
Tak lama Cakra Buana segera keluar dari kamar. Perutnya merengek minta di isi. Baru beberapa langkah dari kamar, Ling Zhi sudah menghampirinya.
"Kakang, kau dari mana saja?"
"Aku … aku baru bangun tidur Ling Zhi," jawab Cakra Buana agak gugup karena melihat kemarahan di wajah kekasihnya itu.
"Kau jangan bohong. Aku tadi terpaksa mendobrak kamarmu. Aku tidak melihat kau di dalam kamar. Katakanlah sejujurnya," desak Ling Zhi.
"Aku … aku baru selesai meditasi dari semalam di goa yang terdapat di hutan belakang kerajaan. Maafkan aku Ling Zhi," ucap Cakra Buana sambil memegangi tangan kekasihnya.
"Kenapa kau tidak bilang padaku?"
"Aku hanya takut kau marah. Karena aku tahu kau pasti takkan mengizinkanku,"
"Hemmm … sudahlah. Mari kita makan, raja menyuruhku untuk ke kamarmu dan mengajak makan siang bersama,"
"Baiklah kalau begitu. Mari kita makan,"
Keduanya lalu pergi menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada orang-orang penting Kerajaan Tunggilis. Mereka langsung makan. Setelah makan, satu persatu orang-orang itu mulai meninggalkan meja makan.
Kini di sana tinggalah keluarga Prabu Katapangan Kresna, termasuk anak istrinya. Ling Zhin tentunya masih ada di sana, menemani Cakra Buana.
"Cakra, mari kita ke Taman Swargaloka. Aku ingin bicara," kata Prabu. "Anakku, kau ikut juga,"
"Baik ayah,"
"Baik paman,"
"Ah Ling Zhi, kau juga boleh ikut,"
"Terimakasih prabu,"
Keempatnya lalu pergi menuju taman. Suasana di Taman Swargaloka jauh lebih indah daripada taman kerajaan yang lainnya. Keempat orang itu duduk di sebuah batu hitam mengapung dekat kolam ikan. Suasana di sana nyaman dengan gemericik air terjun buatan yang selalu mengeluarkan uap. Suara burung-burung langka pun terdengar merdu.
"Paman, aku ingin bertanya padamu," kata Cakra Buana. Tapi sebelum Cakra Buana melanjutkan pertanyaannya, raja itu langsung memotongnya.
"Aku tahu maksudmu Cakra. Dugaanmu tidak salah, yang tadi menemuimu adalah ragaku. Alasan aku mengumpulkan kalian di sini adalah karena aku ingin mewariskan sedikit ilmuku. Walau pun tidak berharga, setidaknya akan sedikit membantu," kata Prabu Katapangan Kresna kepada tiga orang muda itu.
__ADS_1
"Kalian bertiga, apakah kalian sudi menerima sedikit ilmuku yang tidak berguna ini?" tanya Prabu Katapangan.
"Tentu saja paman, aku sangat senang kau mau mengajariku," jawab Cakra Buana.
"Bagaimana denganmu Kalacakra?"
"Sudah tentu aku sangat mau ayah,"
"Dan kau Ling Zhi, bagaimana?"
"Aku orang biasa, aku merasa tidak pantas menerima ilmu baginda raja yang sudah pasti hebat,"
"Kau jangan seperti itu. Kau sudah aku anggap keluarga sendiri. Jangan sungkan lagi, terimalah kebaikanku ini. Anggap saja sebagai balasan karena telah menemani keponakanku selama ini,"
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan menerima ajaran baginda raja. Mohon bimbingannya," jawab Ling Zhi.
"Terimakasih. Tiga hari lagi, kita bertemu di hutan belakang kerajaan. Ragaku akan melatih kalian di sana,"
"Baik," jawab mereka serempak.
Tiga hari sudah berlalu. Sesuai waktu yang dijanjikan oleh sang raja, Cakra Buana, Ling Zhi dan Raden Kalacakra Mangkubumi berkumpul di hutan belakang Kerajaan Tunggilis. Ketiga orang muda itu akan menerima ajaran langsung dari Prabu Katapangan Kresna. Suatu hal langka di mana seorang raja mau turun tangan langsung menurunkan ilmunya. Bahkan kepada tiga orang sekaligus.
Waktu masih pagi sekali. Sang Surya masih belum meninggi. Bahkan baru muncul, tiga orang muda itu sedang berdiri menunggu kedatangan sang raja. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya yang ditunggu pun datang.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu," kata Prabu Katapangan saat baru datang.
Ketiganya hanya mengangguk. Tanpa basa-basi lagi dia langsung bicara serius.
"Hari ini, aku akan menurunkan sedikit ilmuku kepada kalian. Gunakan ilmu dariku ini untuk kebaikan. Bantu mereka yang membutuhkan, jangan pernah menggunakan ilmu ini di jalan kejahatan,"
"Kami mendengarkan ucapan paman," kata Cakra Buana mewakili yang lainnya.
"Baik. Kita mulai sekarang. Kalian bertiga berlatih di tempat berpisah. Aku akan mengajari kalian satu persatu. Cakra Buana, kau akan aku ajarkan Jurus Dua Tapak Menghisap Matahari. Anakku, ayah akan mengajarkanmu Dua Naga Menggempur Lawan. Dan kau Ling Zhi, aku akan mengajarkanmu Jurus Pedang Bayangan Sukma. Aku akan mengajari kalian selama satu purnama. Dan selama itu, kalian harus bisa melakukannya dengan baik," kata Prabu Katapangan.
Ketiganya mengangguk. Prabu Katapangan memejamkan matanya, tak lama, dia membelah lagi dirinya sehingga kini menjadi tiga sosok. Meskipun ini hanyalah raganya saja, tapi semuanya persis seperti yang asli. Yang membedakan hanyalah tingkat kekuatannya saja.
"Masing-masing mari ikut aku," kata sang raja.
__ADS_1
Kini Ling Zhi, Cakra Buana dan Raden Kalacakra Mangkubumi sudah mendapatkan tempat yang cocok untuk mereka berlatih. Ketiganya di dampingi satu dari raga Prabu Karta Kajayaan.
Cakra Buana berlatih di sebuah lapangan yang gersang dan luas. Cuaca saat ini begitu panas. Langit cerah tanpa awan sedikit pun yang menghalangi.
"Cakra. Buka bajumu," kata sang prabu menyuruh Cakra Buana untuk mulai berlatih.
Di tempat lain, Raden Kalacakra Mangkubumi pun sudah tiba di tempat yang cocok untuknya berlatih. Dia mendapatkan tempat di tengah hutan yang banyak berjejer pepohonan besar dan rimbun. Prabu Katapangan langsung mengajari anaknya itu tanpa banyak bicara lagi.
"Anakku, berdirilah di tengah. Ambillah energi murni di sekitarmu. Lalu kau olah dan setelah itu kumpulkan dalam kedua telapak tanganmu. Konsentrasi harus terjaga. Untuk awalan sepertimu memang tidak mudah, tapi dalam satu purnama kau pasti bisa menguasainya," kata Prabu Katapangan.
"Baik ayah. Aku akan mulai melakukannya,"
Sementara itu, Ling Zhi mendapatkan tempat latihan di pinggir danau. Tempat ini sangat cocok baginya karena memang berlatih pedang membutuhkan ketenangan supaya bisa berkonsentrasi.
"Ling Zhi, coba perlihatkan jurus pedangmu padaku. Siapa tahu jurusmu dan jurusku bisa digabungkan, sehingga nantinya akan bertambah hebat lagi," ucap Prabu Katapangan.
"Baik baginda. Hamba akan melakukannya," jawab Ling Zhi.
Ling Zhi melompat dan mengambil posisi. Gadis cantik itu kemudian mencabut Pedang Bunga dari sarungsnya. Ling Zhi mengambil sikap kuda-kuda, dia sudah bersiap untuk menggubah jurus-jurus pedangnya.
Dia langsung mengeluarkan Tujuh Jurus Bunga Kembang mulai dari jurus pertama, sampai jurus terakhir. Prabu Katapangan Kresna memperhatikan Ling Zhi dari awal sampai akhir. Raja itu dibuat terpukau oleh permainan pedang Ling Zhi.
Tak dapat ia pungkiri bahwa permainan pedang milik Ling Zhi memang hebat. Bahkan mungkin setara dengan Jurus Pedang Bayangan Sukma yang akan ia ajarkan. Menurutnya, hanya memerlukan waktu saja bagi Ling Zhi untuk mematangkan jurus-jurus hebat dan indah tersebut.
"Bagus Ling Zhi. Sekarang kau perhatikan semua gerakanku ini. Setelah itu, coba kau peragakan,"
"Baik baginda," jawabnya.
Ketiga orang muda itu mulai sama-sama berlatih dengan keras. Walau pun tempat latihan mereka berbeda, tapi semangat juang mereka sama besarnya.
Hanya kemauan keraslah yang bisa menjadikan seseorang mewujudkan impiannya. Tanpa adanya perjuangan keras, jangan harap mimpi itu akan terwujud. Tanpa ada tekad yang kuat, jangan harap khayalanmu akan tercapai.
Sebatang besi tua, jika ingin menjadi benda yang berharga pun akan ditempa dengan keras oleh si empu. Tak ada besi yang tiba-tiba bisa jadi keris. Dan tidak ada pula sebatang pohon yang tiba-tiba bisa berubah menjadi bangku dengan ukiran indah.
Semua ada proses. Semua ada perjuangan keras. Dan semua itu, memerlukan waktu yang tidak sedikit.
Cakra Buana, Ling Zhi, dan Raden Kalacakra Mangkubumi berlatih tanpa kenal lelah. Mereka tidak ingin mengecewakan orang yang sudah mau mengajarinya, dan tentunya mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
__ADS_1