Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Malam Berdarah


__ADS_3

Malam telah tiba. Dewi malam menggantung di atas cakrawala menyinari bumi. Suara binatang malam bernyanyi membuat suasana yang sepi jadi ramai. Harum semerbak bunga mewangi, tercium ke mana-mana.


Di tengah hutan belantara, seratusan pendekar sudah berkumpul. Dari ratusan pendekar ini, pemimpin utamanya adalah Cakra Buana. Dia sendiri yang memimpin penyerangan ini.


Ling Zhi ikut bersamanya. Sisanya, hanya para pendekar yang ikut bergabung dari berbagai daerah itu. Sementara Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, Pendekar Tangan Seribu, Gagak Bodas dan Jalak Putih, sedang mempersiapkan dirinya dan para prajurit istana untuk menyerang Kerajaan Kawasenan dua hari ke depan.


Saat ini, seratusan pendekar itu sedang berkumpul di sebuah lapangan hutan. Cakra Buana dan Ling Zhi berdiri de hadapan semua pendekar. Wibawa kedua muda-mudi itu, terpancar jelas saat tersorot sinar rembulan.


"Saudara-saudaraku sekalian, sebentar lagi kita akan bergerak. Aku minta kalian membagi diri menjadi empat kelompok. Tiga kelompok menyerang dari sisi lain, satu kelompok menyerang dari tengah bersamaku. Nanti aku akan bersiul panjang, jika mendengar suara siulan, itu artinya tanda dariku supaya kalian langsung menyerang. Apakah kalian mengerti?" kata Cakra Buana kepada semua pendekar.


"Mengerti …" jawab semua pendekar secara serempak.


"Bagus. Kalau begitu, kita mulai rencana ini sekarang juga," ucap Cakra Buana dengan suara lantang.


Begitu ucapan Cakra Buana selesai, semua pendekar langsung pergi bersama kelompoknya masing-masing. Dalam sekejap mata, mereka telah menghilang di telan gelapnya malam.


Saat ini di sekitar tempat tersebut, hanya ada dua puluh tiga pendekar selain dirinya dan Ling Zhi. Mereka masih menunggu komando Cakra Buana, begitu perintahnya keluar, pasti semuanya bakal bergerak.


Waktu terus berlalu. Rembulan semakin meninggi dan bintang semakin gemerlap. Suasana di kerajaan kecil itu mulai sepi sunyi. Semua orang sudah beristirahat. Hanya tinggal penjagaan kecil-kecilan saja yang masih terjaga dari tidurnya.


Perlu diketahui bahwa penyerangan ini, tidak seorang pun dari pihak musuh yang mengetahuinya. Termasuk Kerajaan Kawasenan sendiri, tidak tahu akan hal ini. Entah bagaimana Gagak Bodas bisa membuat hal seperti ini, yang jelas, kecerdasannya memang di atas rata-rata.


Cakra Buana sudah memberikan perintah kepada semua pendekar itu untuk naik ke dahan pohon dan bersembunyi. Sepeminum teh kemudian, Pendekar Maung Kulon merasa bahwa saatnya telah tiba. Maka tak lama, dia segera bersiul panjang sekaligus kencang.


"Wuittt …"


Suara siulan melengking tinggi menebar ke seluruh alam raya. Suara itu bagaikan tiupan seruling dari neraka. Jika ada orang lain yang mendengar, bisa-bisa telinganya akan mengeluarkan darah kalau tidak memiliki tenaga dalam tinggi. Sebab dalam siulan barusan, Cakra Buana mengeluarkan tenaga dalam besar.


Begitu siulannya selesai, seratus pendekar tersebut langsung bergerak menyerang. Seorang demi seorang mulai muncul dari kegelapan. Termasuk rombongan yang dipimpin oleh Cakra Buana sendiri.

__ADS_1


Semuanya sudah memulai serangan. Dinding kerajaan yang lumayan tinggi bukanlah penghalang berarti bagi mereka.


Cakra Buana menyerang dari depan, pintu gerbang kerajaan tersebut dijaga oleh empat orang prajurit. Begitu melihat puluhan pendekar datang, keempatnya sangat terkejut. Mereka berniat untuk memberitahukan hal ini ke dalam.


Sayang, sebelum niatnya terlaksana, dua orang pendekar dari rombongan Cakra Buana sudah melesai menyerang empat penjaga. Dalam sepuluh tarikan nafas, keempatnya sudah tewas mengenaskan.


Misi dilanjutkan. Kekacauan dari dalam kerajaan mulai terdengar. Orang-orang di sana membangunkan teman-teman mereka satu-persatu.


Situasi menjadi kacau balau. Semua sudut telah dikuasai oleh musuh. Perlahan, para pendekar yang ada di kerajaan tersebut sudah muncul dan memulai pertarungan.


Tak lupa juga beberapa puluh pendekar pilih tanding, sudah keluar dari kerajaan. Mereka langsung memilih lawannya masing-masing.


Pertarungan berdarah dimulai.


Dentingan senjata mulai memenuhi jagat raya. Teriakan untuk menggetarkan musuh, membahana ke seluruh arena. Pekik kematian prajurit rendahan, mulai terdengar menyayat hati.


Kelebatan sinar anak panah dari kerajaan, mulai datang beruntun bagaikan hujan di malam hari. Sinar-sinar golok dan pedang serta tombak, memenuhi ruang langit.


Ribuan prajurit terus keluar. Tapi apalah artinya mereka itu jika dibandingkan dengan seratus pasukan Cakra Buana yang memiliki ilmu tinggi?


Semua perlawanan hanya sia-sia belaka. Gemuruh berbagai macam ajian terdengar bagaikan guntur yang menyambar bumi. Dalam waktu sekejap, malam seolah berubah menjadi siang.


Sinar-sinar yang berasal dari berbagai pendekar mulai terlihat tiada henti. Di saat pertarungan berjalan sengit, beberapa pendekar pasukan Cakra Buana membakar kerajaan itu.


Api berkobar.


Semua orang mau tidak mau harus keluar. Para wanita baik tua maupun muda, mencari tempat untuk bersembunyi.


Sebelumnya, Cakra Buana sudah memberikan arahan bahwa mereka tidak boleh menyerang orang-orang lemah. Baik itu pria maupun wanita. Maka setelah para wanita dan pria lemah itu keluar kerajaan, mereka langsung di suruh untuk keluar area dengan catatan tidak boleh kabur sebelum waktunya.

__ADS_1


Api semakin berkobar dengan hebat. Hawa di sekitarnya menjadi terasa panas bagaikan di neraka. Suasana semakin riuh.


Korban demi korban terus berjatuhan. Ratusan prajurit kerajaan menemui ajal mereka. Teriakan kematian begitu menyayat hati. Siapapun yang melihat hal ini, pasti akan merasaka ngeri.


Para pendekar yang memiliki kepandaian tinggi, sedang bertarung sengit melawan musuhnya masing-masing.


Cakra Buana dan Ling Zhi sudah bergerak. Kedua pasangan itu bagaikan dua harimau terluka. Sepak terjangnya membuat siapa pun ngeri. Wajah Cakra Buana dan Ling Zhi berubah menjadi seorang malaikat maut.


Tidak ada lawan yang tidak tergetar hatinya saat bertarung dengan keduanya.


Ling Zhi sudah mengeluarkan taringnya. Saat ini pasukan Cakra Buana baru tahu siapa itu Ling Zhi sebenarnya.


Bidadari Penebar Maut telah mengeluarkan kemampuan aslinya. Pedang Bunga yang merupakan pedang pusaka, sudah memakan korban cukup banyak.


Saat ini Ling Zhi di kurung oleh dua puluh prajurit kerajaan. Tapi tidak ada rasa takut yang tergambar di wajahnya. Justru bibirnya tersenyum dingin.


Tangannya yang memegang pedang di arahkan ke bawah. Darah yang berasal dari lawan masih menetes di ujung pedang. Pakaianya mulai terpenuhi noda merah itu.


Ling Zhi memutar pedangnya sedikit. Kaki kanannya melangkah satu langkah ke depan. Melihat dia sudah bersiap, dua puluh prajurit pun bersiap.


"Bersiaplah ke neraka," kata Ling Zhi.


Selesai berkata demikian, dia bergerak lagi.


Pedang Bunga berkelebat ke segala arah. Gerakannya bagaikan sebuah bayangan. Kecepatannya sulit untuk dilihat mata. Dalam waktu sekejap, sepuluh orang telah terkapar mandi darah.


Ling Zhi tidak berhenti sampai di situ saja, kelebatan cahaya Pedang Bunga memenuhi ruang langit. Sinar terang terus menggulung semua lawan.


Detik berikutnya, dua puluh prajurit itu sudah tewas semuanya. Ling Zhi tersenyum dingin memandangi mayat-mayat itu.

__ADS_1


Selesai mengatur nafas, dia bergerak lagi mencari sasaran berikutnya.


__ADS_2