Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertarungan Tiga Pusaka Yang Sempat Melegenda


__ADS_3

"Utsss …" Cakra Buana melompat ke atas lalu bersalto dua kali sebelum mendarat dengan mulus. Gerakannya begitu ringan bagaikan sebuah kapas.


"Bagus, kau memang pantas dipuji," kata adipati Wulung Sangit memberikan pujian tulus kepada Cakra Buana.


"Terimakasih, tapi maaf, aku tidak butuh pujianmu," jawab Cakra Buana.


"Heuppp …"


Tiba-tiba saja Munding Aji melompat lalu turun tepat dipinggir adipati Wulung Sangit.


Kini keduanya sudah berhadapan dengan Cakra Buana. Tapi mereka belum melanjutkan pertarungan kembali.


"Silahkan kau pilih diantara kami berdua. Siapa dahulu yang ingin kau hadapi?" tanya Munding Aji.


Cakra Buana terdiam sejenak. Pendekar Maung Kulon itu seperti menimbang-nimbang. Jika melawan satu lawan satu, maka pasti akan membutuhkan waktu lebih lama. Pula, tenaga yang dikeluarkan akan lebih banyak jumlahnya.


Maka setelah berpikir beberapa saat lamanya, akhirnya Cakra Buana segera menjawab.


"Hemmm … lebih baik kalian maju berbarengan saja. Aku sudah tidak ingin berlama-lama lagi disini," ucap Cakra Buana sambil mengambil kuda-kuda.


"Sombongmu tidak hilang-hilang. Sepertinya kau memang harus diberi pelajaran supaya tidak sombong lagi," kata Munding Aji sambil bersiap siaga pula.


"Baiklah, ini permintaanmu. Jadi jangan salahkan kami jika kau harus ******," ujar adipati Wulung Sangit.


"Tenang saja. Aku masih ingin hidup lama, ingin menikmati kebebasan ini," jawan Cakra Buana memancing amarah lawan.


"Bedebah. Bersiaplah untuk pergi ke akhirat …" teriak adipati Wulung Sangit.


Adipati itu lalu mencabut sebilas keris yang dia selipkan di belakang. Keris itu terlihat sangat indah. Sebuah keris pusaka yang diberi lapisan emas.


Gagangnya berkepala naga, sedangkan seluruh batang kerisnya juga berlukiskan naga. Inilah Keris Naga Bumi, sebuah senjata pusaka yang pernah menggetarkan pada zamannya. Keris itu merupakan pemberian dari Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma, sang raja Pasundan saat ini.


Keris itu tadinya tersimpan di tempat benda-benda pusaka istana kerajaan, namun karena "kemurahan hati" sang raja, maka keris itu diberikan kepada adipati Wulung Sangit.


Begitu keris dicabut, angin langsung berhembus kencang menerbangkan daun-daun kering. Debu pun mengepul hingga membentuk angin topan.


"Wuttt …"


Keris sudah digenggam dengan erat. Begitupun dengan Munding Aji. Dua pendekar itu masing-masing sudah memegang pusaka legenda.


Cakra Buana tertegun juga melihatnya. Tidak disangkanya dia akan menghadapi situasi seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Keluarkan senjatamu. Kau takkan sanggup jika menghadapi kami tanpa senjata," kata adipati Wulung Sangit.


Cakra Buana sebenarnya bingung, apakah dia akan mengeluarkan Pedang Pusaka Dewa atau tidak? Jika iya, maka adipati itu pasti akan mengetahui bahwa dialah pemilik lambang kejayaan tersebut. Tapi jika tidak, benar juga ucapan adipati. Dia pasti takkan mampu menandingi mereka, walaupun bisa, pastinya harus melawan mati-matian.


Maka tanpa banyak cakap lagi, Pendekar Maung Kulon itu lalu mencabut Pedang Pusaka Dewa yang selalu tersimpan rapat.


"Sringg …"


Pedang Pusaka Dewa tercabut. Pamornya langsung meratakan energi yang dikeluarkan oleh Keris Naga Bumi dan Keris Kyai Jenggala. Sekarang gantian, angin yang tadi menerpa Cakra Buana dengan kencang, tiba-tiba berbalik jadi menerpa adipati Wulung Sangit dan Munding Aji.


"Pedang Pusaka Dewa …" kata Munding Aji dan adipati secara bersamaan.


"Tidak mungkin. Aku pasti salah lihat …" kata adipati Wulung Sangit.


"Tidak gusti. Itu memang Pedang Pusaka Dewa," kata Munding Aji.


Keduanya termenung beberapa kejap. Kejadian seperti sebelumnya terulang kembali. Dimana lawan-lawan Cakra Buana pernah juga merasa terkejut ketika melihat Pedang Pusaka Dewa.


"Jangan melamun. Terimalah serangan pertama ini," kata Cakra Buana sambil berteriak lalu kemudian maju menyerang.


"Wuttt …"


Cakra Buana menggerakan Pedang Pusaka Dewa. Mengincar leher dua lawan sekaligus.


"Trangg …"


"Trangg …"


"Bukkk …"


Adipati Wulung Sangit menendang dada Cakra Buana ketika mereka beradu senjata. Cakra Buana terpundur satu langkah. Tapi dia sudah dalam posisi siap menyerang kembali.


Dua lawan itu sebenarnya merasakan gentar ketika mengetahui senjata Cakra Buana, tapi meskipun begitu, mereka tetap bukanlah lawan mudah. Adipati Wulung Sangit dan Munding Aji adalah dua pendekar yang sudah merasakan asam garam dunia persilatan. Sehingga mau bagaimanapun, keduanya tetap bisa mengimbangi Cakra Buana. Walaupun harus berjuang lebih.


"Wuttt …"


"Trangg …"


"Trangg …"


"Trangg …"

__ADS_1


Ketiganya sudah bertarung sengit dengan menggunakan senjata pusaka mereka yang sempat melegenda. Angin berhembus kencang mewarnai pertarungan hidup dan mati itu.


Debu mengepul memenuhi arena pertarungan. Para prajurit menjauh mengambil jarak, mereka tidak mau menjadi korban salah sasaran dari tiga pendekar tersebut.


Suara dentingan nyaring dari beradunya senjata terus terdengar tiada henti. Pijaran bunga api nampak indah mempesona dibawah gelapnya malam yang baru saja tiba. Tapi sesungguhnya dibalik keindahan itu, ada sebuah kejadian yang tak ingin dialami oleh siapapun.


"Trangg …"


Tiga pusaka kembali bertemu dan menempel. Beberapa saat ketiganya saling dorong serta adu tenaga dalam.


"Haaa …"


Adipati Wulung Sangit berteriak lalu mementalkan Cakra Buana.


"Naga Bumi Mengibaskan Ekor …"


"Wuttt …"


Secarik sinar berkrlebat menyambar Cakra Buana. Pemuda itu lalu bergulingan untuk menghindari serangan tersebut.


"Blarrr …"


Benteng istana adipati hancur ketika sinar itu tidak berhasil mengenai sasarannya.


"Haittt …"


"Wuttt …"


Kali ini Munding Aji yang memberikan serangan. Keris Kyayi Jenggala digerakkan hingga mengeluarkan sinar merah menyambar tubuh Cakra Buana.


"Utss …" Cakra Buana kembali menghindari serangan jarak jauh tersebut.


"Langkah Dewa Angin …"


"Wuttt …"


Pendekar Maung Kulon tiba-tiba ada dihadapan dua lawannya. Dia langsung melemparkan serangan. Tapi serangan itu berhasil digagalkan. Ketiganya kembali bertarung hingga mereka tertutup oleh sinar-sinar yang diakibatkan oleh masing-masing senjata pusakanya.


Pertarungan tiga senjata pusaka legenda itu semakin seru dan menegangkan. Peluh sudah membasahi tubuh mereka. Bahkan tenaga yang mereka miliki saat ini sudah berkurang separuhnya. Rasa lelah sudah nampak pada wajahnya masing-masing.


###

__ADS_1


Ini jatah yang semalam ya😁🙏


__ADS_2