Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Memulai Rencana


__ADS_3

Setelah memeluk cukup lama dan di rasa dirinya sudah tenang, Ling Zhi segera melepaskan pelukannya. Air matanya sudah kering, katanya memerah. Wajahnya agak kusut karena air matanya.


Ia mengelap pipinya lebih dulu sebelum memulai bicara.


"Kakang, kenapa kau tidak bilang akan pergi? Kau tahu bahwa aku sangat mengkhawatirkan dirimu? Apakah aku tidak di anggap lagi? Hemm, nasib wanita lemah mungkin memang seperti ini," kata Ling Zhi sedikit cemberut.


"Jangan bicara sembarangan Ling Zhi. Aku tidak memberitahumu karena kau sedang terluka, mana mungkin aku membiarkanmu dalam keadaan bahaya? Tentu saja tidak mungkin," ucap Cakra Buana mengajak duduk Ling Zhi.


"Tapi kan lukaku sudah sembuh. Lagi pula, luka itu tidak terlalu berbahaya. Apakah karena aku lemah? Iya kan? Kau tidak mengajakku karena aku hanya menjadi beban, benar kan?" Ling Zhi melontarkan pertanyaan tiada hentinya kepada Cakra Buana.


Pendekar Maung Kulon tidak tahu harus menjawab apa. Sebab semua jawaban yang ia berikan, selalu saja salah di mata seorang wanita kalau ia sedang marah.


Karena alasan itu, Cakra Buana lebih memilih untuk diam seribu bahasa. Ia terus membiarkan Ling Zhi bicara semaunya. Cakra Buana hanya membisu.


Setelah Ling Zhi terdiam, barulah Cakra Buana yang mulai bicara.


"Sudah marahnya? Sekarang giliranku. Kau harus tahu, semua yang kau katakan itu tidak sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Aku tahu kau khawatir, aku tahu kau marah, karena itulah aku minta maaf. Lain kali, aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Cakra Buana sambil memandang lekat wajah Ling Zhi. Kedua tangannya menggenggam tangan gadis itu dengan erat.


"Janji?"


"Aku janji. Mana berani aku bohong kepadamu?"


"Kalau sampai ketahuan bohong. Awas saja," katanya manja.


"Terserah kau mau apa, aku akan menerimanya," jawab Cakra Buana.


Ling Zhi tak mau lepas dari pelukan kekasihnya itu. Justru dia memeluknya semakin erat. Tak terasa hari sudah malam lagi. Rembulan bersinar terang menggantung di langit yang kelam. Bintang bertaburan dengan indah mewarnai sepinya malam.


Semilir hembusan angin menerbangkan keharuman dari bunga-bunga di taman. Cakra Buana lalu mengajak Ling Zhi untuk pergi dari sana.


Ia pun menurut, tanpa ada penolakan sedikitpun. Namun sepanjang jalan, Ling Zhi terus menempel tak mau lepas. Ia justru mengajak Cakra Buana menuju kamarnya.


Sekalipun mereka belum menikah, tapi semua orang Istana Kerajaan Tunggilis sudah mengetahui hubungan keduanya. Jadi walaupun para dayang dan prajurit melihat Cakra Buana dan Ling Zhi seperti itu, mereka tidak bicara apa-apa kecuali menyapa dan memberikan hormat.


Dua insan yang saling merindukan itu sudah sampai di sebuah kamar. Tidak besar, namun terbilang mewah. Kamarnya di hiasi berbagai macam bunga. Keharuman bunga-bunga itu semerbak mewangi memanjakan hidung. Kamar yang rapi.


Ling Zhi duduk di pangkuan Cakra Buana. Mulutnya diam tidak bicara. Tapi matanya, mengatakan sesuatu.


Pendekar muda itu paham apa yang di inginkan kekasihnya. Tanpa berlama-lama, Cakra Buana segera menidurkan Ling Zhi. Ia mulai memanjakan kekasihnya. Nafas mereka semakin lama semakin memburu.

__ADS_1


Gejolak dalam diri keduanya semakin besar. Mereka tidak dapat menahannya lagi. Maka keduanya langsung bergumul di bawah malam yang terang bulan.


Suara erangan nafas kenikmatan terdengar syahdu. Suara wanita yang lembut. Siapa pun pasti akan tergoda jika mendengarnya.


Akhirnya, mereka tenggelam dalam lautan kenikmatan tanpa gangguan apa pun.


###


Hari sudah pagi. Semua orang di Istana Kerajaan Tunggilis sudah memulai aktivitasnya kembali. Sarapan sudah sedia, mereka segera melakukan sarapan bersama.


Setelah selesai sarapan, orang-orang penting kerajaan lalu berkumpul. Mereka akan merencanakan langkah selanjutnya untuk menyambut perang besar yang kemungkinan akan terjadi sebentar lagi.


"Kakang Gagak Bodas, kakang Jalak Putih, bolehkah aku meminta bantuan kalian?" tanya Prabu Katapangan memulai pembicaraan serius.


"Silahkan rai. Jangan sungkan. Kami pasti akan membantumu, bantuan apa yang kau inginkan?" tanya Jalak Putih.


"Aku minta kalian kumpulkan semua pendekar yang ada di pihak kita. Setelah itu kita akan mengadakan pertemuan besar. Kita akan membicarakan langkah pertama untuk memulai peperangan. Aku ingin semua pendekar yang tidak suka Kerajaan Kawasenan, berkumpul pada waktu yang ditentukan. Kita harus bergabung supaya bisa menyusun kekuatan yang lebih hebat lagi. Sebab bagaimanapun juga, melawan Kerajaan Kawasenan sama saja mengadu nyawa," kata Prabu Katapangan semakin serius.


"Pemikiran yang bagus. Langkah pertama yang cemerlang, tapi, bukankah hal ini sudah dilakukan oleh Sepasang Kakek dan Nenek Sakti?"


"Benar, tapi aku hanya ingin mempercepat saja. Lebih banyak yang menyebarkan berita ini, lebih baik lagi. Aku berencana saat bulan purnama nanti, kita mulai menyerang,"


"Terimakasih kakang. Maaf aku telah merepotkanmu,"


"Jangan bicara seperti itu. Kita bukan orang lain,"


"Baiklah,"


"Kalau begitu kami pamit dulu,"


"Silahkan,"


Gagak Bodas dan Jalak Putih lalu pergi. Mereka akan mengumpulkan semua kalangan pendekar dalam waktu singkat. Bukan hal sulit untuk keduanya melalukan hal seperti ini. Apalagi dua saudara seperguruan itu sudah mempunyai nama di kalangan dunia persilatan.


"Paman, aku izin keluar sebentar," kata Cakra Buana tiba-tiba.


"Kau mau ke mana?"


"Aku akan ke hutan. Ling Zhi ingin berlatih,"

__ADS_1


"Hemmm, baiklah. Hati-hati, keadaan mulai kacau," kata Prabu Katapangan mengingatkan.


"Baik paman, aku pergi dulu,"


###


Cakra Buana dan Ling Zhi sudah tiba di pinggiran hutan. Semalam, wanita itu menagih janji kepada Pendekar Maung Kulon di mana dulu ia sempat berkata akan mengajarkan Ling Zhi ilmu kanuragan.


Cakra Buana segera mengiyakan. Karena alasan itulah kini keduanya berada di hutan.


"Kakang, ilmu apa yang akan kau ajarkan kepadaku?"


"Nanti kau akan tahu sendiri. Sekarang ikutilah semua gerakanku," kata Cakra Buana.


Mereka sudah bersiap untuk memulainya. Tapi sebelum itu, tiba-tiba kesiur angin cukup kencang dan tajam menyambar mereka. Cakra Buana dan Ling Zhi langsung melompat menghindari serangan tersebut.


Entah siapa pelakunya. Yang jelas, di depan keduanya kini sudah berdiri tiga orang berpakaian hitam dan memakai cadar.


Cakra Buana terdiam sebentar. Ia merasa pernah melihat orang berpakaian seperti ini.


"Hemm, apakah kalian orang-orang Kerajaan Kawasenan?" tanya Cakra Buana setelah mengingat-ingat.


"Tajam juga pandangan matamu," kata salah seorang.


"Tidak usah basa-basi lagi. Katakan saja apa tujuanmu sehingga berani menginjakkan kaki di sini,"


"Kalau bukan untuk mencabut nyawamu, apalagi? Apa kau pikir kerajaan akan melepaskanmu setelah kau membunuh para pendekar istana?"


"Hemm, tak kusangka masalahnya akan berbuntut panjang,"


"Tentu saja. Kau pikir nyawa orang sama dengan nyawa anjing?"


"Bukankah kalian memang seekor anjing pemerintah yang sewenang-wenang?"


Bukan main marahnya tiga orang itu saat mendengar perkataan Cakra Buana barusan. Baginya, perkataan barusan sama saja dengan penghinaan.


Untuk diketahui, ketiganya memang orang-orang Kerajaan Kawasenan yang kemarin di beri tugas oleh Prabu Ajiraga untuk menyelidiki keadaan di Kerajaan Tunggilis. Ia mengirim beberapa orang pendekar pilih tanding untuk menjalankan tugas tersebut. Salah satunya adalah tugas untuk membunuh Cakra Buana.


Dan tiga orang itu, merupakan pendekar yang ikut dalam tugas tersebut.

__ADS_1


__ADS_2