
"Baik. Aku akan menuruti perkataan kakang," ucap Bidadari Tak Bersayap.
Dengan gerakan cepat, gadis itu mengubah sebagian selendang menjadi cadar yang menutupi sebagian wajahnya. Sehingga bagi segelintir orang, terutama mereka yang kurang teliti, tidak akan sanggup mengetahui bahwa gadis tersebut merupakan pendekar wanita yang kini sedang naik daun.
Begitu Bidadari Tak Bersayap selesai, Cakra Buana segera menjejak kakinya ke tanah dengan pengerahan tenaga yang besar. Bahkan saat kakinya menghentak bumi, rasanya tanah di sekitaran tempat tersebut bergetar walaupun hanya getaran kecil.
Bidadari Tak Bersayap sendiri terkejut. Dia tidak tahu dengan pasti sebab musabab Cakra Buana sedemikian marahnya. Hanya saja, sedikit banyak gadis itu mengetahui bahwa ada sesuatu yang menimpa sahabatnya itu.
Kedua sosok pendekar muda telah melesat secepat terjangan angin menembus ke dalam hutan yang rimbun. Cakra Buana terus mempercepat dan menambah kekuatan ilmu meringankan tubuhnya.
Bidadari Tak Bersayap hampir tertinggal saking cepatnya. Tapi hal itu terjadi hanya pada saat dia belum mengeluarkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuh. Begitu kekuatanya sampai ke puncak, maka gadis tersebut meluncur bagaikan anak panah yang menembus awan.
Hanya dalam sekejap mata, gadis cantik itu berhasil memperpendek jaraknya dengan Cakra Buana. Walaupun dia tetap tidak mampu mengimbangi kecepatan berlari Cakra Buana, setidaknya jaraknya sudah tidak jauh seperti sebelumnya.
Hari semakin sore. Bahkan mentari sudah setengahnya bersembunyi di balik bukit. Sinar emasnya menebarkan keindahan di atas hamparan daun kering yang terkena sinar dari celah-celah dahan pohon.
Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap masih terus berlari. Ternyata jaraknya cukup jauh juga. Sehingga saat mentari benar-benar menghilang dari permukaan bumi, keduanya baru saja tiba.
Cakra Buana berhenti di bawah sebuah pohon asem besar. Kemudian dia segera melompat ke dahan di susul oleh Bidadari Tak Bersayap.
Di depannya, sekitar jarak lima puluh tombak, terdapat sebuah bangunan besar. Bangunan itu sudah nampak tua sekali. Bahkan beberapa bagiannya sudah ada yang lapuk. Keadaan di sekitar halaman juga sangat kotor. Banyak sekali rumput ilalang dan daun kering.
Kalau dipandang sekilas, siapapun tidak akan menyangka bahwa di dalam bangunan tersebut, justru di isi oleh sekelompok manusia-manusia iblis.
"Kita bergerak. Kau harus tetap berada di belakangku. Apapun yang terjadi," tegas Cakra Buana kepada Bidadari Tak Bersayap.
"Baik. Aku mengerti," jawabnya singkat.
Walaupun keduanya sekarang sudah memiliki perasaan yang sama, tapi mereka tahu dan bisa menempatkan posisi mana saat untuk bercinta, mana saat untuk serius dan bekerja sama.
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Cakra Buana langsung meluncur deras dan cepat serta gesir. Bagaikan seekor burung elang yang berhasil mendapat mangsanya. Dia bergerak sangat cepat menembus rumput ilalang.
Hanya dalam sekejap mata, Cakra Buana dan Sinta Putri berhasil menerobos rerumputan itu. Sekarang keduanya sudah berada di depan sebuah halaman yang luas. Cakra Buana kembali bergerak, dia tidak mau berlama-lama karena pemuda itu yakin bahwa sahabatnya sedang butuh bantuan.
Di depan pintu bangunan tua tersebut, terdapat enam orang penjaga berpakaian serba hitam. Di lihat dari kemampuan mereka, sepertinya keenam pendekar itu merupakan pendekar kelas bawah.
Bukan sebuah halangan berarti bagi seorang Pendekar Tanpa Nama. Belum sempat keenam penjaga itu menyadari apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja keenamnya terbawa oleh serangkum angin.
Mereka baru diturunkan setelah jaraknya cukup jauh dari bangunan itu. Cakra Buana langsung mengambil tindakan. Dia menggali informasi kepada mereka.
Setelah mendapatkan informasi pasti, Pendekar Tanpa Nama langsung menghantam beberapa titik bagian tubuh mereka dan menghancurkan ilmu silatnya.
Keenam orang itu awalnya berteriak meminta ampunan. Kalau dalam situasi seperti biasa, mungkin Cakra Buana akan mengampuni mereka. Sayang, sekarang situasinya sangat jauh berbeda, tidak seperti biasanya.
Sehingga mau tidak mau keenam penjaga tersebut harus menerima pengalaman yang bahkan lebih menakutkan dari pada kematian sekalipun.
Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap segera melesat kembali ke bangunan tua tadi. Pendekar Tanpa Nama itu tidak banyak basa-basi lagi.
Begitu tiba di depan pintu, Cakra Buana segera menendangnya dengan kaki kanan yang sudah di isi penuh tanaga dalam.
"Brakk …"
Pintu tersebut hancur dan terbang melesat ke depan.
Suara benturan keras terdengar. Pintu yang terbuat dari kayu jati itu semakin hancur berkeping-keping karena dihantam oleh seseorang.
Orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut terkejut saat menyaksikan siapa yang datang. Jumlah mereka tidak banyak. Tapi juga tidak bisa dibilang sedikit.
Setidaknya, kurang lebih ada sekitar empat puluh orang di sana. Dua puluh lima orang merupakan pendekar kelas menengah. Lima belas lainnya merupakan pendekar kelas atas.
__ADS_1
Cakra Buana sendiri tidak terlalu terkejut. Sebab dia sudah mengira sebelumnya bahwa jumlah musuh yang ada di bangunan ini tidaklah sedikit.
Dan terkait hal ini, dia sendiri sadar benar bahwa apa yang dilakukannya saat ini benar-benar merupakan kenekadan. Bahkan bisa dibilang mengantarkan nyawa.
Tapi Cakra Buana tidak merasa takut sedikitpun. Bagi seorang sahabat sejati, terkadang nyawa tidak ada artinya.
Tapi di balik semua itu, ada sebuah hal yang membuat Cakra Buana sangat terkejut. Yaitu ketika dia melihat Pendekar Pedang Kesetanan.
Sahabatnya itu memang ada di sana. Hanya saja, dia berada dalam keadaan terluka parah. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka sayatan pedang. Ada juga luka lebam baik itu karena pukulan, maupun luka lebam memanjang yang dicurigai berasal dari pecutan cambuk.
Pendekar Pedang Kesetanan tersenyum saat dia melihat Cakra Buana sudah datang. Dengan segera pemuda itu menghampiri sahabatnya.
Kondisinya benar-benar mengkhawatirkan. Janhanlan untuk berdiri, mengangkat tangannya pun sudah tidak sanggup. Di lihat sekilas saja bisa dipastikan bahwa nyawa Pendekar Pedang Kesetanan tidak akan tertolong lagi.
"Ca-cakra, kau sudah datang. Bagus, syukurlah kau dalam keadaan baik-baik saja. Ma-maafkan aku, aku tidak bisa menemanimu lebih jauh lagi. Perjuanganku hanya bisa sampai di sini saja. Aku sudah tidak kuat. Ini, aku menuliskan sesuatu di balik ini," kata Pendekar Pedang Kesetanan sambil memberikan kulit binatang yang berisi sesuatu. Diduga isinya hanyalah sebuah tulisan saja.
"Ca-cakra, kau harus bisa menghadapi semua musuhmu. berhati-hatilah, banyak orang yang ingin kau mati. Untung bahwa seminggu terakhir, aku berhasil membunuh musuhmu. Walaupun tidak banyak, setidaknya sedikit mengurangi bebanmu. Tapi untuk sekarang dan seterusnya, maafkan aku. Karena aku sudah tidak bisa lagi membantu dan ada di sisimu. Aku harap kau bisa memunaskan organisasi iblis itu hingga ke akar-akarnya. Kalau sudah begitu, aku akan mati dengan tenang," katanya dengan suara bergetar.
Pendekar Pedang Kesetanan meneteskan air mata. Begitupun dengan Cakra Buana.
Mereka memang baru kenal sebentar, tapi rasa saling ingin melindungi sudah tertanam kuat dalam hati keduanya.
Untuk menjadi sahabat sejati, tidak dibutuhkan waktu yang lama. Hanya saja perlu pembuktian yang benar-benar nyata.
Dan Pendekar Pedang Kesetanan sudah melakukan hal tersebut bagi Cakra Buana.
"Se-selamat tinggal …" kata Pendekar Pedang Kesetanan.
Saat bicaranya habis. Saat itu pula nyawanya sudah melayang.
__ADS_1