Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pendekar Misterius


__ADS_3

Ling Zhi dan Raden Kalacakra segera menghampiri Cakra Buana setelah pertarungannya selesai.


"Kakang, kau tidak papa?" tanya Ling Zhi.


"Tidak Ling Zhi, jangan khawatir. Aku mau menguburkan orang-orang ini, kalian pergilah duluan," ucap Cakra Buana.


Keduanya mengangguk. Mereka segera naik ke kuda sambil membawa jasad Sanca dan Dadung Amuk.


Sedangkan Cakra Buana sendiri kemudian mencari sebuah lahan kosong agak lebar untuk membuat lubang. Setelah menemukan lahan yang cocok, dia segera menggali lubang berdiameter cukup besar.


Sepeminum teh kemudian, pemuda serba putih itu telah selesai menggali lubang. Segera saja Cakra Buana melemparkan mayat-mayat itu lalu ia kubur. Kemudian dia segera menyusul Ling Zhi dan Raden Kalacakra.


Sesampainya di Istana Kerajaan, para prajurit dibuat terkejut karena kedua pemimpin mereka telah tewas mengenaskan. Para prajurit itu segera membawa jasad Sanca dan Dadung Amuk.


Karena perintah dari Raden Kalacakra, maka prajurit itu langsung menguburkan jasad dua pemimpin mereka di sebuah halaman belakang yang di khususkan jadi makam orang-orang istana bagian kelas bawah.


Tak lama, terlihat Cakra Buana pun telah sampai. Ketiganya lalu masuk kembali ke dalam Istana Kerajaan.


###


Tidak terasa, waktu untuk penyerangan hanya tinggal seminggu lagi. Orang-orang di Kerajaan Tunggilis sedang sibuk melakukan persiapan untuk pedang besar nanti. Para pemanah, menyiapkan anak panah mereka dari sekarang.


Prajurit yang menggunakan pedang dan tombak, sedang mengsah senjata-senjata mereka. Semuanya sibuk mempersiapkan sesuatu yang memang penting untuk kelangsungan perang.


Beberapa hari lalu, para pendekar yang bersatu bersama Kerajaan Tunggilis datang memberikan laporan. Ada sebuah berita baru yang ternyata sedang terjadi di rimba persilatan. Walaupun berita ini tidak terlalu menggemparkan, tapi terasa cukup membuat orang untuk sedikit terkejut.


Pasalnya karena setiap malam, para pendekar yang membantu Kerajaan Kawasenan, pasti ada yang menemui ajal mereka.


Entah itu mau lima orang, atau sepuluh orang sekalipun, pasti ada yang tewas setiap malamnya. Entah siapa pelakunya. Tapi yang jelas, berita ini membuat Prabu Katapangan dan pihak Kerajaan Tunggilis lainnya merasa sangat gembira.


Walaupun para pendekar yang tewas itu bukan merupakan pendekar kelas atas, tapi hal ini saja sudah merupakan sebuah keuntungan. Sebab pada akhirnya sedikit demi sedikit kekuatan musuh telah berkurang.


Hanya saja yang menjadi pertanyaan, siapa pelakunya yang telah membunuh para pendekar ini?


Tidak ada yang mengetahuinya sampai sekarang juga. Sebab pelaku itu bergerak secara senyap sekali. Bagaikan hantu gentayangan, ketika dia muncul, pasti tidak ada orang lain yang akan mengetahuinya.


Yang lebih hebat lagi, 'hantu' ini selalu membunuh semua pendekar yang dia temui. Tidak ada yang bisa selamat dari tangannya. Karena itulah, sampai sekarang kejadian ini masih misterius dan dipenuhi tanda tanya.


Dan karena kejadian ini, pihak Kerajaan Kawasenan dibuat geram. Prabu Ajiraga sudah menyuruh para pendekar kelas atas untuk menangkap 'hantu' tersebut. Sayangnya tidak ada yang berhasil.

__ADS_1


Sehingga kejadian ini menjadi masalah tersendiri bagi kerajaan besar tersebut.


Orang-orang itu tidak tahu, bahwa yang mereka sebut sebagai hantu itu adalah Cakra Buana. Seperti diceritakan sebelumnya, Cakra Buana pernah melakukan perjalanan meraga sukma dan membunuh beberapa pendekar yang ada di pihak Kerajaan Kawasenan.


Tentunya pendekar yang dia bunuh itu pendekar kelas menengah. Karena kalau kelas atas, mustahil bisa dilakukan dengan cara meraga sukma, kecuali kalau memang kepandaiam Cakra Buana sudah mencapai tahap tertinggi.


Kejadian meraga sukma seperti itu, dia lakukan secara terus-menerus hingga saat ini. Dan memang, Cakra Buana tidak menceritakan kepada siapapun terkait hal tersebut. Hanya dia sendiri yang tahu. Bahkan Ling Zhi pun tidak mengetahuinya.


Cakra Buana memang sengaja melakukan hal ini karena dia ingin mengurangi kekuatan di pihak musuh. Setidaknya dengan cara ini, dia telah meringankan beban orang-orang yang berada di pihaknya sendiri.


Saat ini beberapa orang termasuk Cakra Buana, sedang berkumpul di ruangan utama Istana Kerajaan. Hari masih pagi, tapi keadaan seperti biasanya. Sudah ramai seperti sebuah pasar.


Orang-orang itu berbicara sambil menikmati seduhan teh hangat dan kopi pahit, tergantung sesuai selera. Selain itu, ada juga berbagai cemilan berupa ubi rebus, singkong rebus, dan lain sebagainya.


Awalnya mereka semua berbicara sambil diselingi sebuah candaan, tetapi semua itu berubah ketika Prabu Katapangan bertanya tentang kematian para pendekar yang memihak kepada Kerajaan Kawasenan. Dia sungguh penasaran terhadap siapa pembunuhnya tersebut


"Aku sendiri tidak tahu Baginda Raja. Tapi yang jelas, siapapun dia, kita harus mengucapkan terimakasih jika suatu saat bertemu dengannya," kata Pendekar Tangan Seribu.


"Benar, bagaimanapun juga, orang itu secara tidak langsung sudah membantu kita," kata Kakek Sakti.


"Sepertinya pendekar misterius itu berada di pihak kita. Hanya saja, dia tidak mau menampakkan dirinya. Terkait alasannya apa, hanya dia sendiri yang tahu," kata Ling Zhi lalu disetujui oleh orang-orang yang hadir di sana.


"Pangeran, menurutmu sendiri bagaimana?" tanya Ling Zhi kepada Cakra Buana.


"Bagaimana apanya?" tanya balik Cakra Buana.


"Bagaimana pandanganmu terhadap pendekar misterius itu?" tanya Ling Zhi gemas karena Cakra Buana seperti mengabaikannya.


Tapi Cakra Buana tidak menjawab. Dia masih tetap asyik memakan ubi rebus kesukaaanya sambil sesekali minum teh hangat.


"Pangeran," kata Ling Zhi semakin gemas.


"Ehh … euu, anu, ada apa Ling Zhi?" Cakra Buana terlihat gelagapan.


Hal ini tak lepas dari perhatian semua orang yang ada di sana.


"Haihh, bagaimana pandanganmu terhadap pendekar misterius?" Ling Zhi mengulangi pertanyaannya dengan nada sedikit kesal.


"Eumm euu … bagus, bagus. Menurutku bagus. Kita harus mengucapkan terimakasih," kata Cakra Buana gugup.

__ADS_1


"Berterimakasih kepada siapa?" desak Ling Zhi lagi.


"Tentu saja kepadaku," katanya mendadak. Kemudian dia meralat ucapannya barusan. "Ma-maksudku tentu saja kepada pendekar misterius itu,"


'Tidak biasanya keponakanku seperti ini,' batin Prabu Katapangan Kresna. Diam-diam dia menaruh curiga terhadap Cakra Buana.


"Haishh, kau ini," Ling Zhi mendengus kesal karenanya.


###


Tengah malam telah tiba. Rembulan sudah tepat berada di bagian atas kepala. Udara dingin terasa sedikit menusuk tulang. Situasi di Kerajaan Tunggilis, sudah sepi karena orang-orangnya sudah beristirahat.


Di sebuah kamar, Prabu Katapangan masih terjaga. Dia sedang duduk bersila di sebuah ruangan kecil tempatnya bersemedi, letak ruangan tersebut masih di dalam kamar pribadinya.


Raja itu masih sangat penasaran terhadap pendekar misterius yang disamakan dengan hantu. Tapi dibalik itu, dia sendiri entah kenapa jadi ada rasa curiga terhadap Cakra Buana.


Hal ini didasari karena tingkah Cakra Buana saat tadi pagi mereka menceritakan tentang kejadiannya. Entah kenapa, Prabu Katapangan Kresna melihat bahwa Cakra Buana seperti merahasiakan sesuatu.


Dari ekspresi saat menceritakan pendekar misterius itu, Prabu Katapangan melihat hal lain dari wajah Cakra Buana.


Karena itulah saat ini dia berniat untuk meraga sukma. Dia ingin tahu kejadian yang sebenarnya.


Pertama-tama, Prabu Katapangan meraga sukma melihat ke kamar Cakra Buana. Kamar keponakannya itu sudah gelap gulita, hanya ada beberapa buah lilin yang masih menyala.


Diam-diam sukmanya mengintip ke dalam dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Cakra Buana.


Ternyata keponakannya sedang duduk bersila. Tak lama dia pun melihat sukma Cakra Buana keluar kemudian pergi ke suatu tempat.


Sukma raja itu segera mengikuti sukma Cakra Buana dengan sukmanya sendiri.


Setelah beberapa saat, sukma Cakra Buana berhenti di sebuah bangunan tua. Di dalam bangunan itu ternyata ada beberapa orang pendekar yang diduga memihak kepada Kerajaan Tunggilis.


Sukma Cakra Buana kemudian masuk ke dalam bangunan tua tersebut. Sedangkan sukma Prabu Katapangan, memperhatikan gerak-geriknya dari jarak cukup jauh.


Tak berselang lama, ada sekitar delapan orang berpakain pendekar tiba-tiba keluar menuju halaman. Kemudian mereka itu mengurung Cakra Buana.


Tanpa sebab pasti, pertarungan kini telah terjadi. Sukma Prabu Katapangan memandang pertarungan itu dengan senyuman.


"Dugaanku tidak salah. Ternyata memang dia pelakunya," kata sukma Prabu Katapangan.

__ADS_1


Karena tidak ingin ketahuan, dia pun segera kembali lagi ke raganya. Niatnya sudah tercapai. Rasa penasarannya sudah terjawab. Dan karena ini, dia semakin bangga kepada Cakra Buana.


Ternyata memang benar, yang dimaksud pendekar misterius, adalah Cakra Buana sendiri orangnya.


__ADS_2