Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Aku Tidak Butuh Pujianmu Kakek Tua


__ADS_3

"Pantas kau berlagak sombong. Ternyata kekasihnya," kata Jagal Patenggang sambil tersenyum mengejek.


"Diam kau kakek jelek. Sekarang katakan apa maumu?"


Seketika wajah Raja Biruang itu langsung memerah. Matanya mendadak melotot seperti hendak keluar.


"Keparat. Berani kau menghinaku heh. Mampuslah …" kata Jagal Patenggang yang langsu melompat menyerang Cakra Buana.


Tangan kanannya ditarik ke belakang mengambil ancang-ancang, sedangkan tangan kirinya siap mengirim serangan tapak.


Melihat musuh yang tiba-tiba menyerang, maka Cakra Buana menyuruh Ayu Pertiwi untuk pergi dari situ.


"Kau diamlah dibawah pohon," kata Cakra Buana.


Ayu Pertiwi tidak membantah. Dia langsung berlari dan menyaksikan pertarungan itu dibawah sebuah pohon jati.


Setelah Ayu Pertiwi pergi, Cakra Buana langsung berbalik dan menahan serangan Jagal Patenggang dengan kedua telapak tangan terbuka.


"Dukkk …"


Cakra Buana tepundur dua langkah. Begitupun Raja Biruang itu, dia melompat ke belakang dan mendarat tanpa menimbulkan suara.


"Bagus, kiranya kau memiliki kemampuan yang lumayan," kata Jagal Patenggang sedikit memuji.


"Aku tidak butuh pujianmu kakek tua. Lihat serangan …" kata Cakra Buana memilih menyerang lebih dulu.


Dia menerjang dengan kaki kanannya, kaki kiri dilipat ke belakang. Gerakannya lumayan cepat dan tentunya mengandung tenaga dalam.


Tapi dengan mudahnya Jagal Patenggang menghindari serangan itu. Dia menarik kaki kirinya ke belakang dengan kaki kanan ditekut sehingga tubuhnya jadi lebih rendah. Serangan Cakra Buana luput tidak mengenai sasaran.


Tapi dengan secepat kilatbdia menarik kakinya kembali lalu dilanjutkan mengirim serangan-serangan pukulan yang berbahaya. Tangan kanan dan kirinya sudah mengepal dengan keras.


Setiap pikulan uanhbdia berikan mengandung yenaha dalam yang cukup tinggi. Dia memang sengaja karena menyadari lawan yang sedang dihadapinya saat ini tidaklah mudah.


Akan tetapi dengan mudahnya Jagal Patenggang menahan semua serangan pukulan yang dilancarkan oleh Cakra Buana.


Setiap pukulan Cakra Buana mengandung hawa panas, begitupun dengan setiap tangkisan si Raja Biruang.


Sehingga kedua hawa panas pun bertemu setiap kali mereka mengadu tenaga.


"Bukkk …"


"Bukkk …"


Baik Cakra Buana maupun Jagal Patenggang, keduanya selalu merasakan tangan mereka bergetar ketika bertemu dengan tangan lawan. Keduanya selalu terpental dua langkah.


Hal ini membuktikan bahwa dua pendekar yang sedang bertarung itu memiliki tingkat tenaga dalam yang hanya berbeda sedikit atau malah seimbang.

__ADS_1


Adu pukulan dan tendangan tak dapat dihindari lagi. Baru beberapa saat saja, keduanya sudah terlibat dalam pertarungan seru sekaligus menegangkan.


Semakin lama, keduanya sudah lenuap dalam sebuah petarungan sengit. Tubuh mereka sudah lenyap ditelan bayangan pukulan dan tendangan.


Ayu Pertiwi yang melihat pertarungan itu nampak senang. Dia sungguh tidak menyangka bahwa pemuda serba putih itu memiliki kepandaian yang tinggi.


Teriakan demi teriakan yang keluar dari mulut dua pendekar itu semakin terdengar. Teriakan oti bukanlah apa-apa kecuali hanya untuk menggertak lawan.


"Haittt …"


"Yeahhh …"


"Bukkk … bukkk …"


Keduanya kembali terpental tiga langkah setelah beberapa waktu bertaring tanpa berhenti.


"Tidak kusangka kau memiliki kepandaian yang tinggi. Hebat, kita lihat apakah kau mampu bertahan menghadapi tongkatku ini," kata Jagal Patenggang sambil mencabut sebatang tongkat pendek yang ada di pinggang sebelah kiri.


"Hemmm … kita buktikan saja. Tidak usah basa-basi lagi," kata Cakra Buana sambil mencabut Pedang Pusaka Dewa. Senjata pusaka andalannya yang ternyata pernah menggemparkan dunia persilatan di tatar Pasundan.


"Sringg …"


Pedang Pusaka Dewa tercabut dari warangkanya. Seketika pedang pusaka itu langsung mengeluarkan pamornya.


Udara semakin menekan dan angin tajam tiba-tiba menerpa. Dari batang pedangnya terlihat ada asap tipis berwarna hitam pekat.


"Pedang Pusaka Dewa …" kata Jagal Patenggang sedikit terperanjat.


"Hemmm … kau orang keempat yang berkata demikian. Sudahlah, kita lanjutkan saja pertarungan ini. Aku tidak memiliki banyak waktu," ujar Cakra Buana.


"Sombong," ucap Jagal Patenggang.


Hatinya ciut juga ketika melihat senjata pusaka itu. Terlebih dia tidak menyangka sama sekali bahwa Cakra Buana adalah pemilik pedang pusaka tersebut.


"Hiaattt …" Cakra Buana maju menyerang.


Tak tanggung-tanggung, dia langsung mengeluarkan jurus ketujuh dari Kitab Dewa Bermain Pedang.


"Pedang Dewa Membelah Langit …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Pedang Pusaka Dewa bergerak dengan kecepatan tinggi. Pedang itu diayunkan lebar-lebar dari atas kebawah hingga dari pinggir kanan ke pinggir kiri.


Karena melihat lawan sudah mengeluarkan jurus tingkat tinggi, maka Jagal Patenggang pun tak mau kalah. Dia turut mengeluarkan jurus tongkat miliknya.

__ADS_1


"Tongkat Penolak Bencana …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Tongkat itu diputar-putar dengan cepat membentuk sebuah lingkaran perisai, dia menahan segala macam serangan lawan.


"Trakk…"


"Trakk …"


Kedua senjata pusaka itu bertemu hingga terdengar nyaring ditelinga. Raja Biruang itu semakin terkejut ketika merasakan tangannya bergetar dan terasa perih. Cakra Buana pun demikian, akan tetapi dia terbantu dari kekuatan Pedang Pusaka Dewa, sehingga rasa sakit pada telapak tangannya segera diserap.


Dia kembali menyerang. Pedangnya berkelebat kesana-kemari mencari sasaran empuk. Semakin lama semakin cepat saja gerakan pedang itu.


Sedangkan sang Raja Biruang hanya berada pada posisi bertahan terus-menerus. Akan tetapi lama kelamaan dia mulai membalas serangan Cakra Buana dengan jurusnya yang lebih hebat lagi.


"Tongkat Manunggal Bondowoso …"


"Wuttt …"


Raja Biruang itu mulai menyerang balik. Tongkatnya bergerak membentuk pola serangan tertentu. Cakra Buana sedikit kewalahan saking cepat dan tajamnya serangan balasan itu. Tapi dengan segera dia mengeluarkan kekuatan penuhnya.


"Dewa Pedang Mengoyak Gunung …"


"Wuttt …"


Gerakkan pedang Cakra Buana berubah. Lebih tajam dan lebih berbahaya. Baru beberapa gebrakan saja, keduanya sudah bertarung dengan sengit. Setiap gerakkan mereka selalu diiringi oleh deru angin yang tajam.


Daun-daun disekitar pertarungan itu satu-persatu mulai berguguran karena tak kuasa menahan hawa panas dari kedua pendekar tersebut.


Hawa panas semakin menjadi. Keringat sudah membasahi tubuh kedua pendekar tersebut. Bunyi dentingan senjata yang beradu terdengar tiada hentinya.


Di sisi lain, Ayu Pertiwi menyaksikan pertarungan ini tanpa berkedip. Sungguh pun dia sudah tahu bahwa Cakra Buana memang hebat, tapi dia tetap kaget juga ketika melihat pemuda serba putih itu bisa bertahan sejauh ini.


Bahkan semakin lama, Cakra Buana perlahan mulai mendominasi pertarungan. Dia semakin membuat lawan terpojok. Hingga akhirnya …


"Brettt …"


"Ahhh …"


Pergelangan tangan kanan si Raja Biruang itu terbabat Pedang Pusaka Dewa hingga putus. Tentu saja maha guru Padepokan Biruang Kidul itu merasakan sakit yang teramat sangat.


Akan tetapi belum sempat dia menguasi posisi, tiba-tiba Cakra Buana sudah menyerang lagi. Kali ini sasarannya adalah dada.


"Srettt …"

__ADS_1


"Ahhh …" mati.


Jagal Patenggang si Raja Biruang pada akhirnya harus rela kehilangan nyawa dengan dada yang terkoyak Pedang Pusaka Dewa. Tangan kirinya sempat memegangi dada sebelum akhirnya dia roboh dan takkan bangun lagi.


__ADS_2