Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Jurus Pamungkas


__ADS_3

"Kalian yang di semak-semak, keluarlah! Jangan bersembunyi seperti pengecut," kata Kakek Bungkuk. Tak lama, lima orang berpakaian hitam keluar pula dari balik rumput ilalang.


Cakra Buana semakin terkejut. Ternyata memang dirinya terjebak, beberapa pendekar tangguh sudah berkumpul di sana.


Ia yakin, pergerakan dirinya sudah di awasi oleh mereka. Sehingga begitu tiba di tempat sepi, Cakra Buana langsung di kurung. Dan dugaannya memang benar, orang-orang dunia persilatan khususnya yang beraliran hitam, memang sudah mengawasi gerak-gerik Cakra Buana.


Hanya saja mereka menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Apalagi setelah tahu bahwa Cakra Buana ternyata merupakan seorang pangeran.


"Hemm … sebenarnya apa yang kalian inginkan dariku? Sampai-sampai setiap gerak langkahku di awasi," katanya sambil berusaha untuk tetap tenang.


"Hehehe … jangan pura-pura tidak tahu bocah tampan. Serahkan saja Pedang Pusaka Dewa padaku sekarang. Maka aku biarkan kau pergi dengan selamat," kata orang tua yang dipanggil Kakek Bungkuk.


"Hemm … kau siapa kek? Ternyata kau mengincar juga Pedang Pusaka Dewa," kata Cakra Buana sambil memperhatikan kakek itu.


"Orang-orang biasa menyebutku Kakek Bungkuk. Tentu saja … hehehe,"


"Sayangnya Pedang Pusaka Dewa tak akan pernah aku berikan," tegas Cakra Buana. Wajahnya langsung berubah serius.


"Kalau begitu, aku akan membuatmu memberikan Pedang Pusaka Dewa dengan caraku sendiri," kata si Kakek Bungkuk.


"Jangan berikan kepadanya. Berikan saja padaku kakang. Aku akan menggantikan Pedang Pusaka Dewa itu dengan kenikmatan tiada tara … hihihi," ucap Cempaka Biru sambil tersenyum genit ke arah Cakra Buana. Bahkan dia sedikit memperlihatkan kemolekan tubuhnya.


"Hemmm … sudahlah, aku pamit undur diri. Masih ada urusan yang lebih penting lagi," kata Cakra Buana sambil mendekati kudanya.


Saat Cakra Buana baru saja duduk di pelana kuda, tiba-tiba saja Manuk Bodas menyerangnya dari belakang menggunakan serangan jarak jauh.


"Wuttt …"


Pendekar Maung Kulon sedikit kaget. Buru-buru dia menghindari serangan itu dengan cara menggebrak kudanya, sedangkan dia sendiri melompat dan bersalto di udara. Serangan Manuk Bodas luput lagi dan mengenai sebatang pohon.


"Blarrr …" pohon itu hancur terkena hantaman serangan Manuk Bodas


Tepat saat serangan jarak jauh tadi sudah menghantam pohon, saat itu juga Cakra Buana mendarat dengan mulus dan cara membelakangi Manuk Bodas.

__ADS_1


"Sepertinya tidak ada jalan lagi untuk kabur. Baiklah, aku akan hadapi saja mereka," gumam Cakra Buana lalu membalikan tubuhnya.


Semua pendekar itu sudah saling bertatapan tajam. Angin berhembus mengibarkan rambut dan menerbangkan daun-daun kering sekitar arena. Tak lama kemudian, lima orang anak buah pendekar yang tadi bersembunyi di balik ilalang, maju menyerang Cakra Buana.


Kelimanya mencabut golok yang agak besar dan tajam. Mereka menyerang Cakra Buana secara bersamaan. Sayangnya kali ini Cakra Buana tidak mau bermain-main. Maka ketika kelima anak buah itu hampir sampai ke tempat dirinya berdiri, serta merta Cakra Buana mengibaskan tangan kanannya dari samping kiri ke samping kanan.


"Matilah," katanya sambil mengibas.


"Wuttt …"


Angin agak kencang menggulung kelima anak buah itu. Sekali kibas, kelimanya terpental sampai menabrak pohon. Mereka kelojotan sebentar sebelum akhirnya tewas dengan tulang punggung remuk.


'Anak ini ternyata memiliki kepandian yang tinggi. Aku harus hati-hati melawannya. Biarlah si Tiga Pembunuh Sadis dulu yang maju. Aku belakangan,' batin Kakek Bungkuk.


'Hemmm … dia tampan dan berilmu tinggi. Sungguh idaman sekali, kalau Pedang Pusaka Dewa tak berhasil ku dapatkan, biarlah tak apa. Asalkan pemiliknya jadi miliku,' batin Cempaka Biru sambil tersenyum saat melirik Cakra Buana.


Sementara itu, ketua yang anak buahnya terbunuh dalam sekali gebrak, sudah maju menyerang Cakra Buana. Keduanya saat ini sedang bertarung. Cakra Buana sudah menggubah jurus-jurus maut miliknya. Sehingga baru lima jurus pun, lawan sudah terdesak hebat.


Karena merasa geram, Tiga Pembunuh Sadis melompat ke arena pertarungan. Mereka berniat untuk menyelesaikan pertarungan melawan Cakra Buana yang tadi sempat tertunda. Senjata pusaka sudah mereka genggam dari tadi.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Tiga serangan menggunakan senjata pusaka, datang secara bersamaan dari tiga sisi berbeda. Kalau orang itu berilmu rendah, mustahil rasanya jika bisa menangkap gerakan serangan tersebut. Tapi Cakra Buana bukanlah pendekar rendahan. Maka begitu melihat senjata lawan mengincar tubuhnya, Cakra Buana lalu mengangkat kedua tangannya dan menahan satu senjata untuk dijadikan tumpuan.


"Wuttt …"


"Trangg …"


"Trangg …"


Pedang Garuda milik Manuk Bodas menjadi tumpuan. Di atas pedang pusaka itu ada Tongkat Setan dan Belati Kembar yang menempel. Keempat pendekar sama-sama berusaha untuk bertahan menggunakan bantuan tenaga dalam.

__ADS_1


"Haaa …"


Cakra Buana menghentakkan tenaga dalamnya lewat telapak tangan. Seketika itu juga, ada sebuah energi besar tak kasat mata yang keluar dari dalam tubuhnya. Tiga Pembunuh Sadis terlempar sejauh dua tombak. Mereka bergulingan sebelum akhirnya berhenti.


Sedangkan ketua dari yang anak buahnya terbunuh di awal, kini dia sedang berada dalam keadaan sekarat. Darah terus keluar tanpa henti dari mulutnya.


"Keparat. Bocah itu tidak bisa di anggap enteng," gumam Kebo Gila merasa geram.


Tiga Pembunuh Sadis sudah berkumpul di satu titik. Ketiganya berdiri gw berdampingan.


"Keluarkan jurus pamungkas kalian. Setelah itu, keluarkan jurus Tiga Iblis Memasang Perangkap. Aku yakin, dengan rangkaian jurus seperti ini, bocah sialan itu tidak akan mampu bertahan," ucap Kebo Gila memberikan saran dan strategi.


"Baik kakang," kata Setan Darah dan Manuk Bodas secara bersamaan.


Tiga Pembunuh Sadis lalu menghimpun tenaga dalamnya. Mereka memejamkan mata. Udara menjadi tertekan. Hawa berubah mencekam.


Di sisi lain, Kakek Bungkuk dan Cempaka Biru hanya menjadi penonton untuk sementara waktu. Keduanya merupakan tokoh dalam dunia persilatan. Nama mereka sudah menyebar luas. Melihat sepak terjang Cakra Buana, mau tidak mau dua pendekar itu merasa kagum.


Bahkan kini ada rasa gentar dalam hati Cempaka Biru dan Kakek Bungkuk. Mereka jadi sangsi setelah melihat pertarungan itu. 'Aku harus menunggu waktu yang tepat untuk merebut Pedang Pusaka Dewa itu,' batin Kakek Bungkuk.


Tiga Pembunuh Iblis sudah siap dengan ajian pamungkas yang mereka miliki masing-masing. Udara semakin terasa menekan arena sekitar.


Di sisi lain, Cakra Buana pun sudah menyiapkan ajian ampuh yang ia miliki. Tenaga dalamnya sudah terkumpul di kedua telapak tangan. Bahkan tubuh Cakra Buana terlihat bercahaya.


"Garuda Menerbangkan Gunung …"


"Amukan Kebo Gila …"


"Pukulan Pemecah Pembuluh Darah …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"

__ADS_1


Tiga jurus pamungkas dari tiga orang pendekar sudah melesat. Ketiganya membentuk sinar kuning, merah, juga cokelat. Sinar-sinar itu memiliki kecepatan tinggi. Bahkan daun-daun pohon pun rontok karena terkena imbasnya.


__ADS_2