
Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap masih terdiam. Keduanya sedang melihat seorang murid yang meratap kesedihan atas kepergian gurunya. Walaupun Kagendra Malawa merupakan seorang pendekar dan berhati "kejam", tapi tetap saja bahwa dia juga manusia.
Manusia biasa yang sama seperti umumnya. Dia masih memiliki hati nurani dan tahu apa itu kesedihan.
Dari sejak kecil hingga sekarang, dia telah di bimbing oleh Dewa Maut dengan sepenuh hatinya. Jadi wajar kalau saat ini dia merasakan kesedihan karena guru yang amat dia sayangi pergi untuk selamanya.
Semua manusia memang akan pergi pada saatnya. Kepergian yang takkan pernah kembali. Tapi, apakah kau tahu bahwa kematian itu merupakan awal kehidupan yang kekal? Sebagian orang percaya, sebagian orang tidak.
Tapi terkait tentang datangnya kematian bisa kapan dan di mana saja, rasanya semua orang akan percaya hal ini. Manusia mana yang bisa menghindari takdir yang telah ditetapkan?
Semuanya akan mati. Entah itu sekarang, esok, atau mungkin nanti. Yang jelas, kematian itu selalu mengikuti setiap makhluk yang bernyawa. Tidak ada kepastian yang paling pasti, selain datangnya kematian.
Setelah beberapa saat bersedih atas kepergian sang guru, akhirnya Kagendra Malawa bangkit berdiri. Walaupun dengan susah payah, tapi dia akan tetap berusaha kuat di hadapan dua pendekar itu.
Dia laki-laki, sudah pasti akan berusaha kuat di hadapan seorang wanita. Siapapun laki-laki itu, mereka akan menunjukkan bahwa dirinya kuat jika berhadapan dengan seorang wanita.
"Kau pakailah serbuk ini untuk mengobati lukamu," kata Cakra Buana sambil melemparkan satu kantong serbuk kepada Kagendra Malawa.
Tapi mau bagaimana? Toh kedua lengannya sudah sangat sakit. Dia tidak mampu bergerak secara leluasa.
Pada akhirnya, Bidadari Tak Bersayap mengulurkan bantuan kepadanya. Kagendra Malawa di suruh untuk duduk di bawah pohon. Sedangkan Cakra Buana menguburkan mayat Dewa Maut.
Saat gadis cantik itu sedang mengobati lukanya, Kagendra Malawa menatap lekat-lekat wajah Bidadari Tak Bersayap. Perasaan cintanya sangat besar, tapi perasaan kagumnya lebih besar lagi.
"Kenapa kau mau membantuku? Sedangkan aku berusaha untuk membunuhmu," tanya pria itu penasaran.
"Aku membantu hanya karena dasar belas kasihan sesama manusia. Walaupun kita hampir saling bunuh, tapi itu hanya terjadi di medan pertarungan. Selebihnya, kita semua sama. Manusia yang kotor," jawab singkat Bidadari Tak Bernyawa.
Jawabannya memang singkat. Tapi maknanya sedalam cintaku padanya. Atau sedalam cintamu padanya.
Kagendra Malawa tersenyum. Senyuman yang puas dan penuh kegembiraan.
"Lalu, kenapa kau tadi tidak membunuhku?"
"Kakang Cakra Buana yang melarangku untuk membunuhmu. Entah apa alasannya, aku sendiri juga tidak tahu," ujar wanita itu.
Dia tersenyum lagi. Tapi kali ini senyumannya sulit untuk di artikan. Entah senyuman bahagia, ataupun merana.
"Kau gadis yang baik, sama baiknya dengan pria itu (Cakra Buana). Sekarang aku baru sadar dan mengerti seluruhnya, bahwa cinta memang tidak dapat dipaksakan. Dan lagi, aku bukan pria yang pantas untukmu. Dan kau pun tidak pantas untukku. Kita memiliki perbedaan yang membentang, hanya dialah yang cocok dan serasi denganmu. Kau dan dia mempunyai banyak kemiripan. Entah itu dalam sifat, maupun sikap," kata Kagendra Malawa bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Perkataannya sangat tulus. Setulus cintanya sendiri. Sekarang dia baru sadar semuanya.
Kesadaran manusia memang akan datang disaat dia sudah mengerti berbagai macam hal.
"Terimakasih. Tapi kita tidak ada bedanya. Kau dan aku sama. Selama kau mau mengubah jalan hidup, pasti banyak wanita yang lebih dari pada aku menginginkan dirimu," kata gadis maha cantik itu sambil tersenyum.
Bicaranya berubah kalem dan lebih bersahabat. Begitupun dengan Kagendra Malawa.
Manusia bisa berubah hanya dalam hitungan detik saja.
Saat Bidadari Tak Bersayap selesai mengobati Kagendra Malawa, saat itu juga Cakra Buana datang. Dia pun baru selesai mengubur mayat Dewa Maut.
"Kau sudah selesai?" tanya Cakra Buana kepada gadis itu.
"Sudah, dan kau?"
"Sudah juga,"
"Kalau begitu, kita segera pergi," ajak Bidadari Tak Bersayap.
Cakra Buana mengangguk setuju. Kemudian dia mengalihkan mukanya ke Kagendra Malawa.
"Baik, terimakasih pendekar. Terimakasih juga karena kau sudah mengabulkan permintaan terakhir guruku," jawab Kagendra.
"Permintaan yang mana?"
"Permintaan menyuruh supaya membiarkan aku hidup,"
"Bagaimana kau tahu?"
"Perasaan orang-orang terdekat dan memiliki ikatan, lebih tajam daripada sebilah pedang pusaka,"
"Kau benar," jawab Cakra Buana.
"Suatu saat aku akan membalas semua kebaikanmu,"
Saat Kagendra Malawa berkata, dua sosok pendekar yang tadi di hadapannya sudah menghilang entah ke mana. Tidak ada yang dapat melihat kepergian mereka.
Hari sudah pagi. Suara burung berkicau mengawali hari. Embun yang bersih dan suci masih menetes berjatuhan ke daun rimbun lalu jatuh membasahi rumput. Suasana masih terasa sejuk.
__ADS_1
Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap sedang duduk di atas sebuah batu hitam besar pinggiran sungai. Keduanya menikmati keindahan pagi bersama gemericik suara air terjun yang ada di depannya.
"Sinta, ke mana tujuanmu selanjutnya?" tanya Cakra Buana mengawali pembicaraan.
"Entahlah. Mungkin aku akan membasmi kejahatan saja. Aku dengar ada organisasi yang sangat jahat berkeliaran di Tanah Jawa ini,"
"Maksudmu Organisasi Tengkorak Maut?"
"Benar. Mungkin itu namanya, aku kurang paham betul,"
"Kalau begitu tujuan kita juga sama. Aku pun ingin membasmi mereka, sekarang aku sedang mencari bantuan kepada Organisasi Pelindung Negeri," ujarnya.
"Kau sudah memulai rencanamu?"
"Belum. Tapi aku berencana untuk pergi ke Kerajaan Manunggal Jagat Segoro yang berkuasa di Tanah Jawa ini. Aku ingin meminta bantuan langsung ke Prabu Bagus Putra Brajarawaringin," ujar Cakra Buana menjelaskan tujuan selanjutnya.
"Kapan kau akan ke sana?"
"Secepatnya,"
"Aku ikut," ucap Bidadari Tak Bersayap.
"Maksudmu?"
"Aku ingin ikut denganmu membasmi kejahatan,"
Cakra Buana bingung. Dia bukan merasa keberatan, siapa pula yang akan merasa keberatan jika berjalan mengembara bersama gadis secantik dia?
Jangankan manusia, dewa sekalipun mungkin tidak akan merasa keberatan.
Tapi di balik itu, Cakra Buana bingung karena dia belum kenal betul dengan gadis tersebut. Tetapi karena gadis itu sungguh-sungguh, akhirnya Cakra Buana mengiyakan.
"Baiklah, tapi beginilah kehidupanku. Aku selalu tidur di mana saja, setiap saat nyawaku pun bisa saja melayang. Kalau kau tidak merasa keberatan, maka aku memperbolehkanmu untuk pergi bersamaku," jawab Pendekar Tanpa Nama.
Tentu saja Bidadari Tak Bersayap sangat senang mendengarnya. Tapi dia berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikan perasaan tersebut.
"Terimakasih. Sudah pasti aku tidak merasa keberatan, memangnya apa bedanya kau dan aku? Bukankah sama saja? Kita berada di posisi yang sama. Akan lebih baik lagi kalau kita bisa bersama," ucap gadis cantik itu sungguh-sungguh.
"Ma-maksudmu bersama? Ap-apakah kita harus sama-sama membangun hidup yang baru dalam satu atap satu tujuan?" tanya Cakra Buana dengan polos. Sangat polos sekali.
__ADS_1