Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Permintaan Dewa Maut


__ADS_3

"Kau tenang saja kakang. Aku bisa menghadapi bangsat itu," kata Bidadari Tak Bersayap sambil memegang tangan Cakra Buana.


Kedua matanya saling pandang. Dari pandangan itu, ada perasaan lain yang sangat sulit dijelaskan. Hanya mereka berdua saja yang mengerti arti dari perasaan tersebut.


"Dua manusia busuk. Mampus kau …" teriak Kagendra Malawa sambil maju menerjang dengan kecepatan tinggi.


Niatnya untuk memisahkan tangan Cakra Buana dari tangan Bidadari Tak Bersayap. Dia yakin serangannya kali ini akan berhasil. Apalagi dilakukan dengan sangat cepat


Sayang, dia tidak sadar diri. Bahwa yang kini ada di hadapannya merupakan kedua pendekar yang sedang naik daun.


"Pemuda bangsat, sudah aku bilang lawanmu adalah aku," ucap Bidadari Tak Bersayap dengan geram.


Begitu berkata, tubuhnya juga bergerak. Tangan kanan kembali memapak serangan Kagendra Malawa. Bahkan kali ini dengan pengerahan tenaga dalam tinggi, sehingga pemuda itu terpental sampai tiga langkah.


Detik selanjutnya, baik Kagendra Malawa ataupun Bidadari Tak Bersayap, tidak ada lagi yang bicara. Karena kini mereka sudah memulai pertarungannya mendahului Cakra Buana dan Dewa Maut.


Walaupun pertarungan baru saja berjalan, tetapi siapapun akan segera mengetahui bahwa jurus yang dikeluarkan oleh kedua pendekar muda itu merupakan jurus kelas atas.


Jurus yang dapat membunuh belasan orang biasa sekaligus. Bidadari Tak Bersayap menggeser tempat pertarungannya ke jarak yang lebih jauh lagi. Tanpa disuruh atau diberi tahu pun, dia sudah paham bahwa pertarungan Cakra Buana akan berjalan lebih hebat dan ganas dari pertarungannya sendiri.


"Kakek tua, apakah pertarungan kita bisa segera dimulai?" tanya Cakra Buana tenang.


"Baik, kita segera mulai. Tapi sebelum itu, aku punya satu permintaan kepadamu,"


"Apa itu?"


"Kalau aku mati, tolong lepaskan muridku. Aku tidak ingin dia mati di usia muda," kata Dewa Maut.


"Baik, permintaanmu akan aku kabulkan,"


Cakra Buana segera mengirimkan suara jarak jauh. Hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh para pendekar kelas atas. Tetapi, tidak semua pendekar atas dapat melakukannya. Lagi pula, jarak ilmu mengirimkan suara ini juga terbatas.


"Sinta, kau jangan bunuh Kagendra, biarkan dia terluka. Tapi jangan sampai membunuhnya," ucap Cakra Buana kepada Bidadari Tak Bersayap.


Yang mendengar suaranya hanya orang yang dituju. Jadi wajar kalau Kagendra tidak mendengarnya.


"Baik kakang. Aku mengerti," jawab gadis itu tanpa banyak bertanya lagi.


Cakra Buana kembali menoleh ke arah Dewa Maut. "Permintaanmu sudah aku kabulkan,"

__ADS_1


"Baik, terimakasih. Kalau begitu, aku bisa mati dengan tenang,"


"Apakah kau yakin akan mati?"


"Sangat yakin,"


"Kenapa?"


"Karena aku percaya akan kata-katamu yang tidak pernah melepaskan mangsa hidup-hidup,"


"Baiklah kalau begitu,"


"Mari kita mulai. Lihat serangan …"


Bentak Dewa Maut. Selanjutnya, dia segera menjejakkan kaki ke tanah lalu menerjang dengan ilmu Garuda Meluncur Deras Menembus Mega.


Serangan pertama, datang berupa cakaran tiga jari yang mirip kaki burung garuda. Incarannya mengarah ke dada dan pinggang. Kalau sampai Cakra Buana terkena cakaran itu, sudah pasti tubuhnya akan terkoyak habis.


Oleh sebab itulah dia tidak mau menganggap enteng lawan. Belum sampai serangannya, dia sudah mengambil tindakan.


Kakinya menjejak juga ke tanah lalu meluncur menyambut serangan lawan.


Sepuluh jarinya mekar bagaikan cakar harimau. Dua pendekar kelas atas melancarkan serangan yang sama ganas dan hebatnya.


"Blarr …"


Benturan pertama terjadi. Keduanya terpental beberapa langkah ke belakang.


Berikutnya mereka kembali saling serang. Dewa Maut karena menyadari lawannya bukanlah pendekar sembarangan, dia langsung mengubah jurus dan gaya bertarungnya.


Dengan jurus Sang Dewa Menginginkan Jantung, dia kembali memberikan serangan. Satu tangannya di buka berniat untuk mengoyak jantung lawan. Sedangkan satu tangan lagi memberikan sebuah pukulan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.


Dua jurus dalam satu serangan. Semuanya sama berbahaya.


Cakra Buana masih bertahan dengan jurus Harimau Mencabut Nyawa. Dia merasa belum waktunya untuk mengeluarkan rangkaian 7 Jurus Naga dan Harimau.


Jurus itu akan dia gunakan di saat posisinya terdesak, atau kalau tidak saat bertarung melawan pendekar tangguh. Walaupun Dewa Maut terkenal hebat, tapi karena dia belum mengeluarkan kesaktian seluruhnya, maka Cakra Buana tidak mau memulai.


Dua jurus kembali berbenturan di udara. Anginnya menyapu dedaunan kering yang berserakan. Tapi kali ini tidak ada yang terpental, karena begitu mereka beradu jurus, serangan berikutnya sudah dilancarkan kembali.

__ADS_1


Sebuah pukulan hebat mengincar batok kepala Cakra Buana. Satu kaki menendang ke arah pinggang. Semua serangan itu silih berganti antara kanan dan kiri.


Tetapi Cakra Buana sudah mampu membaca gaya bertarung lawan. Sehingga dia tidak merasa kesulitan. Kedua tangannya bergerak mengikuti irama lawan.


Tangan dan kakinya menapak semua serangan dengan gerakan mantap dan penuh tenaga. Semakin berjalannya waktu dan pertarungan hidup mati yang telah dia lewati, maka pengalaman Cakra Buana pun semakin bertambah banyak.


Lima belas jurus berlalu. Cakra Buana masih belum memberikan serangan balasan yang hebat. Dia ingin mengukur tingkat kepandaian lawan terlebih dahulu.


Begitu memasuki jurus ketiga puluh, Pendekar Tanpa Nama mulai menunjukkan taringnya.


Jurus Harimau Mencabut Nyawa sudah dia keluarkan ke tahap tertinggi. Gempuran serangan yang datang bagaikan seekor harimau mengamuk karena wilayahnya di serang.


Cakra Buana memperlihatkan kehebatan jurusnya. Tangannya berkilat di malam yang gelap itu. Kuku ghaib dari pengaruh jurus harimau sudah nampak sangat tajam.


Jangankan kulit manusia, kulit batang pohon sekalipun bsia dia koyak dengan mudah. Hanya saja, manusia yang dia lawan saat ini bukanlah manusia biasa.


Tapi hal tersebut bukan menjadi alasan unruk dia takut. Justru karena lawannya tangguh, maka Cakra Buana ingin menguji sampai di mana kemampuan dirinya.


Gempuran serangan datang bagaikan badai yang tidak ada habisnya. Aura hebat menekan arena sekitar.


Dewa Maut merasa keteteran menerima serangan yang tidak ada hentinya itu. Namun, orang tua tersebut masih menyimpan banyak jurus dahsyatnya.


Sehingga walaupun diserang dari segala sisi, dia masih mampu bertahan bahkan membalas serangan.


"Bocah ini memang luar biasa. Aku harus mengeluarkan rangkaian jurus Malaikat Maut Pencabut Nyawa," gumamnya di tengah-tengah gempuran serangan Cakra Buana.


"Malaikat Datang Membawa Kabar …"


"Wushh …"


Serangannya berubah. Jurusnya lebih hebat lagi karena ini merupakan rangkaian jurus pamungkas ciptaannya saat selesai memperdalam ilmu.


Nama jurus, sama seperti jurusnya. Serangannya kali ini memang membawa kabar. Kabar tentang kematian.


Dua tangannya menghitam memberikan pukulan berbau busuk. Baunya memang tidak mengandung racun, tapi sangat berguna untuk mempengaruhi konsentrasi lawan.


"Malaikat Memaksa Mengambil Nyawa …"


Jurus kedua keluar lagi. Dia mulai mencecar Cakra Buana dengan berbagai macam serangan dahsyat dan mengerikan. Pendekar muda itu benar-benar dipaksa untuk memberikan nyawanya.

__ADS_1


Sayang, nyawa Cakra Buana bukanlah barang kredit yang bisa di ambil sesuka hati jika belum dibayar.


__ADS_2