
"Terimakasih sudah memperkenalkan diri. Dan sekarang, sepertinya aku juga harus mengenalkan diri siapa aku sebenarnya," kata Cakra Buana.
"Pangeran, apa yang akan kau lakukan?" tanya Pendekar Tangan Seribu.
"Kita sudah tertangkap basah paman. Jadi untuk apa berpura-pura lagi?"
"Tapi … ini terlalu berisiko. Lagi pula, saat ini kita sedang di wilayah Kerajaan Kawasenan. Aku tidak mamu membuatmu berada dalam bahaya," kata Pendekar Tangan Seribu kurang setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh Cakra Buana.
"Kita bisa menghadapinya paman, percayalah padaku,"
"Tidak pangeran, jangan lakukan. Aku yakin mereka masih bisa di ajak bicara baik-baik," Pendekar Tangan Seribu tetap 'keukeuh' pada pendiriannya.
"Paman, kalau kau masih mau mengakui aku, jangan melarang. Percuma saja kita berpura-pura lagi, sedangkan mereka sudah mengetahui yang sebenarnya. Kalau kau tidak mau turun tangan, aku sendiri masih sanggup," kata Cakra Buana yang juga 'keukeuh' tak mau kalah.
"Haihh … yasudahlah. Aku ikut apa katamu saja," ucap Pendekar Tangan Seribu mau tak mau harus menuruti perkataan Cakra Buana.
"Hei, kalian sedang bicara apa? Apakah kalian berdua tidak menganggap keberadaan kami?" si Kipas Terbang berkata dengan suara sedikit lantang.
"Maaf tuan pendekar sekalian. Ada sedikit salah faham," kata Cakra Buana.
"Hemm … tadi kau bilang apa? Ingin memperkenalkan diri? Jadi sebenarnya kau siapa?" tanya si Cambuk Iblis.
"Aku? Aku adalah orang yang sedang kalian cari-cari selama ini," ucap Cakra Buana.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Akulah orang yang daritadi kalian bicarakan. Aku … Cakra Buana," katanya sambil membuka topeng dan melepaskan jubahnya.
Angin berhembus menerpa dirinya saat Cakra Buana berkata demikian. Keempat pendekar Kerajaan Kawasenan seketika langsung terperanjat saking kagetnya. Mereka melotot tak percaya.
"Ka-kau … Ca-cakra Buana," kata Pendekar Serulinh Bambu sedikit gugup.
"Benar, ini aku. Bukankah kalian mencariku dan ingin membunuhku? Sekarang orang yang kalian maksud ada di sini, lalu kalian mau aoa?" tantang Cakra Buana, sikapnya masih tenang. Namun sorot matanya bagaikan mata seekor harimau yang akan menerjang mangsa.
"Kau … aku akan memberitahu kepada yang lain bahwa kau ada di sini," kata Pendekar Tua.
__ADS_1
"Kau pikir bisa pergi begitu saja dari hadapanku, orang tua?"
"Keparat …" katanya memaki Cakra Buana.
Di sisi lain, Pendekar Tangan Seribu sudah memasang sikap waspada. Dia akan segeea meladeni keempat pendekar kerajaan itu kalau memang memulai.
"Kenapa? Apakah kalian takut?" Cakra Buana dengan sengaja memancing keempat lawannya.
"*******. Sepuluh Cakra Buana pun akan kami hadapi. Kami tidak takut kepadamu bocah keparat," maki Cambuk Iblis.
"Hahaha … tidak takut karena terpaksa tak bisa lari bukan?" Cakra Buana sengaja mengejek keempatnya.
"Setan alas …"
"****** kau …"
"Hihhh …"
Si Cambuk Maut menghentakkan kedua telapak tangannya ke arah Cakra Buana. Dua cercah sinar merah melesat cepat ke arahnya. Namun sebelum sinar tersebut mengenai Cakra Buana, dua buah sinar kuning turut melesat menyambut dua sinar merah itu.
"Blarr …" seketika dua batang pohon tersebut hancur menjadi serpihan-serpihan kecil. Daun-daunnya layu dan rontok beterbangan tertiup angin.
"Kau pikir bisa semudah itu menyentuh tubuhnya? Langkahi dulu mayatku jika memang kau mampu," ucap Pendekar Tangan Seribu yang kini sudah ada di hadapan Cakra Buana.
"Baik, kalai begitu biar aku hancurkan dulu mulutmu yang sombong itu dengan Cambuk Duri milikku," kata si Cambuk Iblis.
"Wuttt …"
"Tarrr …"
Cambhk Iblis mengeluarkan senjata andalannya kemudian ia lecutkan sekali ke depan. Debu mengepul dan dedaunan layu. Detik berikutnya kedua pendekar itu sudah mulai bertarung di sisi sebelah kiri. Cambuk Iblis terus memainkan jurus-jurus cambuknya dengan ganas.
Cambuk itu bergerak meliuk-liuk bagaikan seekor ular. Bahkan kadang kala cambuk tersebut keras seperti sebuah tongkat baja. Cambuk Iblis tak henti untuk memberikan serangan jarak jauh menggunakan senjata pusakanya.
Saat ini Pendekar Tangan Seribu hanya bisa menghindari semua lecutan Cambuk Duri milik Cambuk Iblis. Tubuhnya bergerak dengan lincah sehingga semua serangan lawan luput mengenai tubuhnya.
__ADS_1
Cambuk Iblis semakin berang, dia memutar-mutarkan cambum tersebut di atas kepalanya sebelum ia lesatkan kepada Pendekar Tangan Seribu.
"Tarrr …"
Bunyi cambuk semakin menggelegar. Lecutan barusan mengincar pinggang Pendekar Tangan Seribu. Tapi lagi-lagi serangan itu pun luput karena detik berikutnya Pendekar Tangan Seribu melompat tinggi ke udara lalu melepaskan serangan jarak jauh.
"Wushh …"
Serangan tenaga dalam tanpa bentuk melesat ke arah Cambuk Iblis. Dengan mudah ia menahan serangan tersebut dengan cara memegangi pangkal dan ujung cambuk. Serangan yang di lancarkan oleh Pendekar Tangan Seribu lenyap begitu saja. Ia mulai geram, maka dengan satu kali lompatan tinggi, Pendekar Tangan Seribu sudah tiba di depan lawan.
Ia langsung menggempur dengan jurus-jurus tapak dan pukulan miliknya yang terkenal berbahaya. Kali ini keadaan berbalik, Cambuk Iblis mulai kewalahan karena kayaknya yang semakin mendekat. Cambuk Duri miliknya mati kutu tak bisa digunakan. Sedangkan saat ini lawan menyerang dengan ganas.
Di sisi lain, ketiga rekan Cambuk Iblis tak tinggal diam. Mereka langsung menyerang Cakra Buana secara tak disangka-sangka dari tiga penjuru. Tiga buah sinar sebesar kepalan tangan melesat cepat ke arahnya.
Dengan mudah Pendekar Maung Kulon menghindari tiga buah serangan pertama tersebut. Hanya dengan melompat tinggi dan bersalto satu kali, tiga buah sinar menyambar pohon yang ada di sekitar tempat pertarungan.
"Blarrr …" tiga batang pohon berukuran setengan lingkaran tangan dewasa langsung roboh.
Tak berhenti sampai di situ, tiba-tiba puluhan jarum yang sangat halus meluncur deras mengincar beberapa titik tubuhnya. Kalau orang lain, mungkin tidak akan bisa melihat jarum-jarum tersebut. Tapi Cakra Buana bukanlah orang lain.
Maka ketika ia melihat sesuatu yang sedikit mengkilap, dia memutarkan tubuhnya dengan cepat. Puluhan jarum yang berasal dari seruling bambu kuning, berhasil ia tangkap. Tanpa basa-basi lagi, Cakra Buana segera melemparkan kembali jarum itu ke pemiliknya.
"Wuttt …"
Puluhan jarum melesat lebih cepat mengarah ke tiga lawannya. Sontak saja mereka kaget, segera ketiganya melompat dan menghindari senjata makan tua itu.
"Edan. Bahkan dia bisa melihat dan menangkap Jarum Sutera Racun milikku," gumam Pendekar Seruling Bambu.
"Mainan anak-anak jangan kau perlihatkan kepadaku," ucap Cakra Buana dengan senyuman sedikit mengejek.
"Diam kau …"
"Mampuslah …"
"Hiatt …"
__ADS_1
Ketiganya menyerang kembali. Tapi kali ini dengan jarak dekat. Cakra Buana menyambut ketiga serangan tersebut. Kedua tangannya mulai bergerak lincah memapak semua serangan lawan. Kakinya bergerak menendang-nendang ke arah mata kaki lawan. Suara benturan tangan dan kaki mulai terdengar. Tanpa Cakra sadari, ketiga lawannya merasakan mata kakinya ngilu saat terkena hantaman kaki Pendekar Maung Kulon itu.