Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Terdesak Hebat


__ADS_3

Setelah beberapa waktu menyatu dalam sinar yang mereka ciptakan, tiba-tiba saja ada seorang terpental dari gulungan sinar tersebut.


Cakra Buana!


Dia terpental lima langkah dan terhuyung-huyung. Hampir saja dia terjerembab, untungnya Cakra Buana segera bisa menguasai diri.


Pemuda itu sadar bahwa kalau tidak mengeluarkan jurus yang lebih ampuh, maka pertarungannya kali ini akan sia-sia belaka. Bahkan bukan tidak mungkin kalau nyawanya jadi taruhan.


Oleh sebab itu, Cakra Buana bertekad untuk bertarung lebih ganas lagi. Semua jurus sakti, akan dikeluarkan. Seluruh kemampuannya akan dia tunjukkan.


Masalah menang atau kalah, tewas atau tidak, itu menjadi urusan belakang. Yang teprenting untuk saat ini adalah bagaimanapun dia harus bisa melukai atau bahkan membunuh lawannya. Baik itu satu orang, ataupun dua orang.


Walaupun tidak ada jaminan dia bisa membunuhnya, setidaknya rasa percaya diri masih tetap ada.


Cakra Buana kembali menyalurkan tenaga dalamnya yang dahsyat. Sektika ada hembusan angin kencang yang menerpa ke tempat tersebut.


Cakra Buana bergerak. Kali ini Pedang Pencabut Nyawa akan dia gunakan berbarengan dengan jurus yang tertera dalam Kitab Dewa Bermain Pedang.


Sebenarnya jurus-jurus yang ada di dalam kitab itu akan sempurna apabila digunakan dengan Pedang Pusaka Dewa. Kekuatannya menjadi lebih dahsyat dua kali lipat. Tetapi karena pedang pusaka itu telah direbut, maka apa boleh buat? Terpaksa dia harus menggunakan pedang lain.


Jurus Langkah Dewa Angin sudah keluar. Langkah Cakra Buana terlihat sangat cepat. Bahkan dia nampak seperti bayangan putih yang mulai berkelebat di antara dua musuhnya. Setelah itu, dia pun mengeluarkan juga jurus terakhir.


Murka Sang Dewa!


Sebuah jurus pedang dahsyat dan jarang ada tandingan jika dia benar-benar sudah matang.


Sekali gebrak, dua jurus maut sudah keluar. Udara di sekitar tempat tersebut langsung berubah hebat. Hawa kematian semakin terasa mencekam. Cakra Buana sudah mulai bergerak.

__ADS_1


Dia langsung menyerang dua musuh dalam satu kali gebrakan. Setiap kali Pedang Pencabut Nyawa di ayunkan, segulung angin badai keluar dari sabetannya.


Gerakan pedang yang dimainkan pemuda itu sangat lincah. Ketepatan, kecepatan, keganasan dan perhitungannya, semua pas sesuai takaran. Andai lawannya adalah orang lain, sudah pasti mereka tidak akan mampu bertahan walau dalam lima jurus saja.


Tetapi lawannya kali ini berbeda, lawan yang dia hadapi bahkan lebih sulit daripada dua orang datuk rimba hijau. Walaupun dia menyerang dari segala sisi dengan bantuan Langkah Angin, tetap saja semua serangannya masih mampu tertangkis oleh lawan.


Nama Dewa Trisula Perak memang bukan nama kosong. Permainan trisula yang dia miliki benar-benar dahsyat. Semakin lama, trisulanya justru tampak menghilang dari pandangan. Yang terlihat hanyalah kelebatan sinar perak membelah udara memecah keheningan.


Dewa Trisula Perak tak mau kalah dari lawan, amarahnya semakin berkobar. Mulutnya mengeluarkan bentakan nyaring disertai terjangan dahsyat.


Murid Penguasa Kegelapan itu mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya. Jurus Seribu Trisula Menusuk Dewa telah dia gelar. Ini adalah salah satu jurus dahsyat yang dia miliki. Dia jarang mengeluarkan jurus ini apabila keadaan tidak benar-benar terdesak.


Apabila sekarang dia mengeluarkannya, itu berarti lawan yang sedang dihadapi sungguh hebat. Trisula itu terlihat berubah menjadi ribuan banyaknya. Sinar perak memenuhi segala ruang kosong.


Cakra Buana semakin kerepotan. Semua serangan yang dia lancarkan tak mampu menembus ribuan sinar perak tersebut. Bunyi senjata beradu entah sudah berapa kali banyaknya. Bunga api berpijar entah sudah berapa banyak.


Bentakan demi bentakan terlontar daru mulut mereka. Sinar perak dari trisula semakin gencar memburu tubuhnya. Tak ada kesempatan bagi Cakra Buana untuk membebaskan diri dari sana.


Siapa yang tidak kenal dengan jurus itu? Sebuah jurus beracun yang sangat berbahaya. Bahkan termasuk racun paling mematikan di dunia.


Seperti juga namanya, jurus ini memang setara dengan seribu ekor ular kobra. Satu ular saja mampu menewaskan beberapa orang, apalagi kalau seribu?


Kedua tangannya menghitam legam seperti sebuah besi gosong. Bau busuk dan bau anyir keluar secara bersamaan seiring dia menggerakan dua tangannya. Asap hitam selalu keluar saat tangan tersebut bergerak.


Keadaan Cakra Buana benar-benar di ambang kematian. Jangankan untuk menyerang lebih ganas, untuk bertahan pun dia masih kurang tenaga.


Gempuran datang bagai badai tiada henti. Hembusan angin yang keluar dari serangan mereka mampu menerbangkan bebatuan besar.

__ADS_1


Pedang Pencabut Nyawa sudah mencapai ambang batas. Sinar biru tua keluar dari seluruh batang pedang. Cakra Buana masih berusaha untuk tetap bertahan.


Pertarungan ini sudah mencapai jurus ke enam puluh tiga.


Dalam hidup Dewa Trisula Perak dan Dewa Tapak Racun, agaknya pertarungan kali inilah yang paling mengesankan. Seumur hidup, keduanya baru mengalami pertarungan seperti ini.


Apalagi yang menjadi lawannya seorang pemuda yang baginya masih ingusan. Andai pemuda itu mau menjadi muridnya, sudah pasti dalam waktu dekat dia akan menjadi pendekar nomor satu di dunia persilatan.


Selama pertarungan tersebut berlangsung, Penguasa Kegelapan dan dua murid lainnya menonton pertarungan ini dengan ekspresi serius sekali. Ketiga orang itupun tidak menyangka bahwa Cakra Buana mampu bertahan sampai sejauh ini.


"Pemuda itu benar-benar berbeda daripada yang lain. Baru berselang setahun, ternyata dia sudah mengalami peningkatan sejauh ini. Kalau dia mau menjadi muridku, aku pastikan dalam dua tahun, kalian semua tidak akan mampu melawannya," kata Penguasa Kegelapan kepada Dewa Pedang Kembar dan Dewa Tombak.


"Guru benar, aku percaya akan hal itu. Pemuda ini memang memiliki kekuatan dahsyat. Andai kata dia melatih dirinya dengan tekun, sudah pasti dalam waktu paling sedikit lima sampai sepuluh tahun, dia akan merajai dunia persilatan," kata Dewa Pedang Kembar membenarkan ucapan gurunya.


"Akupun merasa seperti itu. Semua jurus yang dia keluarkan adalah jurus tingkat tinggi. Sayangnya dia harus mati di tangan dua saudara kita," ucap Dewa Tombak menimpali Dewa Pedang Kembar.


"Guru, menurut guru apakah pemuda itu akan bertahan sampai seratus jurus?" tanya Dewa Pedang Kembar.


"Kurang lebih dia bisa bertahan sampai delapan puluh lima jurus," jawabnya.


"Apa? Tapi keadaannya sudah benar-benar mendesak guru, bagaimana biss bertahan sejauh itu?" tanya Dewa Tombak tersentak kaget mendengar ucapan gurunya tersebut.


"Kau belum tahu. Ads jurus lain yang masih dia simpan. Kalau aku tidak salah, dia mendapat julukan Pendekar Maung Kulon. Sudah pasti ada kekuatan harimau yang sangat hebat, kita lihat saja nanti," kata Penguasa Kegelapan sambil mengelus jenggotnya yang sudah memutih.


Di arena pertarungan, ketiga pendekar masih juga bertukar serangan. Sedikit demi sedikit dua pendekar itu sudah bisa mendesak Cakra Buana.


Sedangkan Cakra Buana semakin berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Di saat seperti itu, tiba-tiba saja sesuatu diluar dugaan terjadi.

__ADS_1


Trisula milik lawan berhasil menjepit pedangnya. Entah bagaimana hal itu bisa dilakukan. Cakra Buana berusaha melepaskan pedangnya, tapi dia tidak bisa. Dan tiba-tiba …


"Clangg …" Pedang Pencabut Nyawa patah jadi dua bagian.


__ADS_2