
"Hemm, bagus. Kau memang lain daripada yang lain," kata Nyai Tangan Racun memuji Cakra Buana.
Ucapannya itu cukup kencang. Sehingga empat tokoh di sisinya dapat mendengar. Dan reaksi tokoh lainnya, mereka juga menyetujui apa yang di ucapkan oleh wanita tua itu dengan memberikan anggukan sebagai isyarat.
"Nyai, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Cakra Buana.
"Karena kalian sudah datang, maka sekarang juga kita akan melanjutkan kembali,"
Semua orang mengangguk. Sedetik kemudian, mereka telah bergerak lagi berlari di antara rimbunnya Hutan Larangan.
Bayangan berbagai warna melesat cepat menembus ke dalam hutan. Debu dan dedaunan beterbangan karena saking cepatnya gerakan puluhan orang tersebut.
Semakin dalam, ternyata hawa di sana justru semakin berbeda. Aura mistis yang kental terasa sangat menekan. Para tokoh segera melindungi masing-masing anggotanya untuk mengantisipasi kejadian Puluhan senjata berbeda telah berkilat membelah cakrawala. Pemegangnya sendiri sudah maju ke depan.
Rembulan mulai naik tinggi. Sebentar lagi akan tiba tepat di atas kepala sebagai pertanda tengah malam telah tiba. Segumpal awan bergerak menutupi cahayanya.
Suara burung hantu di kejauhan bersahutan dengan suara lolongan serigala.
Tengah malan telah tiba. Puluhan rombongan tersebut berhenti di hutan yang masih rimbun dan banyak rumput ilalang tumbuh di sana.
Keadaan hutan benar-benar gelap. Tapi dalam jarak sekitar sepuluh tombak di depan mereka, ada cahaya terang memancar ke are sekitar.
Cahaya berwarna kuning tua menerangi kegelapan hutan. Di sana terlihat juga ada sebuah bangunan yang besarnya hampir menyamai perguruan ternama. Bedanya, bangunan tersebut –walaupun sudah berumur tua– jauh lebih megah lagi dengan keaslian dan ornamen yang mewah.
Walaupun penerangan tidak terlalu terang, tetapi para tokoh itu bisa melihatnya dengan jelas.
Nyai Tangan Racun Hati Suci memberikan isyarat kepada semua orang untuk berpencar supaya bisa memperpendek jaraknya.
Hanya saja, sebelum perintahnya dijalankan, Cakra Buana lebih dulu angkat suara.
"Tahan!" kata Cakra Buana tiba-tiba.
"Ada apa anak muda?" tanya wanita tua itu.
"Sepertinya ada yang tidak beres. Tunggu sebentar," ujarnya.
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Cakra Buana langsung mengerahkan Ajian Dewa Saptapangurungu.
Kalau ajian langka ini sudah keluar, maka Pendekar Tanpa Nama sudah pasti dapat mendengar pembicaraan siapapun.
Jauh di dalam bangunan tua tersebut, dua puluh orang petinggi Organisasi Tengkorak Maut sedang berkumpul di satu ruangan yang cukup besar. Mereka duduk berhadapan di ruangan khusus layaknya ruangan seorang Raja.
Di sebuah kursi yang sangat megah karena dibuat dari batu mulia, terlihat duduk seorang wanita.
Wanita cantik yang kecantikannya tidak akan ditemui di mana pun. Walaupun mencari sampai ke ujung dunia sekalipun, tidak akan ada yang sanggup menyamai kecantikannya.
Mungkin saat Tuhan menciptakan wanita itu, Dia sedang merasa sangat gembira. Sehingga hasil ciptaannya yang satu ini, begitu sempurna tanpa cacat sedikitpun.
"Laporan apa yang kau dapatkan?" tanya si wanita tersebut.
Suaranya sangat lembut. Lebih lembut daripada apapun. Matanya mengerling manja dengan bulu mata lentik. Bibirnya mungil merah mereka.
Kulitnya sangat halus. Seperti halusnya kain sutera yang ditenun penuh kesabaran.
"Rombongan itu telah berhasil memasuki area larangan. Saat ini mereka sedang bersembunyi di sebuah semak-semak bersama semua rombongan yang mereka bawa," ucap pria yang menjadi pelapor tersebut.
Si wanita cantik tersebut tersenyum penuh arti. Hanya mengisyaratkan dengan satu jari telunjuknya, dua puluh orang yang ada di depannya langsung mengerti.
Seorang pendekar berumur sekitar empat puluh tahun dengan pakaian hijau tua, melangkah lebah di paling depan. Dia berhenti di depan bangunan. Di belakangnya ada sembilan belas pendekar kelas atas.
"Semuanya, berkumpul!!"
Belum habis betul ucapannya, tiga ratusan pendekar kelas bawah telah menghampiri. Mereka memakai pakaian serupa dengan lambang di punggung yang sama.
"Kita bergerak. Ada rombongan orang yang sengaja mengantar nyawa kemari. Kalian kepung mereka, bawa senjata lengkap. Kalau bertemu, beri tanda supaya yang lainnya membantu kalian," ucap pendekar berpakaian hijau tua tersebut.
Walaupun usianya sudah kepala empat, tapi kegagahannya masih terlihat jelas. Ototnya menonjol, dadanya bidang.
"Baik pemimpin," jawab tiga ratus anggota tersebut.
Mereka langsung bergerak serempak.
__ADS_1
Sesuai perintah, orang-orang tersebut langsung berpencar untuk mengepung seisi hutan.
Tujuannya tentu supaya pihak penyerang tidak dapat melarikan diri ke mana pun. Karena mengingat, semua jalan keluar sudah terkepung rapat.
Cakra Buana kaget. Dia menyudahi kegiatan menguping lalu memberitahukan hasilnya kepada yang lain.
"Gawat, mereka sudah mengetahui kedatangan kita. Seisi hutan sudah dikepung oleh anggota Organisasi Tengkorak Maut. Belum lagi ada sembilan belas pendekar kelas atas ditambah satu pemimpin. Di dalam, ada juga beberapa pendekar tua bersama seorang wanita cantik, sepertinya wanita itulah yang memegang kendali organisasi ini," kata Cakra Buana kepada semua orang.
Yang mendengar pun sama terkejutnya. Tapi hanya sebentar, karena sedetik kemudian, kobaran semangat segera muncul ke permukaan.
"Bagus, kalau begitu kita bergerak sekarang. Masalah menang atau kalah bukan hal yang utama. Yang penting untuk saat ini, kita bertempur semampu yang kita bisa. Percayalah, Sang Hyang Widhi tidak akan tinggal diam," tegas Nyai Tangan Racun Hati Suci memberikan semangat kepada seluruh anggota yang bersamanya.
Seluruh anggota langsung merasakan perasaan sama saat itu juga.
Perasaan yang dapat dirasakan oleh mereka yang satu jalan.
Semangat untuk membela kebenaran.
Kalau hal seperti ini sudah tumbuh dalam jiwa manusia, jangankan tiga ratus orang, seribu orang sekalipun mereka tidak takut untuk menghadapinya.
Demi bangsa dan negara, kehilangan nyawa bukan lagi suatu hal yang harus ditakutkan.
Hanya saja yang menjadi pertanyaan, apakah setiap warga di sebuah negara, mempunyai semangat seperti ini?
Mereka bergerak, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, lima puluhan anggota telah maju ke berbagai penjuru. Mereka berpencar dalam jarak yang tidak terlalu jauh.
Lima tokoh utama maju ke depan untuk menghadapi siapapun yang mereka temui.
Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap kembali berpisa. Mereka melakukan hal serupa seperti sebelumnya. Menyusuri hutan, membasmi siapa saja yang mereka temui.
Pertempuran sudah mulai terjadi. Incaran utama tentu para anggota yang paling lemah. Walaupun kekuatan mereka tidak seberapa, namun jika jumlahnya banyak, maka keadaan akan berbeda lagi.
Pihak Organisasi Tengkorak Maut juga sudah memulai langkah pertama mereka. Sembilan pendekar kelas atas bersama seorang pemimpin, telah maju ke medan pertempuran ini.
Hutan yang luas, malam yang gelap, pertempuran yang besar.
__ADS_1
Lengkap sudah.
Dentingan senjata beradu mulai terdengar. Waktu pertempuran belum lama, tapi puluhan pendekar kelas bawah di pihak musuh telah ada yang menjadi korban keganasan para pahlawan.