Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Dua Malaikat


__ADS_3

Teriakan demi teriakan para murid semakin terdengar menyayat hati nurani. Orang-orang itu membunuh lawan dengan brutal tanpa ada rasa belas kasihan. Kelebatan sinar dari senjata tajam seperti golok dan pedang, berkeliaran mencari mangsa.


Satu persatu nyawa mulai melayang demi membantu perjuangan yang menurut mereka benar. Nyawa manusia tak ubahnya bagaikan nyawa seekor ayam. Setiap detik kelebatan senjata, pasti terjadi jatuhnya korban.


Para guru bertarung sekuat mereka untuk menumbangkan lawan. Perguruan Rajawali Putih semakin terpojok. Mereka sudah berada di ambang kehancuran. Murid yang tadinya ada tiga puluh orang, kini hanya tersisa sekitar sepuluh orang saja.


Karena jumlah lawan lebih banyak, tentu mereka tak mampu menahan semuanya. Sebagian murid tewas mengenaskan. Ada yang tewas dengan isi perut keluar, leher hampir putus atau bahkan jantung tertusuk senjata.


Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu sudah bersiap. Tinggal menunggu aba-aba dari Cakra Buana, maka pendekar yang mengabdi kepada Kerajaan Tunggilis itu siap bergerak.


"Paman, saatnya untuk kita turun tangan. Jangan diberikan ampun untuk para iblis, kita bantu Perguruan Rajawali Putih," kata Cakra Buana.


"Baik pangeran. Hamba akan berusaha membantu mereka walau pun mempertaruhkan nyawa,"


"Bagus. Kita bergerak sekarang," kata Cakra Buana dengan semangat yang menggebu.


"Hiyaaa …"


"Haitt …"


Teriakan dua orang itu menggema ke seluruh Perguruan Rajawali Putih. Bersamaan dengan teriakan tersebut, muncul juga angun besar yang menyambar para murid Perguruan Ular Sendok. Angin itu bukan sembarang angin. Tapi itu merupakan tenaga dalam Cakra Buana yang dihempaskan dari atas.


"Wushh …"


Para murid Perguruan Ular Sendok terpental cukup jauh karena tak kuasa menahan terjangan angin besar tersebut. Sekali gebrak, lima nyawa murid melayang. Begitu mendarat, Cakra Buana langsung menyerang membabi buta. Kedua tangannya dikembangkan membentuk cakar yang tajam. Ke mana tangan itu mengarah, maka akan dipastikan ada nyawa murid yang melayang.


Di sisi lain, sepak terjang Pendekar Tangan Seribu pun tak kalah hebatnya dengan Cakra Buana. Begitu mendarat ke tanah, kedua tangannya langsung di hentakkan ke depan. Seketika dari telapak tangannya keluar sinar merah sebesar kepalan tangan.


Sinar itu merupakan tenaga dalam dari Pendekar Tangan Seribu. Dia mengarahkannya ke para murid Perguruan Ular Sendok. Tak ada murid perguruan yang dapat terhindar dari serangan jarak jauh tersebut, sebab kecepatan bagaikan sebuah bayangan.


Sinar merah itu menghantam sepuluh murid perguruan. Kesepuluhnya langsung tewas dengan kondisi organ dalam pecah. Tak berhenti sampai di situ, Pendekar Tangan Seribu lalu mencari murid Perguruan rajawali Putih yang terdesak.

__ADS_1


Ada salah satu murid yang sudah tak berdaya, di depannya ada seorang murid Perguruan Ular Sendok yang siap menusukkan goloknya ke jantung lawan.


Begitu golok terus bergerak akan menusuk. Saat itu pula Pendekar Tangan Seribu melesat cepat lalu dengan mudahnya ia mematahkan golok tadi. Sontak si murid kaget, namun itu hanya sesaat. Karena detik berikutnya, patahan golok di lemparkan oleh Pendekar Tangan Seribu dan menancap tepat di leher murid itu.


Kehadiran Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu membawa kegembiraan yang teramat sangat bagi Perguruan Rajawali Putih. Dua pendekar itu ibarat dua malaikat yang datang menolongnya berkat uluran tangan Tuhan.


Para murid yang masih sanggup untuk bertarung menjadi lebih bersemangat saat menyadari posisi mereka jadi seimbang kembali. Adanya Pendekar Tangan Seribu dan Cakra Buana, benar-benar membalikan keadaan.


Dua pendekar tersebut melibas siapa saja musuh yang ada di depannya. Dari jumlah murid yang tadi tersisa tiga puluh orang, kini tak lebih dari dua belas orang.


Pertarungan berhenti sejenak. Dua pihak saling berhadapan satu sama lainnya. Mayat para murid sudah bergelimpangan bagaikan domba yang mati di mangsa serigala.


"Siapa kalian berdua? Berani sekali ikut campur urusanku," tanya guru besar Perguruan Ular Sendok yang dikenal dengan julukan Racun Tua.


"Apakah kau sudah pikun Racun Tua? Sehingga tidak kenal siapa aku?" tanya balik Pendekar Tangan Seribu sambil menyunggingkan senyum.


"Kau … Pendekar Tangan Seribu," geram si Racun Tua.


"Hahaha … kau benar. Ini aku, apa sekarang sudah ingat?"


"Tidak peduli urusan siapa pun. Aku akan membela orang-orang yang satu jalan denganku,"


"*******. Siapa yang bersamamu?" tanya si Racun Tua sambil melirik Cakra Buana yang memakai topeng kayu.


"Hemm, semua orang rimba persilatan kenal siapa pendekar muda ini," kata Pendekar Tangan Seribu.


"Buka topengmu kalau memang ada nyali," bentak Racun Tua.


"Baik," jawab Cakra Buana sambil membuka topengnya.


Begitu topeng tersebut terbuka, semua orang yang ada di sana kaget. Terlebih lagi Kakek Rajawali. Kekagetan ini tentu saja karena mereka sudah mendengar kisah tentang Pendekar Maung Kulon. Namanya harum di mata rakyat.

__ADS_1


Kakek Rajawali langsung mematung. Dia merasa menyesal karena tidak mempercayai ucapan Cakra Buana kemarin. 'Pantas aku seperti pernah mendengar namanya. Ternyata dia Pendekar Maung Kulon,' batin Kakek Rajawali.


"Kau … Pendekar Maung Kulon?" Racun Tua sedikit terkejut juga.


"Benar. Ternyata kau kenal aku juga," jawab Cakra Buana sambil tersenyum manis.


"Bocah tengik. Serahkan Pedang Pusaka Dewa kepadaku," bentak Racun Tua sambil mengulurkan tangannya.


"Ah, kau mau Pedang Pusaka Dewa? Boleh saja, asalkan kau bisa mengambil sendiri," ejek Cakra Buana.


"Keparat. Cari ****** kau rupanya,"


"Tak perlu dicari juga ****** pasti akan datang,"


"*******. Hihhh …"


Racun Tua menyerang Cakra Buana memberikan pukulannya. Begitu guru besar bergerak, yang lain pun ikut bergerak. Kali ini yang bertarung adalah para guru dari masing-masing perguruan.


Kakek Rajawali melawan dua murid inti Racun Tua. Pendekar Tangan Seribu melawan satu orang guru. Begitupun dengan Bayu dan Shinta. Cakra Buana melawan Racun Tua karena guru besar itu mengincar Pedang Pusaka Dewa. Sedangkan Sari dan Ratih, bertugas untuk mengurus para murid yang terluka.


Pertarungan kali ini berjalan lebih hebat daripada sebelumnya. Dua belah pihak sama kuat. Kakek Rajawali mulai memainkan jurus-jurus silat Rajawali Putih. Tiga jari dari dua tangannya di tekuk membentuk cakar mirip burung rajawali.


Kakek tua tersebut mulai bergerak menyerang kedua lawan. Dua lawannya terbilang masih muda, namun sudah memiliki ilmu yang tinggi. Kakek Rajawali berkelebat ke sana kemari memberikan serangkaian serangan berbahaya. Kedua kakinya bergerak mengikuti irama kedua tangan.


Gerakan silatnya terbilang indah. Dia seperti seekor burung pemangsa yang terbang bebas lalu turun menukik menyambar mangsa. Tapi dua lawannya bukan pendekar biasa, sehingga mereka mampu membantu satu sama lain dari serangan maut milik Kakek Rajawali.


Di sisi lain Pendekar Tangan Seribu sudah memainkan jurus-jurus maut tangannya. Kedua tangan tersebut berubah menjadi merah membara serta mengepulkan asap. Pendekar Tangan Seribu sudah mengeluarkan jurus "Tangan Neraka", sehingga hawa panas menyelimuti arena pertarungannya.


Lawan Pendekar Tangan Seribu sedikit kerepotan tak tahan dengan hawa panasnya. Namun tentu saja hal tersebut tidak terlalu mempengaruhi, yang namanya seorang guru, pasti memiliki banyak ilmu simpanan.


Lawan Pendekar Tangan Seribu bergerak mundur ke belakang untuk mengeluarkan jurusnya. Begitu siap, dia segera melesat kembali menyerang.

__ADS_1


"Jurus Macan Kumbang Gila …"


"Wushh …"


__ADS_2