Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Api Amarah III


__ADS_3

Cakra Buana yang saat ini sedang berada dalam kondisi setengah sadar, justru kekuatannya semakin dahsyat. Udara di sana tertekan karena kekuatan yang terpancar keluar dari tubuhnya.


Empat batang senjata sudah semakin dekat jaraknya. Tetapi yang diserang justru masih berdiri dengan tenang menatap empat pusaka tersebut.


Kalau orang yang berada di posisi Cakra Buana, sudah pasti mereka akan berusaha menghindarkan diri sebisa mungkin. Atau kalau tidak, menyiapkan jurus ampuh untuk menangkis.


Bahkan sekalipun sasarannya seorang datuk rimba hijau, mungkin dia juga tidak akan setenang Cakra Buana.


Namun, Pendekar Tanpa Nama itu masih saja berdiri dengan diam. Seolah dia sudah pasrah akan kematian yang segera menghampirinya. Tidak ada persiapan jurus yang akan dikeluarkan. Tidak ada juga gerakan yang terlihat.


Tetapi, kejadian selanjutnya justru membuat siapapun terkejut. Saat jarak empat senjata dengan tubuh Cakra Buana semakin dekat, tiba-tiba pemuda itu menunjukkan pergerakan.


Satu kakinya melangkah ke depan lalu dua pedang sudah dia bentangkan untuk kemudian diayunkan menahan serangan lawan.


Gerakan itu dia lakukan hanya dalam satu tarikan nafas saja. Saking cepatnya, tidak ada yang dapat melihat dengan jelas bagaimana Cakra Buana bisa melakukan hal tersebut.


"Trangg …"


Bentudan logam keras terjadi lagi. Percikan api segera bertaburan di angkasa memecah malam gelap.


Cakra Buana tidak melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, ketika empat senjata lawan berhasil dia tangkis, Pendekar Tanpa Nama itu segera bergerak kembali mengirimkan serangan balasan.


Dua buah tebasan hebat dia keluarkan mengincar titik rawan di tubuh. Keempat tokoh kelas atas tersebut sangat terkejut, untungnya mereka juga memiliki kepandaian yang tinggi.


Sehingga begitu serangan mendadak dari Cakra Buana melesat ke arah mereka, keempatnya sudah bergerak dengan cepat agar terhindar dari serangannya.


Pertarungan kembali berjalan dengan seru. Walaupun baru mencapai empat puluh jurus, tetapi kerusakan yang diakibatkan mereka terbilang parah.


Sebagian tanah berlubang. Sebagian pohon tumbang karena terkena tebasan jarak jauh dari para pendekar itu.


Cakra Buana sudah menggunakan jurus pamungkas dari 3 Jurus Pedang Kilat.

__ADS_1


Jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang sudah digelar.


Gempuran yang diberikan oleh Cakra Buana semakin hebat. Kilatan sinar merah dan putih berkelebat mencari sasaran tiada hentinya.


Semakin berjalannya waktu, pengalaman bertarung Cakra Buana semakin banyak. Sehingga sekarang dia masih bisa tenang walaupun melawan sepuluh tokoh kelas atas.


Meski dalam hati kecilnya Cakra Buana sendiri merasa bingung kepada dirinya, tetapi dia berusaha keras untuk tetap dapat mengontrol kekuatan besar yang terus merembes keluar itu.


Hujan serangan sudah menggempur lawan. Sepuluh tokoh kelas atas tersebut juga sudah mengeluarkan jurus-jurus tingkat tinggi mereka. Berbagai macam senjata pusaka seperti pedang, tombak, bahkan juga keris, tidak kalah hebatnya dalam menggempur Cakra Buana.


Puluhan jurus mewarnai langit kelam. Berbagai macam bau tercium bercampur bau hangus. Cakra Buana berada di balik hujan serangan.


Pertempuran ini semakin terlihat dahsyat karena kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah. Baik Cakra Buana maupun sepuluh tokoh kelas atas itu, sama-sama saling menggempur memberikan serangan maut.


Kedua belah pihak lebih mementingkan untuk menyerang dari pada bertahan. Dalam pertempuran seperti ini, memilih untuk berada dalam posisi bertahan justru bisa disebut tindakan salah.


Mereka semua mengerti akan teori tersebut. Sehingga sampai sejauh ini, hujan serangan sudah menerjang kedua belah pihak. Baik Cakra Buana maupun pihak lawan, semuanya membenturkan jurus-jurus dahsyat.


Suara ledakan entah sudah berapa banyak terdengar. Kalau ada orang yang tidak mengerti ilmu kanuragan menyaksikan pertempuran ini, mungkin telinganya sudah berdarah karena tidak akan kuasa mendengar suara ledakan yang menggetarkan tubuh itu.


Kemampuan gadis itu memang sudah tinggi, tapi tentunya belum cukup untuk mengimbangi lima tokoh kelas atas sekaligus. Jangankan dia, Cakra Buana sendiri mungkin masih untung-untungan.


Sekarang saja dia bisa mengimbangi sepuluh tokoh karena ada kekuatan dahsyat yang mengalir tanpa henti. Entah kekuatan dari mana, dia sendiri tidak tahu.


Pertarungan Bidadari Tak Bersayap sudah mencapai enam puluh jurus. Beberapa waktu belakangan ini, gadis cantik itu berada dalam posisi bertahan.


Dia sama sekali tidak mampu memberikan serangan balasan yang berarti, sebab semua celah kosong sudah tertutup rapat oleh kekompakan kerja sama lawan.


Pedang Cantik Dari Kahyangan dimainkan dengan indah. Untung bahwa gadis tersebut sudah memperkirakan hal seperti ini. Sehingga sebelumnya dia sudah mempersiapkan diri dan menyimpan baik-baik tenaga dalamnya.


Kalau saja dia kekurangan tenaga dalam, sudah pasti Bidadari Tak Bersayap tidak akan mampu mengeluarkan jurus terkuat warisan dari gurunya tersebut.

__ADS_1


Nama jurus terkuat itu adalah "Pedang Cantik Menaburkan Bunga di Surga".


Sebuah jurus pedang yang sangat indah dan menawan. Andai saja yang dipegang bukan pedang, melainkan bunga, sudah pasti siapapun akan terbelalak melihat keindahan jurus itu.


Gerakannya seperti seorang yang sedang menari-nari. Seperti seorang gadis yang bahagia lalu menaburkan bunga ke segala arah.


Gerakan yang lentur dan anggun. Sangat memanjakan mata siapapun.


Tetapi di balik semua itu, terdapat sisi lain yang siapapun tidak akan dapat membayangkannya.


Di balik keindahan dan keanggunan gerakan tersebut, justru mampu mengantarkan nyawa kapan pun waktunya.


Sayang, kini Bidadari Tak Bersayap sedang mengalami sial. Jurus terkuat yang seharusnya bisa membunuh lawan dengan sangat cepat, justru kali ini hanya mampu melindungi dirinya saja.


Hampir lima belas menit gadis cantik itu berada dalam posisi tidak menguntungkan.


Namun walaupun demikian, ternyata jurus Pedang Cantik Menaburkan Bunga di Surga memang tidak mengecewakan.


Sekalipun selalu digempur dan berada dalam posisi terdesak, nyatanya Bidadari Tak Bersayap mampu melancarkan satu atau dua serangan hebat secara tiba-tiba yang bahkan mampu melukai lawan.


Seperti yang sedang terjadi saat ini, di tengah gempuran lawan yang mengerikan, Bidadari Tak Bersayap mencari celah di sela semua serangan tersebut.


Begitu yang diharapkan nampak, maka tanpa banyak bicara lagi, gadis tersebut segera menyabetkan pedang pusaka miliknya.


Hasilnya, dua orang tokoh kelas atas langsung melompat mundur dan meringis. Masing-masing di pangkal lengan kirinya, terdapat sebuah luka sabetan pedang yang cukup dalam dan mengeluarkan rasa perih serta dingin.


Dua tokoh kelas atas itu segera menyalurkan hawa murni ke tubuh mereka. Karena kalau tidak segera di obati, sudah pasti akan membahayakan dirinya sendiri.


Di saat dua orang menyembuhkan diri dari lukanya, tiga tokoh kelas atas segera menyerang Bidadari Tak Bersayap secara bersamaan.


Serangan hebat kembali meluncur mengincar tubuhnya yang montok itu.

__ADS_1


Mereka membagi posisi. Satu sisi kiri, satu tengah, dan satu lagi lagi sisi kanan.


Tiga buah sinar terang siap mencabik-cabik tubuh gadis tersebut. Andai kata tidak ada keajabian, maka bisa dipastikan bahwa nyawa Bidadari Tak Bersayap tidak akan terselamatkan lagi.


__ADS_2