Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Dipermainkan Seseorang


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu dari kejadian terlukanya Cakra Buana. Selama tiga hari itu, Ling Zhi terus mendampingi dirinya dari pagi sampai pagi lagi. Cakra Buana benar-benar istirahat total. Apapun keperluan dia, Ling Zhi yang mengerjakannya.


Semakin terlihatlah oleh Cakra Buana bahwa gadis itu memang mencintainya dengan tulus. Bahkan selama mendampingi dirinya yang terluka, Ling Zhi sama sekali tidak mementingkan kesehatannya sendiri. Dia lebih mementingkan Cakra Buana.


Saat ini Cakra Buana sudah diperbolehkan untuk melakukan kegiatan seperti biasanya. Tapi Pendekar Maung Kulon itu masih dilarang untuk menggunakan tenaga dalam. Setidaknya butuh waktu sekitar empat hari lagi sampai dirinya dinyatakan pulih total.


###


Hari yang di nanti akhirnya tiba. Kini Cakra Buana sudah pulih seperti sedia kala. Waktu masih menujukan subuh. Suara ayam berkokok terdengar dengan jelas memberikan peringatan kepada manusia untuk segera bangun dari tidurnya. Sinar keemasan cahaya mentari terlihat sangat indah di sebelah timur.


Suasana di kerajaan sudah ramai seperti biasanya. Orang-orang sudah melaksanakan tugasnya sendiri-sendiri. Rakyat sekitar yang bermata pencaharian sebagai petani, sudah dari tadi berangkat ke sawah atau ladang mereka sendiri. Yang berdagang, sudah membuka lapaknya masing-masing.


Di sebuah hutan yang masih masuk wilayah Kerajaan Tunggilis, seorang pemuda serba putih baru saja selesai dari semedinya. Pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah Cakra Buana.


Pendekar Maung Kulon itu sudah sejak semalam melakukan semedi di goa yang ada di sekitar hutan kerajaan. Goa itu tidaklah besar, hanya berukuran sedang saja. Cakra Buana sengaja melakukan semedi di sana karena dia merasakan kekuatan energi di sekitar goa tersebut cukup besar. Sehingga sangat cocok baginya untuk menghimpun kekuatan alam.


"Ternyata kekuatan di sekitar goa ini memang besar dan murni. Tak disangka sekarang tenaga dalamku sudah terisi penuh. Bahkan rasa ngilu yang kadang masih mengganggu, kini lenyap tanpa sisa. Luar bisa," gumam Cakra Buana sambil memperhatikan telapak tangannya.


Setelah merasa puas, Cakra Buana segera keluar goa. Dia berniat untuk langsung kembali ke kerajaan. Pasti orang-orang istana terutama Ling Zhi, akan mencarinya. Sebab dia memang tidak bicara kepada siapa pun. Tidak ada yang tahu bahwa Cakra Buana waktu tengah malam tadi, mengendap-endap keluar dari kamarnya.


Akan tetapi, baru saja Cakra Buana menapakkan kakinya di mulut goa, tiba-tiba saja firasatnya berkata ada sesuatu yang sedang melesat ke arahnya.


Cakra Buana melirik ke samping kanan sesuai firasat, ternyata dari samping itu, sebuah sinar berwarna emas sebesar lidi sedang meluncur deras ke arahnya sendiri.

__ADS_1


Cakra Buana terkesiap, dia tidak mengetahui kapan dilancarkannya serangan tersebut. Begitu sinar keemasan itu hanya tinggal berjarak dua langkah dari tubuhnya, Cakra Buana lalu melompat tinggi dan bersalto dua kali sebelum akhirnya mendarat dengan mulus.


Sinar emas gagal menemui sasaran. Sinar itu menghantam tanah kosong hingga menimbulkan cekungan cukup lebar dan dalam. Cakra Buana sempat memandangi cekungan itu sebelum matanya berkeliling ke tempat sekitar. Suasana kembali sepi. Tak ada suara apa pun yang mencurigakan kecuali hanya suara-suara binatang liar atau pun bunyi bambu yang bergesekan tertiup angin.


"Wuttt …"


"Blarrr …"


Tiba-tiba sinar keemasan itu muncul kembali. Kali ini arahnya dari sebelah depan Cakra Buana. Sedangkan posisi Cakra Buana tadinya sedang membelakangi. Untung bahwa tubuhnya sudah terlatih dalam ancaman maut. Sehingga dia bisa segera mengetahui bahwa ada seseorang yang membokongnya.


Cakra Buana memicingkan matanya sambil memandangi arah datangnya sinar keemasan yang sudah dua kali mengincar tubuhnya tersebut.


"Siapa di sana? Tolong jangan ganggu, aku juga tidak mengganggumu," katanya agak kencang.


Kali ini bukan hanya satu, tapi ada tiga. Cakra Buana geram, Pendekar Maung Kulon itu merasa seperti di permainkan oleh seseorang. Karena alasan itu, Cakra Buana kali ini tidak mau menghindari serangan yang entah siapa pengirimnya tersebut.


Cakra Buana memutarkan pergelangan tangan satu kali ke arah ke kanan. Seketika itu, muncul bola energi berwarna putih transparan. Begitu sinar keemasan tadi hampir tiba, Cakra Buana menghentakkan kedua tangannya ke depan.


"Blarrr …"


Bola energi yang tercipta dari tenaga dalam Cakra Buana, beradu dengan tiga sinar keemasan tadi. Sekita itu juga, ledakan cukup keras terdengar. Beberapa pohon rontok daunnya. Cakra Buana sedikit terpundur satu langkah ke belakang. Kedua tangannya terasa ngilu sampai ke pangkal lengan.


Terbukti sudah bahwa seseorang yang membokong Cakra Buana bukanlah orang sembarangan. Apalagi bisa sampai membuat tangannya ngilu. Siapa orang itu Cakra Buana belum tahu, tapi yang jelas kepandaiannya tidak berada di bawah Cakra Buana. Mungkin setara atau pun di atasnya satu tingkat.

__ADS_1


Saat Cakra Buana sedang memandang berkeliling kembali, tiba-tiba semak-semak yang tak jauh dari dirinya bergerak. Cakra Buana menghentakkan tangan kanannya. Dari tangan kanan itu muncul gelombang tenaga dalam tak kasat mata. Serangan tersebut dengan telak menghantam semak-semak tadi. Sayangnya lagi-lagi Cakra Buana hanya menghantam tempat kosong.


'Hemmm … siapa yang sedang menggangguku ini. Apakah hutan ini sudah di masuki oleh penyusup?' batin Cakra Buana bertanya-tanya.


"Kalau kau memang punya masalah denganku, selesaikan sesuai dengan aturan dunia kependekaran. Kita bertarung sampai ada yang mati di antara kita. Tapi kalau kau hanya datang untuk menggangguku waktuku saja, aku sarankan lebih baik segera pulang sebelum kesabaranku habis," kata Cakra Buana dengan tegas sambil katanya berkeliling tanpa henti.


Ternyata masih belum ada jawaban juga meski pun Cakra Buana sudah memberikan sebuah ancaman. Pendekar Maung Kulon itu mulai emosi. Sorot matanya langsung barubah tajam. Ajian Dewa Saptapanguru mulai ia gunakan. Sehingga suara sejauh apa pun akan terdengar.


Cakra Buana memejamkan matanya dsn berkonsentrasi. Tak lama, telinganya mendengar ada dessh nafas. Desaham nafas itu jaraknya sekitar sepuluh tombak dari dirinya berdiri sekarang. Asal suara itu tepat berada di depan Cakra Buana. Setelah yakin, maka dia segera membuka kembali matanya.


"Aku sudah memberikan peringatan. Tapi kau tidak mau mendengarkan. Jadi maafkan aku kalau bertindak kejam," ucapnya sedikit berteriak.


Cakra Buana menggerakan kedua tangannya ke atas lalu ia tarik sampai ke pinggang. Kaki kanannya ia dilakukan ke depan sedikit dan agak ditekuk. Kaki kiri di belakang. Tubuhnya sedikit ia condongkan ke depan.


"Haaa …"


Kedua tangan yang di taruh di samping pinggang itu ia hentakan dengan keras ke depan. Seketika itu juga, telapak tangan Cakra Buana mengeluarkan gelombang energi berwarna putih. Serangan jarak jauh sebesar lidi itu melesat dengan sangat cepat ke arah yang di tuju.


Tapi sebelum sampai ke tempat tujuan, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul juga dua sinar keemasan yang melesat ke arahnya. Bahkan lebih cepat dari serangan Cakra Buana.


"Blarrr …"


Dua serangan jarak jauh bertemu di tengah jalan. Tanah sedikit bergetar. Tubuh Cakra Buana terpental lagi satu langkah. Untung dia segera mementingkan badannya ke atas, sehingga ia masih bisa jatuh dalam keadaan berdiri.

__ADS_1


__ADS_2