Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Danuarta dan Magenda


__ADS_3

Pertarungan pun terus berlanjut. Setelah beberapa saat Cakra Buana berdiri diantara senjata-senjata yang bertumpuk menjadi satu dan menjadi tumpuan kakinya, pemuda serba putih itu kemudian melompat lalu berputar-putar.


Tubuhnya berputar cepat seperti halnya gasing. Kakinya di julurkan ke depan. Sehingga begitu berputar, satu-persatu dari enak pendekar yang masih terkejut itu langsung terpental karena bagian tubuhnya terkena tendangan Cakra Buana.


"Wuttt …"


"Plakkk …"


"Bukkk …"


"Bukkk …"


Keenam pendekar terpental dengan senjata yang masih tergenggam erat di tangan. Serentak para pendekar itu bangun kembali dengan posisi bersiap siaga secara cepat. Keenam pendekar takut kalau tiba-tiba saja Cakra Buana bakal menyerang sebelum mereka siap.


"Bagus. Kalau kalian sudah siap, silahkan serang aku lagi. Keluarkan semua kemampuan kalian dalam memainkan senjata, aku sudah tidak ingin membuang-buang waktu," kata Cakra Buana dengan tegas.


Posisi mereka sama seperti sebelumnya. Cakra Buana tetap berada di tengah-tengah, sedangkan keenam pendekar berdiri mengelilingi dirinya. Tapi kali ini berbeda dengan tadi, sebab keenam pendekar sudah tahu sedikit banyaknya tentang kehebatan Cakra Buana. Maka mereka pun tak akan segan-segan lagi.


"Haittt …"


"Hiyaaa …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Mereka menyerang kembali Cakra Buana secara bersamaan. Deru angin menyambar ke arah Pendekar Maung Kulon itu. Serentetan serangan yang berbahaya sudah bergerak menuju ke arah Cakra Buana.


Dia memang sudah menunggu hal ini. Maka ketika serangan keenam pendekar akan mengenai dirinya beberapa jarak lagi, Cakra Buana mengambil tindakan. Dia bergerak. Sekali melesat, Cakra Buana sudah berada di hadapan pendekar terlemah dari keenam orang tersebut.


"Wuttt …"


"Trangg …"


"Bukkk …"


Seorang pendekar termuda diantara yang lainnya menjadi incaran pertama Cakra Buana. Tangan kanannya dengan telak memukul lambung lawan hingga terpental menabrak pohon. Senjata pendekar tersebut yang berupa trisula, harus patah menjadi dua bagian ketika tangan kiri Cakra Buana menyambarnya.

__ADS_1


Berbarengan dengan itu, Cakra Buana kembali melakukan serangan dengan kecepatan diluar nalar. Tubuhnya bagaikan sebuah bayangan. Bergerak kesana kemari tanpa takut terkena sabetan senjata lawan.


Kali ini, dia mengincar seorang pendekar bertubuh agak gemuk dengan senjata gada. Kaki kiri Cakra Buana berhasil menendang perutnya gang gendut itu. Sekali tendang, si gendut langsung bergelimpangan. Dia langsung merasakan perutnya mulas.


Hanya dua kali bergerak, dua orang pendekar roboh tak dapat bangun lagi untuk beberapa saat lamanya. Keempat pendekar yang tersisa memandangi Cakra Buana dengan tatapan antara takut dan kagum. Sebab belum ada seorang pun pendekar muda yang mempunyai kepandaian seperti dirinya.


"*******, sekarang aku akan serius untuk membunuhmu."


"Rasakan ketajaman pedangku."


"Hiattt …"


Satu orang pendekar bersenjatakan pedang dengan gagang yang terbuat dari gading gajah menyerang Cakra Buana. Gerakan pendekar itu tidak bisa dianggap enteng.


Sebab dari gerakan yang cepat dan lincah itu, setidaknya dia kedua yang terkuat dari pendekar lainnya.


"Wuttt …"


Sambaran angin dari sabetan pedang mendahului. Menyambar ke arah leher Cakra Buana. Dengan sigap dia menodoyongkan tubuhnya ke belakang. Pedang itu hanya lewat beberapa helai rambut saja dari lehernya.


Belum sempat mengambil posisi, serangan kedua telah datang. Kali ini sebuah tusukan yang tepat mengingat jantung Pendekar Maung Kulon.


Cakra Buana menarik kakinya ke belakang lalu menyerang dari bawah dengan sodokan kaki. Jika diteruskan, sudah pasti dia akan lebih dahulu mengenai sikut lawan. Maka oleh sebab itu, pendekar tadi pun menarik kembali serangan lalu berlompat mundur mendekati ketiga rekannya.


"Ayo kita serangan dia bersama-sama," ajak pendekar itu kepada tiga rekannya.


"Baik."


"Wuttt …"


Empat serangan dari depan meluncur. Cakra Buana sudah dalam posisi siap, sehingga begitu serangan datang, Pendekar Maung Kulon itu memapak dengan telapak tangan kanan.


"Trangg … trangg … trangg …"


Senjata-senjata itu berbenturan satu sama lain. Dua di antaranya patah karena terbuat dari logam biasa. Melihat ada dua senjata yang patah, otak Cakra Buana langsung berjalan cepat.


Itu artinya dua pendekar itu gang terlemah di antara dua lainnya.

__ADS_1


"Wuttt …"


Sekali lagi Cakra Buana menjejakkan kakinya. Dia langsung meluncur memberikan serangan kepada lawan.


"Ajian Tapak Dewa Nanggala …"


"Wuttt …"


"Bukkk …"


"Ahhh …" mati.


Seorang pendekar terlemah yang menjadi incarannya langsung menemui ajal ketika sebuah tapak dengan kekuatan besar dengan telak menghantam dadanya. Pendekar itu terpental kemudian menabrak pohon. Dia langsung tewas dengan dada yang gosong. Dari mulutnya terus keluar darah segar cukup banyak.


Berbarengan dengan itu, Cakra Buana kembali bergerak. Dia menuju ke satu orang pendekar yang terlemah juga. Tapi karena pendekar itu sudah memahami situasi, dia bisa mengelak ketika serangan Cakra Buana hampir tiba.


Keduanya sempat bertarung beberapa saat sebelum akhirnya dia pun tewas juga dengan kondisi batang leher yang patah. Penyebab patahnya batang leher pendekar tersebut adalah karena sebuah tendangan Cakra Buana dengan telak menimpanya.


Dua pendekar sudah menemui ajal. Sedangkan dua orang yang pertama, masih hidup. Hanya saja mereka tak dapat melanjutkan pertarungan kembali karena terluka cukup parah.


Di sisi lain, empat datuk dunia persilatan semakin terkagum-kagum melihat sepak terjang Cakra Buana. Mereka hampir tak berkedip menyaksikan pertarungan yang bisa di bilang berat sebelah tersebut.


Angin gunung berhembus dingin menerpa tubuh setiap orang yang di sana. Tapi di balik dinginnya angin, ada lagi yang lebih dingin. Dinginnya angin itu masih kalah jauh dengan dinginnya dua mayat yang tergeletak dengan kondisi mengenaskan.


Dua pendekar tersisa adalah mereka yang memiliki kemampuan paling mumpuni. Bisa di bilang, salah satu dari mereka paling hanya satu atau dua tingkat di bawah Cakra Buana. Maka ketika menyadari pemuda yang sedang jadi buronan itu sangat hebat, keduanya memutuskan untuk bekerja sama.


"Danuarta, kau masih sanggup untuk bertarung?" tanya salah satu pendekar kepada rekannya.


"Tentu saja Magenda. Tapi lebih baik kita sedang pemuda itu bersama, aku yakin dia akan kewalahan jika kita mengeluarkan seluruh kemampuan," jawab pendekar yang bernama Danuarta. Dialah pendekar yang bersenjatakan pedang dengan gagang terbuat dari gading gajah.


Kini mereka sudah berhadapan kembali. Magenda dan Danuarta sudah memegang senjata mereka yang sama-sama berupa pedang. Dua batang pedang terlihat kemilau ketika ditempa sinar matahari.


Cakra Buana kembali bersiap, dia pun sudah merasakan keseriusan lawan. Maka diam-diam Pendekar Maung Kulon itu mengumpulkan kembali tenaga dalam dengan jumlah besar pada kedua tangannya.


Udara terasa berat ketika ketiganya sudah mengeluarkan kekuatan masing-masing. Suasana sunyi beberapa saat hingga akhirnya pertarungan pun di mulai kembali.


"Haittt …"

__ADS_1


"Hiyaaa …"


__ADS_2