
Begitupun dengan Raden Buyut Sangkar sendiri, sekuat tenaga dia mencoba untuk menghindari semua serangan Cakra Buana, tapi sayangnya semua usaha itu hanya sia-sia.
Cakra Buana selalu mengejarnya kemanapun dia menghindar. Beberapa luka akibat pukulan dan tendangan Pendekar Maung Kulon itu sudah terlukis di seluruh tubuh Raden Buyut Sangkar.
Hingga pada akhirnya putera sang Adipati itu nekad. Dia ingin mengadu kekuatan. Itu artinya, dia sama saja berniat untuk mengadu nyawa dengan Cakra Buana.
Raden Buyut Sangkar langsung melompat mundur untuk mengambil jarak ketika ada kesempatan. Dia langsung mengumpulkan seluruh kekuatannya pada tangan kanan.
Adipati Wulung Sangit dan Munding Aji berada dalam jarak yang agak jauh karena tidak bisa mendekat. Sedangkan Cakra Buana dan Raden Buyut Sangkar hanya terpaut lima tombak.
"Bagus. Dia akan mengadu nyawa denganku. Baiklah, kita lihat siapa yang akan tewas," gumam Cakra Buana sambil mengumpulkan tenaga juga.
Ketika semua tenaga yang tersisa sudah terkumpul pada lengan kanannya, Raden Buyut Sangkar langsung melompat menerjang Cakra Buana. Tangan kanannya di tarik ke belakang lalu di hentakkan sambil di kepalkan. Begitupun dengan Cakra Buana.
Dua pendekar muda itu sudah melompat secara bersamaan. Deru angin menyambar dengan kencang. Debu beterbangan menyelimuti arena pertarungan.
"Hiyaaa …"
"Haittt …"
"Wuttt …"
"Wuttt …"
"Blarrr …"
Gelombang energi yang besar langsung menyapu arena pertarungan Cakra Buana dan tiga lawannya. Angin berhembus menerbangkan beberapa pohon. Raden Buyut Sangkar terlempar hingga sepuluh tombak, tubuhnya berhenti meluncur ketika menabrak sebuah pohon beringin yang berukuran dua lingkaran tangan orang dewasa hingga pohon itu bergoyang keras.
Anak dari Adipati itu langsung tewas dengan seluruh pakaian yang gosong, seperti seluruh tubuhnya pula. Dadanya hancur dan dia tewas saaat itu juga.
Sedangkan Cakra Buana terlempar tujuh tombak. Dia juga menabrak pohon yang berukuran sedang hingga tumbang. Tapi kondisinya masih terbilang lebih baik karena tidak mengalami luka dalam serius kecuali pakaiannya sedikit koyak dan muntah darah kehitaman.
__ADS_1
Adipati Wulung Sangit dan Munding Aji pun bahkan ikut terkena efeknya benturan tenaga dalam yang luar biasa tersebut, bahkan bukan hanya mereka, para pendekar lain pun sama halnya.
"Anakku … tidak …" teriak Adipati Wulung Sangit.
Begitu mengetahui bahwa anaknya sudah tewas dalam kondisi yanh begitu mengenaskan, saat itu juga Adipati Wulung Sangit langsung menyerang Cakra Buana yang masih dalam posisi berusaha berdiri. Dia menyerang menggunakan Keris Naga Bumi miliknya.
"Keparat. Kau harus ****** ditanganku pemuda laknat …"
"Wuttt …"
Sambaran keris siap menusuk jantung pemuda serba putih tersebut. Tapi harus ingat, kali ini Cakra Buana sudah benar-benar serius. Maka ketika merasa ada bahaya yang mengancam, seketika itu juga dia langsung mencabut Pedang Pusaka Dewa.
"Trangg …"
Dua buah pusaka berbenturan menimbulkan percikan kembang api. Cakra Buana berusaha bangun sambil menahan senjata lawan. Ketika sudah berdiri sempurna, dia langsung melanjutkan dengan perkelahian memakai senjata.
Melihat pertarungan dilanjutkan, Munding Aji tak tinggal diam. Dia pun sudah mencabut Keris Kyai Jenggala lalu kemudian ikut nimbrung dalam perkelahian tersebut.
Di sisi lain, pertarungan antara maung sukma melawan tiga murid Nyai Kembang Ros Beurem pun tak kalah hebatnya. Meskipun hanya seekor harimau, tapi maung sukma bukanlah binatang biasa.
Dia bergerak begitu lincah dan sangat bertenaga. Setiap serangan yang dia lancarkan, mampu membuat lawan kelimpungan. Beberapa kali tiga murid Nyai Kembang terkena cakaran maung sukma.
Ketika sedang bertarung sengit, tiba-tiba saja Citra Kirana melompat lalu membokong maung sukma. Dia menyerang menggunakan senjatanya yang berupa pedang.
"Wuttt …"
"Brettt …"
Sebuah goresan pedang langsung terlihat di bagian punggung harimau itu. Tapi bukannya mengeluh kesakitan, justru sebaliknya. Maunya sukma semakin marah. Dia mengaum dengan sangat keras.
"Rrrggghhh …"
__ADS_1
Auman maung sukma langsung menyapu tempat sekitar. Hawa kematian menyelimuti tempatnya bertarung.
"Wuttt …"
Harimau itu berbalik dan langsung melompat menyerang Citra Kirana secara tiba-tiba. Karena serangan yang tak disangka itu, otomatis Citra terperanjat kaget.
Dia berniat untuk menahan serangan, tapi sayangnya usaha itu terlambat. Maung sukma sudah lebih dulu menerjang dirinya. Dua kaki kanannya di rentangkan, sedangkan mulutnya di buka lebar-lebar.
"Rrrggghhh …"
Sekali lagi dia mengaum sebelum akhirnya benar-benar menewaskan salah satu murid Nyai Kembang. Hanya beberapa gebrakan, Citra Kirana langsung tergeletak di tanah dengan kondisi yang dipenuhi luka akibat cakaran maung sukma.
"Teteh (kakak) …" teriak Ayu Pertiwi dan Dyah Rengganis.
Keduanya langsung menghampiri Citra Kirana sambil menahan isak tangis. Maung sukma masih terdiam disana, matanya tetap mencorong tajam dengan posisi siap siaga.
Di sisi lain, Nyai Kembang Ros Beureum menjadi tidak tenang ketika mendengar teriakan dua orang muridnya tersebut. Pertarungannya melawan Nenek Sakti jadis sedikit terganggu.
Akibatnya, pedang nenek tua itu mampu merobek sedikit pundak kirinya.
"Brettt …"
"Ahhh …" Nyai Kembang mengeluh lirih kemudian melompat mundur. Bibirnya terlihat menahan rasa perih dari luka yang baru saja dia dapatkan.
"Jangan hiraukan muridmu. Fokus saja kepada pertarunganmu. Apakah kau sudah tidak sayang kepada nyawamu sendiri?" Nenek Sakti memanas-manasi lawannya tersebut.
Mendengar ucapan itu, Nyai Kembang langsung kembali memandang nenek tua yang kini berdiri di hadapannya. Katanya jelas memancarkan dendam yang membara.
"******* … ****** kau nenek tua,"
"Jari Selaksa Racun …"
__ADS_1
"Wuttt …"