
Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu hampir tiba di pintu gerbang terkahir. Tapi ternyata, pintu gerbang itu telah tertutup lebih dulu.
Tak lama ratusan prajurit Kerajaan Kawasenan mengepung kedua pendekar tersebut. Ujung tombak berkilat tajam di bawah panasnya terik matahari. Satu prajurit memegang satu perisai yang bulat dan kokoh terbuat dari baja.
Mereka sudah mengelilingi Cakra Buana. Kemudian tiga orang pendekar yang berbeda dari sebelas orang tadi, maju ke depan di tengah lautan prajurit itu.
Ketiganya merupakan orang yang sudah lanjut usia. Yang satu bertubuh agak gemuk dengan rambut sedikit acak-acakan, di pinggangnya terselip sebatang golok panjang agak besar, dia biasa disebut Golok Pembelah Kepala.
Satu lagi agak pendek memakai baju dan celana hijau tua. Di pinggang sebelah kanannya, terselip sebatang bambu hijau sepanjang satu setengah meter, dia di jukuki si Bambu Hijau.
Yang terkahir, orangnya agak tinggi. Tubuhnya lebih kekar daripada dua rekannya. Ia memakai pakaian serba abu-abu. Bahkan rambut dan jenggotnya sudah abu-abu juga. Umumnya paling masih sekitar empat puluh delapan tahun, tapi penampilannya sepuluh tahun lebih tua. Dia memegang sebuah gada di tangan kanannya. Dialah si Gada Maut. Seorang pendekar Kerajaan Kawasenan yang terkenal sadis.
"Kalian pikir bisa berlari semudah itu setelah apa yang sudah dilakukan? Jangan mimpi. Kalian berdua bisa lolos dari pendekar bodoh tadi, tapi belum tentu bisa lolos dari kami," kata si Gada Maut sambil berkacak pinggang. Gadanya ia taruh di pundak kanan.
"Apakah kau yakin ingin bertarung denganku?" tantang Cakra Buana.
"Kenapa tidak? Sudah lama aku mendengar namamu. Maka hari ini, perkenankanlah kami menemani dirimu bermain walau sebentar," kata si Bambu Hijau.
"Tapi aku tidak punya waktu untuk bermain dengan kalian. Waktuku terlalu berharga," ujar Cakra Buana memanas-manasi lawan.
"Terserah apa katamu. Kami bisa saja memaksamu supaya mau bermain," kata si Golok Pembelah Kepala.
"Sebelas pendekar saja tidak bisa menghadapi kami berdua. Apalagi kalian yang hanya tiga orang saja?" kata Cakra Buana.
Pendekar Tangan Seribu hanya diam saja. Ia sedang mengumpulkan tenaga dalam secara diam-diam, untuk masalah memancing emosi lawan, Cakra Buana memang lebih ahli daripada dirinya.
"Kau jangan samakan kami dengan mereka. Ilmu mereka masih jauh di bawah kami," ucap si Gad Maut menyombongkan diri.
"Benarkah? Tapi aku tidak percaya kepadamu. Sudahlah, lebih baik biarkan kami pergi saja," kata Cakra Buana lalu membalikan badan.
Ia menghentakkan kakinya sekali sebelum berlari lagi. Begitu kakinya menghentak, ada guncangan cukup hebat seperti gempa bumi. Para prajurit yang menghalangi, tiba-tiba terjatuh saling tindih. Pendekar Maung Kulon tidak membuang kesempatan ini, ia kembali lari bersama Pendekar Tangan Seribu.
__ADS_1
"Heii jangan lari kau pemuda keparat. Aku bersumpah akan mematahkan kedua kakimu," teriak si Bambu Hijau.
Selesai berkata demikian, tiga orang itu pun berlari mengejar Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.
Sebenarnya, Cakra Buana sengaja melakukan ini. Kalau bertarung di sana, sudah pasti dirinya akan berada dalam bahaya. Sebab itu masih di dalam Istana Kerajaan. Bisa saja saat bertarung, tiba-tiba Prabu Ajiraga sudah muncul di hadapannya.
Karena ia tahu ketiga pendekar tua itu tidak akan melepaskan dirinya, maka Cakra Buana sengaja pura-pura berlari. Ia terus menggelar Ajian Saipi Anginnya yang hampir mencapai tahap sempurna.
Begitu sampai di sebuah hutan yang sunyi, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu segera berhenti. Nafas mereka sedikit ngos-ngosan karena kelelahan. Keringat sudah membasahi keduanya.
"Pangeran, lebih baik kau segera pergi saja. Biar aku yang menghadapi ketiga orang tua itu. Mereka pasti mengejar kita,! Kata Pendekar Tangan Seribu setelah nafasnya membaik.
"Justru karena alasan itulah aku lari ke sini paman. Kalau kita bertarung di sana, bisa saja bala bantuan akan datang. Kita akan kerepotan. Tapi kalau di sini, kita bisa lebih percaya diri untuk bisa melawan mereka," ujar Cakra Buana.
Pendekar Tangan Seribu tidak menjawab. Ucapan Cakra Buana barusan memang benar, pada akhirnya ia tidak banyak bicara lagi. Sebab kalau dia membantah terus ucapan pangerannya, maka urusannya akan lain lagi.
Tak berselang lama, dari agak jauh terlihat tiga sosok sedang menuju ke arah mereka. Sepuluh tarikan nafas berikutnya, sosok tersebut sudah sampai di sana. Jaraknya hanya terpaut sekitar sepuluh langkah. Tak salah lagi, dialah Bambu Hijau, Golok Pembelah Kepala, dan si Gada Maut.
Tatapan mata mereka mencorong tajam. Dari mata itu saja, terlihat kekesalan yang sukar untuk diungkapkan. Kemarahan sudah meliputi ketiganya. Sampai kapan pun, mereka tidak akan melepaskan Cakra Buana yang menurutnya mempunyai sifat sombong.
"Hehe, siapa yang akan lari? Rasanya aky sangat tidak sopan kalau sampai lari dari orang tua," jawab Cakra Buana sambil cengar-cengir.
"Kalau sudah tahu tidak sopan, kenapa kau ke sini? Bukankah ini juga lari?" Gada Maut semakin marah melihat tingkah Cakra Buana.
"Kalai aku lari, kenapa sekarang aku tidak lari lagi? Aku hanya ingin membawa kalian ke sini karena di sini lebih aman," ucap Cakra Buana.
"Lebih aman untuk membunuh kalian? Hahaha … bagus, bagus," si Golok Pembelah Kepala tertawa dengan senangnya.
"Bukan, yang benar adalah lebih aman untuk mengubur kalian. Bukankah kalian ini kakek-kakek yang sudah bau tanah?" Cakra Buana terus memancing emosi tiga lawannya.
"Kauu …"
__ADS_1
"******* …"
"****** kau …"
Bambu Hijau menyerang lebih dulu daripada tiga rekannya. Di antara yang lain, memang hanya dia saja yang paling mudah tersulut emosinya.
Kakek serba hijau itu tiba-tiba menyerang Cakra Buana dengan cara menyodokkan bambunya tepat mengarah ke ulu hati. Gerakannya sangat cepat. Bahkan tahu-tahu bambu hijau itu sudah terpaut jarak dua jengkal dari Cakra Buana.
Tapi sebelum pusakanya mengani sasaran, hembusan angin besar tiba-tiba menerpa kelima orang tersebut. Entah dari mana datangnya. Bahkan sampai-sampai dahan pohon yang kecil, patah karena sambaran yang begitu kuat.
Bambu hijau kaget, dia segera menarik kembali senjatanya. Kemudian segera mengambil sikap waspada.
Angin besar telah lenyap. Debu pun sudah tidak mengepul lagi. Keadaan kembali terlihat jelas, dan ketiga pendekar Kerajaan Kawasenan, dibuat terkejut bukan main.
Saat ini di hadapan mereka bukan hanya Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu. Tapi ada dua sosok lain yang melindungi mereka. Dua sosok orang tua berjubah putih. Yang satu memegang biji tasbih agak besar, satu lagi memegang tongkat biasa.
Jalak Putih dan Gagak Bodas. Memangnya siapa lagi kalau bukan mereka?
Bambu Hijau dan dua rekannya kaget. Mereka bukan hanya mengenali kedua sosok ini, bahkan mereka tahu sampai di mana kekuatan mereka.
Tapi karena sedang menjalankan tugasnya, mereka pun berusaha untuk memberanikan diri.
"Salam hormat untuk kalian," kata Gada Maut mewakili rekannya.
"Salam rahayu. Ada apa kalian ribut-ribut?" tanya Gagak Bodas.
"Kami sedang menangkap pencuri. Dua orang itu telah mencuri pusaka Kerajaan Kawasenan," ucap si Gada Maut mengada-ada.
"Hemm, benarkah yang kau katakan itu?" Gagak Bodas memicingkan matanya memandang ke arah Gada Maut.
###
__ADS_1
Hallo gengs, jangan lupa baca karya terbaru author ya. Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa udah update. Novel ini mengisahkan tentang Shin Shui hingga akhir perjuangan, sama perjalanan anaknya.
Semoga sesuai selera ya. Kalau bagus, jangan lupa jadikan referensi😀☕