
Hari telah berganti. Saat ini masih pagi, mentari baru saja menampakkan dirinya menebarkan cahaya terang ke seluruh jagat raya. Binatang liar sudah keluar dari sarang memulai hari yang baru.
Para rakyat sudah bekerja seperti hari-hari sebelumnya. Yang bertani, meraka sudah berangkat daritadi ke ladang sawah mereka. Yang berdagang, mereka sudah berjualan barang dagangannya.
Sepintas hari ini masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada keanehan dan perbedaan sama sekali. Mentari bersinar, awan bergerak bebas. Angin pagi berhembus dingin.
Semua sama saja.
Tapi siapa sangka, di balik semua kesamaan itu, ada sebuah perbedaan yang tidak diketahui oleh semua orang. Di balik indahnya pagi, ada sebuah bayangan ngeri yang akan segera terjadi.
Seperti yang diceritakan sebelumnya, perang besar akan segera terjadi. Dan hari inilah waktunya. Rencana Gagak Bodas pada awalnya berniat untuk menyerang hari esok, tapi ternyata pihak musuh sudah bergerak lebih dulu.
Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma benar-benar menepati janjinya. Raja itu menyerang lebih dulu daripada pihak Kerajaan Tunggulis. Semenjak fajar baru menyingsing, semua pihak Kerajaan Kawasenan sudah bergerak.
Ratusan ribu prajurit awalnya berniat menuju ke tempat Kerajaan Tunggilis berdiri. Tapi siapa sangka, perjalanan mereka berhenti tidak jauh dari kerajaan. Ternyata mereka telah terkepung dari segala penjuru.
Semua orang-orang Kerajaan Kawasenan dibuat sangat terkejut. Tak terkecuali Prabu Ajiraga sendiri. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa pihak musuh sudah merencanakan perang ini dengan matang.
Akan tetapi selain mereka, pihak Kerajaan Tunggilis pun sama terkejut. Mereka sebelumnya merencanakan bahwa perang akan berlangsung malam hari, tapi sekarang kenyataannya berbeda. Sepertinya perang besar akan terjadi di siang bolong.
Rencana Gagak Bodas meleset sedikit. Tapi walaupun begitu, rencana yang lainnnya berjalan dengan lancar. Hanya meleset di waktu, itu bukanlah masalah besar.
Ratusan ribu orang sudah berhadapan di sebuah lapangan yang sangat luas. Pagi hari yang harusnya dinikmati dengan seduhan minuman hangat, kini terpaksa harus dilewati dengan hangatnya darah manusia.
Semua orang tegang.
Walaupun jumlahnya ratusan ribu, tapi saat ini tidak ada yang berani bicara dari orang-orang tersebut. Jangankan bicara, bergerak pun sepertinya tidak.
__ADS_1
Semuanya seperti patung.
"Katapangan, tidak kusangka bahwa kau berani melakukan hal ini. Kebaikanku selama ini ternyata kau balas dengan racun. Selama ini, aku menganggap bahwa kau adalah orang yang tahu akan arti balas budi. Tapi siapa sangka, sekarang kau melakukan yang bahkan iblis pun tidak berani melakukannya. Sungguh manusia yang sangat rendah,"
Keheningan itu seketika terpecahkan oleh suara yang menggelegar bagaikan guntur di pagi hari. Suara tersebut berasal dari seorang yang sangat disegani di seluruh Tanah Pasundan. Dialah Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma. Amarahnya sudah memuncak. Sudah sampai ke ubun-ubun.
"Hahaha … Ajiraga, jangan bersilat lidah di depanku. Semua orang tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Sebenarnya apa yang kau ucpakan barusan, lebih pantas kau ucapkan kepada diri sendiri. Jika kau mengatakan bahwa aku iblis, lalu kau mau menyebut dirimu apa? Sebuah pepatah mengatakan bahwa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Dan ternyata pepatah itu memang terbukti, semua yang ada dalam dirimu, tidak jauh dari ayahmu dulu. Ayah dan anak sama-sama iblisnya,"
"Semua perbuatanmu sudah kelewat batas. Dan sekarang aku akan menghentikan perbuatan itu. Sekaligus aku juga akam menghentikan hidupmu hari ini," balas Prabu Katapangan Kresna.
Dua sosok manusia yang sangat berpengaruh itu terus beradu mulut di depan ratusan ribu manusia. Suara mereka mampu terdengar oleh siapa saja sebab menggunakan tenaga dalam yang sangat besar.
Cacian dan makian terus keluar dari mulut mereka. Baik Prabu Ajiraga maupun Prabu Katapangan, kedua amarahnya sudah sampai ke taraf tertinggi. Tak ada lagi yang dapat menahan amarah keduanya
"Dengan kekuatanmu yang seperti ini, jangan berharap kau bisa memperoleh kemenangan," kata Prabu Ajiraga penuh percaya diri.
Suaranya melengking menembus langit. Suara siulan seperti elang terdengar memekakkan telinga setiap orang. Tak lama, dari segala sisi, muncul puluhan ribu prajurit lalu mengurung pihak Kerajaan Kawasenan.
Semua pihak Kerajaan Kawasenan merasakan hatinya jeri. Rasa kaget tidak dapat dihilangkan dari wajah mereka. Tak terkecuali dengan Prabu Ajiraga sendiri.
Keadaan hening kembali terjadi. Ketegangan semakin memuncak. Semua ini hanyalah awal, awal dari sebuah tragedi yang kelak akan terukir menjadi sejarah turun temurun.
"Serang …"
"Serang …"
Dua teriakan menggelegar menggetarkan hati semua orang. Hanya sepatah kata yang keluar, ratusan ribu manusia bergerak serentak.
__ADS_1
Walaupun dalam hatinya masih bergetar, tapi Prabu Ajiraga tidak mau menampakkannya terlalu lama. Dia mengusir getaran di hati dengan kepercayaan setinggi gunung yang menjulang.
Di bawah pagi yang cerah, ratusan manusia mulai berteriak sekuat tenaga mereka. Suara ratusan ribu senjata mulai terdengar menggerakan alam semesta. Hujan panah dari dua belah pihak mulai meluncur ke segala arah.
Luncuran tombak melesat secepat angin menembus satu-persatu tubuh semua orang-orang itu. Sinar-sinar senjata yang terkena cahaya mentari pagi menyilaukan mata siapa saja.
Perang tidak dapat terhindarkan lagi. Lapangan luas yang tadinya berupa bentangan sunyi, tak lama lagi akan menjadi genangan darah para manusia. Rumput yang hijau indah, sebentar lagi akan berubah warna menjadi merah darah.
Teriakan untuk menakuti lawan menyatu dengan teriakan kematian yang menyayat hati. Semua orang bertarung sekuat tenaga mereka demi membela junjungannya masing-masing.
Para prajurit mulai bertarung di bawah hujan anak panah. Para pendekar membantai siapa saja yang mereka temui. Tidak peduli pihak lawan maupun kawan, kalau hati mereka mengatakan bunuh, maka mereka akan membunuhnya dengan ilmu yang dimiliki.
Perlahan tapi pasti, walaupun perang baru berjalan sepeminum teh, tapi korban jiwa sudah mencapai ribuan banyaknya. Mayat manusia yang tewas itu mendapatkan kemalangan berlipat ganda.
Mereka tewas di medan perang, setelah tewas, tubuhnya terinjak-injak pula.
Suara menggema saling bersahutan tiada hentinya. Sinar tajam dari senjata berkelebat memenuhi langit. Semua ilmu kanuragan, menyatu dalam satu tragedi. Sehingga hawa yang ada di sana dibuat tidak karuan.
Hawa pembunuhan terasa sangat pekat. Lebih dekat daripada kabut di malam yang sunyi. Walaupun cuaca panas, tapi panasnya itu tidak mampu menghangatkan kedinginan tubuh manusia-manusia yang ketakutan tersebut.
Waktu terus berjalan, banjir darah semakin menjadi. Darah menggenang di seluruh arena perang. Bau anyir menyeruak menusuk hidung. Sejauh mata memandang, pemandangannya akan sama.
Korban semakin berjatuhan, Kerajaan Kawasenan mulai merasa tertekan. Para prajurit mereka semakin banyak yang tewas. Walaupun Kerajaan Tunggilis juga sama, tapi setidaknya mereka masih di atas angin sedikit.
Semua pendekar dari dua belah pihak saat ini sedang membantai para prajurit yang dianggap lemah. Mereka lebih memilih untuk membereskan yang mudahnya sebelum yang sulitnya.
Pada akhirnya, perang ini terjadi sebelum waktunya tiba. Akan tetapi walaupun begitu, kejadiannya tetap saja sama.
__ADS_1
Sama-sama mengerikan.