
"Kau hebat kakang," kata Ling Zhi sambil berjalan ke arah Cakra Buana.
"Apanya yang hebat, biasa saja. Kau terluka?" tanya Cakra Buana saat melihat lengan kiri Ling Zhi robek.
"Sedikit. Hanya luka luar, jangan khawatir," kata Ling Zhi.
"Baiklah. Kita segera kembali ke penginapan. Besok kita harus melakukan perjalanan supaya cepat sampai di kerajaan,"
"Baik kakang," jawab Ling Zhi.
Keduanya lalu berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Para warga terus berteriak tanpa henti.
"Terimakasih pendekar …"
"Terimakasih tuan dan nona …"
"Aku harap Sang Hyang Widhi selalu melindungi kalian …"
Berbagai ucapan terimakasih terus di ucapkan oleh para warga saking senangnya. Sebagian dari mereka mulai mengurusi mayat-mayat yang ada di sana. Para warga itu lalu membuat sebuah lubang besar untuk menguburkan mayat secara bersama. Mereka tidak menyadari bahwa ada dua orang anak buah Tiga Iblis Gunung Waluh yang berhasil melarikan diri.
Cakra Buana dan Ling Zhi sudah sampai di penginapan tadi. Di belakang mereka ada Lima Pedang yang berjalan dengan tergopoh-gopoh karena terluka.
Kakek tua pemilik penginapan menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Mereka lalu duduk bersama. Tapi sebelum berbincang, Cakra Buana terlebih dahulu mengobati Lima Pedang dengan penyaluran tenaga dalamnya.
Setelah selesai, barulah mereka menceritakan kejadian barusan. Yang paling banyak bicara adalah anggota Lima Pedang sendiri. Salah seorang dari mereka menceritakan sepak terjang Cakra Buana dan Ling Zhi dengan penuh kekaguman.
Si kakek pemilik penginapan mendengar cerita itu dengan antusias. Dia tidak menyangka bahwa kedua pendekar muda di hadapannya ini mampu memenangkan pertarungan. Padahal lawannya bukanlah tokoh sembarangan.
Setelah merasa cukup berbincang-bincang, Cakra Buana memilih untuk undur diri. Pemuda itu merasa lelah karena tenaga dalamnya terkuras. Begitu pun dengan Ling Zhi.
Keduanya lalu menuju kamar yang sudah di sediakan. Si kakek pun memilih untuk beristirahat. Sedangkan Lima Pedang, mereka mendapatkan tugas untuk terus berjaga-jaga.
Cakra Buana dan Ling Zhi sudah tiba di dalam kamar. Ukuran kamar itu memang terbilang kecil, hanya untuk satu orang. Tapi karena terpaksa, kamar itu pun bisa di tiduri dua orang meskipun masih ada lebih sedikit.
"Kakang, apakah kau kelelahan?" tanya Ling Zhi.
"Tidak terlalu. Besok pun tenagaku sudah pulih kembali," kata Cakra Buana.
__ADS_1
Pemuda serba putih itu lalu merebahkan dirinya di pembaringan. Sedangkan Ling Zhi, membuka sedikit lengan bajunya untuk memeriksa luka. Setelah dipastikan aman, dia duduk di samping Cakra Buana sambil memandangi wajah tampan kekasihnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu Ling Zhi?" tanya Cakra Buana keheranan.
"Tidak papa. Kau tampan kakang. Aku takut kau meninggalkanku,"
"Jangan bicara seperti itu. Mana berani aku meninggalkanmu,"
"Laki-laki memang selalu bicara seperti itu. Tapi suatu saat nanti, dia akan menelan ludahnya sendiri,"
Entah kenapa, baru kali ini Ling Zhi menyadari bahwa Cakra Buana memanglah pemuda yang tampan. Tubuhnya kekar dan otot-ototnya menonjol. Wanita mana yang tidak akan tergoda? Hal inilah yang menjadi ketakutan Ling Zhi sehingga tiba-tiba ia bersikap seperti sekarang.
"Aku bukan pria seperti itu. Kemarilah," ucap Cakra Buana dengan lembut.
Tangannya meraih tangan Ling Zhi. Dengan gerakan lembut, ditariknya gadis itu. Ling Zhi tidak melawan, dia mengikuti tarikan Cakra Buana. Kepala Ling Zhi jatuh di atas dada Cakra Buana. Tangannya memeluk dengan lembut. Pelukan itu dibalas Cakra Buana dengan belaian hangat pada kepalanya.
"Kakang …" ucap Ling Zhi dengan lirih. Suaranya tiba-tiba berubah manja.
"Eummm … kenapa?"
Pemuda itu merasakan sesuatu yang bergelora dalam dirinya. Dengan lembut, Cakra Buana menarik Ling Zhi. Di rebahkannya gadis itu di pembaringan. Sedangkan Cakra Buana mulai memanjakannya.
Dia membelai rambut panjangnya. Menciumi keningnya dengan mesra. Ling Zhi tidak berontak. Dia menikmati perlakuan itu. Keduanya lalu berciuman dengan mesra.
Tangan Cakra Buana mulai bergerilya. Dia benar-benar memanjakan kekasihnya malam ini. Cakra Buana melepaskan pakaian perlahan. Begitu pun dengan Ling Zhi.
Dua insan itu kini tidak lagi memakai pakaian sehelai kain pun. Ling Zhi semakin bernafsu ketika buah dadanya dimainkan secara lembut. Keduanya lalu saling memanjakan satu sama lain.
"Sekarang kakang," kata Ling Zhi dengan nafas memburu.
Cakra Buana mengerti. Maka dia pun lalu melakukan apa yang diinginkan oleh kekasihnya. Dua insan itu bergumul di bawah kegelapan malam dengan cahaya obor yang remang-remang. Udara yang seharusnya dingin menjadi hangat ketika mereka menyatukan tubuhnya bersama kenikmatan.
Cakra Buana benar-benar memanjakan Ling Zhi. Malam ini, gadis itu dibuat puas oleh perlakuan kekasihnya. Menjelang Fajar menyingsing, keduanya baru bisa tertidur lelap. Bahkan mereka tidur tanpa mengenakan pakaian sama sekali Ling Zhi tidur di atas Cakra Buana dengan kondisi tubuh yang masih menyatu.
###
Hari telah siang. Matahari sebentar lagi akan tiba di titik puncaknya. Cakra Buana dan Ling Zhi sudah terbangun beberapa saat lalu. Kini mereka sudah mengenakan pakaiannya lagi setelah sebelumnya membersihkan diri terlebih dahulu.
__ADS_1
Keduanya lalu keluar untuk makan. Ternyata, penginapan yang mereka tempati semalam juga menyediakan makanan jika siang hari.
"Ah kalian sudah bangun. Silahkan duduk, biar aku buatkan makan untuk kalian," kata si kakek lalu pergi ke belakang menyuruh pelayannya membuatkan makan.
"Terimakasih kek," jawab Cakra Buana.
Setelah menunggu beberapa saat, makanan pun datang. Keduanya lalu makan dengan lahap. Perut mereka memang sudah merengek minta di isi, jadi tak perlu lama bagi Cakra Buana dan Ling Zhi untuk menghabiskan makanan tersebut.
###
Di tempat lain, anak buah Tiga Iblis Gunung Waluh baru saja sampai ke Perguruan Gunung Waluh. Perjalanan dari Desa Waluh ke Perguruan Gunung Waluh memang lumayan jauh. Kira-kira membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Dua anak buah yang tersisa itu terlambat karena mereka sudah menderita luka-luka.
Kini keduanya sudah duduk di sebuah ruangan cukup besar. Di hadapannya ada seorang pria tua yang usianya kira-kira sudah mencapai tujuh puluh tahun.
"Apa benar yang membunuh tiga muridku seorang pendekar muda?" tanya pria tua itu sambil menahan amarah.
"Benar guru. Kami tidak berbohong. Dia memakai pakaian serba putih, dia selalu bersama dengan seorang wanita," katanya menjelaskan.
"Kalian tau siapa mereka?"
"Tidak guru. Bahkan kami baru pertama kali melihatnya. Ilmu mereka sungguh tinggi, sehingga kami mampu di kalahkan,"
"Omong kosong. Bocah seperti mereka tidak ada apa-apanya. Mereka hanya beruntung saja, sekarang kalian pergi dan kirim surat tantangan dariku. Kematian muridku harus aku balas," kata si orang tua itu sambil membentak.
"Tapi guru …"
"Pergi sekarang!!! Dia pasti mau menerima tantanganmu. Suruh dia datang kemari, akan aku hajar mereka,"
###
Kini Cakra Buana dan Ling Zhi sudah melanjutkan perjalanannya kembali, menurut penuturan kakek tadi, jarak ke kerajaan tidaklah jauh. Paling lama malam nanti atau besok pagi keduanya sudah sampai di daerah Kotaraja.
Mereka memilih untuk berjalan kaki saja. Hitung-hitung sambil menikmati keindahan pemandangan alam. Sebab pada saat ini, keadaan alam masih sangat asri dan terjaga.
Sepanjang jalan, pohon-pohon menjulang tinggi. Kicau suara burung terdengar di mana-mana. Hamparan sawah masih hijau indah. Para petani terlihat sedang mengurusi sawah mereka. Ada yang sedang bercocok tanam, membajak sawah, atau mencangkul ladang mereka.
Ah … indahnya. Rasanya hidup berdampingan dengan alam memang menyenangkan.
__ADS_1