
"Ahhh … dia orang yang sudah menyelamatkan aku guru," kata Ayu Pertiwi sambil tersenyum.
Tapi senyumannya berbeda. Senyuman yang penuh makna. Dan sinar dimatanya, mengisyaratkan hal lain.
"Siapa namamu?" tanya Nyai Kembang Ros Beureum kepada Cakra Buana.
"Perkenalkan, nama saya Cakra Buana nyai," kata Cakra Buana sambil memberikan hormat.
Wanita itu tidak menjawab. Hanya menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki saja. Kemudian beralih lagi kepada muridnya, Ayu Pertiwi.
"Kau bilang dia menyelamatkani? Memangnya kau kenapa? Ceritakan semuanya!" ucap Nyai Kembang.
Tanpa diulang dua kali, Ayu Pertiwi lantas menceritakan semua kejadian yang dia alamai ketika melaksanakan perintah gurunya itu.
Mulai dari dia bertarung melawan tiga murid Jagal Patenggang hingga dia keracunan, sampai pada munculnya Jagal Patenggang si Raja Biruang itu yang bertarung mati-matian melawan Cakra Buana.
Selama bercerita, Nyai Kembang Ros Beureum tidak memotong. Dia mendengarkan semua penuturan muridnya dengan seksama.
Tapi ada pandangan lain dalam sorot mata Nyai Kembang ketika melihat mata Ayu Pertiwi. Seolah dia menembus isi hati muridnya itu sampai ke relung hati yang terdalam.
"Apakah dia kekasihmu, Ayu?" tanya Nyai Kembang secara tiba-tiba.
Ayu Pertiwi tidak menjawab. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya dan mengangguk sedikit.
Sang tamu, yang ternyata merupakan pria muda, melirik Cakra Buana ketika Nyai Kembang menanyakan hal itu kepada Ayu Pertiwi. Tatapan matanya terlihat kalem tapi menggambarkan kekesalannya. Tapi hanya sesaat, setelah itu dia kembali menatap dalam-dalam Ayu Pertiwi dan Nyai Kembang Ros Beureum secara bergantian.
"Hemmm … kau terlambat anak muda. Muridku sudah memiliki calon suami," kata Nyai Kembang kepada Cakra Buana.
Mendengar ucapan itu, Cakra Buana langsung memperlihatkan ekspresi wajah lain. Matanya yang tadi berkilat penuh semangat dan harapan, seolah-olah redup. Bagaikan ruang gelap yang diterangi lilin, kemudian lilin itu padam seketika itu juga.
Senyuman yang sedaritadi terpancar di bibirnya, mendadak menghilang entah kemana bersama dengan redupnya kilatan di mata yang tajam itu.
Akan tetapi Cakra Buana tidak menjawab. Dia hanya memandang Ayu Pertiwi secara mendalam. Ayu Pertiwi pun memandang balik kekasihnya itu. Mulut mereka tidak bicara, seolah terkunci. Yang bicara hanyalah tatapan kedua pasangan baru itu.
"Ma-maksud guru?" tanya Ayu Pertiwi dengan penuh keheranan.
"Maksudku sudah jelas. Bahwa pemuda yang bernama Cakra Buana itu tidak dapat menjadi pendamping hidupmu lagi," katanya serius sambil melirik Cakra Buana.
__ADS_1
"Ta-tapi … kenapa guru? Kami berdua sudah saling mencintai meskipun belum lama saling mengenal. Kami merasakan bahagia," ucap Ayu Pertiwi.
Suaranya agak parau karena menahan tangisnya. Mata yang jernih dan selalu bersinar itupun langsung redup. Bagaikan sekuntum bunga mekar yang tiba-tiba layu karena kepanasan.
"Karena aku sudah mempunyai calon pendamping hidup untukmu Ayu. Dialah orangnya, namanya Raden Buyut Sangkar. Putera adipati Wira Tarisi, yang menjabat di kadipaten Rancah Manik," ucap Nyai Kembang Ros Bereum sambil tersenyum ketika memperkenalkan putera adipati itu.
Ayu Pertiwi lalu melirik pemuda yang jadi tamu gurunya sekaligus yang melamar dirinya. Harus diakui, pemuda yang bernama Raden Buyut Sangkar itu memang tampan. Kulitnya sawo matang, hidungnya bangir. Tubuhnya tinggi tegap dan ototnya terlihat menonjol.
Rambutnya sebahu di biarkan terurai dan memakai ikat kepala berwarna merah. Sama seperti pakaian yang dia kenakan. Dibelakang punggungnya tersoren sebilah pedang. Membuktikan bahwa dia juga orang dunia persilatan. Akan tetapi dari tatapan matanya, Ayu Pertiwi dapat menilai bahwa Raden Buyut Sangkar hanya bagus cangkangnya saja. Isinya belum tentu.
Apalagi ketika pemuda itu balas menatapnya. Ada senyuman menyeringai penuh makna yang dia lemparkan.
"Tidak guru. Aku … aku tidak mencintainya. Lagi pula aku baru kali ini bertemu,"
"Diam kau Ayu. Kau harus menuruti apa kata gurumu, kau tidak punya siapa-siapa lagi selain aku. Aku hanya ingin melihatmu bahagia, jika kau menikah dengan Raden Buyut Sangkar, kau akan hidup jadi wanita terhormat. Kau akan merasakan kebahagiaan. Sedangkan dengan pemuda kenalanmu itu? Apakah dia bisa menjamin semua keperluan hidupmu? Dari pakaiannya saja aku tidak yakin," kata Nyai Kembang sedikit marah.
"Deggg …"
Jantung Cakra Buana langsung berpacu dengan cepat. Hatinya sakit, beribu kali lebih sakit dari sayatan maupun tusukan pedang.
"Ayu …" bentak Nyai Kembang. "Apakah ini balas budimu setelah apa yang aku berikan kepadamu selama ini? Apakah kau mau jadi murid durhaka?"
Ayu Pertiwi tidak menjawab. Dia menangis semakin menjadi. Air matanya tumpah bagaikan air bah, tak dapat dibendung lagi.
"Ini semua pasti gara-gara kau pemuda miskin. Gara-gara kau muridku jadi pembangkang," kata Nyai Dewi sambil menunjuk Cakra Buana. Matanya berkilat memperlihatkan kemarahan.
"Guru … semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan kakang Cakra Buana," kata Ayu membela.
"Diam kau …"
"Plakkk …" sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri dara itu.
Sudut bibir kirinya langsung mengeluarkan darah segar.
Sebenarnya apa yang diucapkan oleh Nyai Dewi Kembang Ros Bereum hanyalah alasan semata. Padahal tujuan utamanya dia menerima lamaran itu tak lain karena sebuah harta. Jika Ayu Pertiwi menjadi istri Raden Buyut Sangkar, tentu saja dia juga akan mendapatkan kemuliaan.
Karena harta manusia bisa jadi lupa akan dirinya siapa.
__ADS_1
Karena kedudukan dan kemuliaan manusia bisa jadi semena-mena.
"Maafkan aku nyai. Kalau begitu, aku pamit undur diri. Mohon maaf kalau sudah mengganggu," kata Cakra Buana.
Suaranya halus, bahkan senyuman masih terlihat di bibirnya. Tapi tak seorang pun tahu bagaimana rasa sakit dihatinya.
Kebahagiaan yang baru didapatkan, kini lenyap sudah.
"Mudah saja kau meminta maaf kepadaku. Kau pikir bisa pergi dari sini semudah itu?"
"Wuttt …"
Nyai Kembang Ros Beureum melemparkan senjata rahasia berbentuk bunga mawar merah ke arah Cakra Buana. Kecepatannya bukan main, jika orang lain pasti takkan bisa menghindarinya.
Tapi kalau senjata rahasia itu ditujukan kepada Cakra Buana, maka lain lagi ceritanya.
"Tappp …" dia berhasil menangkapnya dengan dua jari.
Bukan main marah dan terkejutnya semua orang yang ada disitu. Bagaimanapun juga, Nyai Kembang Ros Beureum sudah terkenal dikalangan rimba persilatan. Namanya bukan omong kosong belaka. Meskipun bukan termasuk datuk dunia persilatan, tapi kemampuannya sama sekali tidak bisa dipandang remeh.
Maka ketika dia melihat senjata rahasianya ditangkap, tentu saja kemarahannya langsung memuncak.
"Keparat …" kakinya sambil menerjang ke arah Cakra Buana.
Bagaikan seekor burung rajawali, dia meluncur dengan cepat. Kedua tangannya memberikan serangan tapak. Yang tentunya berbahaya.
Cakra Buana bingung. Jika dihindari, pasti dirinya akan disangka menghina. Maka tak ada cara lain lagi selain menahannya.
"Desss …" keduanya bergetar.
Nyai Kembang Ros Beureum masih melayang dengan kedua tangan menempel dengan tangan Cakra Buana.
"Wuttt …" keduanya sama-sama terpundur.
Nyai Kembang bersalto dua kali di udara lalu mendarat dengan kaki ringan.
Kini keduanya sudah dalam posisi siap bertarung kembali.
__ADS_1