Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pergi ke Kerajaan Kawasenan


__ADS_3

Keesokan harinya tepat pada pagi-pagi setelah selesai sarapan, Prabu Katapangan Kresna memanggil seorang pendekar yang dimiliki oleh Kerajaan Tunggilis.


"Hamba menghadap baginda raja. Tugas apakah yang akan baginda berikan untuk hamba?" tanya pendekar tersebut sambil memberikan hormatnya.


"Kau pergilah ke Kerajaan Kawasenan. Berikan suratku ini untuk Raja Ajiraga Wijaya Kusuma," kata Prabu Katapangan sambil memberikan surat yang dibungkus oleh kulit hewan.


"Baik baginda, aku akan berangkat sekarang juga," ucap pendekar tersebut lalu pergi dari hadapan Prabu Katapangan.


Pendekar yang di utus oleh raja Tunggilis itu mendapatkan julukan Pendekar Tangan Seribu. Pendekar Tangan Seribu merupakan salah satu orang-orang kepercayaan Prabu Katapangan Kresna. Dia sudah sejak lama ikut Kerajaan Tunggilis, hanya saja dirinya jarang muncul di dunia persilatan. Bahkan dia jarang keluar istana kalau tidak ada perintah dari junjungannya.


Pendekar Tangan Seribu sudah punya nama dalam dunia persilatan. Di kalangan rimba hijau, jurus Tangan Seribu miliknya sudah terkenal. Bahkan beberapa pendekar merasa jeri jika bertarung dengannya. Jurus Tangan Seribu ditakuti lawan dan disegani kawan karena kehebatannya.


Jika si pengguna sudah mengeluarkan jurus ini, maka jarang lawan yang bisa menghindari setiap serangannya. Kecuali mereka yang kepandaiannya lebih tinggi. Sebab jika pemiliknya sudah mengeluarkan jurus Tangan Seribu, maka lawan akan melihat dia seolah mempunyai seribu tangan.


Padahal aslinya tidak demikian, jurus Tangan Seribu hanya mengandalkan kecepatan. Semakin cepat gerakannya, maka semakin hebat juga efeknya. Semakin cepat, semakin terlihat banyak bayangan tangannya. Karena itulah jurus ini di beri nama Seribu Tangan.


Pendekar Tangan Seribu sudah memilih kuda berwarna hitam kecokelatan yang dimiliki kerajaan. Kuda itu memang biasa ia pakai kalau mendapatkan tugas. Tubuhnya yang kekar dan warnanya yang gelap, sangat cocok dengan dirinya.


Tapi sebelum ia keluar dari istana kerajaan, tiba-tiba seseorang memanggilnya cukup kencang. Pendekar Tangan Seribu menghentikan kudanya, ia menengok ke belakang dan ternyata Cakra Buana sudah ada di belakangnya.


"Paman, kau mau ke mana?" tanya Cakra Buana penasaran.


"Aku mendapatkan titah dari baginda raja pangeran," jawab Pendekar Tangan Seribu.


"Apakah aku boleh tahu tujuanmu?"


"Euumm," PendekarTangan Seribu berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menjawab. "Baiklah, aku beri tahu. Aku akan pergi ke Kerajaan Kawasenan untuk mengirimkan surat dari baginda raja,"


"Aku ikut," kata Cakra Buana.


"Jangan pangeran. Terlalu berbahaya untukmu. Aku tidak mau kau berada dalam masalah, di luar pasti banyak pendekar yang masih mencari-cari dirimu,"


"Kau tenanglah paman. Aku bisa menjaga diri. Aku ingin melihat dunia luar, sudah lama tidak pergi mengembara," ucap Cakra Buana.

__ADS_1


"Tapi …"


"Tunggu sebentar. Aku akan minta izin pada paman. Kau tunggu di sini," kata Cakra Buana.


"Hahhh … baiklah," jawab Pendekar Tangan Seribu.


Setelah berkata demikian, Cakra Buana lalu memasuki istana kerajaan. Dia langsung menuju ke ruangan utama di mana sang raja selalu duduk di singgasananya.


"Paman, mohon izinkan aku untuk ikut bersama paman Pendekar Tangan Seribu," kata Cakra Buana sedikit memohon.


"Jangan Cakra. Kau masih menjadi buruan orang. Aku tidak ingin kau celaka,"


"Paman, aku bisa menjaga diri. Lagi pula, aku akan memakai topeng supaya tidak ada yang tahu," katanya 'keukeuh'.


Prabu Katapangan Kresna hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Dia sudah tahu bagaimana watak keponakannya itu. Semakin dilarang, maka akan semakin nekad.


"Baiklah kalau begitu. Asal kau hati-hati selama di perjalanan. Jangan gegabah, harus tetap hati-hati sebab musuh bisa ada di mana saja," kata Prabu Katapangan mengingatkan.


"Paman tenang saja, aku sudah faham," katanya.


"Tidak paman, dia tidak boleh ikut. Lukanya belum sembuh, lagi pula aku tidak bicara kepada Ling Zhi,"


"Baguslah. Biarkan dia di sini menemani bibimu –Ratu–,"


"Baik paman. Kalau begitu aku berangkat sekarang. Sampurasun," kata Cakra Buana lalu pergi dari ruangan utama.


"Rampes …" jawab Prabu Katapangan Kresna sambil memandang Cakra Buana yang melangkah pergi.


Setelah mengganti pakaian dan menyiapkan perbekalan untuk di jalan, Cakra Buana segera menemui Pendekar Tangan Seribu. Pemuda serba putih itu memakai topeng kayu yang memiliki ukiran indah.


"Ayo paman kita berangkat sekarang," ajak Cakra Buana setelah menaiki kuda putih yang bisa menemani dirinya.


"Baik pangeran,"

__ADS_1


Keduanya menjalankan kuda perlahan. Setelah sampai di pintu gerbang kerajaan, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu lalu melarikan kuda mereka dengan kencang. Keduanya tidak mau menunda-nunda waktu, karena bagi mereka waktu adalah pedang.


Menjelang sore hari, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu tiba di sebuah desa yang bernama Cigayam. Keduanya mencari penginapan sekaligus tempat makan yang ada di sana.


"Paman, di depan ada penginapan dan kedai makan, kita bermalam di sana saja," usul Cakra Buana.


"Baik pangeran,"


Suasana di tempat itu lumayan ramai. Hampir tidak ada tempat kosong kecuali di pojokan. Mau tidak mau Cakra Buana duduk di sana. Pendekar Tangan Seribu memesan kamar dan makan dulu sebelum ia duduk.


Sambil menunggu makanan yang di pesan, keduanya memperhatikan setiap pengunjung yang datang ke sana. Rata-rata pengunjung yang datang itu merupakan orang dari kalangan dunia persilatan, dan mereka datang secara berkelompok.


Cakra Buana memperhatikan lima orang yang ada di depan sebelah kanannya. Jaraknya hanya sekitar dua meja. Pendekar Maung Kulon itu merasa curiga kepada lima orang tersebut. Sebab dari yang ia lihat, mereka bertampang bengis dan sepertinya sedang membicarakan sesuatu.


Cakra Buana lalu mengeluarkan Ajian Saptapanguru supaya ia bisa mendengar jelas apa yang sedang dibicarakan kelima orang itu.


"Paman, apakah kau merasa ada yang aneh dengan kelima orang tersebut?" tanya Cakra Buana kepada Pendekar Tangan Seribu.


"Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting pangeran. Di lihat dari cara mereka bicara, pasti hal ini sangat rahasia," kata Pendekar Tangan Seribu.


Cakra Buana hanya mengangguk. Dia lalu mendengarkan baik-baik apa yang sedang di bicarakan.


"Kakang, bagaimana rencana penyerangan terhadap Perguruan Rajawali Putih. Apakah semuanya sudah kau siapkan?" tanya salah seorang yang memakai pakaian hitam kelabu.


"Kau tenang saja. Semuanya sudah aku atur, aku sudah menyimpan orang-orangku di dalam perguruan itu. Saat penyerangan nanti, mereka tidak akan sanggup menghadapi Perguruan Ular Sendok," kata orang yang dipanggil kakang itu, dia mengenakan baju hitam pekat dan ada lambang ular kobra di bagian punggungnya.


"Baiklah, kalau begitu selesai makan kita harus segera pulang ke perguruan untuk memberitahukan kepada guru, bahwa kita sudah menjalankan rencana dengan mulus," kata yang satunya lagi.


"Baik," ucap mereka serentak.


Cakra Buana sempat berpikir sebentar. Dia pernah mendengar tentang Perguruan Rajawali Putih. Menurutnya, perguruan itu beraliran putih. Sama seperti dirinya, tapi kalau tentang Perguruan Ular Sendok, Cakra Buana baru mendengarnya kali ini. Hanya saja meskipun baru mendengar, namun Pendekar Maung Kulon itu bisa menebak bahwa perguruan tersebut beraliran hitam.


"Pangeran, apakah kau mendengar dan sudah tahu apa yang mereka ucapkan? Aku semakin penasaran," kata Pendekar Tangan Seribu.

__ADS_1


"Iya paman. Aku sudah mendengar apa yang mereka bicarakan. Nanti aku akan memberitahumu saat di kamar," ucap Cakra Buana tidak jadi bercerita karena makanan yang mereka pesan sudah datang.


__ADS_2