
Setelah kejadian barusan, suasana di pasar itu menjadi lebih ramai ketika ada lagi empat orang yang berpakaian serba hitam datang ke tempat tersebut. Tak lain dan tak bukan mereka juga seorang mata-mata kerajaan.
Pada zaman ini, setiap kerajaan sudah pasti memiliki seorang mata-mata atau telik sandi. Gunanya adalah mengumpulkan informasi penting ataupun melihat-lihat keadaan kerajaan barangkali ada seseorang yang mencurigakan dan diduga akan membahayakan kerajaan.
Biasanya, seorang telik sandi pun sudah pasti di bekali dengan kemampuan silat dan kanuragan yang mumpuni. Tentu saja, karena mereka tidak pernah tahu seberapa kuat lawan.
"Siapa yang melakukan semua ini?" tanya seorang telik sandi kepada enam punggawa kerajaan.
Keenam punggawa itu terdiam, bicara pun seperti susah. Mereka merasakan mulutnya terkunci.
"Heh punggawa, cepat katakan siapa yang melakukannya?"
Lagi-lagi tak ada jawaban. Sehingga membuat telik sandi lainnya merasa geram, pandangan mata mereka berganti ke seluruh warga yang masih berkerumun.
Mereka menanyakan juga siapa pelakunya kepada warga, sayangnya para warga lebih memilih untuk diam atau berkata tidak tahu. Sebab mereka juga diam-diam merasa sudah muak dengan raja yang sekarang menjabat, sehingga mereka lebih memilih bungkam ketika ada seorang pendekar yang membelanya.
"Sekarang bubar. Teruskan lagi kegiatan kalian, dasar rakyat tidak tahu diri," bentak salah seorang telik sandi.
Serentak para warga bubar. Dalam hati, mereka mengutuk hulu balang Kerajaan Kawasenan. Tak sepantasnya mereka berucap demikian kasar kepada rakyat sendiri.
"Lebih baik kita bawa mereka menghadap raja," ucap seorang telik sandi sambil memandangi dua rekannya yang menjadi korban.
__ADS_1
"Baik …" jawab rekan yang lain serempak.
###
Kedatangan para telik sandi yang membawa dua korban lainnya ke kerajaan, membuat situasi di sana cukup ricuh. Sebab baru kali ini lagi ada kejadian seperti sekarang. Jika berani melukai telik sandi, bisa di artikan sama juga menantang kerajaan.
"Mohon ampun Prabu, hamba menemukan dua orang telik sandi menjadi korban seseorang," kata seorang telik sandi melapor kepada Prabu Ajiraga.
"Siapa pelakunya?"
"Hamba tidak mengetahui pasti siapa gerangan. Yang jelas, menurut informasi yang hamba dapatkan, orang itu memakai pakaian serba putih. Dia ditemani seorang gadis yang cantik, sepertinya gadis itu bukan asli pribumi,"
"Baik, aku minta segera dapatkan informasi siapa pelakunya. Perketat lagi perjagaan, aku khawatir akan ada pemberontakan. Sebab hal ini sama saja menentangku, urus dua orang telik sandi itu," kata Prabu Ajiraga memberikan perintah.
"Ampun Prabu, perintah akan segera di laksanakan. Hamba pamit undur diri," ujar telik sandi sembari pergi meninggalkan ruangan, sedangkan sang Prabu sendiri langsung termenung.
Pikirannya sedang menerka-nerka siapa pelaku itu. Sebab di dunia persilatan, pendekar yang memakai pakaian serba putih tidaklah sedikit. Ada banyak pendekar dengan penampilan serupa, hal inilah yang membuat Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma bingungkan.
###
Tiga hari setelah kejadian di pasar sudah berlalu, kini Cakra Buana dan Ling Zhi sudah memasuki kawasan perbatasan antara Kerajaan Kawasenan dan Kerajaan Tunggilis. Sepanjang perjalanan, keduanya tidak menemukan halangan. Sebab mereka memilih jalan pintas dan menghindari masalah untuk sementara waktu.
__ADS_1
Hari masih siang ketika Cakra Buana dan Ling Zhi sampai di sebuah desa bernama Padaherang. Desa Padaherang ini terkenal dengan keindahan alamnya. Hutan belantara menyelimuti sepanjang jalan, akan tetapi di balik hutan itu, ada sebuah keindahan berupa bebukitan ataupun sungai-sungai yang jernih.
Di Desa Padaherang ini, terkenal sekali dengan kasus-kasus kriminal seperti perampokan, pemerkosaan, pembunuhan ataupun lain sebagainya. Buruknya kinerja kerajaan membuat mereka para pelaku kriminal semakin hari semakin liar. Setiap hari, pasti saja ada kejadian-kejadian.
Selain itu, di sini juga terdapat sebuah bukit yang di kenal tempat bertarungnya para pendekar baik dari dua kerajaan tetangga ataupun daerah lainnya mempunyai masalah. Biasanya mereka bertarung sampai ada yang tewas, baik salah satu maupun keduanya. Bukit itu terkenal dengan sebutan nama Bukit Maut.
Di Bukit Maut, hampir setiap pekan ada saja pertarungan hidup dan mati. Baik itu perorangan, maupun berkelompok. Memang, pada zaman ini yang berlaku adalah hukum rimba. Siapa yang kuat, dia yang bertahan. Siapa yang lemah, dia yang akan tewas.
Cakra Buana dan Ling Zhi sengaja ingin pergi ke sana. Mereka pun ingin menyaksikan pertarungan yang akan terjadi. Karena kebetulan sekali, kedatangan pasangan muda ini bersamaan dengan pertarungan yang akan ada di sana.
Menurut informasi yang di dapatkan keduanya dari salah seorang warga, malam nanti di Bukit Maut akan terjadi sebuah pertarungan yang bakal berlangsung dengan seru. Kali ini bukan dari kalangan pendekar muda, tetapi dari kalangan pendekar tua.
Bahkan katanya, pendekar tua yang akan bertarung itu sudah mempunyai nama dalam dunia persilatan. Terlebih lagi, keduanya merupakan sepasang pendekar yang sudah malang melintang dalam rimba hijau.
Karena alasan inilah Cakra Buana dan Ling Zhi akan menuju ke Bukit Maut. Sebab hati Pendekar Maung Kulon itu dilanda kecemasan, dia teringat kepada Sepasang Kakek dan Nenek Sakti yang sempat menolongnya dahulu.
"Cepat Ling Zhi, saat matahari baru terbenakt, kita sudah harus sampai di sana. Dengan begitu kita bisa melihat-lihat keadaan sekitar," ucao Cakra Buana di tengah larinya bersama Ling Zhi.
"Baik kakang."
Karena waktu terus berjalan dan matahari sebentar lagi lenyap, keduanya lalu mempercepat ilmu meringankan tubuh mereka supaya sampai di lokasi tepat seperti yang diinginkan.
__ADS_1