
Tepat setelah Cakra Buana berhasil menguasai diri, tiba-tiba dari arah yang tadi ia tuju, muncul sesosok pria tinggi yang sangat gagah dan tampan dengan postur tubuh agak tinggi kekar. Wajahnya putih dengan tatapan mata yang menyejukan. Alisnya agak tebal menggambarkan keberanian. Dia memakai pakaian mewah dan memakai mahkota yang indah pula.
"Paman …" kata Cakra Buana agak kaget. Dia langsung melompat ke depan orang yang tak lain pamannya sendiri, Prabu Katapangan Kresna.
"Maafkan aku Cakra. Aku telah mengganggu waktu latihanmu," kata Prabu Katapangan Kresna sambil tersenyum.
"Tidak paman, tidak. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah berlaku kurang ajar. Aku sudah berani menyerangmu, tapi sungguh, tadi aku tidak tahu sama sekali bahwa yang menyerangku adalah paman. Kalau tahu, aku pasti takkan berbuat seperti barusan," ucap Cakra Buana sambil membungkuk hormat, namum segera dibangunkan kembali oleh Prabu Katapangan.
"Kau sama sekali tidak bersalah Cakra. Justru kau melakukan kewajibanmu untuk melindungi diri sendiri. Aku hanya mengujimu saja, ternyata perkataan orang-orang tentang kehebatanmu bukanlah omong kosong," katanya sambil memegang pundak Cakra Buana.
"Ah tidak paman. Orang-orang terlalu berlebihan. Aku tidak seperti yang mereka kira,"
"Sudahlah tak perlu kau berbohong kepada pamanmu ini," kata Prabu Katapangan sambil tertawa.
Keduanya lalu melangkah mendekati dua batu bulat hitam di bawah pohon asem. Mereka duduk berdua di sana.
"Cakra, sebenarnya siapa yang kemarin sudah melukaimu?" tanya Prabu.
"Hemmm … Cempaka Biru dan Kakek Bungkuk paman,"
"Kau bertarung dengan mereka berdua?" Prabu Katapangan sempat kaget mendengar pengakuan Cakra Buana.
"Benar paman. Memang ada apa dengan mereka?"
"Tidak, hanya saja terasa aneh. Keduanya orang-orang yang punya nama dalam dunia persilatan. Mereka jarang muncul jika tidak ada peristiwa penting. Tapi kenapa tiba-tiba mereka bisa muncul, bahkan berbarengan. Pasti ada sesuatu di balik semua ini," tutur Prabu Katapangan. Matanya sambil menerawang jauh ke depan.
"Dugaan paman tidak salah. Keduanya muncul memang karena ada sesuatu. Dan sesuatu itu adalah aku sendiri,"
"Maksudmu?" Prabu semakin tidak mengerti dengan ucapan Cakra Buana.
Ternyata berita sayembara yang di adakan oleh Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma, raja dari Kerajaan Kawasenan itu, belum sampai di telinga Prabu Katapangan. Sehingga dia belum tahu apa yang dimaksudkan oleh Cakra Buana.
__ADS_1
"Sebenarnya beberapa waktu lalu, Prabu Ajiraga mengadakan sayembara. Siapa pun yang berhasil menangkapku atau membawa kepalaku ke hadapannya, akan dihadiahkan 10.000 keping emas. Dan siapa pun yang berhasil mendapatkan Pedang Pusaka Dewa yang kini ada padaku, maka orang itu akan diberikan hadiah lebih besar lagi,"
"Tunggu, apa alasan dia menginginkan kau mati?"
"Karena dia sudah tahu bahwa aku merupakan anak yang berhak menduduki kursi raja dan karena aku merupakan murid dari Eyang Resi Patok Pati. Kalau masalah kursi raja, mereka takut suatu saat nanti aku akan merebut kembali hakku itu. Dan jika bicara soal eyang guru, mungkin mereka takut aku membalaskan dendam kematian guruku. Karena aku tahu, bahwa eyang guru mati di racun oleh pihak mereka,"
"Biadab. Benar-benar orang tidak tahu balas budi. Padahal jasa gurumu kepada kerajaan itu sudah tidak terhitung lagi,"
"Hemmm … biarlah paman. Percuma kita mau bicara apa pun juga. Manusia memang seperti itu. Manusia selalu dipengaruhi oleh sikap serakah,"
"Kau benar Cakra. Tapi, terkait sayembara itu bagaimana? Apakah kau selama ini terus diganggu oleh para pendekar yang tertarik untuk mengikuti sayembara tersebut?"
"Tentu saja. Bahkan beberapa datuk dunia persilatan pun, turut andil dalam sayembara ini,"
"Hah? Apa kau tidak bercanda?" Prabu Katapangan kaget mendengar ucapan Cakra Buana barusan. Kalau benar seperti itu, tentu saja keponakannya berada dalam bahaya yang mengintai setiap saat.
"Apakah aku terlihat bercanda? Aku serius paman. Beberapa waktu lalu aku sempat bentrok dengan empat datuk rimba hijau. Satu dari mereka berhasil tewas di tanganku,"
Dalam hati, Prabu Katapangan memuji keilmuan Cakra Buana. Meskipun dia sendiri belum melihatnya, tapi setidaknya ia punya sedikit gambaran.
"Aku dibantu oleh beberapa orang paman,"
"Baguslah. Kau harus perdalam ilmumu lagi Cakra. Saat ini tanah Pasundan membutuhkanmu. Jangan sampai kau tewas, bagaimana kalau Pedang Pusaka Dewa aku simpan di tempat aman. Setidaknya ini bisa mengurangi resiko,"
"Percuma paman. Mereka tetap akan mengincarku. Toh kepalaku di hargai mahal. Setidaknya dengan Pedang Pusaka Dewa yang selalu ada bersamaku, aku bisa menggunakannya jika kondisi benar-benar darurat," ucap Cakra Buana.
"Kau benar. Kalau begitu, hati-hatilah dalam setiap langkahmu. Kau harus ingat bahwa dirimu menjadi orang yang terpilih untuk menyatukan Pasundan,"
"Baik paman,"
Prabu Katapangan diam sejenak. Matanya memandang lagi ke depan, lalu tak lama melirik ke Cakra Buana. Dia berkata, "Cakra, paman ingin mengetahui kehebatanmu. Kau mau berlatih tanding dengan paman?"
__ADS_1
Cakra Buana tidak langsung menjawab. Dia sedikit ragu. "Jangan ragu. Ini hanya latih tanding. Pula, di sini tidak ada siapa-siapa kecuali kita berdua," kata Prabu Katapangan saat melihat keraguan di wajah keponakannya tersebut.
"Kalau begitu baik paman. Aku bersedia," kata Cakra Buana.
Prabu Katapangan mengangguk gembira. Dia melompat lebih dulu ke tempat yang lapang. Tak lama Cakra Buana pun melompat. Kini keduanya sudah berhadapan. Jarak mereka paling hanya terpaut tiga tombak.
"Jangan segan-segan untuk mengeluarkan kemampuanmu Cakra. Selama itu hanya latihan, aku akan melayanimu," kata sang raja.
"Baik paman. Aku harap paman juga tidak bermurah hati kepadaku. Aku yang muda mohon bimbingannya," ucap Cakra Buana sambil membungkuk hormat.
Suasana menjadi sepi. Binatang liar yang tadi berisik, kini menghilang. Seolah mereka sudah mempunyai firasat bahwa di tempat itu akan terjadi latih tanding yang luar biasa.
Cakra Buana dan Prabu Katapangan Kresna masih berdiri tegak. Diam-diam keduanya menghimpun tenaga dalam untuk melindungi tubuh dari serangan-serangan berbahaya. Setelah selesai membentengi diri, Prabu Katapangan Kresna lalu memberikan aba-aba.
"Mulai …"
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Kedua pendekar itu melesat secara bersamaan. Keduanya bertemu di tengah-tengah lalu langsung beradu pukulan di udara sampai mendarat. Prabu Katapangan Kresna sudah melancarkan serangan berupa pukulan atau pun tendangan yang berisi tenaga dalam tinggi.
Di sisi lain, Cakra Buana hanya bisa bertahan dari semua serangan pamannya untuk saat ini. Ke mana pun tangan dan kaki sang prabu bergerak, maka di situ ada kaki tangan Cakra Buana yang siap menangkis.
"Wuttt …"
"Bukkk …"
"Bukkk …"
Sang prabu mulai mempercepat serangannya. Tangannya yang satu dia kepalkan dengan kuat. Sedangkan satu lagi membentuk tapak yang kokoh bagaikan tebing batu karang. Dari kedua tangan itu, ada hawa tenaga dalam tingkat tinggi.
__ADS_1
Cakra Buana mulai serius. Dia tidak lagi main-main meskipun ini hanya latihan. Pendekar Maung Kulon itu tidak mau mengecewakan pamannya yang sudah percaya sepenuhnya.
"Giliranku paman," teriak Cakra Buana di saat gempuran serangan Prabu Katapangan menghujani dirinya.