
Di lain sisi, Bidadari Penebar Maut yang bernama asli Ling Zhi, kekasih dari Cakra Buana, sedang bertarung melawan lima belas pendekar. Lima di antaranya pendekar kelas pilih tanding.
Wanita secantik bidadari itu sudah bertarung lebih dari tiga puluh jurus. Selama itu, dia masih bisa bertahan dengan jurus-jurusnya. Walaupun belum berada di atas angin, tapi Ling Zhi masih bisa mengimbangi lima belas kawannya.
Kelima belas lawan tidak menyangka bawah ada seorang pendekar wanita yang di usia mudanya sudah memiliki kekuatan pilih tanding seperti dia. Bahkan setengah lagi akan mencapai tanpa tanding.
Akan tetapi walaupun begitu, masing-masing pihak mendapatkan berbagai macam luka. Meskipun luka ringan, tapi tetap bisa di artikan bahwa pertarungan yang berbeda jumlah ini memang berjalan sengit.
Saat ini pertarungan mereka berhenti sejenak untuk sekedar mengambil nafas. Ling Zhi mulai merasa lelah, sehingga dia berkonsentrasi penuh dalam mengumpulkan tenaga dalamnya.
Wajah cantiknya memerah terkena sinar matahari yang panas menyengat. Walaupun begitu, tak dapat dipungkiri bahwa kecantikannya justru semakin terlihat jelas.
'Kalau terus seperti ini, entah sampai kapan aku harus bertrung melawan mereka. Berarti aku harus mengincar sepuluh pendekar yang kekuatannya lebih rendah. Betul, bagaimanapun caranya, aku harus bisa membunuh mereka terlebih dahulu," batin Ling Zhi sambil mengawasi kelima belas lawan.
Dia tidak merasa gentar ataupun takut. Hanya saja dirinya tidak mau pertarungan ini berjalan lama, karena hal itu akan menyia-nyiakan waktunya.
Di sisi lain, kelima belas pendekar pun memandangi Ling Zhi dengan tatapan ingin membunuh. Seolah wanita itu seperti seekor kelinci yang empuk untuk dijadikan sasaran. Hanya saja, kelinci itu bukanlah kelinci biasa. Sebab dia mampu mengimbangi kekuatan segerombolan serigala yang kelaparan.
'Tak disangka wanita ini memiliki kesakitan yang tinggi. Rasanya baru kali ini aku menemukan pendekar wanita yang masih muda namun memiliki kesaktian lebih,' batin seorang pendekar. Tak terasa hatinya sedikit gentar saat berkata demikian.
"Kenapa kalian masih diam, apa kalian kaget dengan kemampuanku?" Ling Zhi berkata untuk mengulur waktunya supaya dia bisa memulihkan tenaganya.
"Cih, wanita yang sombong. Belum tentu kau mampu melawan kami semua," balas seorang pendekar tak mau kalah.
"Belum tentu? Buktinya sampai sekarang aku masih hidup, bahkan bisa melukai kalian. Apakah ini masih juga belum cukup?"
"Kami memang sengaja mengalah supaya tahu sampai di mana batas kemampuanmu. Ternyata kau memiliki kekuatan yang lebih, aku salut padamu. Tapi sayangnya, kau belum cukup untuk menghadapi kami semua jika sudah mengeluarkan seluruh kekuatan,"
"Omong kosong," kata Ling Zhi dengan nada tinggi.
"Hehe, kalau kau tidak percaya, boleh saja lawan sepuluh rekan kami. Jika kau memang sanggup, baru melawan kami berlima," kata seorang pendekar tua dengan senyum mengejek.
__ADS_1
Pancingan Ling Zhi ternyata berhasil. Ini yang dia mau, kesempatan emas tidak akan datang dua kali. Sehingga wanita itu tidak mau menyia-nyiakannya. Sekaranglah saat yang tepat untuk mempersingkat pertarungan dan mengeluarkan kekuatannya sampai delapan puluh persen.
"Hemm, sepuluh orang seperti mereka mana cukup untuk melawanku. Mereka tidak jauh berbeda dengan sekelompok tikus," kata Ling Zhi memancing amarah lawan.
"*******. Aku robek mulutmu sekarang juga," kata seorang pendekar kelas menengah.
Selesai berkata, dia langsung menghunus kembali senjatanya lalu maju menyerang. Sembilan orang rekannya mengikutinya dari belakang.
Pancingan Ling Zhi berhasil. Dan semuanya tepat pada waktunya, tenaganya sudah puluh kembali. Maka tanpa menunggu lagi, Ling Zhi pun menghunus Pedang Bunga. Secepat kilat dia menyambut serangan.
Sepuluh serangan datang dari segala arah. Para pendekar tersebut sudah di kuasai oleh amarah, sehingga serangan yang datang pun tidak tanggung lagi.
Langit kembali dipenuhi kilatan senjata tajam. Sepuluh macam senjata datang menyerang Ling Zhi. Serangkum angin dingin terasa meskipun jarak serangan masih jauh.
"Wutt …"
"Trangg …"
Pedang Bunga menyapu semua senjata lawan. Pedang itu seperti mempunyai mata, sehingga walaupun lawan menyerang dari segala arah, Ling Zhi selalu bisa menghalaunya.
Pedang, tombak, tongkat, dan berbagai macam senjata lainnya, menyatu dalam satu pertarungan sehingga terus menghasilkan berbagai bunyi yang nyaring di telinga.
Ling Zhi menggetarkan Pedang Bunga. Kemudian tubuhnya mulai menari di bawah kurungan sinar tajam. Gerakannya indah di pandang, lekuk tubuhnya memberikan kesan tersendiri bagi pria yang melihatnya.
"Tarian Bunga Kamboja …"
"Wushh …"
Jurus keenam dari Kitab Tujuh Jurus Bunga Kembang langsung keluar. Jurus ini terkenal dengan keindahan serangan dan kecepatannya. Sehingga wajar saja kalau sepuluh lawan mulai kebingungan karena tidak bisa melihat gerakan Ling Zhi.
"Tangan Maut Bidadari …"
__ADS_1
"Wutt …"
Belum selesai jurusnya, dia sudah mengeluarkan jurus dahsyat lagi. Jurus terakhir dari rangkaian Jurus Tangan Bidadari Mencabut Nyawa ciptaan Cakra Buana keluar juga.
Gerakan yang sudah indah, kini bertambah lebih indah. Kecepatannya bertambah dua kali lipat. Dua tangannya bergerak sama-sama menyerang.
Tidak ada yang nganggur dari tubuh Bidadari Penebar Maut. Semuanya bergerak memberikan kabar dari Malaikat Pencabut Nyawa.
Tidak sampai sepeminum teh, lima lawan tewas di tangan Ling Zhi dengan luka yang sama. Tidak berhenti sampai di situ saja, dia kembali melancarkan serangan mautnya.
Pedang Bunga berkilat menebarkan kematian. Begitupun dengan tangan kirinya. Detik berikutnya, satu persatu mulai menemui ajal. Kejadian ini membawa kesan kengerian tersendiri bagi lima pendekar kelas pilih tanding yang melihatnya.
Mereka merasa menyesal karena sudah memberikan kesempatan kepada lawan. Bari kali ini kelimanya menyadari bagaimana kemampuan Ling Zhi.
Karena alasan itu, kelimanya langsung maju serempak. Mereka tidak mau memberikan kesempatan lagi kepada lawan.
"Mampuslah kau wanita ****** …" bentak seorang pendekar tua sambil memberikan pukulan dengan tongkatnya.
"Prakk …"
Pukulan tongkat datang kebih cepat di luar dugaan. Siapa sangka, tongkat itu justru malah tertahan oleh lawan. Terlihat bahwa tangan kiri Ling Zhi mencengkram tongkat tersebut dengan sangat kuat.
Sebelum keempat serangan lain datang, Ling Zhi sudah mengambil tindakan lebih dulu.
"Kau yang akan ****** kakek tua …" bentak Ling Zhi sangat marah karena dipanggil wanita ******.
"Srett …"
Pergelangan tangan kiri kakek tua itu ditebas oleh Pedang Bunga. Sekali tebas, langsung putus. Dia menjerit keras karena tak kuat menahan rasa sakit. Darah seketika mengucur deras dari pergelangan tangan tersebut.
Dia melompat mundur ke belakang sambil terus meringis. Tanpa berlama-lama, pendekar tua tersebut langsung berusaha untuk menghentikan pendarahannya.
__ADS_1
Bersamaan dengan kejadian tersebut, empat serangan datang pula menerjang Ling Zhi. Wanita itu memutar tubuhnya ke belakang untuk menghindari serangan. Begitu serangan sirna, Ling Zhi lebih dahulu memulai serangan lainnya.