
"Aku ingatkan sekali lagi, apakah kalian benar akan memilih jalan ini?" tanya Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat kepada empat datuk.
"Apa boleh buat. Kami sudah terlanjur memilih jalan ini Eyang. Sudah kami katakan, untuk kali ini, kami tidak akan mundur walau satu langkah sekali pun," kata Dewi Maut. Suaranya datar, tapi terdengar penuh hormat.
"Baiklah. Kalau kalian tetap keras kepala,"
Setelah Eyang Rembang bicara seperti itu, empat datuk dunia persilatan terdiam. Mereka langsung mengumpulkan tenaga dalam dengan jumlah besar. Udara terasa tertekan kekuatan para datuk rimba persilatan itu.
Tapi di sisi lain, pihak Eyang Rembang pun tenang-tenang saja. Mereka seperti tidak terpengaruh oleh tekanan kekuatan empat datuk. Kecuali hanya Irma Sulastri sendiri.
Cakra Buana sudah siap. Semenjak terjadi kejadian-kejadian di luar dugaannya, Pendekar Maung Kulon itu sudah memulihkan keadaan dirinya serta mengumpulkan semua tenaga dalam.
Kali ini, Cakra Buana benar-benar bertekad untuk menurunkan tangan kejam. Tidak ada cara lain kecuali seperti itu. Semua ilmu yang sudah dia dapatkan dari Ki Wayang Rupa Sukma Saketi, akan dia keluarkan jika memang tenaganya cukup.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Empat datuk dunia persilatan melompat. Mereka mulai bergerak menyerang lawannya masing-masing. Begitu mereka bergerak, angin besar langsung berhembus menerpa tempat sekitar yang akan segera menjadi medan pertarungan.
Semua pendekar yang hadir di sana telah memiliki lawan masing-masing. Eyang Rembang melawan Raja Sembilan Nyawa. Ling Zhi melawan Dewi Maut. Cakra Buana melawan Tengkorak Muka Putih. Sedangkan Nini Hideung dan muridnya Irma Sulastri, melawan Kera Gila.
Mereka semua berloncatan mencari tempat yang cukup luas. Jarak dari satu ke yang lainnya, tidak terlalu jauh. Tapi tidak terlalu dekat juga.
Nini Hideung dan Irma Sulastri sudah terlihat pertarungan dengan Kera Gila. Guru dan murid itu sudah memberikan serangan-serangan berbahaya kepada Kera Gila. Meskipun Nini Hideung bukanlah seorang datuk, namun dia juga merupakan pendekar yang tersohor. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Kera Gila, meskipun usianya sudah tua, tapi gerakannya masih sangat gesit. Menghadapi dua lawan, dia sama sekali tidak merasa kesulitan. Bahkan kakek tua itu mampu mengimbangi kekuatan lawan. Dengan jurus-jurusnya yang lincah, Kera Gila terus berusaha untuk memojokkan Nini Hideung dan Irma Sulastri.
Pertarungan Ling Zhi melawan Dewi Maut berjalan menegangkan. Meskipun Ling Zhi terpaut jauh umurnya dengan Dewi Maut, tapi itu bukanlah suatu masalah. Sama sekali bukan. Bahkan dia mampu membalas semua serangan Dewi Maut. Ling Zhi yang ternyata berdarah Pasundan dan Tiongkok, sama sekali tidak bisa di pandang remeh. Tentu saja, dia merupakan murid tunggal Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat.
__ADS_1
Mungkin hanya butuh beberapa tahun lagi, maka dia akan menjadi pendekar wanita pilih tanding. Bahkan bisa juga tanpa tanding. Kedua pendekar wanita yang terpaut umur itu bertarung dengan sangat serius.
Serangan demi serangan sudah di berikan oleh masing-masing pihak. Ling Zhi bergerak secepat bayangan. Semua serangannya, mengandung daya hancur yang mematikan. Begitupun dengan Dewi Maut. Karena dia merupakan salah satu datuk rimba hijau, maka tentu saja kekuatannya tidak di ragukan lagi.
Sementara itu, Raja Sembilan Nyawa kini sedang bertarung mati-matian melawan Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat. Ternyata meskipun Eyang Rembang merupakan salah satu pendekar legendaris, namun Raja Sembilan Nyawa bisa di bilang mampu mengimbanginya. Setidaknya untuk saat ini.
Raja Sembilan Nyawa memberikan serangan yang sangat berbahaya. Jurus-jurus yant dia keluarkan, bukanlah jurus sembarangan. Setiap jurusnya mampu membunuh sepuluh pendekar kelas menengah dengan mudah.
Tapi meskipun begitu, lawannya kali ini bukanlah seekor kucing. Lawannya sekarang adalah seekor harimau, bahkan mungkin datuk harimau.
Eyang Rembang menahan semua serangan Raja Sembilan Nyawa dengan tenang. Setiap gerakannya penuh penjiwaan. Sehingga ketika pertarungan sudah sampai sepuluh jurus, belum ada satupun jurus yang mampu mengenainya.
Jika dia mau, tentu saja dirinya dapat dengan mudah mengalahkan atau bahkan membunuh Raja Sembilan Nyawa. Sayangnya, Eyang Rembang yang sekarang bukanlah yang dulu ketika muda.
Jika dulu hatinya selalu dipenuhi dengan rasa gemas terhadap pendekar golongan hitam, maka kali ini sebaliknya. Hati tokoh tua itu dipenuhi dengan rasa iba. Ingin rasanya dia menghentikan pertarungan yang "sia-sia" ini. Tapi sayangnya, niat di hatinya tersebut harus dipendam dalam-dalam. Sebab saat ini, semua orang sudah dikuasai oleh hawa nafsunya sendiri.
"Bukkk …"
"Bukkk …"
Terpaksa dia harus melompat mundur untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Raja Sembilan Nyawa mendengus kesal. Tidak disangkanya dia akan bertarungan dengan lawan setingkat Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat.
Di sisi lain, pertarungan antara Cakra Buana melawan Tengkorak Muka Putih tidak kalah menegangkannya dengan tiga pertarungan lain. Dimana kedua pendekar tersebut sudah bertarung hingga belasan jurus. Tapi sayangnya belum ada yang terluka parah di antara mereka. Kecuali hanya luka-luka kecil saja.
Tengkorak Muka Putih bahkan dibuat terkejut lagi oleh Cakra Buana. Tidak disangkanya bahwa pendekar muda itu mampu menandingi dirinya yang merupakan seorang datuk rimba hijau. Kejadian ini entah merupakan sebuah penghinaan ataupun kebangaan tersendiri.
Yang jelas, Tengkorak Muka Putih benar-benar dibuat marah oleh seorang pemuda bernama Cakra Buana.
Saat ini keduanya sedang bertarung dibawah teriknya matahari yang sudah berada di puncak. Adu tangan dan kaki serta jurus jarak dekat terus mereka lakukan tanpa hentinya.
__ADS_1
Cakra Buana sebenarnya masih kalah dalam jumlah tenaga dalam dan tentunya pengalaman. Tapi untung saja, ajian yang di ajarkan oleh Ki Wayang Rupa Sukma Saketi, mampu menutupi semua kekurangannya tersebut.
"Plakkk …"
"Bukkk …"
"Blarrr …"
Jurus demi jurus berlalu. Semua pertarungan yang terjadi berjalan sama serunya. Tapi di antara semua pertarungan, yang paling memukau adalah Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat dan Cakra Buana. Dimana keduanya benar-benar terlihat tenang, setenang air di danau yang luas.
Jika Eyang Rembang, mungkin dia memang tenang luar dalam. Tapi Cakra Buana tidak. Dia hanya terlihat tenang dari luar saja, padahal di hatinya, ada sebuah perasaan yang bergejolak hebat.
Bisa di bilang dia masih ragu dengan kekuatannya sendiri apakah mampu memenangkan pertarungan ini, ataukah sebaliknya.
"Tapak Setan …"
"Wuttt …"
Tengkorak Muka Putih mengirimkan serangan tapak jarak jauh. Dari telapak tangannya keluar sinar berwarna hitam pekat. Selain itu, ada kekuatan iblis yang sangat menekan Cakra Buana. Oleh sebab itu, buru-buru dia pun mengeluarkan ajian yang di milikinya.
"Pukulan Penghancur Gunung …"
"Wuttt …"
"Blarrr …"
Ledakan keras terdengar. Tanah sedikit bergetar akibat beradunya dua jurus tingkat tinggi. Cakra Buana terpental lima langkah. Sedangkan Tengkorak Muka Putih hanya dua langkah.
Debu masih mengepul tinggi. Mengkaburkan pandangan mata, menutupi arena pertandingan keduanya. Pertarungan pun terhenti beberapa saat akibat debu yang masih mengepul tersebut.
__ADS_1