
Sugra terus mengirimkan serangan-serangan mautnya dengan kedua tangan yang membentuk cakar elang. Kedua kakinya pun turut andil dalam pertarungan ini. Tangan kanan Sugra bergerak mengincr ulu hati, namun dengan sigap Cakra Buana menarik tubuhnya sehingga dia lolos dari serangan tersebut.
Keduanya terus bertarung dengan jurus-jurus yang dahsyat. Cakra Buana bagaikan seekor harimau yang kelaparan. Pemuda serba putih itu bergerak ke sana ke mari sambil mengirimkan jurus-jurus cakaran yang berbahaya.
Sugra tak mau kalah, dia di kenal dengan julukan si Cakar Maut. Dari julukannya saja sudah jelas, jurus cakarnya memang mengerikan. Cakar ketemu cakar. Yang satu cakar harimau, yang satu cakar elang.
"Wuttt …"
"Bukkk …"
"Bukkk …"
Kedua tangan Cakra Buana dan Sugra kadang-kadang bertemu di udara. Keduanya nampak seimbang untuk saat ini. Ah tidak, Cakra Buana memang sengaja ingin menguji sampai di mana tingkat kepandaian lawannya ini.
Di sisi lain, Ling Zhi pun kini sedang bertarung melawan Lodra. Pendekar pedang dan pendekar trisula itu telah bertukar puluhan jurus. Meskipun Lodra masih di bawah Ling Zhi, namun sepertinya si Trisula Sakti itu menang dalam hal pengalaman.
Sehingga meskipun dirinya kadang-kadang terdesak, namun dia selalu bisa menghindar dengan gerakan tiba-tiba. Lodra mulai memainkan jurus-jurus trisula miliknya yang lebih tinggi.
Trisula emas itu lenyap dari pandangan. Yang nampak hanyalah kelebatan cahaya emas berkilauan. Cahaya itu terus menyambar Ling Zhi. Semakin lama, kelebatan cahaya emas tersebut semakin cepat dan kadang seperti bertambah banyak.
Lodra terus memainkan jurus ini untuk mengelabui pandangan lawan. Jurus ini bukanlah jurus abal-abal, ini adalah serangkaian dari Tujuh Trisula Sakti. Dan yang sedang ia gunakan saat ini, adalah bagian keempatnya.
"Trisula Bayangan …"
"Wuttt …"
Ling Zhi benar-benar dibuat kebingungan. Meskipun dirinya selalu lolos dari serangan berbahaya, namun tetap saja gadis itu merasa gemas karena tidak bisa menyerang balik.
Dengan bentakan keras, Ling Zhi berteriak lalu nekad menerobos sinar emas yang dari tadi terus mengurung dirinya.
"Bunga Melati Merekah Taman …"
"Wuttt …"
Ling Zhi mulai bergerak membalas serangan lawan. Pedangnya dia putarkan sedemikian rupa. Tubuhnya mengeluarkan cahaya putih kemilau dan menebarkan harum aroma bunga melati.
Gadis itu terus bergerak mengimbangi arah serangan cahaya emas yang berasal dari trisula milik Lodra. Dua cahaya putih dan emas terus bertemu di udara.
"Trangg …"
"Trangg …"
__ADS_1
Kilatan percikan kembang api semakin sering terlihat. Udara di sekitar arena pertarungan semakin menegangkan. Ling Zhi mulai geram, dengan gerakan tiba-tiba, gadis itu bergerak mundur untuk mengambil ancang-ancang lalu melesat kembali.
"Tarian Bunga Mawar …"
"Wuttt …"
Gerakan murid Eyang Rembang itu berubah kembali. Jika sebelumnya Ling Zhi bercahaya, maka saat ini gadis itu seperti sedang menari. Gerakannya begitu indah juga lentur. Tubuh mulusnya melenggak-lenggok bagaikan penari ulung.
Pedangnya bergerak dengan lentur. Setiap ayunan pedangnya terlihat lambat dan tidak bertenaga. Tapi justru di balik itulah kekuatan dari jurus Tarian Bunga Mawar ini tersimpan.
Gerakan Lodra semakin lama semakin melambat. Agaknya si Trisula Sakti itu mulai terkena pengaruh ilusi dari jurus Tarian Bunga Mawar.
"Wuttt …
"Wuttt …"
"Brettt …"
"Ahhh …"
Sebuah luka robekan akibat pedang terpampang pada bagian dada kanan Lodra. Dia meringis menahan perih. Baru kali ini dirinya sadar bahwa dia telah terkena ilusi.
Dengan amarah yang mengguntur, Lodra menggeram bagaikan serigala terluka.
"Wuttt …"
Sugra bergerak mengubah gaya serangannya. Dia tidak merasakan perih yang kini di deritanya. Sebaliknya, Sugra semakin nekad melawan Ling Zhi yang sampai saat ini terus bergerak seperti sedang menari.
Dua pendekar itu kembali terlibat pertarungan sengit. Namun kali ini Ling Zhi sudah berlaku serius. Oleh karena itulah, setiap macam serangan Lodra, selalu bisa ia gagalkan. Bahkan tak jarang Ling Zhi mampu menyerang balik dengan serangan yang lebih ganas.
"****** kau …"
"Hiattt …"
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Angin dingin menderu kencang. Ling Zhi bagaikan dewi maut bagi Lodra. Gadis itu terlihat lebih menyeramkan daripada sebelumnya. Kecantikannya seperti hilang. Yang nampak hanyalah sinar matanya, begitu tajam dan mengerikan.
Gerakan pedang Ling Zhi semakin cepat. Lodra mulai kewalahan menghadapi gadis tersebut. Beberapa luka sayatan semakin banyak terlukis di tubuhnya. Rasa perih terus menjalar semakin naik. Hingga pada akhirnya, Ling Zhi berhasil mendaratkan sebuah serangan terakhir kepada pendekar Trisula Sakti itu.
__ADS_1
"Slebbb …"
"Ahhh …"
Lodra terpaku. Matanya melotot tajam ke arah Ling Zhi, lalu turun ke bawah menatap jantungnya yang kini sudah ditembusi oleh pedang milik lawan.
"Pergilah kau ke neraka iblis busuk …"
"Heuggh …"
Si Trisula Sakti mengeluarkan suara tekanan terakhir ketika Ling Zhi menancapkan Pedang Bunga hingga menembus tubuhnya. Begitu pedang kembali di cabut, maka roboh pula salah satu dari anggota Tiga Iblis Gunung Waluh itu.
Di sisi lain, pertarungan Cakra Buana melawan Sugra pun mulai mendekati detik-detik terakhir. Luka cakaran sudah banyak terlukis pada tubuh Sugra. Sedangkan dia sendiri, tak mampu memberikan luka kepada lawannya.
Cakra Buana semakin ganas, bagaikan harimau yang terluka, dia tidak memberikan ruang gerak untuk membalas serangan kepada lawannya tersebut. Dirinya terus menggempur lawan dengan jurus-jurus maut.
"Harimau Mencabut Nyawa …"
"Rrrgghh …"
"Wuttt …"
Pendekar Maung Kulon itu ingin segera mengakhiri pertarungan. Dia mengeluarkan jurus kesembilan dari sebelas jurus Kitab Maung Mega Mendung.
Kedua tangannya semakin mengeras bagaikan baja. Sugra mati kutu. Setiap kali dia berusaha menangkis, maka tubuhnya akam bergetar hebat. Tidak ada harapan lagi baginya untuk bisa selamat.
Dengan gerakan pamungkas, Cakra Buana lalu memberikan serangan terakhir kepada lawan. Tenaga dalam yang dia keluarkan bertambah besar.
"Wuttt …"
"Brettt …"
"Ahhh …"
Sugra terpental lalu tewas seketika. Dadanya koyak. Dia tewas dengan luka cakaran yang mengerikan. Bahkan dada si Cakar Maut itu hancur akibat serangan Cakra Buana barusan. Dia menemui ajal tanpa sempat membuka mulutnya.
Berbarengan dengan serangan terkahir barusan, Jalabra sudah bergerak untuk menyelamatkan adik perguruannya itu. Tadinya dia mengira bahwa Sugra hanya berpura-pura kalah dari lawan, sebab itulah kebiasaannya jika bertarung.
Tapi sayangnya, perkiraan si Bayangan Hitam kali ini meleset. Sehingga begitu sampai ke arena pertarungan, dirinya tak sempat lagi menyelamatkan Sugra. Apalagi gerakan Cakra Buana yang terlampau cepat.
Akibatnya, begitu adik seperguruannya terpental, maka tanpa banyak bicara lagi Jalabra langsung merangsek menyerang Cakra Buana. Kedua tangannya mengeluarkan asap putih akibat dari kemarahan yang sudah memuncak.
__ADS_1
Jalabra semakin mengganas, serangkaian pukulan yang ia berikan mengandung hawa panas. Cakra Buana semakin berlaku waspada, sebab dia yakin bahwa si Jalabra inilah yang paling kuat diantara dua adik seperguruannya.