
Tiga hari semenjak pengejaran Irma Sulastri sudah berlalu, selama itu pula Cakra Buana mencari-cari ke berbagai daerah setempat yang dekat dengan desa Gading Bodas. Tapi sayang, semua usahanya sia-sia semata. Kemanapun dia mencari, tetap saja gadis yang dia cari tidak kuning ketemu.
Memang sampai sekarang Cakra Buana belum juga mengetahui bahwa Irma Sulastri sudah dibawa oleh seorang tokoh tua yang sakti bernama Nini Hideung.
Hari masih pagi. Bahkan mentari pun belum muncul ke permukaan bumi dengan sempurna. Hanya sinar jingganya saja yang sudah membakar bumi.
Di hutan, burung-burung sudah berkeliaran untuk menafkahi keluarga mereka. Hewan lain pun sama. Setitik demi setitik embun terus berjatuhan dari dedaunan hingga membasahi bumi, udara sejuk sekali pagi ini.
Disebuah gubuk tua pinggiran hutan, seorang pemuda yang memakai pakaian serba putih baru saja bangun dari tidurnya. Ada seekor kuda putih juga tak jauh dari gubuk itu, kuda tersebut sedang merumput karena memang rumput disana sangat subur.
Dialah Cakra Buana, seorang pendekar muda yang mendapat gelar sebagai Pendekar Maung Kulon. Selama tiga hari ini Cakra Buana memang tidur ditempat yang kosong, seperti gubuk ataupun sejenisnya. Dia sengaja tidak mencari penginapan, bukan tidak mampu, hanya ingin menghemat saja. Apalagi perjalanannya masih panjang.
"Hahhh … kemana lagi aku harus mencari Irma. Sudah tiga hari aku mencari kesana-kemari, tapi tetap saja tidak ketemu. Irma … dimana kau sebenarnya?" gumam Cakra Buana bertanya-tanya sendirian.
Pemuda itu langsung bangun, kemudian dia menuju ke pemandian yang ada disana. Cakra Buana tidak mau berlarut-larut dalam kebingungan.
Bagaimanapun juga, dia harus menghadapi sebuah kenyataan. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Hyang Widhi, baik hal kecil maupun besar. Manusia tidak akan bisa terlepas dari sebuah ketentuan yang menjadi garis besar.
Semuanya sudah tertulis, semuanya sudah direncanakan oleh Yang Maha Kuasa. Dan Cakra Buana pun percaya akan hal itu. Maka dari itu, dia mencoba untuk menerima ketentuan dengan ikhlas dan usaha.
Setelah selesai membersihkan diri, Cakra Buana lalu menghampiri kuda putihnya yang diberi nama si Bodas (si Putih), sesuai dengan warna binatang tersebut. Entah kenapa, Cakra Buana merasa kepada hewan rampasannya tersebut. Mungkin karena dalam beberapa hari ini dia selalu menemani dirinya.
__ADS_1
"Bodas, ayo kita pergi mencari tempat makan. Perutku sudah lapar, sekarang giliranku yang makan," kata Cakra Buana sambil mengelus-elus kepala si Bodas.
Si Bodas meringkik. Seolah dia faham akan maksud majikannya. Dia menghentikan makan rumputnya dan siap untuk berlari.
Cakra Buana langsung naik ke punggung si Bodas. Kemudian dis menggebraknya hingga si Bodas berlari kencang menuju ke perkampungan untuk mencari tempat makan.
Setelah beberapa saat, akhirnya Cakra Buana menemukan apa yang dia cari. Tiga puluh tombak didepan sana, ada sebuah kedai makan yang kecil. Tidak mewah, tapi sepertinya ada beberapa pengunjung. Tanpa basa basi lagi dia segera menuju kesana.
Cakra Buana sudah sampai didepan kedai makan. Si Bodas dia biarkan merumput di bawah sebuah pohon kelapa. Dia sendiri lalu masuk kedalam. Benar dugaannya, ada beberapa pengunjung disana.
Kedai makan itu sangat sederhana. Hanya ada empat bangku panjang dengan masing-masing satu meja. Setelah memilih tempat duduk, seorang perempuan tua lalu menghampiri dirinya.
"Ulen (uli) sama kopi aja bi," jawab Cakra Buana.
"Oh muhun (iya), tunggu sebentar ya den."
Cakra Buana mengangguk. Sedangkan perempuan tua itu langsung membuat pesanan Cakra Buana. Setelah selesai, dia sendiri segera mengantarkannya kepada pemuda itu.
Bau harum ulen dan wangi kopi begitu menggugah selera. Tanpa menunggu lama lagi Cakra Buana lalu memakannya dengan lahap.
Sepanjang makan, Cakra Buana mendengarkan para pengunjung yang bercerita tentang kekejaman seorang adipati yang bernama adipati Wulung Sangit.
__ADS_1
Menurut orang itu, adipati Wulung Sangit adalah seorang adipati yang kejam dan selalu bertindak sewenang-wenang. Dia selalu merampas harta rakyat. Selalu merebut istri orang maupun gadis-gadis yang cantik. Apapun yang dia inginkan, selalu dia dapatkan berkat kedudukannya.
Tapi yang membuat Cakra Buana tersedak ulen adalah ketika pengunjung itu bercerita bahwa adipati tersebut memiliki anak buah yang terkenal dengan julukan Lima Setan Darah. Seketika itu juga, darah Cakra Buana terasa mendidih.
Kemarahannya kepada Lima Setan Darah belum lenyap, maka seketika dia tiba-tiba bertanya kepada pengunjung tersebut, "paman, dimanakah tempat kediaman adipati Wulung Sangit itu?" tanya Cakra Buana.
"Eh … eu … anu, disana den, di kadipaten Ciporoan," kata pengunjung tersebut sedikit ketakutan.
Dimana Ciporoan itu?"
"Disana den, dari sini aden tinggal menuju ke Utara saja. Nanti disana aden bakal menemukan sebuah kadipaten, itulah kadipaten Ciporoan,"
"Baiklah terimakasih paman. Ini bayarannya bi," kata Cakra Buana sambil memberikan keping perunggu kepada pemilik kedai.
Cakra Buana langsung segera menyelesaikan sarapannya, lalu kemudian dia segera menghampiri si Bodas untuk kemudian pergi ke kadipaten Ciporoan.
"Bodas, ayo kita pergi." kata Cakra Buana sambil menggebrak si Bodas.
"Aneh." kata salahsatu pengunjung yang melihat gelagat Cakra Buana.
"Adipati Wulung Sangit, tunggu aku." kata Cakra Buana sambil terus berlari diatas punggung si Bodas.
__ADS_1