Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Desa Gading Bodas


__ADS_3

"Wahhh raden hebat sekali. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau tadi aku tidak memberikan tumpangan kepada raden. Mungkin aku sudah dijadikan santapan buaya putih milik ki Baya. Ihh … ngeri," kata nelayan itu sambil bergidik ngeri.


Cakra Buana hanya tersenyum saja. Hatinya sudah lega karena mungkin ke depannya tidak akan ada lagi perompak yang mengganggu para nelayan ataupun orang-orang yang lewat ke sungai ini. Setidaknya untuk beberapa saat, tentu para perompak akan berpikir dua kali untuk mangkal di sungai ini.


"Paman, apakah masih lama untuk sampai ke daerahmu?" tanya Cakra Buana.


"Tidak den. Sebentar lagi kita akan sampai,"


"Oh … baiklah kalau begitu."


Keduanya kembali melaju, kali ini Cakra Buana dan nelayan itu mendayung bersama-sama sambil sesekali bercerita untuk mengusir rasa sepi. Sepanjang perjalanan, nelayan itu banyak bercerita tentang keadaan yang dia ketahui.


Cakra Buana hanya menjadi pendengar yang baik dan menyimpan informasi itu di kepalanya.


"Kita sudah sampai den," kata nelayan itu dengan tiba-tiba.


"Mana paman?"


"Itu di depan ada dermaga kecil. Kita akan berhenti disana," kata si nelayan sambil tersenyum kegirangan.


Beberapa saat kemudian, Cakra Buana sudah sampai di dermaga yang dimaksud oleh nelayan tadi. Dia lalu mengikatkan sampan kepada patok yang terbuat dari kayu jati. Setelah diikat barulah dia membantu si nelayan untuk mengangkat barang-barang yang didapatkan.


Baru saja keduanya akan berjalan, tiba-tiba dari jauh nampak seorang gadis muda berlari-lari kecil mengarah kepada Cakra Buana dan nelayan itu.


Gadis tersebut masih muda, paling baru berumur dua puluh tahun. Wajahnya manis, bentuknya bulat telur. Matanya indah seperti permata yang berkilau, menandakan bahwa gadis itu adalah seorang yang jujur. Hidungnya agak mancung dan kulitnya kuning langsat.


"Ayah, kau sudah pulang. Sini biar Irma bantu," kata gadis itu sambil meraih beberapa barang yang dibawa oleh si nelayan.


Ayah? Jadi … gadis yang seperti puteri itu anaknya nelayan ini? Tiba-tiba saja muncul pertanyaan dalam benak Cakra Buana. Entah kenapa, ketika dia memandang gadis itu, kemudian gadis itupun sama, bahkan melemparkan senyum, ada rasa aneh yang timbul dalam diri Cakra Buana.


"Terimakasih anakku. Perkenalkan, ini kenalan ayah, dia seorang pendekar muda yang juga sudah menolong ayah. Namanya Cakra Buana," kata si nelayan memperkenalkan Cakra Buana kepada anaknya.

__ADS_1


"Aishhh … paman terlalu berlebihan. Salam kenal nyai," kata Cakra Buana sambil menjulurkan tangan kanannya.


"Saya Irma Sulastri." kata gadis bernama Irma itu sambil sedikit malu-malu. Seketika wajahnya memerah ketika pemuda itu menjabat tangan sambil memandangnya.


Cakra Buana pun begitu. Hatinya berdesir ketika kembali melihat senyuman yang menawan itu.


Melihat kedua muda-mudi itu saling diam, sang nelayan kemudian berdehem.


"Ehemmm … mari kita segera pulang ke rumah," katanya.


Seketika keduanya kaget. Buru-buru mereka melepaskan tangan yang daritadi menjabat.


"Ma-mari paman." jawab Cakra Buana sedikit gugup.


Ketiganya lalu berjalan memasuki desa itu. Entah desa apa namanya, Cakra Buana belum mengetahui dan memang dia belum bertanya.


Yang jelas pemandangan disana alami sekali. Pohon kelapa berjejer rapi. Ada pula pohon jati yang lumayan tinggi. Semilir angin menerpa menggoyangkan pohon-pohon itu seolah seperti sedang mencari.


Ah … indah sekali suasana seperti itu. Masih asri. Masih alami. Dan tentunya terbebas dari debu-debu yang menyeyesakkan.


Hati akan terasa sangat tenteram jika melihat kedamaian yang berlangsung didepan mata ini.


Setelah beberapa jarak melangkah, akhirnya si nelayan sudah berhenti ketika sampai disebuah rumah panggung. Dindingnya terbuat dari bilik juga. Akan tetapi bilik ini lebih indah dan menarik. Atapnya sebagian dari pohon kelapa yang di anyam. Didepannya ada bale-bale dari bambu.


Rumah itu cukup "mewah" daripada rumah penduduk lainnya. Mulailah timbul prasangka di hati Cakra Buana bahwa nelayan itu pastilah bukan orang biasa, pikirnya.


"Kita sudah sampai den. Selamat datang di gubukku yang sederhana ini. Irma, cepat buatkan minum dan suguhan untuk tamu kita," kata nelayan itu menyuruh kepada anak gadisnya.


"Baik ayah." jawab gadis itu lalu masuk ke dalam sambil membawa barang-barang.


"Paman, ini namanya desa apa?" tanya Cakra Buana.

__ADS_1


"Ini namanya desa Gading Bodas den,"


"Desa Gading Bodas, hemmm … apakah kehidupan disini aman?"


"Kadang-kadang den. Kalau nasib lagi mujur, aman. Kalau tidak, ada saja kejadian-kejadian. Entah itu perampokan, ataupun penculikan anak gadis yang dilakukan oleh sekelompok orang yang menguasai daerah ini,"


"Hemmm … pemerintah ternyata benar-benar mengabaikan rakyatnya. Lalu, siapakah kepala desa ini paman?"


"Euuu … kepala desa ini, sa-saya sendiri den. Saya biasa disebut ki Marga," katanya sambil malu-malu.


"Aishhh … sudah kuduga bahwa paman bukan orang sembarangan disini. Lalu, apa yang paman lakukan jika terjadi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan di desa ini?"


"Ya … mau bagaimana lagi? Tentu saja kami melawan sebisa mungkin, akan tetapi tetap saja kami tidak mampu melawan mereka. Apalagi sekelompok orang itu memiliki kepandaian yang lumayan, terlebih pemimpinnya,"


"Paman sudah melapor kepada adipati dan sebagiannya?"


"Sudah sering den,"


"Apa yang dikatakan adipati?"


"Tidak ada jawaban sama sekali,"


"Hemmm … bedebah …"


Hening. Cakra Buana tidak melanjutkan pembicaraannya lagi. Pikirannya langsung terbang melayang membayangkan daerah-daerah lainnya. Untuk membuat situasi kondusif di seluruh negeri memang pasti bukan suatu pekerjaan mudah.


Tidak ada cara lain kecuali hanya satu cara, yaitu melakukan pemberontakan lalu merombak seluruh jajaran pemangku jabatan. Hanya itu satu-satunya cara. Ya … hanya itu saja.


Akan tetapi lamunan iru segera buyar ketika sebuah suara harus dan lembut terdengar oleh kedua telinga Cakra Buana.


"Silahkan diminum kopinya kang …" kata Irma Sulastri, anak dari ki Marga yang ternyata sang kepala desa.

__ADS_1


"Terimakasih diajeng. Eh … nyai maksudku. Maaf," kata Cakra Buana yang langsung malu seketika itu juga.


Irma Sulastri tidak menjawab. Sebaliknya, dia langsung masuk setelah menyuguhkan minum dan hidangan untuk ayah serta tamunya itu. Ada perasaan aneh dalam hati gadis tersebut. Tapi entah perasaan apakah itu.


__ADS_2