Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Langit Terbelah Dua


__ADS_3

Sementara itu, berbarengan dengan di lancarkannya serangan jurus pamungkas dari Tiga Pembunuh Sadis, Cakra Buana pun memberikan jurus mautnya.


"Gelombang Pembawa Maut …"


"Wushh …"


Gelombang energi yang besar meluncur deras dari kedua telapak tangan Cakra Buana. Gelombang itu memiliki hawa panas yang bukan main. Gelombang milik Cakra Buana melesat lebih cepat daripada tiga gelombang jurus lawan.


Kakek Bungkuk dan Cempaka Biru menyingkir mengambil jarak. Kedua tokoh itu tidak mau terkena imbas dari jurus-jurus dahsyat tersebut.


"Wushhh …"


Cahaya berbagai warna bertemu di tengah-tengah. Menyilaukan mata siapa saja yang ada di situ. Untuk beberapa saat, jurus-jurus maut itu beradu sebelum akhirnya meledak dengan keras.


"Duarrr …"


Suara ledakan keras terdengar hingga membuat telinga berdengung. Percikan kembang api beterbangan ke mana-mana. Pohon-pohon hancur menjadi serpihan-serpihan kecil akibat empat gelombang energi dahsyat tersebut.


Bahkan Kakek Bungkuk dan Cempaka Biru pun terbawa beberapa langkah akibatnya. Kalau saja mereka tidak segera melindungi diri dengan tenaga dalam, mungkin keduanya sudah terbang bersama serpihan pohon.


Efek dahsyat tersebut tentu saja terjadi akibat benturan empat jurus yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi. Hal ini pasti bisa saja terjadi jika kedua belah pihak yang sedang bertarung, sama-sama memiliki kekuatan pilih tanding. Seperti halnya saat ini Cakra Buana dan Tiga Pembunuh Sadis.


Keempat pendekar yang sedang bertarung tersebut sama-sama terhempas jauh ke belakang. Cakra Buana terlempar sampai tiga tombak. Punggungnya menabrak pohon hingga retak. Dari sudut bibirnya, terlihat ada tetesan darah. Nafasnya terengah-engah.


Sedangkan kondisi dari Tiga Pembunuh Sadis, jauh lebih parah dari Cakra Buana. Mereka terhempas lebih jauh ke belakang. Keempatnya terpental hingga terbang bersama pohon-pohon yang tumbang. Tiga Pembunuh Sadis berhenti saat tubuhnya menabrak bongkahan batu sampai hancur menjadi debu.


Arena yang dipakai menjadi tempat bertarung itu, kini sudah porak poranda seperti habis di sapu badai. Hutan yang tadinya rimbun oleh pepohonan menjulang tinggi. Kini jadi sebaliknya. Sebagian hutan terutama yang dipakai jadi arena pertarungan, tandus bahkan hangus terbakar.


Cempaka Biru dan Kakek Bungkuk melihat dengan jelas semua kejadian ini. Keduanya sama-sama merasa merinding. Bahkan jika keduanya berada di posisi Cakra Buana, belum tentu mereka masih dapat mampu berdiri lagi seperti pemuda serba putih itu sekarang.


Cakra Buana sudah berdiri walau harus berusaha keras. Sebagian pakaiannya koyak. Bahkan kain putih pembungkus Pedang Pusaka Dewa, terlihat bagian atasnya robek. Sehingga gagang pedang pusaka itu terlihat oleh Kakek Bungkuk dan Cempaka Biru.

__ADS_1


Cakra Buana berdiri dengan tetap memperlihatkan sikap siap siaga. Dia memaksakan diri, meski pun tubuhnya sudah tak mampu lagi untuk bertarung. Namun Pendekar Maung Kulon itu mengerahkan semua tenaga yang tersisa. Sebab saat dirinya memperlihatkan luka dalam, maka sudah pasti musuh akan menyerangnya dengan mudah.


Tiga Pembunuh Sadis masih belum bangun juga. Ketiganya mengalami luka dalam yang sangat parah akibat jurusnya berbalik menyerang dirinya sendiri. Pakaian mereka koyak. Dari mulut masing-masing, terus-menerus memuntahkan darah segar kehitaman tanpa henti.


'Bocah itu terluka dalam. Itu artinya ini adalah kesempatan yang baik untuk menyerangnya,' batin Kakek Bungkuk sambil memandangi Cakra Buana dari atas sampai bawah.


'Pemuda tampan itu mengalami luka yang cukup parah. Bahkan tenaga dalamnya sudah terkuras banyak. Ini waktu yang tepat untuk mendesaknya,' batin Cempaka Biru juga berkata persis seperti kata batin Kakek Bungkuk.


Tak ayal lagi, kedua pendekar yang dari tadi hanya berlaku sebagai penonton itu pun, maju menyerang Cakra Buana secara bersamaan. Keduanya melompat dan bersalto di udara satu kali sebelum akhirnya meluncur memberikan serangan menukik.


"Hiattt …"


"Hiyaaa …"


Kakek Bungkuk dan Cempaka Biru sudah memberikan serangan jarak jauh. Cakra Buana terkesiap beberapa kejap, detik berikutnya pemuda serba putih itu mengambil tindakan.


Cakra Buana melakukan gerakan jungkir balik ke belakang sebanyak lima kali. Dua serangan lolos menghantam tanah kosong. Ledakan kecil terdengar lagi. Tanah yang tadi ia pijak, sekarang sudah berubah menjadi kubangan yang sedikit dalam.


Melihat serangannya gagal, Kakek Bungkuk kembali melesat dan menyerang Cakra Buana. Begitu pun dengan Cempaka Ungu.


Kali ini mereka lebih memilih untuk bertarung secara langsung. Kakek Bungkuk menyodokkan tongkatnya yang mirip ular itu. Sedangkan Cempaka Biru, dia mengibaskan selendangnya dari jarak sekitar satu tombak.


"Wuttt …"


"Wushhh …"


Cakra Buana berhasil menghindari sodokan tongkat milik Kakek Bungkuk. Tapi sayangnya dia tidak berhasil mengelak dari sabetan selendang milik Cempaka Ungu.


"Plakkk …"


Cakra Buana kembali terjengkang. Dia merasakan dadanya semakin sesak akibat terkena sabetan selendang. Cakra Buana batuk ringan, darah pun kembali keluar.

__ADS_1


Pendekar Maung Kulon itu bangkit kembali. Karena menurutnya, tak ada pilihan lain kecuali bertarung sampai titik darah penghabisan.


Belum sempat dirinya mempersiapkan jurus untuk menghadapi lawan, tiba-tiba saja Kakek Bungkuk dan Cempaka Biru sudah tiba di depannya. Karena takut kehilangan momen seperti ini, maka keduanya langsung menyerang Cakra Buana secara brutal.


Sodokan tongkat dan sabetan selendang mulai mengincar bagian tubuh Cakra Buana. Sekuat tenaga Pendekar Maung Kulon itu melawan dua musuhnya. Meskipun gerakannya tidak secepat sebelumnya, tapi setidaknya dia masih dapat bertahan untuk beberapa waktu.


Desiran angin semakin mencekam membawa hawa kematian. Kakek Bungkuk menggempur Cakra Buana dari jarak dekat dengan tongkat pusaka miliknya. Cempaka Biru terus menyerang tiada henti dari jarak sekitar dua tombak.


'Tak ada cara lain lagi. Aku harus mengakhiri pertarungan ini dengan jurus lainnya. Aku sudah tidak kuat lagi, seluruh tubuhku mulai terasa sakit,' batin Cakra Buana sambil terus berusaha menghindari serangan.


Cakra Buana memaksakan diri untuk melenting ke belakang di saat serangan lawan sedang menghujani dirinya. Secepat kilat, dia mencabut Pedang Pusaka Dewa.


"Sringg …"


Pedang pusaka tercabut. Waktu serasa terhenti beberapa saat. Udara bertambah mencekam. Langit bergemuruh. Angin tiba-tiba berhembus kencang.


Kakek Bungkuk dan Cempaka Ungu terpaku di posisinya masing-masing. Keduanya menatap Pedang Pusaka Dewa tanpa berkedip. Apalagi saat pedang itu mengeluarkan asap hitam tipis. Itu artinya, pamor Pedang Pusaka Dewa sudah keluar.


"Langit Terbelah Dua …"


"Duarr …"


Langit bergemuruh semakin kencang. Seolah suara gemuruh itu berasal dari jeritan iblis neraka yang mengerikan. Pedang Pusaka Dewa mengepulkan asap kehitaman semakin pekat. Asap itu semakin menghitam dan membawa kesan angker.


"Wushhh …"


Cakra Buana menggerakan Pedang Pusaka Dewa dari atas ke bawah. Akibatnya hebat. Sebuah sinar putih mendadak muncul dari langit. Sinar itu melesat secepat kilat sesuai gerakan tangan Cakra Buana.


"Wushhh …"


"Blarrr …"

__ADS_1


__ADS_2