Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Dewa Pedang Mengoyak Gunung


__ADS_3

Melihat lawan sudah memutar-mutar tongkatnya dan siap untuk menyerang, Langlang Cakra Buana pun tak tinggal diam. Pemuda serba putih itu lalu mencabut kembali Pedang Pusaka Dewa dari sarungnya.


Pedangnya di silangkan didepan dada, kaki kanannya dijulur agak ke depan sedikit menekuk. Kaki kiri di belakang dan tangan kiri didepan pedang.


Kini murid Eyang Resi Patok Pati itu sudah bersiap untuk menyambut serangan yang akan datang. Benar saja, tak lama setelah dia mengambil kuda-kuda, pria paruh baya itu sudah memberikan sebuah serangannya.


Dia menusukkan tongkat berkepala tengkoraknya dari jarak jauh, terlihat ada sinar berwarna hitam melesat ke arah Cakra Buana.


Pemuda serba putih itu mengelak dengan mudahnya. Tapi lagi-lagi sinar hitam menyerang dirinya. Bahkan semakin lama semakin banyak, sehingga Langlang Cakra Buana terpaksa harus berjumpalitan beberapa kali guna menghindarinya.


Pria paruh baya itu semakin lama semakin geram, karena pemuda yang kini menjadi lawannya dengan mudah mengelak semua serangan yang dia gencarkan.


"Bagus, kau mempunyai kepandaian yang lumayan tinggi. Sekarang aku mulai serius. Kita lihat, apakah kau bisa mengalahkan aku si Setan Tengkorak Putih …" kata pria paruh baya yang mengaku berjuluk Setan Tengkorak Putih itu.


Langlang Cakra Buana tidak menjawab, dia hanya menajamkan kewaspadaannya saja. Matanya menatap tajam ke arah Setan Tengkorak Putih, persis seperti harimau yang sedang mengintai mangsa.


"Haitt …"


Serangan datang, Setan Tengkorak Putih melompat dan mendarat tepat didepan Langlang Cakra Buana. Dia langsung mengayunkan tongkat pusakanya itu.


Cakra Buana mengelak, tongkat yang menyambar ke arah wajah itu pun luput. Tak berhenti sampai disitu, pria paruh baya itu kembali memberikan serangan.


Kini tongkat berkepala tengkorak miliknya mulai di ayunkan tiada henti, tongkat itu berubah menjadi layaknya kincir. Putarannya begitu cepat hingga mendatangkan deru angin yang tajam.


Tapi meskipun begitu, murid Eyang Resi Patok Pati itu dengan sigap menahan semua serangan Setan Tengkorak Putih.


Pedang Pusaka Dewa miliknya mampu menangkis semua serangan yang terlihat banyak itu. Kemana pun tongkat bergerak, maka pedangnya selalu siap menangkis.


"Trangg … trangg … trangg …"


Kedua buah benda pusaka itu beradu hingga menimbulkan suara yang sedikit ngilu. Percikan bunga api berpijar, dan kilauan cahaya putih dan hitam nampak menggulung-gulung mengurung keduanya.


"Haittt …"


Setan Tengkorak Putih menggerakkan tongkatnya lebih cepat. Bahkan kali ini ada hawa panas disetiap ayunannya. Inilah kehebatan jurus "Tongkat Bara Api".

__ADS_1


Semakin lama, gerakannya semakin tidak terlihat. Bahkan tongkatnya terlihat lebih banyak daripada tadi.


Langlang Cakra Buana mulai kewalahan, beberapa kali ulu hatinya hampir menjadi sasaran empuk.


"Hiyaa … plakk …"


Tongkat Setan Tengkorak Putih dengan telak memukul pipi Pendekar Maung Kulon itu. Hingga membuatnya terpental sampai berputar dua kali lalu jatuh bergulingan.


Langlang Cakra Buana mencoba bangun kembali. Dari sudut bibir kirinya, ada sedikit darah kental agak kehitaman keluar. Dia mengusut darah itu sebelum bangkit untuk melanjutkan pertarungan kembali.


"Hahaha … satu kali terkena ujung kepala tongkatku saja sudah kesakitan. Dasar lemah …" kata Setan Tengkorak Putih sambil tertawa mengejek.


"Aku hanya menguji sampai dimana kepandaianmu. Ternyata hanya segini saja," kata Langlang Cakra Buana memanas-manasi musuhnya.


"Pedang Seribu Bayangan …"


Langlang Cakra Buana mengeluarkan jurus keenam dari Kitab Dewa Bermain Pedang. Dia menyerang dengan gerakan kilat.


Pedangnya menyambar ke seluruh bagian musuh. Saking cepatnya, bahkan Pedang Pusaka Dewa terlihat seperti ada seribu.


Keduanya kembali bertarung dengan sengit. Mereka sama-sama memiliki gerakan yang luar biasa. Tapi semakin lama, Setan Tengkorak Putih terlihat semakin kewalahan.


"Brett …"


"Ahhh …"


Bajunya dibagian perut Setan Tengkorak Putih robek agak besar. Dia mundur beberapa langkah lalu melihat perutnya. Ternyata yang robek bukan hanya bajunya, melainkan perutnya juga berhasil dirobek cukup dalam.


Buru-buru iblis itu menotok jalan darah supaya tidak terus keluar. Matanya menatap lebih tajam dan megandung kebencian kepada Langlang Cakra Buana.


"Ajian Tengkorak Putih …"


Tiba-tiba angin berseru kencang. Suara tawa dedemit mendadak terdengar riuh. Tak lama, muncul setan tengkorak didepan pria paruh baya itu.


Setan itu seperti mengerti akan tuannya, sehingga dia langsung melesat ke arah Langlang Cakra Buana dan memberikan serangan hebat.

__ADS_1


Hanya dalam dua kedipan mata, setan itu sudah berada didepannya lalu mengayunkan tongkat yang berkepala seperti arit tajam sebagai senjatanya.


Setan Tengkorak Putih tersenyum puas, kemudian dia pun ikut menyerang bersama ajiannya sendiri. Sebenarnya ini adalah ajian andalan dirinya, Ajian Tengkorak Putih.


Jarang ada orang yang bisa keluar tanpa terluka jika dia sudah mengeluarkan ajian ini. Karena itulah dia menamai dirinya sendiri dengan sebutan Setan Tengkorak Putih yang diambil dari nama ajiannya sendiri.


Beberapa saat lamanya Cakra Buana hanya bisa menghindar. Entah sudah berapa kali tubuhnya terkena pukulan bagian tengah tongkat itu.


Hanya pukulan tongkatnya saja memberikan rasa sakit yang hebat. Apalagi ujungnya yang seperti arit tajam itu.


Karena sudah tidak ada jalan lain lagi, maka pemuda serba putih itu pun mengeluarkan jurusnya yang lebih tinggi lagi.


"Dewa Pedang Mengoyak Gunung


…"


"Wushh …"


Langlang Cakra Buana mengubah gaya serangnya. Kali ini pedangnya berkelebat lebih cepat. Pedang itu bergerak memutar dan kadang menusuk serta mencabik-cabik. Seperti siap mengoyak mangsanya.


Lalu tak lama kemudian, Pedang Pusaka Dewa dengan telak menyambar keduanya.


"Brett …"


"Grrrr …"


"Breatt …"


"Ahhh …"


Pedang Pusaka Dewa dengan telak mengoyak dada Setan Tengkorak Putih berikut dengan ajiannya. Setang tengkorak mendadak lenyap. Sedangkan tuannya limbung sesaat sebelum akhirnya tewas dengan tangan memegangi lukanya yang dipenuhi oleh darah.


"Hahhh … merepotkan." kata Langlang Cakra Buana sambil memandangi mayatnya.


Lalu dia pun kembali masuk ke dalam goa dimana ada para gadis yang ditawan disana. Pemuda serha putih itu segera membebaskan gadis-gadis tersebut.

__ADS_1


Awalnya para gadis ketakutan kepada pemuda itu. Tapi setelah dijelaskan, barulah mereka lega.


Setelah semuanya bebas, lalu Langlang Cakra Buana pun mengantarkan para gadis pulang kembali ke rumahnya masing-masing.


__ADS_2