segera mengundurkan diri. Mereka langsung menjalankan tugas yang diberikan. Semuanya harus bergerak cepat, karena kalau sampai terlambat, masalahnya akan bertambah runyam.


"Paman, apakah Organisasi Pelindung Negeri akan membantu kita mengatasi hal ini? Aku dengar, organisasi itu sangat sulit dimintai bantuan. Kecuali kalau memang ada bayarannya," ujar Cakra Buana.


"Kau tenang saja. Mereka pasti akan datang tiga hari ke depan. Percayalah, apalagi jelas dalam surat tersebut tertulis juga namaku," jawab Tuan Santeno penuh keyakinan.


Dia memang selalu yakin. Dalam hal apapun, dia akan tetap berusaha meyakinkan diri.


Kalau seseorang sudah merasa yakin kepada dirinya sendiri, maka Tuhan akan memberikan jalan baginya. Walaupun orang-orang seluruh di dunia ini tidak yakin, tapi hatinya sendiri sangat yakin, sesungguhnya itu saja sudah lebih daripada cukup.


"Paman, apakah kau mengetahui di mana letak markas Organisasi Tengkorak Maut?"


"Untuk saat ini belum. Tetapi aku yakin banyak orang-orang di pihak kita yang mengetahuinya," jawab Tuan Santeno.

__ADS_1


Cakra Buana tidak menjawab. Dia hanya menghela nafas dalam sambil berharap bakal ada petunjuk.


__ADS_2