Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kembali ke Istana


__ADS_3

'Luar biasa. Di usianya yang begitu muda, bahkan dia sudah mempunyai kemampuan setinggi ini. Sayang, dia belum matang sempurna. Sepertinya aku harus turun tangan untuk meningkatkan kemampuannya,' batin Prabu Katapangan.


Dia langsung menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh. Maka rasa sakit akibat pukulan Cakra Buana langsung hilang saat itu juga.


"Bagus Cakra. Kau memang memiliki bakat tinggi. Sekarang aku akan lebih serius lagi. Persiapkan semua kepandaianmu. Mungkin ini akan menjadi latihan terkahir kali ini," kata Prabu Katapangan.


"Baik paman. Aku tidak akan sungkan lagi,"


Keduanya kembali bersiap. Masing-masing jurus pamungkas sudah di siapkan. Prabu Katapangan memutarkan kedua tangannya. Seiring putaran tangan itu, dedaunan kering beterbangan mengikuti arah putaran.


Berbarengan dengan itu pula, Cakra Buana pun turut melakukan persiapan. Hawa panas langsung berkumpul di sekitarnya. Hembusan angin tiba-tiba membesar.


Jika ada orang lain yang melihat kejadian ini, mereka pasti akan menyangka bahwa paman dan keponakan itu sedang bertarung sungguhan. Padahal aslinya hanya latihan saja. Sebab dalam dunia pendekar, semakin tinggi tingkat kepandiaan seseorang, maka semakin berbahaya juga latihan tanding yang dilakukannya.


Dua manusia itu sudah siap dengan jurus pamungkas masing-masing. Cakra Buana dan Prabu Katapangan menarik kedua tangannya ke belakang secara bersamaan.


Prabu Katapangan Kresna berteriak kencang untuk mengeluarkan jurusnya.


"Dua Naga Menggempur Lawan …"


"Wuttt …"


Dari kedua telapak tangannya keluar sinar hijau sebesar paha orang dewasa. Kedua sinar itu sekilas membentuk ular naga. Karena itulah Prabu Katapangan menamakan jurus ini Dua Naga Menggempur Lawan.


Cakra Buana mengubah jurusnya. Hal ini membuat Prabu Katapangan kaget, sebab menurutnya tidak ada waktu untuk mengubah dengan jurus lain. Karena jurus yang ia lancarkan memiliki kecepetan begitu tinggi. Dia tidak yakin bahwa Cakra Buana bisa melakukannya.


Tapi bagi Cakra Buana sendiri, dia yakin bisa melakukannya. Pendekar Maung Kulon itu lalu membungkuk. Kaki kanan di tekuk di taruh di depan. Kaki kiri di belakang. Kedua telapak tangan yang sudah terisi tenaga dalam, di taruh di samping pinggang. Badannya sendiri berada dalam posisi setengah jongkok.


"Ajian Rengkah Gunung …"


"Wushhh …"

__ADS_1


Kedua tangan ia hentakan ke tanah berbarengan dengan di teriakan jurus tersebut. Dari dalam tubuhnya melesat raga dia sendiri secepat kilat untuk menghalau serangan Prabu Katapangan Kresna.


Dua jurus pamungkas semakin dekat jaraknya. Daun-daun kering dan debu sudah menutupi sebagian arena.


"Blarrr …"


Dua jurus itu beradu. Ledakan besar terdengar bahkan sampai menggetarkan tanah sekitar. Beberapa batang dahan pohon dibuat patah. Daunnya sendiri rontok karena tak kuat menahan dua kekuatan dahsyat tersebut.


"Ahhh …"


Cakra Buana terlempar tiga tombak. Tubuhnya menghantam batang pohon jati sampai tumbang.


"Brugg …"


"Ughhh. Sakit sekali punggungku," keluh Cakra Buana sambil bangkit berdiri. Kemudian ia berjalan mendekati Prabu Katapangan Kresna yang sedang berdiri dengan santainya. Bahkan nafas pamannya itu masih terlihat teratur.


"Hahaha … maafkan paman Cakra. Paman terlalu bersemangat sehingga mengeluarkan tenaga dalam sampai setengahnya," kata Prabu Katapangan Kresna.


'Baru setengahnya saja sudah seperti ini. Padahal aku sudah mengeluarkan Ajian Rengkah Gunung dengan kekuatan penuh. Paman sungguh hebat,' batin Cakra Buana memuji kehebatan Prabu Katapangan.


"Tidak masalah paman. Bagiku, ini menjadi sebuah pelajaran. Ternyata ilmuku masih rendah," jawab Cakra Buana lalu duduk di batu hitam sebelumnya.


"Jangan bicara seperti itu Cakra. Kau bisa kalah karena tidak mengeluarkan kepandaianmu yang lainnya. Jika kau keluarkan semua, aku tidak yakin bisa menang darimu," kata sang prabu.


"Paman terlalu berlebihan,"


"Itu fakta. Cakra, paman mau menanyakan sesuatu kepadamu,"


"Katakan saja paman. Aku tidak akan sungkan untuk menjawabnya,


"Tadi waktu paman mengeluarkan Jurus Dua Tapak Menghisap Matahari, bagaimana kau bisa tahu cara membebaskan diri dari jurus itu? Padahal, sangat sedikit sekali orang yang mengetahui cara melepaskan diri dari jeratan Jurus Dua Tapak Menghisap Matahari dengan benar. Paman rasa, kejadian ini bukanlah kebetulan. Apakah kau sudah mendengar nama jurus itu sebelumnya?" tanya Prabu Katapangan kepada Cakra Buana.

__ADS_1


Semenjak kejadian tadi, hati raja itu memang terus di hantui berbagai pertanyaan terkait lepasnya Cakra Buana dari pengaruh Jurus Dua Tapak Menghisap Matahari.


"Tidak paman, aku belum pernah mendengar tentang Jurus Dua Tapak Menghisap Matahari sebelumnya. Bahkan melihat pun baru sekarang. Hanya saja, tadi aku seperti mendapatkan bisikan gaib. Ada suara tanpa wujud yang memberitahuku bagaimana cara melepaskan diri dari pengaruh Jurus Dua Tapak Menghisap Matahari. Awalnya aku sedikit ragu, tapi aku mencoba meyakinkan diri dan akhirnya berhasil," jawab Cakra Buana dengan jujur.


"Hemm … begitu ya. Baiklah kalau begitu. Paman percaya padamu,"


"Terimakasih paman," jawab Cakra Buana.


Cakra Buana kemudian pamit sebentar kepada Prabu Katapangan. Setelah beberapa saat, akhirnya pemuda serba putih itu kembali sambil membawa dua buah kelapa hijau. Mereka minum bersama, setelah minum, sang prabu kembali bicara kepada Cakra Buana.


"Cakra, apakah kau mau memiliki Jurus Dua Tapak Menghisap Matahari?"


"Tentu saja aku mau paman. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak mengerti sama sekali,"


"Kau tenang saja. Nanti paman akan mengajarimu,"


"Pa-paman serius? Paman tidak bercanda kan?" Cakra Buana kaget mendengar pamannya akan mengajari jurus legendaris tersebut. Dia benar-benar tidak menyangka.


"Tentu saja paman serius. Asal kau sanggup menjalani syarat-syaratnya, paman akan bersedia untuk mengajarkan jurus ini kepadamu. Hanya saja jika nanti kau berhasil memilikinya, jangan sembarangan menggunakan jurus ini. Karena bisa jadi orang-orang akan menganggapmu jahat,"


"Aku sanggup menjalani semua syaratnya paman. Baik, aku akan selalu ingat perkataan paman jika telah berhasil menguasai Dua Jurus Menghisap Matahari,"


"Bagus. Sekarang, aku pamit dulu. Kau juga segera pulang ke istana. Ling Zhi pasti sudah mencarimu daritadi," kata prabu mengingatkan.


"Baik paman. Aku akan segera kembali,"


Sang prabu mengangguk sambil tersenyum. Dia berjalan pergi dari sana. Tapi baru saja berjalan sekitar sepuluh langkah, Cakra Buana dikejutkan karena ternyata pamannya sudah tidak ada lagi.


"Cepat sekali paman perginya. Ah tidak mungkin. Secepat apapun dia, aku pasti bisa melihat bagaimana perginya. Mustahil paman bisa memiliki kecepatan seperti ini. Hemmm … apakah barusan itu hanya pecahan raganya saja? Ah sudahlah. Tidak perlu di pikirkan. Lebih baik aku segera kembali ke istana. Kasihan Ling Zhi," gumam Cakra Buana sambil melangkahkan kaki.


Cakra Buana pergi menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai taraf hampir sempurna. Sehingga baru beberapa saat saja, Pendekar Maung Kulon itu sudah tiba di kerajaan lalu masuk ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2