
"Sebelumnya maafkan kami kalau lancang, aku hanya ingin memberitahu bahwa hal ini menyangkut kelangsungan Perguruan Rajawali Putih," kata Pendekar Tangan Seribu.
Kakek Rajawali mengerutkan keningnya. Dia masih belum mengerti apa yang dimaksudkan oleh sang tamu.
"Tentang kelangsungan perguruan? Baiklah, kalau begitu aku akan panggilkan muridku dulu," kata Kakek Rajawali lalu menyuruh seseorang untuk memanggil murid inti.
Tak lama, enam orang murid inti datang ke ruangan tersebut. Tiga orang pria, dan tiga orang lagi wanita. Semuanya masih terbilang muda, paling baru berumur tak lebih sekitar tiga puluh lima tahunan. Hanya dua orang saja yang terlihat tua, keduanya terlihat seperti berumur empat puluh tahun.
Keenam murid itu memberikan hormat sebelum akhirnya duduk bersama.
"Maaf guru, ada apa anda memanggil kami?" tanya salah seorang muridnya.
"Dua pendekar ini ingin membicarakan hal penting Bayu. Katanya menyangkut perguruan, oleh sebab itu aku memanggil kalian," kata Kakek Rajawali.
Murid yang dipanggil Bayu itu merupakan murid tertua. Tubuhnya tinggi kekar, wajahnya bulat telur dengan sorot mata yang tajam. Sekilas saja sudah bisa di lihat bahwa dia memiliki kepandaian tinggi.
"Apakah yang guruku katakan itu benar tuan pendekar?" tanyanya kepada Cakra Buana dam Pendekar Tangan Seribu.
Keduanya mengangguk membenarkan ucapan barisan. Cakra Buana memandang Pendekar Tangan Seribu lebih dulu sebelum akhirnya ia bicara.
"Benar, hanya saja aku takut di kira mencampuri urusan perguruan ini,"
"Ah, pendekar terlalu sungkan. Katakan saja yang sebenarnya," pinta Kakek Rajawali.
Sebelum bicara, Cakra Buana menghela nafas terlebih dahulu. Setelah itu, Pendekar Maung Kulon tersebut mulai menjelaskan permasalahannya.
"Satu hari lalu, aku tiba di sebuah penginapan di Desa Cigayam. Di sana kami berhenti untuk makan. Tanpa di sengaja, aku melihat ada lima orang yang mencurigakan. Kemudian aku menguping pembicaraan mereka berlima. Ternyata kelimanya sedang merencanakan penyerangan terhadap Perguruan Rajawali Putih ini. Penyerangan akan dilakukan esok hari. Karena alasan itulah aku kemari untuk memberitahukan hal ini kepada kalian," kata Cakra Buana menjelaskan.
"Apakah yang kau bicarakan itu benar? Jangan bercanda," kata seorang murid Kakek Rajawali.
"Apakah aku terlihat bercanda? Kalau bercanda, untuk apa aku jauh-jauh ke sini bahkan rela meninggalkan tugasku?
"Biarkan dia bicara dulu Sanca," kata Kakek Rajawali memperingatkan muridnya yang bernama Sanca.
"Siapa yang akan menyerang perguruan kami ini pendekar?" tanya Bayu, murid dari Kakek Rajawali.
"Perguruan Ular Sendok,"
"Apa? Apakah kau serius?"
__ADS_1
"Sangat serius. Aku mendengarnya sendiri,"
"Hemm, mereka cari ******. Bahkan jumlah murid yang mereka miliki masih di bawah sedikit Perguruan Rajawali Putih. Rupanya bernyali besar juga mereka itu,"
"Bukan bernyali besar, tapi licik," kata Cakra Buana.
"Licik bagaimana maksudmu?"
"Mereka berani menyerang karena sudah melakukan persiapan matang. Bahkan Perguruan Ular Sendok sudah menaruh orang-orangnya di perguruan ini. Saat penyerangan akan tiba, orang-orang yang menyusup ini akan memberikan Racun Pemusnah Tenaga, baik itu dalam makanan maupun dalam air minum," ucap Cakra Buana.
"Jangan mengada-ngada. Apa kau kira kami akan percaya kepadamu? Mulutmu sungguh lancang," kata Sanca geram. Dia langsung berdiri sambil menunjuk wajah Cakra Buana.
"Berani sekali kau bicara sembarangan. Jadi kalian menyangka bahwa Perguruan Rajawali Putih ini lemah, sehingga bisa di susupi oleh orang luar heh?" seorang pria berkulit agak hitam dan bertampang bengis turut angkat bicara, dia bernama Dadung Amuk.
Kakek Rajawali hanya diam saja sambil melirik dua muridnya tersebut. Sedangkan semua muridnya, kini sedang menatap Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu dengan tajam.
"Guru, orang ini secara tidak langsung telah menghina perguruan kita. Aku rasa apa yang mereka ucapkan ini bohong. Sudah jelas bahwa Perguruan Rajawali Putih tidak pernah sembarangan menerima murid. Tapi orang ini malah berani menuduh yang bukan-bukan," kata Sanca semakin emosi.
"Aku hanya bicara yang sebenarnya. Kalian mau percaya atau tidak, itu hak kalian. Aku tidak memaksa kalian untuk percaya. Niatku kemari baik, tapai kalau kalian tidak terima, tak ada masalah," ucap Cakra Buana dengan tenang.
"Kalau begitu kami pamit permisi dulu," ucapnya sambil bangkit dari tempat duduk diikuti Pendekar Tangan Seribu.
"Aku tidak mencari permusuhan. Aku hanya mengingatkan kalian karena kita di jalan yang sama,"
"Persetan dengan ucapanmu bocah. Yang jelas mulutmu itu harus aku robek dulu. Baru kubiarkan kalian pergi," kata Sanca.
"Sekali kau usik pemuda ini, maka aku takkan tinggal diam," kata Pendekar Tangan Seribu angkat bicara. Dia mulai tersulut emosinya karena tak tahan melihat Cakra Buana diperlakukan seperti itu.
"Oh, mau jadi pahlawan? Baik, baik. Apa kau kira kami tak sanggup melawanmu? Kami tidak takut walau kau cukup terkenal juga," ucap seorang murid lagi yang bernama Dadung Amuk.
"Hemm, tak kusangka pemikiran kalian secetek ini," kata Pendekar Tangan Seribu memancing emosi lawan.
"Keparat. Tutup mulutmu," bentak Dadung Amuk lalu tiba-tiba melompat menyerang Pendekar Tangan Seribu.
"Hiattt …"
"Wuttt …"
Sebuah pukulan melayang dengan cepat ke wajah Pendekar Tangan Seribu.
__ADS_1
"Plakk …"
Pukulan tersebut bisa ditahan dengan tangan kanan Pendekar Tangan Seribu. Setelah kepalan tangan ia genggam, serta-merta dia langsung mendorongnya lagi sehingga murid guru besar itu terpunduk setengah langkah.
"Biarkan kami pergi," kata Pendekar Tangan Seribu.
Tapi baru saja tiba di halaman perguruan, dua orang murid inti yaitu Sanca dan Dadung Amuk kembali menyerang Pendekar Tangan Seribu dari arah belakang.
"Wushhh …"
Kesiur angin dingin terasa saat dua murid itu melancarkan sedangan jarak jauhnya. Pendekar Gangan Seribu melompat tinggi ke udara lali turut mengirimkan pukulan jarak jauh.
"Wuttt …" sinar merah mencelat ke luar dari telapak tangannya.
"Bragg …" tiga buah meja hancur lebur terkena serangan sinar merah tersebut.
"Keparat …"
"Hihhh …"
Dadung Amuk dan Sanca kembali memberikan serangan kepada Pendekar Tangan Seribu. Pukulan dan tendangan mereka lancarkan secara bersamaan. Desiran angin tajam lebih dulu terasa sebelum kaki dan tangan itu mengenai sasarannya.
"Utsss …"
Pendekar Tangan Seribu menarik tubuhnya ke belakang. Sehingga dua serangan lawan bisa lolos dan hanya lewat satu jari dari perutnya.
Di sisi lain, Cakra Buana beserta Kakek Rajawali dan empat murid lainnya, hanya diam menyaksikan pertarungan tersebut. Cakra Buana terlihat tenang karena dia yakin dua orang itu bukanlah lawan sebanding dengan Pendekar Tangan Seribu.
Jurus demi jurus terlewati. Tendangan dan pukulan terus terjadi sering beradu. Suara tulang atau suara bergemuruh mulai terdengar. Pertarungan semakin seru sebab kini Pendekar Tangan Seribu mulai melakukan balasan kepada dua lawannya. Dia sudah tidak bisa bersabar lagi karena kedua orang itu yang ada justru semakin ganas.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
"Plakk …"
"Bukkk …"
Pendekar Tangan Seribu membalikan posisinya. Dari yang tadinya terdesak, kini menjadi menyerang. Dia memberikan serangan tapak atau pukulan beruntun kepada Sanca dan Dadung Amuk.
__ADS_1
Tangannya bergerak mengikuti irama lawan. Pukulan dan tendangan sudah di terima oleh Sanca dan Dadung Amuk tanpa henti.