Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Mencoba Jurus Baru


__ADS_3

Setelah Cakra Buana berkata demikian, lima orang yang menyebut dirinya sebagai Lima Serigala, segera mengurung pemuda itu. Mata mereka mencorong tajam seperti serigala liar.


Menurut penglihatan Cakra Buana, kelima orang ini tidaklah terlalu merepotkan. Paling hanya dua tingkat di atas orang-orang yang tadi siang dia hajar. Oleh sebab itu, walaupun sudah di kurung tapu Cakra Buana masih tetap berlaku tenang dan santai.


Hitungan selanjutnya, kelima orang tersebut segera menyerang Cakra Buana dari lima penjuru. Serangan pertama berupa cakaran yang dilancarkan secepat mungkin.


Kelebatan cakaran membelah udara malam. Kelimanya menyerang secara serentak lalu bergantian secara bergiliran. Tetapi semua serangan tersebut bisa dihindari oleh Cakra Buana hanya dengan menggerakan tubuhnya tanpa menggeserkan sepasang kaki.


Untuk beberapa jurus, Lima Serigala masih melancarkan serangan yang sama. Dan menghasilkan hal yang sama pula.


Memasuki jurus kesepuluh, mereka mulai geram karena semua serangannya gagal total. Kali ini Lima Serigala tidak tanggung lagi, kelimanya mulai melancarkan serangan ganas dan kejam.


Cakaran dan pukulan mulai mereka keluarkan mengarah ke tubuh Cakra Buana. Tendangan yang membawa angin tajam mulai bersiut di telinga.


Tapi pemuda itu masih tetap bisa tenang dan menghindari semua serangan. Hal ini tentu membuat mereka semakin murka karenanya.


"Bocah, kalau kau memang mampu, balas serangan kami. Jangan hanya berkelit semacam orang tak becus," kata salah seorang.


Menanggi hal tersebut, Cakra Buana hanya tersenyum simpul. "Baiklah. Tahan serangan," katanya lalu melancarkan serangan pertama.


Kibasan tangan yang membawa angin menderu keras mulai keluar dari tangan kanannya. Hanya dengan beberapa gebrak, mereka tampak langsung kewalahan.


Cakra Buana menyerang dengan tangan kanan saja. Tangan itu seperti menari menghindari semua terjangan lawan. Begitu melihat ada celah di antara Lima Serigala, dia langsung memburunya.


Satu orang menjadi sasaran telak telapak tangan Cakra Buana. Dia seketika terpental lima langkah ke belakang. Orang tersebut tidak mampu melanjutkan pertarungan lagi karena dadanya terasa sangat sakit.


Setelah mementalkan orang tersebut, tangannya kembali bergerak. Lima jurus kemudian, empat sisanya mengalami nasib yang sama.


Lima Serigala berhasil ditumbangkan oleh Cakra Buana hanya dengan satu tangan dan dalam beberapa gebrakan.


Kejadian ini membuat siapapun yang ada di sana tertegun. Bahkan termasuk si Hantu Bertangan Enam. Walaupun Lima Serigala tidak terlalu hebat, tapi kejadian ini membuatnya agak terkejut. Sebab bagaimanapun juga, Lima Serigala merupakan salah satu kelompok pemimpin anak buah Organisasi Tengkorak Maut.


Tanpa diperintah, dua orang yang sebelumnya sudah Cakra Buana perkirakan sebagai lawan cukup tangguh sudah maju.


Mereka berdua hampi kembar. Semua ciri-ciri fisiknya sama persis. Sama seram pula. Yang membedakan hanyalah pakaian dan senjata yang mereka gunakan. Yang satu golok panjang, yang satu golok besar.

__ADS_1


Kedua orang itu memandangi Cakra Buana dengan geram. Hawa pembunuh yang kental terasa keluar dari tubuh mereka.


"Kami Saudara Kembar Pengantar Nyawa ingin mencoba adu kepandaian denganmu," kata salah seorang bersenjatakan golok panjang.


"Silahkan," jawab Cakra Buana dengan tenang.


"Cabut senjatamu," katanya.


"Tidak perlu. Aku tidak bisa memakai senjata sebelum waktunya,"


"Terserah kalau begitu. Bersiaplah," bentaknya.


Dua orang yang mengaku Saudara Kembar Pengantar Nyawa tersebut langsung menyerang menggunakan senjata ampuhnya. Dua golok yang hanya sedikit berbeda sudah berkelebat di tengah malam memecahkan keheningan dengan desiran angin tajamnya.


Dua serangan dari sisi berbeda sudah tiba. Cakra Buana hanya perlu berkelit sedikit untuk menghindari serangan tersebut. Tapi saat serangan sebelumnya belum habis, kedua saudara kembar itu sudah mengubah gaya serangnya.


Dua golok mengancam pinggang dan kepala. Cakra Buana cukup terhibur karena mereka.


Dengan gerakan sederhana, dia kembali menghindari serangan tersebut.


Menyaksikan dua serangannya gagal, suadara kembar itu semakin bernafsu. Rasa penasaran akan pemuda yang menjadi lawannya semakin membesar.


Dengan jurus Dua Batang Golok Menebas Karang, keduanya menerjang Cakra Buana memburu ke mana pun dia pergi. Sinar golok mulai menghiasi malam gelap. Bentakan nyaring keluar dari mulut mereka.


Sepuluh jurus sudah berlalu, tetapi Cakra Buana belum berhasil mereka taklukan. Justru sebaliknya, saat memasuki jurus kedua belas, pemuda yang menjuluki dirinya sebagai Pendekar Tanpa Nama tersebut mulai melancarkan serangan balasan.


Kedua tanganya mulai bergerak seperti baling-baling. Hawa panas mulai dia keluarkan lewat kedua tangan tersebut. Angin sambarannya membuat Saudara Kembar Pengantar Nyawa merasa risih. Sebab semakin lama panasnya semakin dahsyat.


Kedua tangan Cakra Buana semakin mencecar dua lawannya. Dua batang golok mereka digerakkan untuk memapak atau bahkan membacok dua tangan yang mengeluarkan hawa panas tersebut.


Sayangnya mereka telah melakukan kesalahan, karena begitu ada kesempatan, Cakra Buana tidak menghindari bacokan golok tersebut. Justru dia malah memegangnya lalu mengalirkan hawa panas kembali hingga ke pegangan golok.


"Lepas …" bentaknya.


Dua golok mendadak terlepas. Begitu golok di tangannya, dia segera memukul dua saudara kembar tersebut dengan pegangan golok tadi sehingga mereka terpental lalu muntah darah.

__ADS_1


Kejadian ini lagi-lagi membuat mereka terkejut. Hantu Bertangan Enam semakin geram. Dia menyuruh dua orang lainnya untuk menghadapi Cakra Buana.


Dua pendekar sudah menerjang. Pedang dan tombak sudah berkilat mengincar tubuhnya. Cakra Buana melompat ke belakang untuk menghindari serangan tersebut.


Dia memandangi dua penyerang barunya. Sepertinya kedua orang ini lebih hebat daripada lawan sebelumnya.


"Majulah," katanya dingin tanpa ekspresi.


Tanpa bicara sepatah kata pun, dua orang tersebut segera maju menyerang. Walaupun pertarungan baru dimulai, tapi serangan yang mereka lancarkan sudah ganas.


Jurus maut sudah dikeluarkan.


Tombak itu berputar cepat mengincar jantung Cakra Buana. Putarannya bahkan mampu menerbangkan kerikil. Sedangkan pedang berkelebat memberikan sabetan demi sabetan yang tiada hentinya mengancam nyawa.


Cakra Buana mulai berlaku waspada. Tanpa bermain-main lagi, kedua tanganya sudah bergerak kembali mengikuti gaya serangan lawan.


Dua hawa berbeda mulai dia salurkan di dua tangannya. Ini adalah pertama kali Cakra Buana menggunakan kekuatannya yang seperti ini di dunia luar setelah sebelumnya terkurung di lembah.


Tusukan tombak dan sabetan pedang semakin memburu. Tapi serangan Cakra Buana juga tidak kalah hebatnya. Dua tangan itu seperti benda dari dua alam berbeda. Karena tenaga yang dikeluarkan pun berbeda dalam sekali gebrak.


Si pemegang tombak merasakan bahwa tangan kiri lawannya sangat dingn seperti es. Sedangkan si pemegang pedang merasakan bahwa tangan kanan lawan mengeluarkan tenaga panas seperti api membara yang siap membakar tubuhnya.


Dua pendekar mulai kewalahan karena Cakra Buana semakin meningkatkan hawa berbeda yang keluar dari dua tangannya.


Jurus barunya mulai dia coba. Dua lawannya terpengaruh karena hawa dahsyat tersebut. Gerakan mereka menjadi sedikit melambat. Keringat sudah membasahi si pemegang pedang karena tak kuat menahan panasnya.


Tepat pada jurus delapan belas, kedua lawan terpental karena terkena hantaman telapak tangan Cakra Buana. Si pemegang pedang merasakan bahwa dadanya panas seperti terbakar. Sedangkan si pemegang tombak merasakan dadanya beku dan wajahnya pucat biru.


'Gila. Bocah ini memang benar-benar sakti,' batin Hantu Bertangan Enam.


###


Note: Kalau di novel ini pertarungan detail, wajar ya. Karena mungkin masih belum banyak yang tahu, ini adalah genre Wuxia. Bukan Xianxia. Jadi pertarungan dibuat sedikit detail supaya memberikan gambaran lebih dalam sebuah pertarungan.


Berbeda lagi kalau genrenya Xianxia. Jurus yang keluar lebih dahsyat dan cara menggambarkan pertarungan juga beda lagi.

__ADS_1


Terimakasih.


Salam hangat☕


__ADS_2