
Karena melihat sepak terjang Cakra Buana semakin lama semakin dahsyat, Dewa Tapak Racun tidak tinggal diam lagi. Tenaga dalamnya dikeluarkan semakin besar, kedua telapak tangannya menghijau. Bahkan hijaunya lebih pekat daripada daun segar sekalipun.
Asap putih mengepul dari kedua telapak tangan tersebut. Bau busuk segera menyeruak ke sekelilingnya. Mereka yang tidak kuat menahan baunya, akan memilih untuk kabur atau menutup hidung dengan kedua tangannya.
Cakra Buana sendiri melompat mundur lalu menghentikan serangannya. Untuk sesaat dia menutup hidung karena tidak kuat menahan bau itu. Tapi baru saja bernafas beberapa helaan, Pendekar Maung Kulon merasa dadanya sedikit sesak.
"Racun …" desis Cakra Buana.
Buru-buru dia menyalurkan hawa murni untuk menekan racun tersebut.
Dewa Tapak Racun yang melihat Cakra Buana sedang memulihkan diri dari racunnya, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan gerakat secepat kedipan mata, dia mengirimkan serangan dengan telapak tangan kanannya.
Serangan tersebut membawa kesiur angin yang tajam bagaikan pisau. Selain itu, bau busuk semakin menyengat hidung. Cakra Buana selalu waspada, maka ketika serangan lawan telah dekat, dia membuka matanya lalu menghindari serangan dengan cara melompat ke samping kiri.
Dewa Tapak Racun tidak menyangka bahwa Cakra Buana dapat menghindari serangannya secara mendadak, padahal dia sudah menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, selain itu, dia juga menekankan kecepatan kecepatannya sehingga menjadi dua kali lipat.
Jangankan pendekar kelas atas, sekalipun itu Prabu Katapangan, tidak ada jaminan bisa menghindari serangan barusan. Tetapi pasa saat ini, seorang pendekar muda mampu menghindari serangan maut tersebut.
Maka dengan perasan amarah yang sudah memuncak, dia kembali menyerang Cakra Buana tanpa ampun.
Pendekar Maung Kulon saat itu sudah berhasil memulihkan dirinya, maka ketika serangan susulan datang, dia telah bersiap kembali. Kedua tangannya masih membentuk cakar harimau.
Dia menyambut serangan yang datang, kakinya terbang memberikan tendangan kuat. Tetapi serangan itu berhasil ditangkis oleh para dua tangan Dewa Tapak Racun. Buru-buru dia melepaskan kakinya dengan cara menendang bagian dada lawan.
Dewa Tapak Racun kembali berhasil berkelit. Segera kedua tapaknya menyerang bagian pundak kanan dan dada Cakra Buana. Tetapi kali ini dia sudah tahu bagaimana ganasnya telapak tangan lawan, maka dengan gerakan kilat, Pendekar Maung Kulon mampu memapak tepat di tengah bagian tangan tanpa menyentuh telapaknya.
__ADS_1
Dewa Tapak Racun tersentak ke belakang. Tapi itu hanya sesaat, karena detik berikutnya serangan yang lebih dahsyat kembali dia lancarkan.
Dengan jurus Racun Seribu Kalajengking, dia melesat cepat ke arah Cakra Buana. Kedua tangannya dia gerakkan dengan cepat sehingga Cakra Buana merasa sedikit kewalahan.
Dia tahu bahwa jurus Racun Seribu Kalajengking bukanlah sembarangan sembarangan. Andai kata dia terkena jurus racun ganas ini, sulit baginya untuk bertahan lebih dari sepuluh menit.
Oleh sebab itu, Cakra Buana juga mengeluarkan ilmu hebat lainnya. Jurus Harimau Mengguncang Semesta yang merupakan jurus terakhir dari Kitab Maung Mega Mendung sudah keluar, tenaganya jauh lebih dahsyat dua kali lipat.
Cakra Buana mengaum dengan sangat keras. Tempat sekitar dibuat bergetar karenanya. Angin berhembus dengan kencang. Perubahan mulai terlihat jelas, kedua bola mata Cakra Buana berubah menguning. Kuku ghaib segera keluar. Dua taring mendadak muncul.
Dengan tenaga dahsyat, dia menyapu tempat sekitar sehingga menerbangkan debu dan bebatuan. Tubuhnya melesat menyambut serangan yang datang.
Dewa Tapak Racun semakin tersentak. Dia tidak menyangka bahwa Cakra Buana masih menyimpan sejumlah jurus dan tenaga dalam yang besar.
"Kalau begini caranya, aku bisa tewas jika tidak mengeluarkan jurus yang setara dengannya. Baiklah, mungkin ini saat yang tepat untuk mengeluarkan jurus itu," gumamnya lalu menyalurkan tenaga dalam.
"Wushh …"
Dua telapak tangan yang tadinya berwarna hijau, kini berubah menjadi kehitaman. Bukan saja telapaknya, bahkan seluruh bagian tangannya turut berubah.
Dua jurus tingkat tinggi segera bertemu di udara. Kedua pendekar tersebut kembali bertarung dengan sengit. Pukulan dan tapak beradu menimbulkan gelombang kejut yang besar. Kejadian ini bahkan membuat orang-orang yang ada di sekitarnya terkejut. Mereka menjauh supaya tidak terkena imbasnya.
Keduanya tersebut bertarung seperti itu, semakin lama semakin sengit. Cakra Buana menyerang bagaikan harimau, Dewa Tapak Racun bergerak seperti seekor ular berbisa.
Pertarungan ini, benar-benar menjadi tontonan istimewa bagi semua orang.
__ADS_1
Sementara itu di sisi lain, pertarungan Dewa Tombak melawan empat pendekar yaitu Raden Kalacakra, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti serta Jalak Putih berjalan dengan sengit.
Keempat pendekar tersebut menyerang dari berbagai sisi. Raden Kalacakra menyerang ganas dengan kedua tangannya yang selalu memancarkan sinar kehijauan. Sepasang Kakek dan Nenek Sakti menyerang dengan pedang pusaka mereka. Sedangkan Jalak Putih, kipas saktinya telah dia kibaskan dari tadi sehingga selalu menimbulkan deru angin dahsyat.
Semua serangan itu tidak ada yang tidak berbahaya, semuanya merupakan serangan maut. Jurus keempat pendekar tersebut sangatlah hebat.
Tetapi di samping itu, lawan mereka juga bukanlah orang sembarangan. Seorang murid dari Penguasa Kegelapan, tidak ada yang bisa dipandang remeh. Kemampuan masing-masing dari mereka sudah mencapai taraf sempurna.
Apalagi Dewa Tombak terkenal dengan jurus-jurus tombaknya yang cepat serta mematikan. Jarang ada orang yang bisa lepas tanpa terluka dari tangannya.
Waktu muda, dia sudah mempunyai nama yang cukup terkenal di dunia persilatan serta kemampuannya bisa mengalahkan para pendekar yang umurnya lebih tua. Maka tidak heran jika dalam usia lanjut, dia menjadi seorang yang memiliki kemampuan sangat tinggi.
Dengan tenangnya dia menghindari satu-persatu serangan tersebut. Tombak di tangannya bergerak menusuk beberapa bagian penting di tubuh masing-masing lawan. Gerakannya sangat gesit dan mengandung tenaga dalam tinggi.
Betapapun kerasnya empat pendekar menyerang Dewa Tombak, tetap saja mereka tidak bisa mendesaknya terlalu lama. Terkadang dalam beberapa gebrakan saja, justru keadaan berubah terbalik.
Sepak terjang Dewa Tombak membuat keempatnya menjadi sedikit gentar. Mereka sadar tidak bisa mengalahkan Dewa Tombak dengan mudah, oleh sebab itu Sepasang Kakek dan Nenek Sakti lebih dulu mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Dua pasangan tua itu menyerang dari sisi kanan dan kiri. Pedang mereka bergerak menyabet ke berbagai bagian tubuh Dewa Tombak. Setiap sabetannya menebarkan kabar kematian. Tetapi Dewa Tombak lebih dahsyat lagi.
Tombak tersebut mengeluarkan sinar merah ketika digerakkan menyabet atau menusuk. Gerakannya tak kalah cepat dari Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.
Sementara itu, pertarungan Dewa Trisula Perak melawan Ling Zhi, Pendekar Tangan Seribu dan Gagak Bodas berjalan menegangkan. Dari ketiga pertarungan, agaknya hanya pertarungan mereka yang berjalan tidak seimbang.
Ketiga pendekar tersebut bukanlah lawan yang tepat bagi Dewa Trisula Perak. Walaupun mereka setara dengan pendekar pilih tanding, tetapi dalam pengalaman masih kalah jauh dengan Dewa Trisula Perak. Kecuali hanya Gagak Bodas yang bisa menyamai pengalamannya.
__ADS_1
Saat ini Dewa Trisula Perak sedang menggempur Pendekar Tangan Seribu. Trisula pusakanya bergerak menusuk ke titikk berbahaya. Setelah lewat lima belas jurus, Pendekar Tangan Seribu merasa kewalahan.
Punggungnya robek sedikit terkena ujung trisula pusaka. Darah segera membasahi pakaiannya. Walaupun tidak terlalu dalam, tetapi rasa perih mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.