Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kesedihan


__ADS_3

Setelah Braja Suta berhasil dikalahkan oleh Langlang Cakra Buana, semua petarungan para guru besar yang lainnya mendadak berhenti seketika. Semua guru besar itu masih tidak percaya bahwa yang membunuh Braja Suta adalay seorang pendekar muda.


Tapi mau mengelak pun tak bisa, mereka harus dipaksa untuk percaya karena memang kejadian itu adalah nyata. Bukan sebuah bualan kosong belaka. Guru besar dari Padepokan Goa Neraka langsung meninggalkan tempat itu, tak lupa mereka juga membawa pulang jasad Braja Suta.


Mereka ibarat anak ayam kehilangan induk, tak tentu arah dan tak tahu tujuan. Karena pada dasarnya dalang penyerangan ini memang Braja Suta. Lalu ketika dalangnya sudah tewas, apakah wayang akan bergerak dengan sendiri dan berbuat sesuka hatinya? Tentu saja tidak.


Mereka pulang dengan membawa perasaan haru dan juga dendam yang membara. Terlebih ketiga murid Braja Suta, ketiganya sudah bertekad suatu saat nanti akan membalas kematian gurunya.


Keadaan di Padepokan Goa Neraka pun tak jauh berbeda. Semua orang-orang merasakan sedih yang luar biasa karena kematian para muridnya. Tidak ada bahagia. Tidak ada merayakan secara suka cita. Yang ada hanyalah kesedihan dan kepedihan.


Tapi setidaknya mereka masih bersyukur karena maha gurunya tidak gugur dalam membela padepokannya. Orang tua itu berhasil diselamatkan oleh seorang pemuda yang merupakan tamu bagi padepokannya.


Tapi siapa sangka? Ternyata tamu itu menjadi malaikat penyelamat bagi Eyang Tajimalela dan juga bagi padepokannya. Mungkin jika tidak ada pemuda tersebut, kemenangan ini tidak akan bisa diraih.

__ADS_1


Orang-orang Padepokan Kuda Sembrani saat ini sedang membereskan sisa-sisa perang yang baru saja terjadi. Ada yang membereskan bangunan yang hancur, ada juga yang bertugas untuk membereskan nyawa para murid. Mereka akan dimakamkan secara layak. Pastinya kesemua murid yang gugur pun akan dianggap seorang pahlawan.


Murid yang gugur segera dikumpulkan sebelum di kremasi. Malam itu juga mereka langsung mengadakan upacara pemakaman secara sederhana tapi tentunya khidmat. Tak terasa air mata Eyang Tajimalela mengalir membasahi pipinya yang sudah keriput dimakan waktu.


Maha guru Padepokan Kuda Sembrani itu merasa gagal dalam membina padepokannya. Tapi di sisi lain, dia juga tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri. Terlebih memang semua tidak ada yang menyalahkan. Ini semua adalah takdir. Takdir yang tidak bisa dipajukan ataupun dimundurkan.


Setelah selesai membereskan padepokan dan selesai melakukan upacara pemakaman Perlahan orang-orang terutama murid yang berhasil selamat mulai kembali ke ruangannya masing-masing. Bukan untuk istirahat, melainkan untuk merenungi nasib saudara seperguruan mereka.


Sedangkan para guru, mereka lebih memilih untuk berkumpul di ruangan Eyang Tajimalela untuk membicarakan malapetaka yang baru saja terjadi ini.


"Eyang, apakah orang-orang dari sekte Padepokan Goa Neraka akan kembali untuk menyerang?" tanya Langlang Cakra Buana di ruangan Eyang Tajimalela.


"Aku rasa setelah kejadian ini mereka tidak akan kembali lagi Langlang. Bagaimana mau kembali menyerang? Sedangkan para pendekar yang bisa diandalkan di padepokan itu sudah tewas. Bahkan maha gurunya pun tewas. Mereka tentu tidak akan berani menyerang lagi, tapi pasti akan mencarimu. Terlebih ketiga murid Braja Suta. Mereka pasti akan membalaskan kematian gurunya," ucap Eyang Tajimalela.

__ADS_1


"Hemm, baiklah aku mengerti. Kalau begitu besok pagi aku pamit undur diri eyang. Aku ingin melanjutkan perjalananku lagi," kata Langlang Cakra Buana.


Ada benarnya juga apa yang dikatakan Eyang Tajimalela, ketiga murid Braja Suta suatu saat nanti pasti akan mencari dirinya. Entah dalam waktu dekat atau tidaknya, tapi itu merupakan sebuah kepastian.


"Aihhh … kenapa kau buru-buru sekali nak? Aku tidak mengusirmu, jangan kau anggap ucapanku barusan adalah caraku mengusir dirimu secara halus. Aku tidak ada maksud seperti itu," ujar Eyang Tajimalela.


Mendengar ucapan Langlang Cakra Buana yang bakal melanjutkan perjalanannya kembali setelah dia selesai menjelaskan demikian, tentu saja maha guru Padepokan Kuda Sembrani itu merasa tak enak hati. Dia takut bahwa Langlang Cakra Buana menyangka dirinya tidak suka akan kehadiran pemuda itu.


"Tentu saja tidak eyang. Aku berkata memang sebelumnya sudah ada niat untuk segera melakukan pengembaraan lagi, tapi karena beberapa hari lalu merasa tidak enak hati, akhirnya aku tinggal disini. Tapi besok aku sudah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi," kata Langlang Cakra Buana tetap pada pendiriannya.


"Haishhh … baiklah jika itu maumu. Aku tidak bisa memaksakan kehendak." jawab Eyang Tajimalela.


Hari sudah larut semakin malam. Mereka lebih memilih untuk kembali ke tempat masing-masing dan berniat untuk segera istirahat. Tubuh mereka merasa lelah, terlebih orang-orang padepokan. Hati mereka terasa hancur jika mengingat malapetaka yang baru saja terjadi.

__ADS_1


__ADS_2