
Pertarungan antara Prabu Karta Kajayaan Pasundan melawan Bambang Jaya Anom dan Agung Jayadrana berjalan semakin sengit.
Ketiganya sudah mengeluarkan ilmu andalannya masing-masing. Sekarang yang mendapat giliran untuk menyerang adalah Bambang Jaya Anom dan Agung Jayadrana.
Bambang Jaya Anom terus menyerang dengan mengincar bagian dada lawan. Ilmu "Racun Pasir Merah" yang dia miliki terus digunakan untuk memaksa lawan supaya terdesak.
Setiap kali kedua telapak tangannya menyerang, maka hawa panas akan terasa sebelum tangan itu sampai. Sehingga Prabu Karta Kajayaan pun dibuat sedikit kerepotan. Dia terus berusaha menghindari serangan itu dengan mengelakkan tubuhnya ke samping.
Raja Kerajaan Galunggung Sukma itu tidak mau menahan serangan jika masih bisa menghindar. Karena jika dia melakukan kesalahan sedikit, maka ilmu dahsyat itu pasti akan melukai berat pada tubuhnya.
Agung Jayadrana tak tinggal diam melihat rekannya yang terus menyerang, dia pun ikut membantu dengan menyerang dari sebelah kiri. Pendekar Kerajaan Sindang Haji itu lebih mengandalkan tendangan kaki kanannya.
Karena memang jurus terkuatnya berupa tendangan yang sangat hebat, sehingga hujan tendangan terus menyerang Prabu Karta Kajayaan tanpa henti.
Menghadapi lawan dengan menggunakan ilmu pamungkasnya bukanlah hal mudah. Beberapa kali raja itu hampir celaka jika dia kurang tangkas, tapi untungnya Prabu Karta Kajayaan memiliki gerakan yang cukup cepat.
Pertarungan masih berlanjut, tapi belum ada diantara ketiganya yang terluka. Karena masing-masing dari ilmu yang mereka gunakan, mempunyai kelebihan satu sama lain.
Prabu Karta Kajayaan yang tadi terus didesak hebat dari dua sisi, kini perlahan mulai mencari celah untuk membalasnya. Situasi pelan tapi pasti mulai berbalik.
Kini Prabu Karta Kajayaan Pasundan mulai melihat celah diantara dua lawannya. Orang yang diburu nafsu pastilah tidak tenang jiwanya, seperti halnya Bambang Jaya Anom dan Agung Jayadrana ini.
Karena amarah keduanya sudah memuncak, maka gerak silatnya pun semakin kacau hingga terciptalah celah-celah yang tanpa sadar dibuat oleh mereka sendiri.
Prabu Karta Kajayaan Pasundan sudah balik menyerang, dua pendekar yang tadinya berada di samping kanan dan kiri, dipaksa berpindah hingga sekarang mereka berdua ada didepannya.
Maka semakin mudah lah raja itu untuk menyerang semua lawannya. Prabu Karta Kajayaan mulai memberikan serangan mematikan. Pukulan dan tendangan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi pun terus menggempur keduanya.
Deru angin yang tajam mulai bergulung dan terdengar bising. Hujan serangan itu tak pernah terhenti hingga Prabu Karta Kajayaan melihat celah pada bagian dada lawan.
Dengan cepat dia memberikan ilmu "Pukulan Pemecah Sukma" kepada Bambang Jaya Anom dan Agung Jayadrana dengan telak. Tak ayal lagi, kedua pendekar itu pun terpental lalu bergulingan.
__ADS_1
Darah segar keluar dari mulut keduanya. Pendekar dari Kerajaan Sindang Haji itu terkulai lemas akibat "Pukulan Pemecah Sukma". Prabu Karta Kajayaan berjalan mendekati keduanya.
Lalu dia membangunkan lawan dengan cara di cengkram kuat bagian lehernya hingga keduanya dipaksa berdiri.
"Pukulan Pelepas Sukma …"
"Desss …"
"Ahhh …" mati.
Sebuah pukulan telak yang menghantam ulu hati tak dapat dihindari lagi. Bambang Jaya Anom dan Agung Jayadrana akhirnya tewas dengan dada pecah dan darah yang terus mengalir dari mulut mereka.
Selain itu, pertarungan para pendekar dan petinggi-petinggi lain pun tak kalah hebatnya. Korban terus berjatuhan dari dua belah pihak. Bahkan para petinggi dari dua kerajaan pun banyak yang gugur.
Pertarungan hebat terus berlangsung, tapi yang aneh justru keadaannya menjadi terbalik. Para pasukan dua kerjaan kini sedang digempur oleh pasukan musuh.
Bahkan jumlah korban diantara dua belah pihak pun kali ini hampir sama jumlahnya. Senjata terus beradu tiada henti. Bau amis semakin tercium dimana-mana.
Sinarnya yang terang membuat keadaan berbeda. Dibawah cahaya bulan purnama yang indah, yang harusnya dilewati dengan hal-hal menyenangkan, kali ini justru dilewati dengan hal yang menyedihkan.
Langlang Cakra Buana yang mendapat bagian untuk mengobati, kini diam-diam dia sedang memperhatikan pertarungan eyang gurunya melawan Prabu Jati Sena Purwadadi.
Pertarungan keduanya kembali sengit. Deru angin yang kencang dan tajam terasa disekitar area tersebut. Pukulan-pukulan energi terlihat menghiasi malam.
Prabu Jati Sena Purwadadi saat ini sedang menyerang Eyang Resi Patok Pati dengan amarahnya yang sudah tak bisa dibendung. Raja itu begitu marah bercampur sedih ketika mengetahui empat pendekar yang sangat dia andalkan gugur.
Dengan amarah yang luar biasa dan ilmu yang mumpuni, Prabu Jati Sena Purwadadi terus memberikan hujan serangan kepada Eyang Resi Patok Pati.
Pendekar tua yang sudah terluka dalam itu semakin lama semakin terdesak hebat. Serangan lawannya sungguh mengandung energi yang dahsyat.
Semakin berjalannya waktu, Eyang Resi Patok Pati semakin terdesak hingga sekarang tak kuasa lagi menahan ataupun menghindari serangan yang datang.
__ADS_1
Maka tak ayal lagi jika banyak pukulan dan ilmu-ilmu hebat yang terus menyerangnya. Bajunya sebaguan robek, wajahnya pucat. Penyakit akutnya akibat racun saat usianya masih muda tiba-tiba kambuh.
Sehingga sekarang pandangan Eyang Resi Patok Pati tiba-tiba buram. Wajahnya sudah pucat pasi dan dadanya terasa sesak. Melihat hal ini, Prabu Jati Sena Purwadadu tidak mau menyianyiakannya.
"Pukulan Brajamusti"
"Desss …"
"Ahhh …"
Eyang Resi Patok Pati terpental empat tombak jauhnya kebelakang. Seluruh tubuhnya terasa panas terbakar. Bahkan dadanya gosong akibat "Pukulan Brajamusti" yang dhasyat tersebut.
Eyang Resi Patok Pati langsung terkulai lemas dan tak mampu bangkit berdiri lagi. Luka dalam dan racun dalam tubuhnya kambuh, ditambah pukulan dahsyat menyerangnya dengan telak.
Jika itu bukan dirinya, maka bisa dipastikan orang tersebut akan tewas dengan tubuh hangus terbakar akibat pukulan tadi.
Langlang Cakra Buana melihat ini menjadi kaget bukan main. Amarah yang daritadi sudah dia pendam lalu melihat kejadian gurunya barusan, sudah tidak bisa ditahan lagi.
Darahnya terasa seperti mendidih. Dadanya panas dsn nafasnya tiba-tiba memburu. Pandangan matanya mendadak buram dan gelap.
Tiba-tiba saja, dia berteriak dengan kencang lalu tanah bergetar hebat. Deru angin semakin kencang mengiringi teriakannya.
"ROARRR …"
Tiba-tiba tubuh pemuda serba putih itu terbungkus energi yang teramat besar. Tak lama kemudian, tubuhnya menjadi membesar hingga seperti raksasa.
Matanya merah, dua taring keluar. Kekuatan dari amarahnya membuat dia lepas kontrol hingga "Ajian Tiwikrama" yang beberapa waktu lalu dia kuasai, keluar tanpa bisa dia kendalikan.
Semua orang yang ada disana tersentak kaget karena kejadian ini. Pertarungan yang sedang berlangsung tiba-tiba terhenti ketika tanah bergetar dan terdengar suara teriakan yang menyeramkan.
Bahkan Prabu Jati Sena yang tadi sudah berniat untuk langsung membunuh Eyang Resi Patok Pati pun terpaksa mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Langlang Cakra Buana saat ini sudah seperti layaknya Buta (raksasa dalam pewayangan). Dia berjalan sambil mengobrak-abrik sesuatu yang dia lihat.