
"Ma-maafkan aku. Aku … aku," Cakra Buana tidak mampu melanjutkan perkataannya.
Entah dia harus berbicara apa kalau sudah seperti ini. Dia tahu bahwa dirinya bersalah karena telah berbuat lancang. Mulutnya ingin bicara bahwa dia memang mengaku bersalah. Namun rasanya sangat sulit sekali.
Lidahnya seperti kelu dan bibirnya terasa terkunci.
Saat itu Bidadari Tak Bersayap tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Senyuman yang sangat lembut dan manis. Ditambah pula senyuman yang penuh kehangatan.
"Ssstt, malam ini aku milikmu," kata gadis cantik itu. Suaranya sangat merdu. Lebih merdu dari kicau burung kenari. Bahkan desahan dan helaan nafasnya, terdengar sangat indah.
Orang yang sedang kasmaran kepada seseorang, sudah pasti akan merasakan hal seperti ini. Sekalipun dia buang angin di depan wajahmu, sudah pasti kau akan merasa wangi. Bahkan mungkin akan bicara bahwa "gas beracun" itu sewangi bunga mawar yang sedang mekar.
Walaupun wajahnya lusuh, kau akan menganggapnya cantik. Sekalipun rambutnya acak-acakan, kau akan menyebut bahwa rambut itu sangat indah.
Semua itu bisa terjadi kepada siapa saja. Terlebih kepada mereka yang sedang saling mencinta. Walaupun seluruhnya jelek, kau tetap akan mengatakan bagus. Dan tentang ini, rasanya berani untuk menjamin.
Cakra Buana tergetar saat mendengar kata yang baru saja diucapkan oleh Bidadari Tak Bersayap. Ucapan itu, nada bicara dan suaranya, benar-benar sangat mirip dengan Ling Zhi.
Wanita yang sampai saat ini masih menduduki posisi pertama di hatinya setelah sang ibu. Wanita yang selalu dia harapkan untuk menjadi bagian hidupnya, kepadanya lah Cakra Buana berharap. Kepadanya lah dia juga bermimpi. Mimpi yang sangat indah dan penuh gambaran kebahagiaan.
Sayang, mimpi itu harus dia kubur dalam-dalam. Semuanya sudah berubah. Semuanya sudah berbeda. Dulu tidak seperti sekarang. Sekarang tidak seperti dulu.
Lagi-lagi semuanya karena takdir. Takdirlah yang membuat manusia merasakan berbagai macam hal.
Hati Cakra Buana perih. Sangat perih sekali. Rasanya lebih perih dari pada seluruh tubuhnya di sayat pedang.
Andai kau ada di posisinya, sudah pasti akan merasakan hal yang sama. Berbagai macam hal seperti di atas, hanya akan dapat dirasakan oleh mereka yang pernah mengalaminya.
Cakra Buana terdiam sejenak. Dia sedang menenangkan diri. Menyadarkan diri sendiri bahwa semuanya sudah berubah. Kini dia harus memulai hidup baru. Serba baru.
Maka tanpa banyak bicara lagi, Cakra Buana segera membalas senyuman yang diberikan oleh Bidadari Tak Bersayap. Dia tidak banyak bicara.
Wajah gadis cantik itu membayangkan wajah Ling Zhi. Cakra Buana berusaha menerima semuanya. Dua wanita dalam satu bayangan yang sama. Pada akhirnya Cakra Buana menyimpulkan bahwa dia akan memperlakukan Bidadari Tak Bersayap seperti perlakuannya kepada Ling Zhi.
__ADS_1
Hanya itu satu-satunya jalan supaya Pendekar Tanpa Nama bisa menerima dua wanita dalam satu hatinya.
Seorang pria mampu mencintai beberapa wanita sekaligus. Tapi seorang wanita, hanya mampu mencintai satu orang pria saja. Tapi kalau wanita sudah bosan, dia tidak segan-segan untuk meninggalakanmu dan mencari pengganti yang baru. Bahkan dalam waktu singkat.
Cakra Buana mulai membelainya dengan mesra dan penuh kelembutan. Pakaiannya perlahan dia buka seluruhnya.
Terlihat bentuk tubuh yang sangat indah. Gumpalan dua gunung tak bernama, terlihat menggiurkan. Bahkan seluruh bagiannya menggiurkan.
Keduanya sudah memulai perjalanan mereka menuju tempat yang amat sangat indah. Tempat yang penuh dengan gelombang cinta. Sesuatu yang menurut sebagian manusia surganya dunia.
"Sudah-sudah, jangan terlalu berlebihan. Nanti malah kebayang. Kalau sudah begitu, bisa bahaya. Ini cerita silat, bukan cerita romantis," kata Cakra Buana kepada penulisnya sendiri.
"Hanya selingan saja kakang," jawab si penulis.
Singkatnya, sampai menjelang pagi kedua muda mudi yang baru dimabuk cinta itu, baru menyelesaikan petualangan mereka menyusuri surga dunia.
"Kau sangat jantan. Aku sangat merasa puas. Terimakasih karena sudah memperlakukan aku selayaknya wanita," bisik Bidadari Tak Bersayap di telinga Cakra Buana.
Sore harinya, mereka berdua sudah bangun. Semua persiapan sudah dilakukan. Makan sudah, membersihkan diri sudah, mengganti pakaian dengan yang serupa juga sudah.
Keduanya bersiap untuk melakukan perjalanan ke tempat yang sudah ditentukan.
Hutan sebelah Timur Kotaraja.
Cakra Buana tentu mengajak Sinta Putri Wulansari atau Bidadari Tak Bersayap pergi bersamanya. Selain karena perjanjian awal, kini mereka juga sudah berubah statusnya.
Yang tadinya asing dan jauh. Kini mulai dekat dan bahkan saling mencintai satu sama lain.
Cakra Buana menganggap Sinta pengganti Ling Zhi. Dia sudah memutuskan, sampai kapanpun, Sinta adalah Ling Zhi. Begitupun sebaliknya.
Dua pendekar muda tersebut sudah memulai perjalanannya. Hanya dalam beberapa waktu saja, keduanya telah sampai di tempat yang sudah ditentukan.
Hanya saja, Cakra Buana merasa aneh. Sebab di sana tidak ada siapapun kecuali suara binatang dan para warga yang baru pulang dari sawah ladang mereka.
__ADS_1
"Kakang, apakah kau yakin ini tempatnya?" tanya Bidadari Tak Bersayap.
"Sangat yakin. Memang di sini lah aku dan paman Giwangkara Baruga berjanji untuk mengadakan pertemuan membahas rencana selanjutnya," kata Cakra Buana merasa sangat yakin.
"Lalu, kenapa dia belum juga sampai di sini?"
"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu, tapi sepertinya sesuatu telah terjadi,"
Di saat Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap kebingungan, saat itulah ada seorang warga biasa berumur sekitar lima puluh tahun menghampiri Cakra Buana.
"Permisi kisanak, apakah benar saya yang tua ini sedang berhadapan dengan tuan Pendekar Tanpa Nama?" tanya warga tersebut, dia merupakan seorang pria.
"Benar paman. Maaf, ada perlu apa paman mencariku?" tanya Cakra Buana.
"Ini ada surat dari seseorang, katanya untuk tuan," kata warga itu sambil memberikan sepucuk surat.
"Siapa nama pengirim surat ini?"
"Beliau tidak menyebutkan namanya. Tapi katanya, tuan akan tahu sendiri setelah membaca isinya,"
Cakra Buana mengangguk. Dia memberikan satu keping emas kepada warga itu. Pada awalnya warga tersebut menolak, hanya saja Cakra Buana tetap memaksa supaya menerimanya.
Setelah itu, dia segera pergi untuk melanjutkan aktivitasnya. Sedangkan Cakra Buana langsung membuka isi surat tersebut.
"Cakra Buana sahabatku, kalau sampai sore hari aku tidak berada di tempat pertemuan kita, aku mohon kau jangan menyangka yang tidak-tidak. Itu artinya sesuatu telah terjadi kepadaku. Aku harap, kau sudi untuk pergi ke dalam hutan. Di tengah hutan nanti kau akan menemukan sebuah bangunan yang sudah sangat tua. Dan di situ lah markas cabang Organisasi Tengkorak Maut, aku sudah menemukannya. Saat ini aku sedang menyiapkan rencana untuk mendapatkan informasi lebih supaya memudahkanmu."
"Pendekar Pedang Kesetanan."
Hati Cakra Buana tergetar. Dia meremas surat tersebut sehingga hancur menjadi debu. Bidadari Tak Bersayap terkejut. Dia langsung diam dan tidak banyak bertanya lagi.
"Kalau kau mau ikut denganku, pakai selendangmu untuk menggantikan cadar," kata Cakra Buana dengan tegas.
Suaranya jelas menggambarkan bahwa dia benar-benar marah.
__ADS_1