Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kesengsaraan Seluruh Rakyat Pasundan


__ADS_3

"Hatur nuhun (terimakasih) aden sudah mau membantu para warga membebaskan anak gadisnya yang diculik oleh guru dan murid itu," kata kepala desa setempat setelah semua gadis kembali kepada masing-masing orang tuanya.


"Tidak perlu sungkan. Sudah kewajiban manusia untuk saling membantu," jawab Langlang Cakra Buana sambil tersenyum ramah.


"Tujuan aden selanjutnya hendak kemanakah?" tanya sang kepala desa.


"Aku tak punya tujuan hendak kemana paman. Yang jelas, aku akan mengembara melanglang buana,"


"Saya perimisi dulu, sampurasun," kata Langlang Cakra Buana berpamitan.


"Rampes den …" jawab sang kepala desa sambil memberi hormat diikuti para warganya.


Setelah berpamitan, pemuda serba putih itupun lalu pergi dari desa Ciherang. Entah kemana tujuannya, yang jelas dia akan menuruti kemana kakinya melangkah.


Tidak perlu waktu yang lama, hanya sepeminum teh kemudian Cakra Buana sudah berada jauh dari desa Ciherang.


Saat ini dia sedang melewati hutan desa. Yang dimaksud hutan desa adalah sebuah hutan yang terdapat rumah-rumah warga, tapi jarak antara rumah satu ke rumah lain cukup jauh.


Keadaan ini memang hampir merata di seluruh tatar pasundan. Rumah penduduk masih jarang ditemui. Bahkan rumah mereka pun hanya terbuat dari bilik (anyaman bambu).


Lantainya beralaskan tanah atau ada juga rumah panggung yang lantainya terbuat dari sebuah papan.


Di zaman ini, hanya sedikit saja terdapat rumah-rumah besar dan berlantai ubin. Meskipun tidak besar, asalkan sudah berlantai ubin maka orang itu sudah dianggap kaya.


Hal seperti ini memang wajar, karena betapa susahnya mencari uang untuk kehidupan sehari-hari. Bahkan tidak sedikit juga para warga yang masih menggunakan sistem barter.

__ADS_1


Harusnya para warga diseluruh tanah pasundan hidup makmur dan berkecukupan. Selain terkenal dengan hasil palawaijanya yang baik, seluruh tanah Pasundan juga terkenal dengan hasil padinya.


Hampir di seluruh negeri, terdapat sawah yang hijau. Hamparan sawah terbentang luas meliputi tanah Pasundan. Sungai-sungai mengalir dengan deras. Airnya yang jernih menjadi sumber kehidupan.


Tapi sayang, keadaan rakyat justru sebaliknya. Karena masih banyaknya bangsa-bangsa penjajah baik pribumi maupun orang asing.


Mereka hanya mementingkan diri sendiri. Asalkan perut mereka dan keluarganya kenyang, yang lain masa bodo.


Rakyat disuruh bekerja bagaikan kuda. Beratnya pekerjaan dan upah yang didapat berbanding antara langit dan bumi. Jangankan untuk membuat rumah layak, untuk kehidupan sehari-hari pun masih kurang.


Bila mereka berhutang kepada yang kaya, maka akan ditetapkan bunga yang mencekik leher. Jika tidak bisa membayar tepat waktu, maka jalan satu-satunya hanyalah membayar dengan sawah ladang ataupun dengan anak gadis mereka.


Keadaan seperti ini berlangsung lama, bahkan hingga sekarang. Pihak kerajaan bukannya tida mau turun tangan, tapi kadang mereka yang rakus lebih pintar daripada pemerintah.


Hal inilah yang membuat keadaan rakyat Pasundan menjadi sengsara. Mungkin karena kurangnya faktor pendidikan juga, sehingga mereka bisa dengan mudah dijajah oleh bangsa asing maupun pribumi.


Cobaan pada tahun ini bukanlah lewat ekonomi saja, namun lewat hal lain pun sama. Salah Satu contohnya adalah kejahatan-kejahatan yang terus terjadi setiap waktu.


Mereka yang mempunyai kepandaian ada yang digunakan untuk merampok ataupun memeras secara paksa. Akibatnya adalah rakyat kecil juga yang menjadi korban.


Pada zaman ini, keadilan seakan hilang dari muka bumi. Yang ada hanyalah keangkaramurkaan yang sudah merajalela di seluruh pelosok negeri tanah Pasundan.


###


Tak terasa dua tuhan sudah berlalu semenjak perang besar saudara antar kerajaan. Eyang Resi Patok Pati sudah meninggal dunia setahun sebelumnya.

__ADS_1


Guru dari Langlang Cakra Buana itu meninggal diduga karena sakit, lebih tepatnya diduga keracunan. Entah siapa yang melakukan hal itu.


Tapi untungnya, karena ikatan batin yang kuat, Langlang Cakra Buana bisa tahu akan kematian gurunya tersebut. Eyang Resi Patok Pati memberikan wejangan dan juga tugas lain secara 'ghaib' sebelum menemui ajalnya.


Dia mendatangi Langlang Cakra Buana dengan ilmu 'Ngaraga Sukma (Meraga Sukma). Konon katanya, orang yang memiliki ilmu ini bisa berkeliling kemanapun yang dia mau.


Tapi sayangnya haruslah mempunyai kanuragan yang tinggi dahulu. Sebab bukan tidak mungkin ketika sukma kita 'pergi', akan ada sebuah gangguan yang menganggu diri kita yang seperti dalam keadaan 'mati' itu.


Karena ketika kita meraga sukma, jangankan nyamuk, dipukul pun kita tak berasa. Seolah kita memang benar-benar dalam keadaan 'mati'. Karena itulah diwajibkan harus memiliki kepandaian tinggi dahulu dan mempunyai 'benteng' yang kokoh.


Dulu, sukma Eyang Resi Patok Pati datang ketika Langlang Cakra Buana sedang bersemedi di sebuah goa. Wejangan dan perintah dari gurunya itu membuatnya kaget bukan main.


Waktu itu Eyang Resi Patok Pati berkata kepada Langlang Cakra Buana, "Muridku, eyang ingin bicara hal penting kepadamu. Umur eyang mungkin sudah tidak lama lagi, eyang saat ini sedang sakit. Ada orang yang meracuni eyang, entah siapa. Tapi eyang yakin bahwa ini semua ulah orang-orang kerajaan. Beberapa waktu yang lalu, Kerajaan Galunggung Sukma berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Kawasenan. Sekarang Kerajaan Kawasenan semakin besar dan kuat,"


"Firasat eyang waktu dulu benar. Bahwa semuanya hanyalah akal-akalan mereka saja. Termasuk mengajak eyang bergabung dengan mereka pun, itu semua sudah direncanakan langkah selanjutnya. Terbukti ketika dua kerajaan berhasil ditaklukkan, Raja Ajiraga Wijaya Kusuma menunjukkan sifat aslinya. Dulu dia dikenal sebagai raja yang adil bijaksana, tapi sekarang malah sebaliknya. Para rakyat semakin sengsara lagi. Ini semua salah eyang, kenapa eyang tidak mengikuti kata hati untuk tidak bergabung dengan kerajaan,"


"Eyang mohon padamu untuk merebut kembali hak rakyat. Rebut kerajaan dan satukan tanah Pasundan. Pergilah ke Gunung Kidul Banten, disana ada sahabat eyang bernama Ki Wayang Rupa Sukma Saketi. Sampaikan salamku dan juga beritahu semuanya. Bergurulah padanya, dia akan mengajarimu dan mungkin akan menurunkan seluruh ilmunya padamu,"


"Jangan pernah kembali ke Kawasenan sebelum kau bertemu dengannya. Disini sekarang banyak tokoh-tokoh sakti pembela raja busuk itu. Teruskan perjuangan dan cita-cita eyang untuk menyatukan tanah Pasundan. Eyang tidak akan tenang sebelum kau mewujudkannya."


Ketika gurunya bicara panjang lebar seperti itu, Langlang Cakra Buana tidak bisa berkata apa-apa kecuali menuruti semua perkataannya.


Hanya air mata yang bisa dia keluarkan karena mulutnya terasa terkunci hingga sukma Eyang Resi Patok Pati hilang dari pandangannya.


Meskipun kepergian gurunya sudah dua tahun, tapi tetap saja rasa sakit dan sedih kadang menghampirinya. Belasan tahun dia berguru, bahkan sudah dianggap orang tua sendiri.

__ADS_1


Tapi ketika meninggal, Langlang Cakra Buana tidak berada disisinya. Bukan main sedihnya, ingin pulang tapi dilarang.


Tapi karena dia merupakan murid berbakti, maka Cakra Buana pun mencoba menguatkan hatinya. Dia bertekad untuk mencari sahabat gurunya itu.


__ADS_2