
Tak terasa, satu purnama sudah lewat. Itu artinya Cakra Buana, Ling Zhi dan Raden Kalacakra Mangkubumi sudah berlatih di bawah bimbingan Prabu Katapangan Kresna selama satu bulan sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Selama satu purnama itu, ketiga orang muda tersebut berlatih tanpa kenal lelah. Mereka bertiga berlatih siang dan malam. Jadwal istirahat hanya sebentar. Paling hanya untuk makan dan minum serta kebutuhan pokok lainnya. Sedangkan untuk tidur, ketiganya paling hanya tiga jam dalam sehari semalam.
Ini semua mereka lakukan supaya tidak membuat sang prabu kecewa. Juga, ketiganya ingin menjadi pendekar-pendekar hebat yang dapat menolong orang susah dan membantu mereka yang membutuhkan.
Karena tekad kuat dan kemauan keras yang dimiliki tiga orang muda ini, Prabu Katapangan menjadi sangat senang sekali. Dia merasa tidak menyesal karena sudah menurunkan sedikit ilmunya.
Hasil yang memuaskan hanya akan dicapai dengan kemauan yang keras. Buah pun mentah dahulu sebelum matang. Begitu pun dalam kehidupan. Sebelum merasakan manisnya karena impian kita bisa terwujud, kita pasti akan merasakan pahitnya untuk menggapai impian itu. Setiap orang punya cerita tentang rasa pahit dan manis masing-masing.
Semakin tinggi impianmu, maka semakin pahit pula rasa perjuangannya. Tempa dirimu sebelum ditempa orang. Siksa dirimu sebelum disiksa orang. Jika orang belum menganggapmu 'gila', maka jadilah orang 'gila' sampai ada yang berkata, bahwa kau memang benar-benar 'gila'.
Dalam hidup, akan ada suatu pertanyaan yang tidak mampu kau jawab saat itu juga. Begitu pun dalam sebuah tulisan. Mungkin saat ini kau tak faham akan sebuah tulisan yang mengandung makna dalam. Tapi suatu saat, jika kau mengalami sebuah hal yang berhubungan, maka dengan sendirinya jawaban dari tulisan itu akan kau temukan sendiri.
Saat ini di hari sudah siang. Sang Surya telah berada tepat di atas kepala. Udara di hutan yang biasanya sejuk, sekarang terasa pengap karena matahari memancarkan sinarnya dengan sempurna tanpa sedikit halangan dari sang awan.
Di depan sebuah goa hutan kerajaan, Cakra Buana, Ling Zhi dan Raden Kalacakra Mangkubumi saat ini sedang menunggu kedatangan Prabu Katapangan Kresna yang asli. Mereka bertiga duduk pada batu hitam yang ada di sana. Sebelumnya dia memang sudah bicara bahwa jika nanti telah sampai satu purnama, maka Prabu Katapangan yang asli akan datang ke hutan tersebut untuk menguji langsung jurus-jurus yang sudah dia ajarkan kepada tiga orang itu.
Tak lama, tiba-tiba angin berhembus dengan kencang. Membawa terbang daun-daun kering dan debu beserta kerikilnya. Berbarengan dengan itu semua, dari atas turun satu sosok yang sangat berwibawa dengan baju mewah dan tubuh yang kokoh.
Tak salah lagi, dialah Prabu Katapangan Kresna. Orang yang sudah mengajari tiga ketiga muda tersebut dan, dia pula lah sedang di tunggu-tunggu kedatangannya. Mereka pun lalu bangun untuk memberikan hormatnya kepada sang raja.
"Kalian sudah lama menungguku? Maaf, aku sedikit terlambat," kata Prabu Katapangan.
"Tidak mengapa paman. Seharian pun kami akan tetap menunggumu," jawab Cakra Buana mewakili yang lain.
__ADS_1
"Terimakasih Cakra," kata Prabu sambil tersenyum.
Keempatnya duduk kembali sebelum melakukan pengujian. Mereka bercerita ringan untuk beberapa saat. Setelah di rasa puas, barulah Prabu Katapangan Kresna mulai berbicara serius.
"Baiklah. Aku rasa ini sudah saatnya untuk kita berlaku serius. Aku ingin lihat apakah kalian sudah benar-benar menguasai ilmu yang aku turunkan atau belum," kata Prabu Katapangan.
"Baik. Kami semua menunggu perintah dari ayahanda," ucap Raden Kalacakra Mangkubumi.
"Baiklah. Sekarang mari kita mulai,"
Cakra Buana, Ling Zhi dan Raden Kalacakra lalu melompat secara berbarengan. Saat ini mereka berdiri sejajar di lapangan tempat bertarungnya Cakra Buana melawan raga Prabu Katapangan pertama kali.
"Aku beri peraturan dulu. Dalam latih tanding ini, kalian tidak boleh menggunakan jurus apapun selain jurus yang aku ajarkan kemarin. Semakin matang kalian mempelajari jurus itu, maka semakin besar dan semakin hebat pula tenaga dalam serta serangan yang terkandung di dalamnya,"
"Baik. Kami mendengar semua perintah,"
"Faham,"
"Bagus,"
Keempat pendekar itu mulai melakukan persiapan. Cakra Buana, Raden Kalacakra dan Ling Zhi menghimpun tenaga dalam dengan jumlah besar. Setelah tenaga dalam terkumpul, ketiganya lalu melakukan posisi kuda-kuda.
Kaki kanan Cakra Buana di lebarkan ke kanan sedikit. Kaki kirinya agak ditarik ke belakang. Kedua tangan membentuk tapak. tangan kanan di depan, tangan kiri di samping pinggang. Posisinya sedikit nyerong. Inilah gerak awal Jurus Kedua Tapak Menghisap Matahari.
Ling Zhi dalam posisi lebih sederhana. Kaki kiri ke depan sedikit. Tangan kiri di julurkan ke depan membentuk tapak rapat. Sedangkan tangan kanan ia tarik ke belakang memegangi Pedang Bunga.
__ADS_1
Begitu pun dengan Raden Kalacakra. Ketiga orang muda itu memakai gerak awal dari jurus-jurus yang baru saja mereka selesaikan. Di posisi lain, sang prabu masih tetap berdiri tenang dengan tangan kiri di lipat ke belakang dan tangan kanan di julurkan ke depan membentuk tapak yang mengarah ke wajahnya sendiri. Dia berani bertindak seperti ini karena tahu bahwa ketiga orang muda itu tidak akan menggunakan jurus-jurus silat lainnya.
"Mulai …" teriak Prabu Katapangan Kresna
"Wushh …"
Angin berembus kencang seiring dimulainya ujian pertarungan tersebut. Cakra Buana, Ling Zhi dan Raden Kalacakra membagi posisi jadi tiga bagian. Cakra Buana mendapatkan posisi tengah.
Ini artinya, dia lah yang harus lebih banyak menggempur lawan. Pendekar Maung Kulon itu mulai memainkan jurus Kedua Tapak Menghisap Matahari. Gerakan silatnya gesit dengan kecepatan yang lumayan. Di balik telapak tangan itu, ada energi yang sangat panas bagaikan tersengat matahari di padang pasir.
Dari sisi kanan, Prabu Katapangan Kresna mendapatkan serangan beruntun dari anaknya, Raden Kalacakra. Anak sang raja itu bahkan terus menerus menyerang ayahnya tanpa sungkan. Pukulan-pukulan yang ia lancarkan berbahaya. Sebab semuanya sudah di aliri tenaga dalam.
Sedangkan dari bagian sisi kiri, ada Ling Zhi. Gadis blasteran Pasundan-Tiongkok itu memperlihatkan permainan pedang yang indah namun sangat mematikan. Gerakannya sangat cepat. Dari namanya saja sudah jelas, jurus Pedang Bayangan Sukma. Itu artinya, permainan pedang Ling Zhi seolah di mainkan oleh dua orang sekaligus.
Dis bergerak mengincar bagian rawan. Tusukan dan bacokan sudah ia lancarkan. Tiga serangan dari tiga sisi itu terus berusaha untuk memojokkan sang prabu. Sayangnya yang dia lawan bukanlah orang biasa.
Melainkan orang yang sudah menurunkan ketiga ilmu itu. Sehingga, sekuat apapun mereka menyerang, kalau hanya dengan jurus itu maka hasilnya akan percuma. Namum dengan kerja sama yang baik, setidaknya Cakra Buana dan dua lainnya mmapu membuat Prabu Katapangan merasa terpojok.
"Wuttt …"
"Wushh …"
"Plakk …"
Suara tapak, pukulan dan gerakan pedang terngiang-ngiang di telinga sang raja. Dia tak mau kalah, Prabu Katapangan mulai mengeluarkan jurus-jurus miliknya untuk meladeni tiga murid tak resmi itu.
__ADS_1
Prabu Katapangan Kresna beberapa saat sebelumnya berada di posisi bertahan. Pondasi raja itu sudah terkenal sangat sulit di jebol lawan. Dan sekarang terbukti, walau pun dirinya di serang dari tiga sisi, tapi tak ada satupun jurus yang mampu mengenai tubuhnya. Setidaknya untuk saat ini dia masih aman.