Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Siapa Yang Berani Membunuh Kudaku?


__ADS_3

Malam telah tiba, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Setelah selesai, keduanya lalu memasuki kamar. Karena kamar di penginapan ini penuh, terpaksa Cakra Buana dan Pendekar Seribu diri tidur berdua.


Kamar itu tidaklah besar, hanya berukuran sedang saja. Terlihat kamar tersebut terawat. Meskipun terbilang sederhana, tapi kamar itu memberikan kenyamanan. Awalnya Pendekar Tangan Seribu ingin memesan kamar khusus untuk Cakra Buana. Mengingat bahwa pemuda serba putih itu merupakan seorang pangeran.


Tapi tentu Cakra Buana menolaknya. Toh dia sendiri sering tidur di mana saja. Kadang di hutan, di pohon, atau bahkan di gubuk tua yang sudah reyot.


Keduanya kini sedang duduk di lantai kamai yang beralaskan papan. Suasana kamar remang-remang karena hanya diterangi oleh obor minyak tanah. Pendekar Tangan Seribu belum mengetahui informasi apa yang telah Cakra Buana dapatkan tadi, sehingga dia memutuskan untuk bertanya.


"Pangeran, kelima orang tadi bicara apa? Aku penasaran sekali," kata Pendekar Tangan Seribu yang sudah dihantui rasa penasaran.


"Sebelumnya, apakah paman tahu di mana letak Perguruan Rajawali Putih?" tanya Cakra Buana.


"Aku tahu di mana. Karena sebelum mengabdi pada kerajaan, aku juga sangat suka mengembara," jawab Pendekar Tangan Seribu.


"Apa yang kau ketahui tentang Perguruan Rajawali Putih?"


"Yang aku tahu, perguruan itu merupakan perguruan perbatasan antara Kerajaan Kawasenan dan Kerajaan Tunggilis. Letaknya di bawah kaki Gunung Kapol. Perguruan ini dipimpin oleh seorang tokoh tua bernama Lakapati. Dia dikenal dengan julukan Kakek Rajawali. Dan yang jelas, perguruan ini beraliran putih," kata Pendekar Tangan Seribu menjelaskan tentang Perguruan Rajawali Putih yang ia ketahui.


"Hemm … ternyata begitu. Kelima orang tadi merupkan orang-orang Perguruan Ular Sendok. Mereka berencana untuk menyerang Perguruan Rajawali Putih. Dan dari informasi yang aku dapatkan, mereka sudah menyimpan orang-orangnya di Perguruan Rajawali Putih. Kemungkinan besar anggota yang mereka taruh di perguruan itu mempunyai tugas untuk memberikan racun,"


"Kalau begitu masalahnya, ini gawat pangeran,"


"Begitulah,"


"Apa yang akan kau lakukan pangeran?"


"Kita bantu mereka. Kau orang lama di dunia persilatan, aku rasa Kakek Rajawali mengenal jukukanmu paman. Kita ke sana memberitahukan hal ini," kata Cakra Buana.


"Baiklah, kapan kita akan ke sana?"

__ADS_1


"Secepatnya. Eh, apakah paman Katapangan tidak bilang harus menyampaikan surat itu dalam waktu beberapa hari?"


"Tidak, kau tenang saja. Paling terlambat kita diberi waktu satu minggu. Lagi pula, ada kau yang ikut denganku. Jadi walau pun sedikit terlambat, aku rasa tidak masalah," ujar Pendekar Seribu Diri.


"Kalau begitu, besok pagi kita berangkat ke Perguruan Rajawali Putih. Kita harus tolong mereka, siapa tahu ke depan bisa menjalin kerja sama," kata Cakra Buana.


"Aku mengikuti apa kata pangeran," ucap Pendekar Tangan Seribu.


Saat keduanya sedang asyik membicarakan rencana esok hari, Cakra Buana mendengar ada suara orang berjalan di atas genteng kamarnya. Secepat kilat Pendekar Maung Kulon itu keluar lewat jendela lalu naik ke atas genteng.


Tapi begitu tiba di atas, dirinya tidak mendapati siapa pun.


'Hemm … siapa yang telah mencuri obrolan. Aku yakin jumlahnya ada dua orang, tapi siapa mereka itu, bahkan ilmu meringankan tubuhnya juga lumayan. Apakah mereka orang-orang Perguruan Ular Sendok?' batin Cakra Buana bertanya-tanya sambil memandang berkeliling.


Tak lama, Pendekar Tangan Seribu pun menyusul Cakra Buana nakk ke atas genteng. Dia tidak mengerti melihat perilaku Cakra Buana yang seperti orang kebingungan itu.


"Ada apa pangeran?" tanya Pendekar Tangan Seribu.


"Tapi di sini tidak ada siapa-siapa pangeran. Marilah kita segera masuk, mungkin hanya perasaanmu saja,"


"Entahlah. Mari paman kita masuk," ajak Cakra Buana sambil memikirkan siapa orang yang menguping tersebut.


Setelah kembali masuk ke kamar, Pendekar Tangan Seribu tak lama langsung tertidur pulas. Mungkin dia merasa kelelahan. Sedangkan Cakra Buana tak dapat tidur. Pendekar Maung Kulon itu sedang memikirkan siapa dua orang tadi. Bahkan sampai ayam jantan berkokok pun, Cakra Buana masih belum juga bisa memejamkan matanya.


Menjelang pagi, justru firasatnya mengatakan telah terjadi sesuatu. Apa firasat itu masih belum pasti, yang jelas firasat tersebut tentang perasaan buruk.


Pendekar Tangan Seribu batu bangun saat sinar mentari menyorot kamarnya. Sedangkan Cakra Buana tetap tidak bisa tidur walaupun ia sudah memejamkan mata.


"Pangeran, kau tidak tidur?" tanya Pendekar Tangan Seribu saat melihat mata Cakra Buana agak sedikit merah.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tidur paman. Firasatku mengatakan sesuatu telah terjadi," jawab Cakra Buana jujur.


"Hahhh …" Pendekar Tangan Seribu menghela nafas. "Aku akan membersihkan diri dulu pangeran, setelah sarapan nanti kita segera saja pergi menuju Perguruan Rajawali Putih,"


"Baik paman. Kau saja dulu bersihkan diri, aku belakangan," ucap Cakra Buana.


Pendekar Tangan Seribu mengangguk, lalu dia pergi membersihkan diri. Sedangkan Cakra Buana masih saja memikirkan siapa orang yang semalam berada di atas genteng. Setelah keduanya membersihkan diri, mereka lalu menuju ke bawah untuk memesan sarapan pagi.


Walau pun hari masih pagi seperti ini, tapi suasana di kedai tersebut cukup lumayan ramai. Para pedagang lain sudah membuka lapak mereka, bahkan ada yang sudah membukany aqpqlmua sedari tadi sebelum ayam jantan berkokok.


Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu duduk di meja dekat pintu masuk kedai. Sebelum makanan mereka datang, tiba-tiba dari arah luar ada seseorang berlari tergopoh-gopoh menghampiri dirinya.


"Tuan, maaf tuan. Apakah tuan pemilik kuda putih dan kuda hitam kecoklatan?" tanya orang itu yang berpenampilan mirip penjaga kuda.


"Benar, aku dan pamanku sendiri pemilik kedua kita itu. Memangnya ada apa dengan kuda kami berdua?" tanya Cakra Buana.


"Anu tuan … anu, lebih baik mari tuan-tuan ikut saya sebentar," ucapnya sedikit bergetar ketakutan.


Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu mengikuti penjaga kuda tersebut dari belakang. Si penjaga kuda membawanya ke belakang penginapan, sebab di sanalah kuda-kuda pengunjung di rawat oleh penjaga kuda.


"Apakah benar ini kuda tuan berdua?" tanya sekali lagi penjaga kuda, kali ini keringat panas dan dingin mengucur deras. Wajahnya bahkan berubah jadi agak pucat.


Cakra Buana tak menjawab. Dia keburu kaget melihat kuda miliknya dan milik Pendekar Tangan Seribu tewas mengenaskan. Firasatnya benar-benar terjadi. Kedua kudanya tewas. Bahkan kedua orang itu sangat menyayangi kuda-kuda tersebut.


Cakra Buana mengepalkan tangannya keras. Giginya gemerutuk dan urat-urat langsung menonjol. Melihat Cakra Buana demikian, si penjaga kuda bertambah rasa takutnya. Bahkan dia langsung berlutu di hadapan Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.


"Maafkan saya tuan pendekar, maaf. Saya … saya sungguh tidak tahu apa-apa. Maafkan saya," kata penjaga kuda tersebut agak memohon.


"Sudah paman, kau bangunlah dulu. Mari ikut kami makan," ajak Pendekar Tangan Seribu sambil melirik ke arah Cakra Buana yang dibalas dengan anggukan pelan.

__ADS_1


Siapa yang berani membunuh kudaku? Keparat. Takkan ku ampuni orang yang sudah membunuh kuda kesayanganku ini,' batin Cakra Buana sedikit menekan kemarahannya.


__ADS_2